Kehancuran Sekte Naga Merah

1271 Words
Xing Fank menatap tajam kearah Dewa Api. "Tuan adalah seorang tokoh yang dihormati, kenapa tuan tidak selidiki dulu siapa yang telah membunuh Jeet Li...!! Bukti sudah kuat, dan ada yang melihat orang-orang mu bergerak diarea itu,” Dewa Api berkata sambil balik menatap tajam kearah Xing Fank. Xing Fank yang melihat Naga Angin kemudian berkata menggunakan ilmu memindahkan suara yang hanya bisa di dengar oleh Naga Angin. “Paman tolong bawa Xing Zaolin kepuncak merah, dan katakan pada pertapa sakti yang ada disana, bilang saja aku nitip Xing Zaolin, nanti akan ku ambil Xing Zaolin setelah urusan disini beres, dibawah ranjangku ada 2 buah kitab pusaka perguruan kita, dan sepasang pedang pendek lambang perguruan, kau bawa juga dan titipkan pada pertapa itu.” Xing Fank berkata. Naga Angin mengangguk setelah mendengar perkataan ketua nya, dan melesat pergi. “Hmm...!! Rupanya kau diam, tadi sedang ber bisik-bisik Dengan anak buah mu, Berikan kitab cakar naga merah dan kitab dewa pedang, aku akan jamin kalian bisa bernafas lebih lama dan aku akan membantu Sekte Naga Merah ini.” “Phuuuuih...!!" “Aku tak percaya omongan, seorang yang serakah, kau adalah seorang pertapa, tapi rupanya nafsu dunia mu masih juga belum hilang." Xing Fank berkata kepada Dewa Api. “Hmm...!!” “Rupanya kau memang sudah bosan hidup dan orang tadi juga takkan hidup lebih lama lagi.” Dewa Api berkata. Xing Fank lalu mengeluarkan sepasang pedang pendek yang gagang nya berbentuk kepala naga. Kemudian me mutar-mutar pedang pendek itu dikedua tangannya. Dewa Api mendengus melihat aksi Xing Fank yang menurut nya tidak menghargai nya sebagai seorang tokoh tua. Ketika mereka sudah bersiap, seorang berpakaian hitam datang, wajah nya sangat menyeramkan karna hanya mempunyai sebuah mata yang merah dan melotot, dengan sebuah golok besar ditangan nya, Kakek Mata Satu itu lalu berkata kepada Dewa Api. “Dewa Api kau sampai lebih dulu, apa kau membuat kesepakatan dengan mereka, dan mengkhianati perjanjian kita sewaktu berkumpul untuk membagi rata semua hasil rampasan dari Sekte Naga Merah.” “Diam kau...!! Aku bukan orang seperti kau Iblis Mata Satu, jika kau ingin bertempur denganku, kau bergabung saja dengan Xing Fank," Dewa Api sangat marah mendengar perkataan dari Iblis Mata Satu, yang mengatakan mereka teman satu komplotan dalam menyerang lembah merah. “Sudah, tidak usah banyak bicara, Sekte Naga Merah adalah perkumpulan orang yang tak takut mati, karna kematian memang sudah menjadi bayangan anggota Sekte Naga Merah.” Sementara itu, Xing Zaolin menatap kearah ayah nya dari sebuah jendela, ketika perkampungan didatangi penyusup, Xing Zaolin langsung dibawa kerumah nya. Dan Xing Zaolin melihat ayahnya berhadapan dengan kakek yang serba merah, dan kakek bermata satu yang sangat seram. Xing Zaolin merasa terkejut ketika pundak nya seperti ada yang meraba, ketika melihat kebelakang, Naga Angin tersenyum kearah nya. “Nak mari kita pergi ke puncak merah, nanti ayah mu menyusul,”ujar Naga Angin. "Tidak, kakek. Aku mau menunggu ayah," Xing Zaolin berkata. "Nak, disini berbahaya, dan jika kau berada disini akan mengganggu konsentrasi ayah mu nanti." “Ingat kau adalah anggota Sekte Naga Merah, dan harus menurut perintah,” Imbuh Kakek Tua yang dikenal sebagai Naga Angin. Bocah kecil berusia 5th itu diam, tak bicara lagi dan hanya bisa menangis ketika Naga Angin menggendong nya. Mata Xing Zaolin masih menatap kearah ayah nya yang telah bertempur, melawan Dewa Api dan sesekali dibokong oleh Iblis Mata Satu. Naga Angin kemudian melesat menuju kearah sebuah tebing curam, dan licin yang disebut puncak merah, karna tempat nya yang selalu berkabut yang tak bisa melihat jarak yang jauh. Xing Fank dan pedang pendek nya melesat, sambil sesekali memutar pedang pendek itu dikedua tangan nya, dan menyerang kearah Dewa Api dan Iblis Mata Satu. Dewa Api sebenar nya tak mau dibantu melawan Xing Fank karna ia merasa sebagai seorang tokoh tua yang dihargai didunia persilatan merasa malu. Tapi serangan pedang pendek dari jurus dewa pedang yang digunakan Xing Fank sangat merepotkan Dewa Api, dan semakin membuat Dewa Api semakin bernafsu mengalahkan Xing Fank dan merebut kitab yang sangat dicari dan diinginkan oleh orang-orang dunia persilatan. Dewa Api turun dari pertapaan, karna diajak oleh Dewa Tombak, yang berkata mereka sudah menemukan kitab dewa pedang yang terdapat di Sekte Naga Merah. Akhirnya Dewa Api terkena bujuk sahabatnya dan mau ikut menyerang Sekte Naga Merah, karna Sekte Naga Merah memang sebuah Sekte misterius yang pekerjaan nya hanya membunuh untuk mendapatkan uang. Xing Fank lalu langsung menyabet kearah perut. Traang...!! Golok besar, menangkis, dan pedang pendek kemudian berputar kembali ke tangan, lalu menyerang ke samping, menghalau tangan Dewa Api yang menyambar leher Xing Fank. Dewa Api menarik serangan nya karna tak mau tangan nya terbabat putus. Xing Fank menang dalam hal ilmu pedang tapi tenaga dalam nya kalah setingkat di bandingkan dengan Iblis Mata Satu dan 2 tingkat dibawah Dewa Api. Dan kelebihan itu yang di manfaatkan oleh kedua tokoh dunia persilatan beda golongan itu. Melihat semakin banyak, orang yang masuk ke perkampungan, sementara Dewa Api dan Iblis Mata Satu mulai cemas melihat sebagian pendekar dan perguruan yang bersama mereka, mulai memasuki rumah dan memeriksa, sedangkan anggota Sakte Naga Merah mulai berguguran karna banyak nya penyusup dan rata-rata adalah pendekar-pendekar yang sudah memiliki nama besar, dan perguruan besar, sehingga membuat anggota Sekte Naga Merah satu persatu, tewas dikeroyok oleh penyusup itu. Rumah, kandang dan gudang perbekalan, setelah diperiksa dan benda berharga dikeluarkan, lalu tempat nya dibakar. Lembah merah yang biasanya tenang kiniter lihat sangat kacau, api membesar membakar rumah-rumah anggota Sekte Naga Merah. Suara teriakan dan beradu nya pedang, terdengar sangat jelas dilembah merah, tempat yang biasanya jarang didatangi manusia selain anggota Sekte Naga Merah. Xing Fank sangat geram, ketua Sekte Naga Merah itu, mengeluarkan jurus, putaran dewa pedang, kedua pedang pendek nya, terus berputar dikedua tangan, yang juga menimbulkan angin yang bisa membuat kulit sobek atau panas. Iblis Mata Satu itu juga memutar golok nya yang besar, angin menderu keluar dari putaran golok, sedangkan Dewa Api menyerang dengan pukulan jarak jauh yang mengeluarkan angin panas, Xing Fank terdesak hebat, tenaga dalam nya kian melemah akibat tekanan dari kedua tokoh besar itu. Ketika Xing Fank menghindari hantaman telapak milik Dewa Api, golok besar langsung melesat kearah perut Xing Fank. Sreeeet...!! Xing Fank sulit menghindar, golok Iblis Mata Satu yang menyabet perut nya, darah langsung bercucuran keluar. Melihat Xing Fank terhuyung, Dewa Api langsung melesat dan langsung menghantam punggung Xing Fank. Bhuuk...aaaaagggrh...!! Dewa Apiter kejut, ketika telapaknya menghantam seorang punggung wanita paruh baya, baju dan d**a wanita itu tergambar sebuah telapak tangan berwarna merah, wanita paruh baya itu langsung menyemburkan darah dari mulut nya, dan tewas seketika karna jantung nya ikut pecah terkena hantaman telapak api. Xing Fank sambil memegangi perut nya, berteriak melihat istrinya tersungkur. “Yuaaan...yuan..yuaaan...!!!” teriak Xing Fank dengan histeris. Whuuut...craaaahs...!! Golok besar Iblis Mata Satu langsung membabat pinggang Xing Fank. Pinggang Xing Fank terputus, terkena sabetan golok Iblis Mata Satu, dan ketua Sekte Naga Merah itu langsung tersungkur, dan jatuh di dekat mayat istrinya. Perlahan, Xing Fank begerak dengan tubuh yang tinggal setengah badan, bergerak. Perlahan dan memeluk mayat istrinya. “Yuaan..yuaan,” Xing Fank menghembuskan nafas terakhirnya sambil berpelukan erat dengan istri nya, dan matanya ketika tewas melihat kearah tebing yang ada dibelakang lembah. Diatas tebing itu, Naga Angin sedang menggendong Xing Zaolin, dan dari ketinggian Xing Zaolin melihat jelas, ayah nya bertarung melawan kedua musuh nya, sampai akhirnya kedua orang tua nya tewas. Xing Zaolin tak bisa berkata apa-apa, hanya air mata nya bercucuran, melihat ayah dan ibu nya tewas. Kemudian bocah 5th itu, langsung merapatkan kepalanya ke punggung kakek Naga Angin, dan menangis tapi mata nya tetap kearah mayat kedua orang tua nya. Yang semakin lama semakin kecil dan tak terlihat.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD