Kesepakatan

1679 Words
Xing Zaolin setelah berhasil membereskan ke dua saudara bermarga Ma, lalu kembali ke rumah kecil yang sekarang menjadi milik nya. Ketika sampai di rumah, Xing Zaolin melihat Ling Lung dan Ling Leng sedang membereskan rumah kecil tempat ia tinggal, sedangkan Ling Ling duduk dengan wajah cemberut. “Kakak Xing Zaolin sudah kembali, berarti mereka sudah!!” Ling Leng tak melanjutkan perkataan nya, tapi mata Ling Leng menatap ke arah Xing Zaolin seakan-akan meminta jawaban dari Xing Zaolin. Xing Zaolin tak menjawab dan hanya menganggukkan kepala. Setelah berada di dalam, melihat Ling Ling hanya duduk sedangkan yang lain bahu membahu membersihkan ruangan di dalam rumah. Xing Zaolin mengerutkan dahi dan berkata, “Sedang apa kau?” “Apa kau tak lihat, aku sedang apa?” Ling Ling berkata. Xing Zaolin hanya melirik, tak menjawab perkataan Ling Ling. Xing Zaolin kemudian duduk di kursi yang tak jauh dari Ling Ling. Tak lama kemudian, Nio Nio datang ke tempat Xing Zaolin, setelah memberi hormat kepada Xing Zaolin, Nio Nio duduk semeja berhadapan dengan Xing Zaolin. Ketika Nio Nio hendak berkata, Xing Zaolin mengangkat tangan dan berkata, “Tunggu dulu nyonya, tadi pagi masih ada arak di poci, tapi poci arak agak nya bocor,” Xing Zaolin berkata sambil melirik Ling Ling yang duduk tak jauh dari ibu angkat nya. “Kau menuduh aku yang meminum arak di pocimu itu?” Ling Ling berkata. Xing Zaolin tak menjawab perkataan Ling Ling, tapi melemparkan poci arak yang ada di depan nya ke arah Ling Ling sambil berkata, “Ambilkan arak.” Ciiis..!! “Kau pikir aku pelayan mu?” Ling Ling berkata. “Lalu kau sedang apa di rumahku?” Xing Zaolin berkata. Mendengar perkataan Xing Zaolin, wajah Ling Ling berubah merah tapi akhir nya gadis itu keluar mengambil arak karna ibu angkat nya memberi isyarat kepada Ling Ling, untuk menuruti apa perintah Xing Zaolin. “Tuan muda Xing aku ingin tahu syarat terakhir yang kau katakan tadi?” Ling Ling berkata. “Syarat terakhir ku sangat mudah nyonya, aku hanya ingin tahu semua informasi tentang orang-orang dunia persilatan, yang di terima rumah hiburan surga malam,” Xing Zaolin berkata. Nio Nio mendengar perkataan dari Xing Zaolin tampak termenung. Xing Zaolin melihat pemilik penginapan surga malam hanya diam tak menjawab perkataan nya. “Kenapa nyonya!! Apa nyonya keberatan dengan permintaan ku?” Ujar Xing Zaolin berkata kembali. “Bukan keberatan tuan muda Xing, tapi tuan muda juga harus memikirkan nasib kita di sini!! Apa yang akan terjadi jika informasi yang kami berikan bocor, tentu saja akan berakibat buruk buat kami semua yang ada disini.” “Ambil saja contoh dua bersaudara Ma, jika perguruan harimau besi mengetahui tetua mereka tewas di rumah surga hiburan malam, apa yang harus kita lakukan jika perguruan harimau besi meminta pertanggung jawaban dari kami,” Nio Nio berkata. “Nyonya tak usah khawatir, perguruan harimau besi tak akan meminta pertanggung jawaban, karna aku akan meratakan perguruan harimau besi mereka,” Xing Zaolin berkata. Nio Nio terkejut mendengar perkataan dari pemuda yang berada di depan nya. “Entah ada masalah apa dia dengan perguruan harimau besi, seperti nya pemuda ini sangat membenci perguruan harimau besi. Sewaktu berkata mata pemuda ini memancarkan kebencian yang amat dalam,” Nio Nio berkata dalam hati. “Bagaimana nyonya! Apa setuju dengan syarat terakhirku?” Xing Zaolin berkata sambil menatap tajam ke arah Nio Nio. “Tapi tuan muda Xing harus melindungi rumah hiburan surga malam,” Nio Nio berkata. Baik aku setuju!! Mendengar perkataan Xing Zaolin, Nio Nio tersenyum. Tapi senyuman Nio Nio langsung berubah kembali, ketika mendengar Xing Zaolin berkata. “Tapi setengah kepemilikan rumah hiburan surga malam harus diberikan padaku,” Xing Zaolin berkata. Nio Nio termenung mendengar perkataan dari Xing Zaolin. Perempuan setengah tua itu menghela nafas dalam-dalam, tak menjawab perkataan Xing Zaolin. “Tuan muda Xing lebih baik istirahat saja dulu, besok siang Nio Nio akan mengunjungi tuan muda Xing kembali,” Nio Nio akhir nya berkata. Setelah berkata, Nio Nio kemudian pamit undur diri. Setelah Nio Nio sudah tak terlihat, Ling Ling datang membawa guci arak kecil. “Kakak Xing apa ingin mendengarkan lagu?” Kami siap menyanyikan lagu dan memainkan musik yang kakak Xing sukai. Ling Ling yang sedang memegang guci arak tersenyum dan mengangguk mendengar perkataan dari Ling Leng. “Tidak, aku mau tidur,” Xing Zaolin berkata. “Ini arak nya,” Ling Ling berkata. “Taruh saja di meja,” Setelah berkata Xing Zaolin lalu berjalan ke arah ranjang dan merebahkan tubuh nya. “Bukan kah kau tadi ingin minum arak?” Ling Ling berkata, tampak mata nya berapi-api, memandang ke arah ranjang, berbagai macam perasaan campur aduk ada di hati Ling Ling. Selama ini belum pernah ada lelaki yang acuh pada nya, semua mendekati dan ingin diperhatikan oleh nya walaupun harus membayar mahal untuk mendapatkan itu, karna Ling Ling bisa dikatakan kembang nya kota shiro. “Tapi pemuda ini sama sekali tak melirik dan menghargai perasaanku sebagai wanita, aku ingin tahu apakah hatimu itu terbuat dari besi dan tak mempan oleh bujuk rayu seorang wanita,” Ling Ling berkata dalam hati. Pikiran bercabang dan hati yang kesal, membuat Ling Ling termenung di meja. Ling Ling meletakkan arak di meja, melihat guci arak entah kenapa hati nya Ling Ling kesal, karna teringat gara-gara arak ia jadi seperti pelayan yang gampang di suruh-suruh. Jari tangan Ling Ling bergetar, hendak menusuk guci arak agar guci retak dan bila perlu bolong, biar arak merembes keluar. “Nanti malam kau bangun dan ingin minum arak, ambillah guci kosong ini,” Ling Ling berkata dalam hati. Ketika Ling Ling hendak menusuk guci arak itu. Suara dari arah ranjang terdengar oleh Ling Ling. “Jika guci arak nya bocor, tolong ganti dan ambilkan yang baru,” Xing Zaolin berkata. Ciiis..!! “Dasar setan,” Ling Ling berkata sambil berjalan ke arah pintu kamar. Terdengar kembali suara dari arah ranjang. “Jika keluar tutup kembali pintu kamar nya takut ada tikus masuk,” Xing Zaolin berkata. Braaak. Ling Ling membanting pintu kamar Xing Zaolin, lalu menyusul kedua adik nya yang telah lebih dulu keluar dari kamar. Setelah ketiga gadis itu keluar kamar, Xing Zaolin bangun dan turun dari ranjang, di lantai ruangan kamar nya kemudian Xing Zaolin duduk bersila, bermeditasi untuk melatih dan menambah tenaga dalam nya melalui melalui ilmu jubah emas tahan pertama, yakni hawa emas. Tak lama kemudian Xing Zaolin tenggelam dalam meditasi yang ia lakukan. Pagi hari Xing Zaolin yang sekeliling tubuh nya mengeluarkan cahaya berwarna kuning emas membuka mata. Setelah menggerakkan kedua tangan, ke atas lalu ke depan, sambil menarik nafas dan menghembuskan nya kembali, Xing Zaolin membuka mata. “Sudah pagi rupanya,” Xing Zaolin berkata dalam hati. Xing Zaolin bagun dan berjalan ke arah jendela kamar dan membuka nya, cahaya matahari pagi langsung masuk menyinari wajah nya, ketika Xing Zaolin membuka jendela kamar. Xing Zaolin menarik nafas dalam-dalam, menghirup udara pagi yang segar, burung-burung kecil saling berkejaran di pohon rindang yang terlihat dari jendela kamar, sambil berkicau menambah semarak pagi hari yang indah. Xing Zaolin tersenyum, kemudian menoleh ke arah pintu kamar nya ketika mendengar suara ketukan. Masuk!! Xing Zaolin berkata, lalu dua orang pelayan masuk membawa baskom berisi air hangat untuk membasuh muka, setelah memberi hormat lalu meletakkan baskom dan sepoci teh panas dan makanan kecil, pelayan itu lalu keluar dari kamar Xing Zaolin. Xing Zaolin lalu mengambil kain yang terdapat di samping baskom, merendam nya kemudian di peras dan membasuhkan nya ke arah wajah. Wajah Xing Zaolin agak merak setelah terbasuh air hangat dan menambah ketampanan pemuda itu. Xing Zaolin lalu duduk, menuang teh dari poci ke dalam gelas kecil yang sudah tersedia. Suara ketukan pintu terdengar kembali, ketika Xing Zaolin tengah duduk sambil meminum teh panas nya. “Masuk,” Xing Zaolin berkata. Xing Zaolin mendengar langkah Nio Nio masuk bersama ketiga anak angkat nya. “Nyonya, ada apa lagi pagi-pagi sudah kesini?” Xing Zaolin berkata tanpa melihat ke arah pemilik rumah hiburan surga malam. “Maaf jika mengganggu waktu istirahat tuan muda Xing,” Nio Nio berkata. “Ciiis, sombong nya,” terdengar desisan pelan dari arah ketiga anak angkat Nio Nio. Walau pelan terdengar pelan, Xing Zaolin sudah tahu siapa yang tadi berkata. “Nyonya silahkan duduk,” Maaf tolong suruh anak nyonya yang pertama, untuk mengembalikan baskom ini ke belakang, Xing Zaolin berkata. Nio Nio hanya menghela nafas mendengar perkataan kedua nya, Nio Nio tahu sejak kejadian dengan dua orang bermarga Ma, Xing Zaolin dan Ling Ling itu seperti saling cibir. Nio Nio tidak tahu sebenarnya kejadian di atas perahu, mereka sudah bersiteru. Ling Ling tak menunggu ibu angkat nya berkata. Sambil mendengus mengambil baskom dan kain pembasuh, yang kemudian di kebutkan di depan Xing Zaolin sehingga beberapa percikan air mengenai wajah Xing Zaolin. Xing Zaolin tak berkata, hanya mengelap perlahan wajah nya dengan lengan baju. Melihat Xing Zaolin hanya diam ketika wajah nya terkena percikan air, malah membuat Ling Ling lebih kesal. “Ada apa nyonya?” Xing Zaolin berkata. “Tuan muda Xing jika ingin mendengar berita tentang orang-orang dunia persilatan, tuan harus pergi ke sancang bersama ketiga anak kami,” Nio Nio berkata. “Semalam datang utusan dari kota sancang, bangsawan Khe mengundang tiga kembang kota shiro, untuk menghibur acara yang akan ia adakan, dan kami dengar acara itu juga mengundang tokoh-tokoh besar dunia persilatan saat ini, dan perguruan harimau besi juga berpusat di sancang,” Ujar Nio Nio. Setelah tuan muda kembali dari sancang aku akan memberikan keputusan tentang rumah hiburan malam dengan tuan Xing,” Nio Nio berkata. Hmm..!! Pergi ke sancang rupanya, Xing Zaolin berkata. “Kapan kita bisa berangkat?” Ujar Xing Zaolin. “Besok rombongan akan berangkat,” Nio Nio berkata. “Jika tuan muda Xing ikut, lebih baik menyamar menjadi pengawal ketiga anak angkat kami, biar tidak di curigai oleh pihat pembesar Khe,” Nio Nio berkata. Xing Zaolin mengangguk mendengar perkataan dari Nio Nio. Ling Ling, yang sudah datang mengantarkan baskom, dan berdiri di belakang ibu angkat nya tersenyum melihat Xing Zaolin mengangguk. Tapi senyuman itu kembali berubah, setelah mendengar perkataan dari Xing Zaolin. “Pasti menyusahkan,” Ujarnya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD