~ Aku merindukanmu ...
♥♥♥
Hamparan air terlihat tenang saat aku lihat di atas jembatan. Batu-batu besar menyembul di pinggiran sungai dan tengah. Terlihat menyeramkan untuk hatiku yang suram.
Melihat batu-batu itu entah mengapa aku merasa ngeri. Kalau nanti kepalaku sampai kena benda keras itu bagaimana rasanya. Aku jadi merinding sendiri membayangkannya. Tapi tentu saja aku tak boleh kalah dengan rasa ngeri itu. Aku harus tetap maju mewujudkan rencana yang sudah kususun.
Aku menikmati sejenak angin semilir yang menerpa wajah. Cukup sejuk saat membelai pipi dan menerbangkan anak-anak rambut.
Aku teringat kala Ibu masih ada. Rasanya hidupku tak sesulit ini. Tak sepelik ini. Setidaknya masih ada seseorang yang merangkulku di saat kesedihan ini mendera.
Ibu pernah bercerita kisah cintanya dengan Bapak saat aku penasaran dan menanyakannya. Kok, bisa mau sama Bapak yang notabene kasar dan ringan tangan. Suka memukul dan segala keinginannya harus dituruti. Tidak boleh tidak.
Ibu berkisah saat pertama kali berjumpa dengan Bapak. Saat lelaki itu sedang menimba ilmu di kampung halaman Ibu. Ibu adalah kembang desa, wanita cantik yang di sukai banyak lelaki. Dan Bapak pun ikut jatuh cinta di saat mereka berpapasan di pasar.
Tak butuh waktu lama Bapak pun akhirnya melamar. Entah karena takut dengan Bapak yang berkelakuan preman atau berharap suatu ketika Bapak akan sadar, Ibu akhirnya menerima lamaran Bapak.
Aku memang pernah melihat foto Ibu semasa gadis. Begitu cantik. Berbeda sekali saat sudah berumah tangga dan memiliki anak. Ibu terlihat tak terurus dan jadi pesakitan.
Bahagia yang dinanti dan harapan suami akan berubah ternyata hanya mimpi di siang bolong. Bapak tetap tak berubah.
"Apakah Ibu pernah bahagia?" tanyaku kala itu. Bukannya menjawab, Ibu hanya tersenyum dan mengusap kepalaku lembut. Jawaban yang tak pernah kudapatkan.
Ibu memilih bertahan hingga di akhir hayatnya. Akibat penyakit keras yang di derita. Melahap habis semua kekuatannya.
Ah, Ibu. Kenapa kau tak mengajakku turut serta. Mungkin aku takkan merasakan kepahitan demi kepahitan yang menimpaku kini.
Setelah membulatkan tekad, aku mulai menaiki jembatan. Aku ingin menyusul Ibu saja. Aku benar-benar merindukannya. Rasanya lelah jiwa dan raga ini.
Setelah berada di atas, aku menarik napas untuk terakhir kalinya. Mataku terpejam dan bersiap untuk menerjunkan diri.
Selamat tinggal dunia!
Hap!
Ada seseorang yang menarik tanganku dengan kuat sehingga membuat sedikit limbung dan ditangkap oleh si pelaku. Refleks aku pun membuka mata.
"Hei, Nona! Apa yang kamu lakukan? Bunuh diri itu dosa, loh. Kamu nggak takut dengan azab." Lelaki itu melepaskan pegangannya setelah dirasa aku sudah berdiri dengan benar. "Sorry, saya pegang tangannya," ucapnya saat melihatku mengibaskan tangan.
"Apa urusanmu, Tuan!" Sengitku.
"Memang bukan urusan saya. Hanya saja pikirkan matang-matang apa yang akan kamu lakukan. Seberat apapun hidupmu, mintalah solusi kepada Sang Khalik dalam sujud panjangmu. Bukan dengan cara yang dibenci Allah seperti ini," ucap seorang lelaki bersuara bariton dengan tegas.
Aku yang sudah menjejakkan kaki kembali di atas tanah hanya mencibir mendengar ucapannya. "Kalau tidak tahu apa-apa, tidak usah sok menasehati, Tuan. Yang mati juga saya. Kenapa situ yang repot," cibirku sambil bersedekap.
"Hei, bunuh diri bukan solusi. Malah masalah baru yang akan kamu hadapi. Arwahmu tidak akan diterima bumi dan langit. Nanti malah terkatung-katung tidak jelas diantara dua alam. Bukankah itu malah menjadi masalah baru? Dan saat penyesalan itu datang, semua sudah terlambat. Lagipula saya yakin Allah tidak akan membebani hamba-Nya melebihi batas kemampuan."
"Halah, sotoy. Sudahlah aku pergi saja. Daripada kupingku panas mendengar ceramah panjangmu." Aku mengambil buntelan pakaian yang tergeletak tak jauh dari tempatku berdiri. Lalu mulai melangkah menjauhi lelaki menyebalkan yang sudah mengganggu acaraku itu.
Lelaki itu pun hanya terdiam tak membalas lagi. Baguslah.
Padahal biasanya tempat ini jarang dilewati orang. Kenapa bisa ada yang lewat sih. Gagal sudah rencanaku.
Sepertinya aku harus mencari cara lain.
***
Aku harus mencari kontrakan untuk tempat tidur dan bernaung. Semoga saja ada yang sesuai dengan isi kantong.
Peluh sudah berceceran membasahi kaos yang kupakai. Sinar matahari sudah di atas ubun-ubun. Terik sekali.
Aku memang berjalan kaki. Agar memudahkanku mencari kontrakan. Sebenarnya sedari tadi banyak berjejer kontrakan tapi tidak ada yang kosong. Ternyata sulit sekali, ya.
Betisku sudah pegal, rambut sudah lepek, haus dan lapar jadi satu. Sepertinya aku harus mencari warung nasi. Agar tenagaku terisi kembali.
Tak jauh dari tempatku berdiri, akhirnya aku menemukan warung nasi. Dengan hati riang aku melangkah ke sana. Bayangan nasi hangat dan lauk sudah menerbitkan air liur.
Saat hendak melangkah, tak sengaja netraku menangkap sebuah kertas yang tertempel di tiang listrik.
'Dicari Pembantu rumah tangga'
Wah, peluang bagus nih. Mungkin aku bisa melamar ke rumah itu. Enaknya jadi pembantu aku tidak perlu pusing memikirkan tempat tinggal, makan terjamin, dapat gaji pula."Baiklah. Setelah isi tenaga, aku bisa ke alamat itu. Yess!"
***
"Permisi, Pak satpam. Apakah benar ini seperti alamat yang tertera di kertas ini?" tanyaku ke seorang berseragam satpam di balik pagar tinggi.
Satpam itu mendekat lalu melihat kertas yang kuberikan. "Oh, iya Bu. Ada perlu apa? Bisa saya bantu?"
"Saya dengar di rumah ini membutuhkan pembantu. Apakah saya masih bisa melamar?" tanyaku dengan harap cemas. Takut sudah keduluan orang lain.
"Saya kurang tahu. Saya panggil Nyonya dulu. Tunggu sebentar, ya." Satpam itu berbalik dan dengan setengah berlari menuju ke arah rumah.
Sambil menunggu, aku melihat keadaan sekitar rumah. Halamannya luas, terdapat taman dengan air mancur di tengahnya. Ada pohon cemara yang menjulang tinggi dan beberapa pohon lainnya. Terlihat begitu asri.Rumahnya juga lumayan besar. Cukup menguras tenaga jika aku sendiri yang membersihkan.
Duh, sanggup nggak, ya.
Saat aku berubah pikiran dan hendak berbalik, si empunya rumah datang. Pintu pagar pun di buka, lalu aku di persilakan masuk.
"Kamu bisa mengerjakan apa?" tanya sang Nyonya. Aku tidak tahu ia baik atau tidak. Tapi harapanku semoga saja aku mendapat majikan yang baik.
"Saya bisa masak dan melakukan pekerjaan rumah, Nyonya," jawabku sambil menunduk. Tidak mungkin kan aku berbicara sambil menatapnya. Nanti dikatain tidak sopan lagi.
"Baiklah. Saya terima. Saya kasih percobaan selama sebulan. Kalau bagus nanti boleh dilanjutkan. Kalau tidak memuaskan, ya, mohon maaf saja."
"Baik, Nyonya."
"Kamu bertugas mencuci, membersihkan rumah, jangan ada debu di rumah ini, saya tidak suka. Memasak. Saya memiliki tiga anak laki-laki. Awas kamu, ya, jangan menggoda. Kalau ketahuan akan saya pecat langsung tanpa pesangon. Mengerti?"
"Ya, Nyonya. Saya mengerti." Lagian aku niat kerja kok bukan mau mengggoda anak majikan. Hih. Majikan aneh.
"Bagus. Kamar kamu ada di belakang. Kamu sudah bisa langsung bekerja. Silakan di mulai."
Aku pun menuju tempat yang ditunjuk majikan baru. Terdapat kamar dengan ukuran sedang yang menantiku.Ada kasur single, lemari satu pintu dan kipas angin kecil. Lumayanlah untuk tempat bernaung. Uang yang aku milikku pun jadi aman dan utuh.
Aku merebahkan diri di atas kasur. Lumayan cukup empuk busanya. Setidaknya badanku nanti nggak bakalan sakit ketika bangun tidur.
Al sedang apa, ya. Apa reaksinya ketika tahu aku tak ada di rumah. Belum 1x24 jam tapi aku sudah rindu. Huft.
Setelah beristirahat sebentar, aku mulai mengerjakan pekerjaan rumah. Menyapu lalu mengepel.Saat sedang asyik mengepel, tiba-tiba ada yang nyelonong masuk begitu saja.
Bruk!
"Duhhh, bokongku. Kok, lantainya licin sih. Kerjaan siapa ini!" Bentak seorang lelaki dengan suara menggelegar.
Aku pun segera menghampiri dengan sedikit takut lelaki yang jadi korban lantai licin itu. Ia sedang meringis.
Duh, gawat! kalau sampai aku dipecat bagaimana. Bahkan belum sampai satu jam berada di sini masa harus di usir. "Maaf, Tuan. Saya sedang mengepel. Kenapa maen masuk begitu saja."
Saat lelaki itu menoleh, aku dan dia sama-sama terkaget. "Lahh, kamu??"
***