"Asal kamu tahu, sebelum saya menikah dengan Mommy kamu, dia adalah pacar saya. Jadi bukan dia yang membuat saya dan Mommy kamu pisah, tetapi Mommy kamulah yang membuat saya dan dia pisah!" ujar Jeffry.
"Oh begitu?"
"Tentu saja, saya dan dia sudah berpacaran jauh sebelum saya dijodohkan dengan mommymu!" ujar Jeffry.
"Terserah, aku akan menikahi Ashley tetapi bukan karena kamu ataupun dia, tetapi demi Mommy," ujar Arsen dingin lalu menarik tangan Ashley pergi.
***
"Pak, saya rasa kami gak perlu menikah. Maksud saya diantara kami tidak terjadi apa-apa, saya yang akan jelasin ke orangtua Pak Arsen," ujar Ashley.
"Masuk dulu, Ash. Kita bicara di dalam mobil saya saja dan sekalian saya antarkan kamu pulang."
"Ta-"
"Masuk dulu, Ash!" ujar Arsen.
"Sa-sa-saya bawa mobil, Pak," ujar Ashley.
"Saya bilang masuk ya masuk!" bentak Arsen.
“Iya, iya, ini masuk! Gak usah pakai bentak-bentak segala!”
***
"Rumahmu dimana?" tanya Arsen.
"Perumahan Amoir Blok E nomer 7, Pak,” jawab Ashley dengan ketus.
"Maaf, saya tadi gak bermaksud membentak kamu."
“Bodoh amat!”
“Gak sopan! Saya minta maaf malah dijawab kayak gitu.”
“Ya suka-suka sayalah.”
“Saya serius Ashley, saya minta maaf, saya gak ada maksud bentak kamu.”
“Ya udah, saya udah maafin.” balas Ashley. "Oh ya, saya rasa kita tidak perlu menikah, Pak."
"Maaf, tapi saya sudah membuat keputusan!” tegas Arsen.
"Ta-"
"Saya mohon, demi mommy saya. Selain itu, sebenarnya saya sendiri juga tertarik dengan kamu,” ujar Arsen.
"Huh ... akan saya pikirkan dulu, Pak," ujar Ashley dengan pipi yang merah, karena malu atas perkataan Arsen yang tertarik padanya.
“Wah… pipi kamu merah,” goda Arsen.
“Bapak, ih…. Saya batalin nih mikirnya,” ancam Ashley.
"Janganlah, Ash, tolong pikirkan baik-baik. Ya sudah saya antarkan kamu pulang dulu, saya tunggu jawaban kamu besok.”
“Pak, semalam mana cukup buat mikirin keputusan besar kayak gitu. You can’t do this! Daripada saya cuma harus mikir semalam, langsung aja saya jawan saya gak setuju.”
“Baiklah, saya beri kamu waktu seminggu.”
“Setidaknya sebulanlah, Pak.”
“Seminggu atau kita nikah aja langsung besok.”
“Bapak kira nikah itu kayak liburan apa yang bisa langsung seenaknya, liburan aja masih perlu persiapan.”
“Kan tinggal bawa kamu untuk nikah, yang ribet biasanya kan pestanya. Pestanya kan bisa nyusul.”
“Ya kali, Pak! Ya sudah deh, saya pikirkan seminggu.”
“Sudah sampai, Ash.”
“Terima kasih, Pak.”
***
“Dianterin pulang sama siapa, Kak?” tanya Elliot.
“Sama temen aku, Pa. Papa kok tumben jam segini sudah pulang?”
“Yakin cuma temen?”
“Yakin, emangnya mau apalagi?”
“Pacar mungkin? Lagian kalau pacar juga gak papa sih, Ash. Umur kamu kan juga sudah cukup untuk pacaran.”
“Kak Ashley gak suka laki-laki, Pa!” ujar Lyona yang kebetulan juga ada di ruang keluarga.
“Sembarangan aja!” ujar Ashley.
“Lah kan pas itu Kak Ashley sendiri yang bilang,” ejek Lyona kemudian memeletkan lidahnya.
“Maksudku pas itu bukan gak suka laki-laki, tapi lagi gak suka sama laki-laki manapun,” ujar Ashley membela dirinya.
“Gak kok, pas itu Kak Ashley bilang gak suka laki-laki, Pa. Tanya aja sama mama, Pa, mama juga denger pas itu,” ujar Lyona.
“Sudah-sudah, kalian ini cuma dua bersaudara aja gak bisa akur. Papa gak bayangin kalau lebih dari dua, mungkin di rumah ini bisa terjadi perang dunia ketiga,” ujar Elliot.
“Aku ke kamar dulu ya, Pa,” ujar Ashley.
“Ya, kabur!” ujar Lyona.
“Biarin, wlek …,” balas Ashley sambil meletkan lidahnya dan langsung naik tangga menuju kamarnya yang berada di lantai atas.
***
Seminggu Kemudian …
“Haduh … mati deh aku, harus jawab apa aku ke Pak Arsen?” gerutu Ashley sambil mondar-mandir di kamarnya.
“Ashley-“ ujar Airine, “Oh, tumben sudah bangun?”
“Iya, tiba-tiba aja aku kebangun,” alibi Ashley.
“Yakin? Bukan karena gak bisa tidur? Mata kamu hitam loh.”
“Yakin.”
“Sini deh duduk dulu,” ujar Airine yang sudah duduk di tepi kasur dan menepuk tempat di sebelahnya.
“Gak mau cerita nih sama Mama? Sekarang anak Mama sudah bisa main rahasia-rahasiaan ya.”
“Bukan gitu, Ma. Ashley mau cerita, tapi takut, juga bingung mau mulai cerita darimana.”
“Coba deh, ceritain sebisanya kamu.”
“Ada yang ngajak aku nikah, Ma.”
“Siapa pacar kamu?”
“Itu masalahnya, Ma. Dia itu bukan pacar aku, juga bukan teman aku.”
“Lalu kok bisa tiba-tiba aja kamu nikah?”
“Dia itu dosen aku, Ma. Dosen paling serem sekampus.”
“Lalu?”
“Ya gitu, habis dia ngehukum aku, gak tau kesambet apa dia ngajak aku nikah.”
“Hmm … kalau menurut Mama ikuti aja kata hatimu, setidaknya kalaupum kamu nikah sama dosen kamu itu seharusnya gak ada masalah sih. Apalagi dia sudah punya kerjaan tetap, ‘kan? Daripada kamu nikah sama temen-temenmu yang masih pada kuliah yang masih bergantung dengan orangtuanya, lagian jarang ada laki-laki baik-baik kayak gitu.”
“Baik darimananya, Ma? Orang dia kelakuannya kayak setan.”
“Hush … sembarang aja kamu. Setidaknya dia gak macem-macem, gentleman, langsung aja kamu nikah.”
“Tapi aku masih ingin menyelesaikan kuliahku, Ma.”
“Kamu bisa bahas itu sama dosen kamu, kalau Mama diajak laki-laki baik-baik dan menjanjikan kayak gitu untuk nikah, Mama langsung iya-in. Tapi kamu kan bukan Mama, jadi ya terserah kamu. Tapi Mama akan dukung apapun keputusan kamu.”
“Iya, Ma.”
“Ya udah, kamu segera mandi dan langsung sarapan, nanti keburu telat kuliah.”
“Siap, Ibu Negara!” ujar Ashley yang langsung mengambil baju yang telah disiapkannya semalam untuk dipakai pagi ini dan mencium pipi Airine.
***
“Vian mana, Vin?” tanya Ashley saat melihat Vina yang hanya makan siang sendirian di kantin.
“Biasa bareng si Fabian main game,” jawab Vina.
“Gue mau cerita, Vin. Tapi jangan bilang siapa-siapa ya,” ujar Ashley.
“Kenapa lo, udah kayak detektif aja,” ujar Vina.
“Ish … Vina, gue serius ini!” kesal Ashley sambil mengembungkan pipinya.
“Iya, iya, masa gitu aja ngambek. Buruan deh cerita, sebelum si Vian muncul.”
“Jadi, ada laki-laki yang ngajak gue nikah.”
“What?!”
“Memangnya sejak kapan lo punya pacar?”
“Dia bukan pacar gue, gue aja baru kenal.”
“Demi apa? Wah … laki-laki mana itu? Kalau lo gak mau kasih ke gue aja, gue mau kok. Hari gini dimana bisa nemu laki-laki gentle kayak gitu.”
“Sembarangan! Lo kira dia barang?”
“Ya kalau gue jadi lo sih gue terima aja, apalagi kalau ganteng. Please … jangan bilang kalau dia gak menuhi kriteria laki-laki lo juga.”
“Sebenernya dia masuk kok ke kriteria laki-laki aku, pinter: iya, bisa kerja: iya, sopan: iya, bonusnya ganteng.”
“Wah … embat aja laki-laki kayak gitu, Ash. Perfect!”
“Mana ada?! Dia juga ada kekurangannya.”
“Selama kamu masih bisa toleransi sih gak masalah, Ash. Karena kalau lo nikah, lo memang harus bisa toleransi sama pasangan lo, harus bisa saling melengkapi.”
“Iya sih, anyway … makasih atas masukan lo. Gue cabut dulu, masih ada kelas di kampus satunya.”
“Gak mau kasih gue tau dulu siapa orangnya sebelum cabut nih?”
“Nanti aja deh, kan belum tentu gue jadi sama dia.”
“Ya udah, hati-hati. Ikuti aja kata hati lo.”
“Iya, terima kasih sarannya”