~ Seandainya aku bisa merubah takdir ...
♥♥♥
Rasanya aku perlu menghirup udara. Tanpa sadar ternyata sedari tadi aku menahan napas. Saat akhirnya ia melepaskan pagutannya, aku bisa menghirup udara dengan rakus.Napas kami terdengar tak beraturan. Ia hanya tersenyum menatapku dan menyatukan kening. Netra kami bertubrukan.
Ia memandangku lembut dan mengusap pipiku. "Rasanya manis."
Aku tersipu mendengar ucapannya. Tanpa sadar aku ikut menelusuri wajahnya. Matanya pun terpejam menikmati sentuhanku. Rahang yang kokoh, bibir sedikit tebal yang barusan aku nikmati, hidung yang mancung, dagunya yang sedikit lancip, jika tersenyum ada lesung pipit di pipi sebelah kiri membuatnya terlihat semakin manis.
Sempurna!
Ditambah kelakuannya yang manis tapi kadang juga jahil, sehingga membuatku gemas. Pantas saja jika lelaki ini punya penggemar yang banyak. Setelah beberapa hari tinggal di sini, selalu saja ada penggemarnya yang datang.
Dan kenapa pula lelaki tampan ini harus menjadi adikku. Bisakah aku merubah takdir?
"Kenapa terlihat sedih? Hmm."
"Tidak apa-apa. Kakak mandi dulu, ya." Ia melepaskan kurungan tangannya sehingga aku bisa keluar.
Entah mengapa perasaanku mendadak sedih.
***
Aku sedang menonton salah satu acara dangdut yang disiarkan tiada henti oleh salah satu stasiun televisi yang dimulai dari sore hingga malam. Tapi aku tidak begitu fokus menonton.
Ada sesuatu yang membuatku sedikit dongkol. Mau tahu kenapa?Itu pacar adikku sedang datang bertamu. Sedari pagi nggak pulang-pulang. Padahal kan aku pengen jalan-jalan. Mereka sedang apa, ya. Tidak ada suaranya. Membuatku jadi penasaran. Aku coba mengendap-endap, mau mengintip kegiatan mereka. Dan pemandangan di hadapan sana membuat mataku terbelalak sekaligus sakit hati.
Prang!!
Tak sengaja aku menyenggol vas bunga. Membuat pasangan itu pun menoleh ke arahku.
Duh, malu!
"Sorry ganggu!" Aku pun segera berbalik dan berlari memasuki kamar. Tak lupa menguncinya. Takut ada yang nyelonong masuk.
Kenapa hatiku merasa sakit sih melihat adikku bersama wanita lain. Bagaimana ini. Pasti ada yang salah dengan diriku. Haruskah aku pergi dari rumah ini? Aku tak ingin rasa ini menjadi rasa yang salah.
Namun bila aku pergi, hendak ke mana kaki ini melangkah. Di luar sana pasti lebih tak aman lagi. Apalagi aku takut jika sampai bertemu Bapak.
Aku tak punya saudara yang bisa aku andalkan selain adikku. Ada kakak perempuan, tapi dia pun hidup susah. Mana mungkin aku tinggal bersamanya dan malah semakin menambah beban hidupnya. Setiap bulan adikku malah suka transfer untuk membantu kakak perempuanku itu.
Baikkan adik lelakiku ini?
Selain itu, aku pun baru tahu jika ia seorang pengusaha. Pantas saja bisa punya rumah segede ini. Mobil pun ada dua. Katanya kalau aku sudah bisa bawa mobil aku akan dibelikan.
Njiiirr. Duitnya tak berseri. Masih muda, tampan, dan mapan. Cewek mana yang tidak akan bertekuk lutut. Bahkan aku pun tak bisa menghindar dari pesonanya.
Gawat! Otakku sudah kotor.
Tok tok tok.
"Kak, buka pintunya!" Awalnya suara ketukannya pelan. Tapi lama kelamaan malah semakin tak sabar. "Kak, ayo dibuka. Atau aku dobrak, nih!"
Walau masih dongkol akhirnya aku membuka pintu kamar. Kasihan kalau sampai pintunya di dobrak. Saat membuka pintu ia langsung memelukku. "Itu tidak seperti apa yang Kakak lihat."
Aku hanya terdiam tidak mau membalas ucapannya.
"Dia emang ngebet banget sama aku. Itu pun jadi pacar karena aku kasihan."
Aku mengernyit mendengar ucapannya. Membuatku sampai mendongak untuk melihat wajahnya. "Kasihan? Cewek secantik itu? Kenapa kamu bisa nggak suka?"
"Entahlah. Memang belum ada yang pas di hati aja," ujarnya sambil tersenyum. Semarah apapun aku, tapi kalau sudah melihat senyumnya bikin diri ini luluh seketika.
Standar lelaki ini mau yang seperti apa coba. "Kamu yakin? Nanti nyesel, loh. Kakak lihat orangnya cukup sopan. Cantik pula."
Ia hanya mengedikan bahu. "Mau bagaimana lagi. Hati kan tidak bisa dipaksakan. Lagian hatiku sudah di curi seseorang," ucapnya sambil tersenyum.
"Hah! Siapa yang nyuri?" tanyaku penasaran.
Bukannya dijawab, ia malah tersenyum jahil. "Mau tahu aja atau mau banget?"
"Nggak usah dijawab, deh." Aku hendak berbalik masuk kamar, tanganku malah dipegang.
"Yuk, kita jalan-jalan aja bagaimana? Nonton film terbaru," ajaknya.
"Loh, kamu nggak jalan sama pacar kamu?"
"Nggak. Dia udah pulang. Mau nggak? Malam minggu gini pasti ramai."
Walau heran, tak ayal kalimatnya membuat hatiku senang. Bagus deh pengganggunya sudah pulang."Yaudah. Kakak siap-siap dulu."
"Oke. Dandan yang cantik, ya." Ia pun berbalik dan melambaikan tangan. "Sepuluh menit harus udah siap. Aku tunggu di depan." Ia pun berjalan meninggalkan kamarku sambil bersiul riang. Sepertinya hatinya sedang berbunga.
Aku pun mulai membongkar lemari. Mencari baju yang pas untuk jalan dengannya. Nggak mungkin kan kalau sampai aku malu-maluin. aku melihat-lihat baju yang saat itu ia belikan. Hemm, yang mana, yaa.
Seleranya beneran keren. Baju yang dibelikan semuanya aku suka. Mana bahannya juga nyaman dipakai pula. Harga emang nggak pernah bohong ya.
Pilihanku jatuh pada dres selutut berlengan panjang warna biru dongker kombinasi putih. Aku poles liptin agar bibirku tidak kering. Tak lupa aku pakai jepit sebagai pemanis.
Jadi berasa mau ngedate.
Setelah dirasa oke, aku pun ke luar kamar. Ternyata adikku pun sudah berganti pakaian dan sedang sibuk dengan ponselnya. "Yuk, jalan."
Saat ia mengalihkan perhatian dari ponselnya dan menatapku, ia hanya terpaku. "Wow, kakakku kok cantik ya. Nggak salah deh pilihkan baju itu."
Mendengar pujiannya aku hanya tersipu. Lelaki ini emang paling bisa membuatku melayang hanya karena ucapan manisnya.
"Mari, tuan putri. Silakan gandeng lengan saya. Harap berhati-hati dalam melangkah. Jangan sampai terantuk sesuatu." Ia mengapit lenganku setengah memaksa dan mengajakku berjalan beriringan. Bibirku pun tak henti tersenyum sedari tadi.
Kering-kering deh ini mulut.
***
"Dek, kakak mau kerja, ya?" ucapku saat kami sarapan.
Ia menghentikan suapannya dan menatapku heran. "Kerja? Mau kerja apa?"
"Ada lowongan di koran mau kakak coba melamar di sana. Lumayan buat ngisi waktu. Lagian tak mungkin kakak di sini terus. Nggak enak jadi nyusahin kamu," jelasku panjang lebar. Semoga saja ia mengijinkan.
"Nggak usah kerja, Kak. Cukup tinggal di sini saja. Kakak mau minta apapun akan aku belikan. Yang penting kakak tetap di sini."
"Tapiii ...."
"Nggak ada bantahan! Udah makan lagi yang bener. Pokoknya Kakak tinggal duduk manis saja di rumah. Awas saja kalau aku lihat sampai ngerjain sesuatu," titahnya tak terbantahkan.
Entah aku harus senang atau bagaimana mendengar ucapannya. Terharu. Biasa aku bekerja keras banting tulang, bahkan untuk makan pun susah. Bingung besok masih bisa makan atau tidak. Bisa ketemu nasi atau enggak.
Semenjak Ibu tiada aku terkatung-katung tidak jelas. Melakukan apa saja demi mencari sesuap nasi. Bapak selalu sibuk dengan urusannya. Sibuk dengan judi dan mabuk-mabukan. Tak mungkin aku mengharapkan lelaki tua itu.
Kini ada seseorang yang menawarkan keamanan, kenyaman, tak perlu repot banting tulang, tak perlu pusing lagi besok bisa makan atau tidak, kebutuhan materi terjamin, aku mau apapun tinggal bilang, dan limpahan kasih sayang.
Lalu balas budi apa yang bisa aku berikan untuknya?
***