Kehancuran Part 2

1237 Words
"Xing Zaolin kau harus kuat dan jangan lemah, kematian bagi anggota Sekte Naga Merah adalah seperti bayangan tubuhnya sendiri, karna kita adalah seorang pembunuh dan seorang pembunuh harus kuat menghadapi situasi apapun, apakau mengerti?" Xing Zaolin mengusap air mata yang membasahi pipi dengan tangan kiri, sementara tangan kanan nya masih memeluk Kakek Naga Angin. Ketika tengah lompat dan hendak menuju kearah puncak, sebuah desiran angin terasa oleh Naga Angin dibelakang nya. Sreeeet,...braaak!!! Kakek Tua itu langsung berbalik dan menghantamkan tangan nya, senjata rahasia yang berupa beberapa paku kecil berwarna hitam langsung rontok terkena hantaman dari pukulan yang dikeluarkan oleh Naga Angin. Naga Angin melihat beberapa orang sudah mulai naik dan menuju kearah nya. Naga Angin mengela nafas, kemudian menurunkan Xing Zaolin dari punggung nya dan berkata. "Nak, simpan kedua kitab ini, dan larilah kepuncak merah diatas sana, jika sudah berada dipuncak, kau akan aman." Setelah berkata, Naga Angin langsung memasukan 2buah kitab yang terlihat tua dan sepasang pedang pendek berwarna merah dengan ujung gagang pedang berukiran kepala naga berwarna merah, kedalam baju Xing Zaolin. "Cepat kau lari...!!Ingat pesan kakek.” "Apapun yang terjadi jangan melihat kebelakang." Xing Zaolin mengangguk mendengar perkataan kakeknya, anak berusia lima tahun itu kemudian perlahan mulai naik ke atas puncak Merah yang dimaksud oleh Naga Angin. "Tunggu, jangan lari..!!" kejar bocah itu,” Terdengar dari beberapa orang yang naik berteriak, sambil mengejar Naga Angin. Naga Angin berdiri didepan sebuah semak belukar, yang menutupi jalan setapak, dimana Xing Zaolin mulai naik melalui jalan setapak itu. Ketika salah seorang sampai ditempat Naga Angin, Kakek Gagah itu langsung bergerak. Whuuut,..plaaaak,..aaaarrrrgh. Gerakan Naga Angin yang cepat, langsung melesat kearah orang yang baru saja datang, dan langsung menghantam kepala orang itu, kemudian orang itu langsung terlempar dan tewas. Ilmu meringakan tubuh Naga Angin memang yang paling tinggi diantara anggota Sekte Naga Merah yang lain, dan mendapat julukan Naga Angin. "Rupanya Naga Angin...!!" seorang kakek tua yang membawa sebuah tombak pendek berkata. Naga Angin terkejut melihat kakek itu, dan mulai pasang kuda-kuda, lalu berkata. "Dewa Tombak..!! Aku sering dengar slentingan orang berkata, bahwa diantara 3 dewa yang tersisa, kau adalah Dewa yang paling serakah, dan ternyata perkataan orang-orang itu benar." "Tutup mulut mu.!! Orang yang sebentar lagi mati, pasti suka bicara ngelantur,” Dewa Tombak berkata. Hahaha. "Sudah tua rupanya kau masih saja ingin terlihat suci, orang-orang seperti dirimu yang sok suci yang sangat berbahaya bagi dunia persilatan, bukan kami dari Sekte Naga Merah." Naga Angin terus memancing Dewa Tombak berkata-kata, sambil memberi kesempatan kepada Xing Zaolin untuk cepat naik ke Puncak Merah. "Serahkan kitab Dewa pedang padaku, dan kau akan ku biarkan hidup," Dewa Tombak berkata. Phuuuuih..!! Naga Angin meludah, mendengar perkataan dari Dewa Tombak. "Kau pikir kami orang-orang dari Sekte Naga Merah takut mati?" "Jika kau merasa mampu, hadapi aku..!!" Dewa Tombak wajah nya langsung merah, dan amarah nya sudah tak bisa dibendung lagi mendengar perkataan dari Naga Angin yang terus memojokan dirinya. Kemudian Dewa Tombak langsung melesat kearah Naga Angin sambil berkata kepada anak buahnya. "Kalian kejar anak itu...!! Biar aku yang menghadapi orang tak tahu diri ini." Dewa Tombak memutar tombak pendek nya, lalu menusuk d**a Naga Angin. Naga Angin dengan ilmu meringankan tubuhnya bergerak kearah kiri, lalu tangan nya menghantam kearah pinggang Dewa Tombak, Dewa Tombak yang balik diserang, langsung menghantamkan tombak nya ke arah tangan Naga Angin yang menyerang kearah pinggang. Plaak. Naga Angin langsung menepak badan Dewa Tombak, lalu melontarkan tubuh nya. Kemudian melesat kearah murid Dewa Tombak yang hendak naik mengejar Xing Zaolin. Sebuah tendangan kearah punggung, langsung menghantam murid Dewa Tombak. Murid Dewa Tombak yang tak menyangka akan diserang, langsung tersungkur, dan tak bangun lagi karna tulang punggung nya patah terkena tendangan dari Naga Angin. Dewa Tombak yang melihat murid nya sekali serang langsung terkapar sangat marah. Dewa Tombak, langsung menusuk kearah d**a Naga Angin. Naga Angin terkejut melihat tombak pendek yang sangat cepat menuju ke arah dadanya. Kakinya menginjak sebuah batu, kemudian tubuh Naga Angin langsung mundur dengan cepat. Kedua tangan Naga Angin mengibas ke depan, serangkum angin deras langsung menyambar kearah Dewa Tombak. Dewa Tombak yang melihat, hawa tenaga dalam yang keluar dari tangan Naga Angin mendengus keras. Telapak kiri Dewa Tombak langsung, menghantam Gagang tombak nya, menyalurkan hawa tenaga dalam tingkat tinggi. Ujung tombak mengeluarkan suara bercuitan menerjang angin yang keluar dari tangan Naga Angin. Naga Angin terkejut ketika melihat tombak lawan masih tak terbendung oleh tenaga dalamnya. Dan memang tenaga dalam Dewa Tombak masih beberapa tingkat diatas Naga Angin. Naga Angin berusaha menghindar dengan bergerak ke samping, tapi jurus tombak langit, yang digunakan tokoh kosen itu, tak bisa dihindari oleh Naga Angin yang sudah bergerak berusaha menghindar, Tombak berwana putih keperakan itu langsung menancap didada kiri Naga Angin. Naga Angin tangan kanan nya lansung menghantam kearah tangan lawan yang memegang tombak. Plaaak Tapi Dewa Tombak,menangkis hantaman Naga Angin dengan tangan kirinya, lalu tangang kanan nya terus menekan tombak yang sudah menancap di d**a kiri. Aaaargghhh. Naga Angin berteriak ketika tangan kanan Dewa Tombak menekan tombak yang sudah menancap di d**a, dan perlahan tapi pasti, tombak masuk semakin dalam. Lalu setelah mata tombak masuk, Dewa Tombak memutar tombak nya dan langsung menarik tombak itu. Breeeet...!! Tombak, keluar dari d**a, dan beberapa daging kecil juga ikut keluar dari dalam d**a dan menempel dimata tombak, dan sakitnya luar biasa. Naga Angin memegangi d**a kirinya yang bolong, darah terus menyembur dari d**a kirinya yang bekas tertusuk tombak lawan. Dewa Tombak langsung menendang pinggang Naga Angin, Naga Angin yang tak bisa menghindar lalu terlempar. Dewa Tombak langsung melesat memburu Naga Angin yang terlempar. Setelah sampai, kemudian Dewa Tombak langsung menghujamkan tombak nya keperut Naga Angin. Creeeeebbbs....aaaarrrghhh!!! Naga Angin menjerit ketika tombak menusuk perut nya, dan Naga Angin langsung tewas dengan dua luka tusukan didada dan perut nya. Sementara itu Xing Zaolin yang mendengar jeritan kakek Naga Angin, berhenti berlari, lalu menengok kebelakang, tapi kemudian bocah berumur 5 tahun itu berjalan kembali naik ke puncak merah, sebuah tempat yang dianggap keramat oleh sebagian anggota Sekte Naga Merah. Tangan dan kaki bocah itu sudah lecet dan berdarah. Tapi tekad untuk naik keatas puncak tak membuat langkah bocah itu berhenti, walau kakinya terasa sakit. "Itu dia, kejar bocah itu," terdengar sayup-sayup suara orang dibelakang Xing Zaolin. Xing Zaolin yang melihat orang-orang yang mengejar nya semakin dekat, langsung bergegas, dan perlahan tapi pasti naik terus keatas puncak merah. Semakin lama jalan naik ke atas semakin terjal. Jalan pun semakin menyempit, licin dan basah, dengan kiri dan kanan jurang yang dalam, Xing Zaolin terus berusaha naik keatas. Seorang pengejar mengeluarkan sebuah paku kecil berwarna perak. Lalu pria itu langsung mengibaskan tangannya. Shiiiing!!! Dewa Tombak yang terkejut, langsung teriak untuk jangan menyerang menggunakan senjata rahasia. Tapi teriakan Dewa Tombak terlambat, Sebuah paku perak langsung melesat dan menancap di punggung Xing Zaolin. Xing Zaolin yang langsung merasakan sakit di punggung nya, lalu tanpa sadar tangan bocah berusia 5 tahun itu berusaha meraih benda yang menancap di punggung. Dan pegangngan tangan nya pada batu langsung terlepas. Xing Zaolin terkejut, batu yang dipijak oleh bocah itu berlumut dan Licin, kaki Xing Zaolin langsung tergelincir dan tubuh nya melayang jatuh ke bawah jurang. Ketika akan berteriak karna merasa ngeri, Xing Zaolin teringat lagi dengan perkataan kakek nya Naga Angin," Anggota Sekte Naga Merah tak takut mati, karna kematian sudah seperti bayangan sendiri." ujarnya Hati Xing Zaolin merasa tenang setelah mengingat perkataan dari kakek nya Naga Angin. Tubuh nya semakin deras meluncur kebawah jurang. Xing Zaolin hanya bisa memejamkan mata dan pasrah.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD