9

1635 Words
 ~ Apa kabarmu cinta ... ♥♥♥ "Kamu kenapa ada di sini? Bukannya kamu wanita yang mau bunuh diri itu, ya?" tanya lelaki itu sambil meringis. Ia berusaha bangun dengan tertatih. Aku mau ikut membantu tapi segan juga. Sekaligus malu. Kenapa harus bertemu lagi dengan lelaki ini. "I-iya." Mukaku pasti merah nih. Sebal sekaligus kesal bertemu orang yang menggagalkan rencanaku. "Lalu kenapa ada di sini?" "Sa-saya ... " "Lohh, Angga. Kamu kenapa? Kok seperti kesakitan gitu?" tanya sang nyonya tiba-tiba. "Nggak papa kok, Bun. Oiya, Ini siapa?" "Yakin kamu nggak papa? Oh, ini yang akan bantu-bantu Bunda di sini sekarang. Baru mulai hari ini. Kamu jangan isengin dia, ya," jelas sang bunda. "Ih, Bunda. Apa maksudnya coba." "Kamu suka jahil. Nggak betah kebanyakan di jahilin kamu." "Malah buka aib lagi." "Itu kenyataan." "Terserah deh. Berarti Bunda udah ada yang bantuin. Yess! Akhirnya aku terbebas dari segala tugas rumah. Yuhuu!" "Kata siapa? Itu urusannya beda lagi!" Sebenarnya aku bingung mereka ngobrolin apa. Jadi aku hanya jadi pendengar setia saja. "Bunda mah gitu, ih. Yaudahlah, Angga masuk kamar dulu. Silakan lanjutkan pekerjaannya, Nona." Lelaki itu berjalan dengan tertatih menuju ke arah depan. Membuatku jadi tak tega. "Silakan, lanjutkan pekerjaannya. Setelah ini nanti kamu masak, ya," titah sang Nyonya sambil berlalu pergi. "Baik, Nyonya." Aku bernapas lega, lelaki itu tak mengadukanku. Fyuhh! Namun aku yakin, hariku takkan sama lagi. *** Sudah beberapa minggu aku berada di rumah ini dan sepertinya aku betah. Bersyukur aku punya majikan walau agak galak tapi baik. Anak mereka juga lumayan ramah. Anak pertama sih tidak tinggal di sini. Sedang kuliah di luar negeri katanya. Lelaki itu, Angga, anak kedua. Kuliah juga tapi entah jurusan apa. Nggak mungkin juga aku kepo. Anak yang ke tiga masih SMA. Kabar buruknya, mereka anak manis dan tampan. Nyonya dan Tuannya saja tak kalah rupawan. Walau sudah berumur, tapi masih terlihat garis kecantikan dan ketampanannya. Melihat perlakuan Nyonya dan Tuan terhadap anaknya membuatku iri. Karena memang seperti itulah seharusnya. Berbeda jauh dengan perlakuan yang aku terima dari keluarga sendiri. Nggak ada manis-manisnya. Sepet terus yang ada. Tapi Aku tidak begitu terlalu terpesona kok. Hanya mengagumi saja. Lagipula aku sadar siapa diri ini. Pun di hatiku masih ada Al. Aku merindunya. Aku tahu ini rasa yang salah. Tapi harus dengan cara bagaimana lagi aku membuangnya. Rasa ini sudah terlanjur ada. Seandainya membuang perasaan semudah membalikan telapak tangan, mungkin aku akan membuangnya. Tapi tentu saja tidak semudah itu.Aku jadi penasaran. Apakah Al merasakan rasa yang sama seperti yang aku rasa? Apakah ia mencariku? Apakah ia pun merindukanku? Tak ada hal apapun yang bisa aku lakukan. Foto atau bahkan kenangannya pun tak ada. Hanya baju-baju yang pernah ia belikan yang membuatku yakin jika Al memang ada. Bagaimana kabarnya kini. Semoga saja selalu baik-baik saja dan terlindungi. Tok tok tok. Aku segera mengusap bulir bening yang sempat melintas. Entah sejak kapan ada. Tak ingin terlihat oleh siapapun. Setidaknya aku bersyukur kegiatan sibuk yang kujalani tidak membuat diri ini meratapi yang telah terjadi. Saat aku membuka pintu kamar, terlihat Angga dengan cengirannya khasnya. "Kamu lagi apa? Kok, malah ngunci diri di kamar. Bikinin aku indomie, dong. Pengen yang seger nih. Pake cabe rawit dan sayuran. Baso dan sosis jangan lupa. Aku tunggu di depan. Satu lagi. NGGAK PAKE LAMA!" tekannya. Setelah memberikan titahnya, lelaki itu berbalik kembali. Aku hanya mencibir. Huh, pengganggu! Aku segera melaksanakan perintahnya. Walau kadang iseng, lelaki itu perhatian juga.Angga memberiku buku bacaan agama. Katanya biar pikiranku sedikit waras. Lah, memangnya aku gila. Ck. Setelah makanan siap, aku membawanya ke ruang televisi. Biasanya Angga memang paling suka bersantai di situ. "Nih, Tuan. Makanan sudah siap." Aku meletakan mangkuk di atas meja, beserta sausnya. Takut sausnya kurang banyak. "Terima kasih. Sini temani aku makan. Nggak enak kalau makan sendiri." "Tapi, Tuan ..." "Ssttt! Nggak ada tapi. Duduk." Aku menuruti perintahnya. Lelaki ini kalau makan memang sering minta di temani. Aku maklumi saja. Kasihan juga dia tidak ada temannya.Setidaknya kerjaanku sudah beres, makanya aku tadi di kamar sempat melamun. Nyonya sedang keluar bersama Tuan. Kondangan katanya. Hanya suara televisi yang menemani. Aku pun bingung harus mengobrol apa. Merasa segan juga. Walau bagaimanapun lelaki ini adalah majikanku.Aku melirik buku yang ditaruh di atas meja. Hukum. Ternyata Tuan Angga kuliah hukum, toh. Akhirnya rasa penasaranku terjawab sudah.Aku senang melihat orang yang kuliah. Terlihat keren dan tentu saja masa depan yang cerah. Tidak begitu terlunta mencari pekerjaan. Setidaknya itu yang aku pahami. "Kamu kenapa senyum-senyum begitu?" tanya Tuan Angga tiba-tiba. Ia terlihat lahap sekali makannya. Begitu menikmati makanan yang aku sediakan. Ia memang selalu bersemangat, membuatku kadang ketularan dengan semangatnya. "Hah!" Aku tergagap ketahuan melamun lagi. "Oh, enggak papa. Ternyata Tuan Angga kuliah hukum. Mumet nggak Tuan? Ngehapalin pasal dan segala t***k bengeknya," tanyaku memberanikan diri. Kadung penasaran. "Ya, makanya jangan di hapal. Tapi dipelajari. Kenapa? Kamu tertarik?" "Tidak Tuan. Mana berani saya membayangkan kuliah." "Kenapa tidak berani? Bukankah tidak ada yang tak mungkin di dunia ini? " "Memang. Tapi itu belum menjadi prioritas saya." "Ohhh, begitu. Oiya. Kamu tidak berpikir untuk bunuh diri lagi kan?" "Ishh, ngebahas itu mulu." "Kan saya tidak mau kalau sampai rumah saya jadi berhantu akibat ada yang nekat bunuh diri." "Hemm, mendengar begitu saya jadi kepikiran juga. Sepertinya itu ide bagus. Jadi saya bisa menghantui Tuan." "Heh! Sembarangan!" "Tuan takut, yaa?" "Siapa juga yang takut." "Halah ngaku saja." "Udah, ah, jangan ngebahas begituan. Saya nggak suka." "Siapa juga yang mulai duluan ...,"gerutuku. "Di rumah kan nggak ada siapa-siapa. Mau mengantar saya ke toko buku? Sekalian kamu belanja. Ada bahan yang habis tidak? Sekalian jalan-jalan lihat udara luar biar kamu nggak sumpek." tanyanya di suapan terakhir. "Segernya kepalaku setelah makan cabe rawit. Masakan kamu lumayan enak. Jadi saya nggak perlu makan di luar." "Emang boleh Tuan? Nanti kalau Nyonya marah bagaimana?" "Nanti saya yang izin." "Oh, begitu. Baiklah. Sekalian belanja. Kebetulan ada beberapa stok yang sudah habis." Aku senang bisa jalan-jalan menghirup udara luar. Benarkan apa kataku. Tuan Angga walau iseng tapi perhatian. "Yaudah gih bersiap sana. Kita berangkat." "Bentar. Tadi maksud perkataan Tuan yang nggak perlu jajan di luar apa?" "Biasanya saya lebih sering makan di luar. Suka bosan dengan makanan rumah. Tapi semenjak ada kamu, saya jadi penasaran masak apa kamu hari ini. Bikin ketagihan dengan menunya," ucapnya terus terang. Perkataannya tak ayal membuat wajahku memerah sepertinya. Terasa panas. Tuan Angga memang tipe yang suka iseng dan juga blak-blakan. Membuatku kadang kesal atau kadang malu seperti sekarang. Mana ngomongnya dengan raut datar begitu pula. "Oh." Aku hanya mengangguk tak bisa berkata apa-apa. Begini-begini aku memang lumayan jago memasak. Selalu suka bereksperimen dengan masakan. Dan syukurnya di terima oleh orang rumah di sini. Hasil kehidupan pahitku, setidaknya membuatku jadi wonder women. Serba bisa. "Kalau begitu saya siap-siap dulu, Tuan." Aku segera bergegas pergi. Sekaligus menutupi malu. Baru kali ini ada yang memuji sampai membuatku malu sendiri. *** "Kamu mau ikut ke toko buku dulu atau mau duluan ke swalayan?" tanya Angga saat kami sudah tiba di pusat perbelanjaan. Tepatnya di parkiran basemen. "Saya ikut Tuan saja. Nanti saya malah nyasar." "Ah, iya. Saya lupa. Kita ke toko buku dulu baru kemudian ke swalayan. Satu lagi. Jangan manggil saya Tuan kalau di luar begini," ucap Angga dengan raut serius. "Lalu saya panggil apa? Nanti tidak sopan lagi," tanyaku bingung. "Panggil nama saja. Toh, kita nggak begitu jauh umurnya." Aku jadi bingung harus bagaimana. Menuruti atau ... "Nggak usah bingung. Tinggal turuti saja apa yang saya katakan. Yuk, masuk." Angga melangkah duluan meninggalkanku. Aku masih terdiam, merasa heran dengannya. Selalu tahu saja apa yang sedang aku pikirkan. Jangan-jangan dia punya indra keenam. Atau ... "Hei, kenapa bengong! Ayuk, buruan jalan. Nanti kamu hilang, loh," ujarnya menghampiriku lagi. "Eh. I-iya Tuan." "Tadi bilang apa?" "Duh, saya keceplosan. Iya A-Angga." "Good. Hayuk." Ia menarik tanganku dan mulai melangkah. Aku hanya mampu terdiam melihat tanganku di tarik olehnya. "Hemm, Tuan. Eh, Angga. Itu tangan saya ..." "Oiya, lupa. Habisnya kamu jalannya lelet sih. Lagian di dalam pasti ramai. Kalau nanti hilang saya susah nanti nyarinya." "Oh, begitu. Baiklah." Akhirnya, aku pasrah ditarik olehnya. Daripada aku hilang kan jadi lebih berabe urusannya.Aku pun terharu dengan perhatian dan kebaikannya. Dia lelaki kedua yang memperlakukanku dengan baik setelah Al. Hah! Dia lagi yang aku sebut. Suasana di dalam pusat perbelanjaan memang ramai. Berarti Angga memang tidak bohong. Aroma khas kopi dan roti ketika masuk membuat nyaman indra penciumanku. Bisa dihitung dengan jari aku main ke tempat seperti ini. Itu pun hanya sampai di depan saja. Tak berani masuk. Apalagi penampilanku yang lusuh, sudah pasti aku akan langsung diusir security. Setidaknya saat ini aku berpakaian layak. Nyonya sering memberikan baju bekasnya yang masih bagus untuk kupakai. Setelah naik tangga berjalan yang hampir saja sempat membuatku akan terjatuh, akhirnya kami tiba di toko buku. Lenganku pun sedari tadi masih terpaut dengannya. "Angga, aku mau ke toilet dulu sebentar. Di mana ya?" tanyaku tiba-tiba. Nggak nahan sedari tadi padahal, hanya saja aku malu bilangnya. "Itu di sebelah kiri toko buku ada toilet. Mau saya antar?" "Ti-tidak usah. Deket ini." "Baiklah. Kalau begitu saya masuk duluan. Kalau sudah selesai kamu cari saya di lorong rak paling belakang." "Baiklah. Tapi ini tangan saya lepaskan dulu." "Oiya, lupa. Hehe." Ia pun segera melepaskan genggaman tangannya. Seperti terlihat enggan. "Saya ke sana sebentar ya." "Jangan lupa nanti masuk ke dalam. Hati-hati." "Ya." Aku segera berlari ke arah toilet. Sudah di ujung tanduk. Duh, Perhatian banget sih lelaki itu. Beruntung toilet tidak begitu antri. Sehingga aku bisa menuntaskan panggilan alamku.Setelah selesai, aku pun keluar toilet dengan wajah lega. Aku harus segera ke toko buku sebelum Tuan Angga mencariku. Tinggal beberapa langkah aku keluar lorong toilet, tiba-tiba ada yang menarikku. Aku di bawa ke pintu keluar tangga darurat tak jauh dari tempatku semula. Setelah pintu di tutup, aku langsung di dekap dengan erat oleh si pelaku. Seakan takut aku pergi. Dari aromanya seperti .... ***                              
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD