Janji Di Depan Makam Orang Tua

1421 Words
Xing Zaolin setelah merenung dan berdoa di depan makam kakek, lalu membakar kedua kitab yang ia bawa waktu kecil, kitab cakar naga dan kitab dewa pedang, karna menurut kakeknya kitab yang dimiliki oleh Xing Zaolin adalah kitab yang di cari-cari oleh dunia persilatan, sedangkan pedang pendek naga merah diselipkan di pinggangnya dan itu satu-satu nya pusaka peninggalan Sekte Naga Merah. Sebuah tali yang di ambil dari kulit kayu melilit di pinggang Xing Zaolin, dua buah pedang pendek dengan gagang yang berbentuk kepala naga, pedang pendek yang terbuat dari baja hitam yang sangat langka, berada dikiri dan kanan pinggang Xing Zaolin. Pemuda tampan berkulit putih dengan d**a telanjang dan sepasang pedang pendek yang terselip di pinggang nya, menatap ke arah tebing tinggi yang menjulang di depan nya. Menurut Kakek tebing inilah ada pijakan-pijakan yang bisa membuat aku bisa naik ke atas puncak merah dengan menggunakan ilmu raja angin. Xing Zaolin menarik nafas dalam-dalam lalu menghembuskan keluar, kemudian Xing Zaolin langsung melesat ke arah tempat dia menempa tahap ilmu ketiga jubah emas, sebuah lubang yang menjadi kenangan buat nya. Whuutt.....tap..tap..tap. Xing Zaolin langsung melesat ke dinding cadas yang licin, dan kaki nya langsung menginjak lubang tempat ia bertapa, setelah menarik nafas kembali, kemudian Xing Zaolin melentingkan tubuhnya dengan ilmu meringankan tubuh raja angin, dari lobang-lobang sebesar kaki yang di buat oleh kakek, empat kali meloncat, tebing tinggi menjulang itu berhasil di taklukkan oleh Xing Zaolin. Xing Zaolin menarik nafas dan memandangi sekeliling puncak merah, hutan, gunung, semua terlihat kecil. Perlahan Xing Zaolin menuruni jalan setapak yang ada, yang pernah ia lewati sewaktu masih berumur lima tahun bersama kakeknya Naga Angin. Mata Xing Zaolin berkaca-kaca setelah sampai di perkampungan Sekte Naga Merah, hanya puing-puing tengkorak putih berserakan membuat seram Lembah Merah itu yang dulu pernah ia tempati sewaktu masih kecil. Xing Zaolin berlutut dengan air mata bercucuran ketika melihat dua buah tengkorak yang hanya tinggal setengah, dan satu tengkorak yang utuh, sedangkan tulang tangan dari tengkorak itu seperti saling pegang dengan kepala tengkorak saling berhadapan. Xing Zaolin berlutut di depan kedua tengkorak itu, karna Xing Zaolin masih teringat akan peristiwa kelam semasa ia berumur lima tahun, kegembiraan dan suka cita langsung berubah menjadi sebuah malapetaka. Ayah, ibu, Xing Zaolin berkata sambil berlutut ke arah kedua tengkorak itu, kejadian ini akan ku balas, akan ku buat dunia menangis dan menyesali atas tindakan yang mereka ambil waktu itu. “Takkan kubiarkan mereka yang menyerang Sekte Naga Merah dengan tenang,” Ujar Xing Zaolin. Lalu Xing Zaolin mulai membuat lubang besar di tengah perkampungan, dan menguburkan tengkorak yang berserakan, sementara sebuah makam terpisah ia buat untuk ayah dan ibunya. Ke esokan harinya Xing Zaolin mulai berjalan mengikuti kakinya melangkah, karna ia tak tahu arah kemana yang akan ia tuju, dengan memakai daun-daun yang agak besar dan sambung-sambungkan Xing Zaolin untuk menutupi tubuh nya. Tempat Lembah Merah sangat tersembunyi, ditengah hutan belantara dan Xing Zaolin lalu naik ke sebuah pohon yang paling tinggi untuk melihat ke arah mana ada jalan, tapi mata nya hanya melihat pohon dan bukit saja dari ke tinggian itu. Hmm..!! Disana ada sebuah sungai, Xing Zaolin berkata dalam hati, sambil matanya melihat ke utara, jika aku menyusuri sungai itu pasti akan menemukan sebuah perkampungan atau orang-orang di sekitar sungai. Setelah memastikan arah dan tujuannya Xing Zaolin kemudian melesat menuju sungai yang ia liat dari atas pohon. Setelah berpikir Xing Zaolin lalu memutuskan menggunakan ilmu raja angin, tubuhnya melesat dengan cepat. Tenaga dalam yang di latih selama tiga belas tahun makan buah naga api yang berkhasiat dan kiriman tenaga dalam yang di dapatkan dari kakeknya membuat tubuh Xing Zaolin seperti terbang. Dan tubuh yang melesat itu langsung perlahan melambat ketika telinga Xing Zaolin mendengar suara-suara seperti beradunya pedang. Lalu perlahan pemuda itu mendekati, meloncat dari satu pohon ke pohon lain berusaha mencari suara beradunya senjata yang tadi ia dengar, dan ketika melihat pohon pisang yang buahnya masak, Xing Zaolin langsung mengibaskan tangannya, satu tanda kecil buah pisang ia sambar ketika tertebas dan membawanya. Arah suara semakin lama semakin nyaring terdengar oleh telinga Xing Zaolin. Xing Zaolin melihat tiga orang sedang menghadapi puluhan orang berpakaian hitam, dan ketiga orang itu berusaha melawan pengeroyokannya dengan posisi bertiga di tengah, dan di kurung oleh pengeroyokannya. Baju-baju ketiga orang itu yang salah satunya seorang wanita sudah banyak yang sobek, akibat pedang pengeroyok yang mengurung sambil menyerang dan mereka sambil ketawa-ketawa meledek dan mempermainkan orang yang ada di tengah. Xing Zaolin lalu duduk di sebuah pohon, dan asyik melihat pertempuran mereka sambil memakan buah pisang, karna baru kali ini ia setelah dewasa melihat lagi orang yang sedang bertempur. Ayah hati-hati, terlihat teriak pemuda yang tengah terkepung kepada pria berumur sekitar lima puluh tahunan yang masih terlihat gagah, sedang kan wanita yang bersama mereka berkata, “Ayah apa tanda bahaya dari perguruan sudah ayah lepaskan?” Ayah tak membawa suar api tanda bahaya, karna ayah tak akan pergi lama, orang itu berkata kepada gadis nya. Ha ha ha. Kalian terus saja berbisik-bisik, setelah puas nanti malam yang gadis berbisik-bisik denganku, pria berbaju hitam berkata, wajah nya terlihat sangat bernafsu sekali kepada gadis berkulit putih itu yang terlihat dari sobekan baju yang terkena pedang oleh anak buahnya. Kalian jangan sampai melukai kulit nya yang mulus itu, lelaki yang memakai topeng hitam berkata, yang sepertinya seorang pemimpin dari gerombolan pengeroyok. “Ketua jika bajunya saja yang di buka bagaimana, boleh, tidak?” Salah seorang dari pengeroyok berkata. Hmm..!! Bajunya ya...!! Pria bertopeng itu berkata sambil meraba-raba dagu. “Baik lah, anggap saja itu rejeki kalian bisa melihat calon teman tidurku malam ini.” Wajah gadis cantik itu berubah wajah nya merah dan sangat gusar, mendengar perkataan-perkataan tidak senonoh itu dari para pengeroyok berpakaian hitam itu. Nak, jangan dengarkan perkataan mereka, anggap saja angin lalu jika keadaan bertambah buruk, kalian berdua lari dan selamatkan diri, ayah akan menahan mereka sebisa mungkin, pria yang ternyata ayah dari pemuda dan gadis itu berkata. Setelah berbisik-bisik dan memberi tahu kepada kedua anak nya, pria gagah itu lalu berkata, “Tuan, kami dari perguruan pedang perak tak pernah merasa bermusuhan dengan siapapun dan apa maksud tuan dengan mencegat kami di hutan ini, dan jika aku boleh tau ada sangkut paut apa tuan dengan perguruan kami,” Pria gagah itu berkata. Hmm..!! “Ketua perguruan pedang perak, kakakmu itu tidak mau menturuti orang yang telah memberikan kebaikan dan malah mencibir, dan tugas kami adalah membrantas orang-orang seperti kalian asal bayaran yang di tawarkan sesuai, maka kami akan melaksanakan nya apapun perintah itu,” Ujar pria bertopeng pemimpin pengeroyok itu. “Jadi kalian adalah pembunuh-pembunuh bayaran?” Ujar adik dari ketua perguruan pedang perak. “Siapa yang membayar kalian untuk membunuh orang-orang dari perguruan pedang perak?” Ketua dari perguruan pedang perak berkata. Hmm..!! Kau pikir kami dari Sekte Naga Merah, mau menyebut orang yang sudah membayar kami. Xing Zaolin yang melihat dan mendengar perkataan pria bertopeng itu langsung melesat dari atas pohon tempat ia mengintai. Whuutt..!! Mereka semua terperanjat melihat kehadiran Xing Zaolin, semua mata yang ada di sana langsung mengarah ke arah Xing Zaolin, sedangkan gadis cantik itu menutup matanya dan menjerit. Aww...!!! Sedangkan para gerombolan yang mengaku berasal dari Sekte Naga Merah menatap ke arah Xing Zaolin kemudian mereka tertawa terbahak. Ha ha ha. “Kera hutan dari mana yang berani mengganggu kami?” Salah seorang pria berpakaian hitam berkata. Xing Zaolin yang memakai baju dari dedaunan tak menyadari bahwa baju daun yang ia buat dan celana kulit pohon, ketika berlari dan melompat dari dahan ke dahan, dengan menggunakan ilmu raja angin banyak baju yang sobek dan celana yang ia pakai menutup bagian terlarang agak tersingkap, membuat gadis cantik itu menutup mata dan menjerit. Belum lagi keadaan rambut panjang yang tak pernah di sisir, wajah berdebu dan mulutnya masih mengunyah pisang yang ia temukan ketika mencari mereka yang sedang bertempur. Xing Zaolin menatap wajah pria bertopeng dari atas sampai kaki, benar-benar pas, Xing Zaolin berkata sambil mengunyah pisang. “Apa maksud perkataan mu,” Ujar pria bertopeng itu. Whutt..plaak..kreakk. Xing Zaolin langsung melesat ke arah pria bertopeng itu dan menamparnya, tapi yang terjadi sungguh mengejutkan semua yang ada di sana, ketika melihat pria bertopeng hitam terpental dan tak bangun lagi karna kepala nya pecah oleh tamparan Xing Zaolin tanpa memperdulikan orang lain dan melihat dirinya. Xing Zaolin kemudian membuka baju pria bertopeng hitam yang telah tewas, kemudian memakai baju yang dari kain sutra mahal itu. Setelah melenyipkan kedua pedang pendeknya di pinggang lalu melihat ke arah celana sutra hitam yang agak nya masih baru. Agak nya pakaian ini dan celana cocok untukku, Xing Zaolin berkata seorang diri.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD