Sebuah Perjanjian Sesat

1090 Words
Sementara itu di depan Lembah Merah, seseorang yang memakai krudung abu tua tengah berdiri di balik pohon besar. Seorang kakek kurus, melesat dan sampai di pohon besar. Hmm...!! Pria berkrudung abu tua itu mendengus melihat orang yang datang. “Tongkat setan, bagus hasil kerjamu apa semua sudah tewas?” Pria berkrudung abu tua itu berkata kepada tongkat setan. “Sudah tuan...!! Dan anak Xing Fank jatuh kedalam jurang” Ujarnya Bagus, beberapa bulan setelah beres masalah ini, kau datang saja, kau akan di angkat jadi seorang tetua di perguruanku, pergilah dan ingat jangan sampai ada yang tersisa dan tahu masalah ini, kau mengerti...!! Ujar pria berkrudung abu tua itu. “Hamba mengerti tuan,” Tongkat setan berkata. Pria berkrudung itu lalu berkelebat dengan sangat ringannya lalu melesat pergi, sekilas di balik jubah abu miliknya pakaian berwarna merah terlihat. “Aku berhasil, akhirnya aku menjadi tetua di perguruan no 1 di dunia persilatan,” Tongkat setan berkata dalam hati, tampak bibirnya tersenyum dan raut wajahnya terlihat sangat gembira. Tongkat setan kemudian melesat pergi ke arah perkampungan Lembah Merah untuk membumi hangus kan bangunan yang tersisa, dan memastikan anggota Sekte Naga Merah tidak ada yang selamat. Suasana siang di dasar Lembah tertutup kabut. Seorang kakek tua berpakaian hitam yang terlihat lusuh, tengah duduk di sebuah telaga bening yang terlihat banyak ikan di dasar telaga, di depan nya ada sebuah joran yang melengkung dan terdapat tali yang masuk ke dalam telaga, kakek itu tengah memancing dan senyam-senyum melihat ke arah telaga. “Makan! Makaaan! Ayo cepat makan aku sudah lapar, kau kuberi makan dan aku makan kau,” Ujarnya kakek berpakaian hitam itu. Ketika sebuah ikan besar tengah memakan umpan yang berada di kail sang kakek ujung mulai sedikit-sedikit bergetar dan bergerak-gerak melengkung ke arah telaga, kakek berpakaian hitam itu lalu terdiam, telinganya bergerak-gerak seperti tengah mendengarkan sesuatu. Terlihat sesuatu melesat dari atas, meluncur dengan sangat cepat ke arah telaga. Syuuuuuuuutt...Byuuuurr!! Air telaga muncrat ke atas dan membasahi sekitar telaga yang dalam itu, tak terkecuali si kakek yang semua baju nya basah terkena muncratan air telaga, alat pancing nya terhempas dan hilang entah kemana. Hmmm...!! Kakek berbaju hitam yang basah kuyub itu mendengus sambih menatap ke arah tengah telaga, ketika melihat sesuatu seperti kayu yang tadi jatuh, muncul ke permukaan, kakek berpakaian hitam itu menghantam ke arah telaga, dan wajah nya terlihat kekuningan ketika menghantam. Whuuuut, blaaaarrr...!! Pukulan telapak kakek itu sungguh dasyat, air telaga langsung muncrat ke atas, kakek berpakaian hitam itu terkejut ketika melihat sesuatu benda yang melesat cepat ke arah dinding batu cadas di pinggir telaga. Benda yang seperti kayu itu ternyata seorang bocah, ketika terhempas dan terlempar ke arah dinding batu kepala nya tanpa senganja bergerak dan terlihat oleh kakek berpakaian hitam, kakek itu langsung melesat gerakannya sangat cepat dan melesat di antara cipratan air. Whuuut, creeepp...!! Kakek berpakaian hitam menangkap baju bocah itu lalu memeluknya kemudian melesat kembali ke pinggir telaga. “Kupikir batu atau kayu,” Kakek berpakaian hitam berkata dalam hati, sambil menatap ke arah bocah yang ternyata adalah Xing Zaolin, kakek berpakaian hitam, ketika membopong merasakan sesuatu yang hangat meleleh di tangannya, lalu melihat ke bawah yang ternyata darah bercucuran di punggung Xing Zaolin. “Darah...!! Ada darah di punggung nya!” Ujarnya sang kakek. Kakek itu langsung melesat dan meletakkan Xing Zaolin di bawah sebuah pohon rindang, ketika perutnya di tekan air muncrat ke luar dari mulutnya, lalu tubuh nya di balik kakek itu melihat sebuah paku perak, tapi tidak beracun menancap di punggung Xing Zaolin. Kakek itu lalu mencabut paku perak kemudian menepak nepak dan menguruti punggung Xing Zaolin, air kembali kluar dari mulut Xing Zaolin tapi kali ini di sertai batuk-batuk dari sang bocah. Hmmm...!! “Ternyata dari Sekte Naga Merah, kenapa bisa masuk jurang?” Ujarnya sambil mondar-mandir berjalan di depan Xing Zaolin yang masih tak sadarkan diri. Kakek inilah yang di maksud Xing Fank ketika menyuruh Naga Angin pergi ke puncak merah, tapi ketika pergi ke puncak merah tak kan menemukan sang kakek karna sudah berdiam diri di dasar jurang sebelah puncak merah. Xing Fank pernah bertemu dengan kakek itu tapi hanya dengan sepuluh jurus Xing Fank Langsung keok, dan tak berani naik ke atas puncak merah apalagi setelah di beri penegasan bahwa orang itu tak mau di ganggu, Xing Fank tidak tahu siapa dia tapi melihat kepandaiannya ia merasa ngeri, jika Xing Fank tidak tau kalau dia adalah Dewa Gila. Salah seorang dari tiga Dewa, selain Dewa Api dan Dewa Tombak. Dewa Gila atau banyak juga orang menyebut Pertapa Gila, ia di isukan telah tewas karna sudah lama tak terdengar kabar nya dan ternyata ia berada di puncak merah. Ketika masih berkelana, kalau penyakit gila nya kambuh ia akan mengobrol sendiri, kadang ketawa-ketawa, jika ia kesal jangan harap ada yang selamat jika lewat di dekatnya, hingga mendapat julukan Dewa Gila, banyak pendekar ternama yang di bunuh oleh nya hingga ia di buru, tapi Dewa Gila selalu membunuh siapa saja yang coba-coba mendekatinya hingga terdengar kabar ia telah tewas. Sekte Naga Merah, dua kitab dan sepasang pedang naga merah, Dewa Gila berkata dalam hati sambil melihat d**a Xing Zaolin yang ada gambar kepala naga berwarna merah, Dewa Gila lalu membawa Xing Zaolin ke goa tempat tinggal nya lalu meletakkan bocah itu di dalam goa. Sialan...!! Harusnya aku makan ikan tapi gara-gara bocah itu aku tidak bisa mancing karna jorang dan benangnya hilang akibat terhempas oleh gelombang air akibat jatuh nya Xing Zaolin. Dewa Gila lalu menuju telaga ia memperhatikan air telaga yang bening, ketika ia melihat sebuah ikan besar melengak-melengok di dasar telaga ia lalu menyentilkan tangannya, sebuah sinar melesat ke dalam telaga dan menghantam badan ikan. Whuuutt, creeeeps...!! Ikan bersisik itu langsung menggelepar ketika badannya tembus terkena sentilan Dewa Gila, ia langsung melesat mengambil ikan tadi kaki menapak di atas air dan kembali ke pinggir telaga. Huuh...!! “Menangkap ikan seperti ini tidak ada seninya,” Ujarnya sambil membawa ikan ekor kuning, setelah berada di luar goa ia membakar ikan ekor kuning itu kemudian memakannya sisa daging ikan yang berada di bagian ekor dia bawa ke dalam goa dan melihat Xing Zaolin masih tidur. Dewa Gila menatap Xing Zaolin sambil memegang janggutnya. Boleh juga...!!! Masih segede peyek sudah mempunyai gambar kepala naga di dadanya, mata Dewa Gila berputar-putar seperti orang tidak waras, tiba-tiba ia tertawa menggelegar sampai meretakkan dinding goa. Penyakit gilanya kambuh, matanya berkilau menatap ke arah Xing Zaolin dan berkata sambil tertawa, akan kubesarkan kau. Ha ha ha “Jika sudah besar pasti jadi pembunuh no 1,” Ujarnya si Dewa Gila sambil terbahak-bahak. Ha ha ha.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD