"Sarah, lihat siapa yang datang," kata Dina sambil menyikut nya.
Sarah yang tengah bingung sejak tadi menatap kanvas kosong, akhirnya mengalihkan perhatian ke arah pintu masuk. Matanya melebar, melihat seorang pria masuk ke ruangan.
"Rama?" kejutnya, dalam hati. "Dia juga ikut kelas seni? Tapi, kenapa? Apa dia melakukannya karenaku?"
Saat Sarah tengah asik dalam spekulasi dan lamunannya, Rama sudah berdiri tepat di depannya. Menatap Sarah.
"Kenapa kau senyum-senyum sendiri?" tanya Rama.
Sarah terperanjat.
"O-oh, itu.. Ka-kau sendiri? Apa yang kau lakukan di sini?"
"Aku bergabung dengan kelas ini," jawabnya santai.
"Benarkah? Wah pasti menyenangkan," Sarah bertepuk tangan kecil.
Rama hanya tertawa melihat tingkahnya. Melihat Rama tertawa seperti itu membuat Sarah bahagia. Berbunga-bunga Sarah benar-benar jatuh cinta dengan tawanya.
***
Sarah memasukkan beberapa pakaian, charge ponsel, dan yang lain ke dalam tas ransel biru jeansnya. Tak ketinggalan kamera poket di dalam almari juga di bawanya. Ini adalah kali pertama Sarah pergi berlibur. Setidaknya setelah kejadian di tahun lalu. Setelahnya, resleting ransel ia tarik ke sisi lain. Tangan kirinya mengambil syal rajut cokelat selai kacang di atas ranjang. Melingkarkan pada lehernya. Menata rambutnya. Mengoleskan lipstik merah tipis. Menyemprot parfum di beberapa bagian. Memakai sweater abu. Memanggul ransel. Bersamaan dengan Laras berteriak dari luar kamar. Lebih tepatnya, dari lantai bawah.
"SARAH. Niko dan yang lain sudah datang."
"Iya. Aku segera turun," respon Sarah, turut meninggikan suara.
Antara bersemangat juga ragu apakah ia bisa menikmati liburan ini, setelah apa yang terjadi. Sekalipun dia berusaha bersikap masa bodoh, tetap saja hati dan pikirannya menggila. Namun, ia mencoba menahan itu semua. Mengingat janjinya dengan Niko.
"Tidurmu nyenyak semalam?" tanya Niko, setelah Sarah menginjak anak tangga terakhir.
"Yeah. Sedikit."
"Kau tidak minum obat itu lagi, kan?"
Sarah tersenyum. "Tentu, tidak. Jangan khawatir."
"Mas Niko perhatian sekali sama Sarah. Kenapa kau tak menanyakan apakah tidurku nyenyak semalam." Yura yang merasa cemburu, protes terburu-buru.
"Tidurmu nyenyak semalam Yura?"
"Aku-"
"Oke. Baiklah."
Tingkah konyol Niko yang menyela kalimat Yura, mengundang gelak tawa mereka. Semakin membuat Yura sebal. Menjejakkan kaki kanannya ke lantai.
Sarah terkesiap. Matanya tertuju pada koper merah muda di depan Yura.
"Itu kopermu, Yura?"
"Yap. Semua perlengkapanku ada di sini. Pelurus rambut. Pengering rambut. Set cat kuku. Roll rambut-"
"Kau mau ikut lomba atau semacamnya?" sahut Dina.
"Tidak. Ini semua yang biasa aku bawa."
Ketiganya ternganga mendengar itu.
"Kita hanya sehari saja di sana. Apa tidak terlalu berlebihan membawa begitu banyak barang?"
"Nope. Aku tidak bisa hidup tanpa mereka."
Niko mendekat pada Sarah. "Dan, kau berharap aku mengencani gadis merepotkan itu? Aku lebih baik menjadi pelayan di rumahmu saja. Tidak ada bedanya," ujar Niko, berbisik.
Sarah menahan tawa atas pernyataannya.
"Semua sudah berkumpul, kan? Kita berangkat sekarang?"
Aldi yang baru saja turun, tiba-tiba bersuara.
"Masih ada satu lagi," kata Sarah.
Dahi Niko berkerut.
"Selamat pagi semua. Pintunya terbuka, jadi aku masuk saja."
Willy yang baru saja tiba, segera menyapa. Dia terlihat keren dengan topi hitamnya. Membuat mata Yura berbinar. Sensasi menggelitik seolah terasa dalam hatinya. Beda lagi dengan Niko. Raut wajahnya berubah masam.
"Kau mengundangnya? Kenapa?"
"Bisa kau pelankan sedikit suaramu?" pinta Sarah dengan gigi mengatup. "Dia semalam meneleponku, dan mengajakku keluar. Aku ajak sekalian saja untuk berlibur," lanjutnya, berbisik.
Niko berakhir dengan mendesah panjang.
"Sekarang sudah semua, kan?" tanya Aldi.
"Sebenarnya masih ada satu lagi," timpal Yura. Meringis.
"Ayolah. Siapa lagi?" Aldi merajuk.
"Rumahmu seperti di atas bukit, Bu Sarah."
Suara yang tak asing itu membuat Niko dan Sarah saling pandang. Menatap wanita yang baru datang dengan napas terengah-engah.
"Dhira?" keduanya kompak bicara.
"Hai! It's me."
Lesung pipit di dua sisi itu nampak jelas ketika Dhira tersenyum.
"Kenapa kau di sini?" tanya Sarah.
"Yura yang mengundangku. Kenapa aku tidak seharusnya ada di sini?"
"Hehe. Aku pikir akan lebih seru jika ada banyak orang," kilah Yura.
"Ah, sudahlah. Cepat kita berangkat!" paksa Aldi.
***
Sabtu yang tak begitu cerah. Langit mendung mendayu-dayu. Masih pukul 10.00 saat mereka tiba di Villa. Namun, suasananya sudah seperti senja. Kabut rendah menyelimuti atap Villa. Udara dingin menyapa begitu mereka keluar dari mobil. Sementara yang lain sibuk memasukkan tas-tas mereka ke dalam Villa, Sarah mengedarkan pandangan. Berjalan menjauh dari kendaraan. Memandang lembah hijau yang terbentang di depannya. Lagi-lagi terselimuti kabut tipis rendah. Menekuk kedua tangan di d**a. Mendesah panjang kemudian.
"Apa yang kau pikirkan? Sampai menghela napas seperti itu?"
Sarah menengok. Lalu tersenyum. Willy ada di sampingnya.
"Dulu.. Setiap kali Ayah libur, kami selalu menghabiskan waktu di sini. Waktu kecil.. Aku dan Aldi sering berlarian di halaman ini. Meskipun, cuaca terasa dingin.. Tapi, dengan kebersamaan semua terasa hangat. Ayah selalu punya banyak ide untuk mengajak kami bermain."
"Kau sepertinya sangat dekat dengan Ayahmu?"
Sarah terkekeh. "Aldi yang paling dekat dengannya. Aldi selalu tak segan untuk mencium dan memeluknya. Setiap Ayah datang, Aldi selalu lari ke dalam pelukannya. Aku juga ingin seperti itu.. Tapi, entah semua terkalahkan dengan rasa maluku."
"Mungkin itu semua karena peranmu."
Sarah yang sebelumnya memandang lurus ke depan, kini kembali menatap Willy.
"Peranku?"
"Semua anak pertama selalu seperti itu. Harus terlihat berwibawa. Tegas. Dan, mandiri. Padahal, justru anak pertama selalu ingin mendapatkan kasih sayang lebih. Ingin mendapatkan perhatian juga."
"Dokter juga seperti itu?"
"Panggil saja Willy. Tidak enak rasanya di tempat seperti ini, kau memanggilku begitu."
"Iya."
"Tentu saja. Hanya peranku saja yang di tuntut seperti itu. Aku sebenarnya juga ingin di sayang seperti adikku."
"Kau punya adik?"
"Satu. Perempuan. Dia cantik."
Sarah tersenyum. "Sepertinya, kau kakak yang manis."
"Well, begitulah peranku," kata Willy. Merapatkan tangannya di d**a. Berusaha menghangatkan diri. "Cuacanya sedang tidak bersahabat. Lebih baik, kita segera masuk saja. Ranselmu masih di dalam mobil, kan?"
Sarah mengangguk.
"Biar aku bawakan. Kau cepat masuk"
"Tidak-"
Belum selesai Sarah dengan kalimatnya, Willy telah berjalan menjauh. Mendekat pada mobil.
"Itu ransel Sarah?" tanya Willy, melihat Niko membawa ransel.
"Kenapa?"
"Biar aku bawakan."
"Wah, kau sepertinya selalu perhatian dengan pasienmu. Apa kau juga seperti ini dengan yang lain?"
"Tidak. Hanya dengan Sarah saja."
Niko mendengus. "Aku tidak tahu apa tujuanmu ikut kemari. Yang pasti, jika kau berani mendekati Sarah. Maka aku-"
"Kalian masih di sini?" tanya Sarah, berlari kecil. Mendekati keduanya. "Ayo cepat masuk. Udaranya bertambah dingin."
"Kau masuk duluan saja. Aku mau mengambil ranselku," ucap Willy.
"Baiklah. Ayo kita masuk, Niko."
"Baik."
Niko berjalan dengan memicingkan mata pada Willy.
Willy. Tinggi 165 senti. Tidak lebih tinggi dari Niko. Berkulit putih. Wajahnya kecil. Hidung ramping, agak bengkok di ujung. Pipi chubby. Badan kurus berotot. Rambut pendek rapi. Di sisir ke belakang.
Willy adalah Dokter termuda di Rumah Sakitnya. Mendapat julukan Manekin Healing. Karena kulit putih bersih serta wajahnya bak sebuah manekin, juga suara serta sentuhannya yang membuat pasiennya merasa bersemangat—dari situlah julukan tersebut di dapatkannya.
Seringkali, Willy di sangka mahasiswa karena wajah imutnya.
Willy menggendong ranselnya. Menutup pintu mobil. Bersamaan dengan ponselnya berdering.
"Halo."
"Mas Willy dimana?"
Suara perempuan di seberang sana bertanya.
"Di Malang."
"Sibuk?"
"Tidak. Aku sedang di Villa bersama temanku."
"Apa aku boleh kesana?"
"Untuk apa?"
"Ayolah. Izinkan aku ke sana. Aku rindu denganmu. Setelah kepulanganku ke Malang, kita tidak pernah bertemu sama sekali." sang adik merengek.
"Entahlah. Aku tanyakan dulu pada temanku. Nanti, aku hubungi lagi."
Willy menutup telepon.
"Sudah tidak ada barang lagi di dalam mobil?" tanya Aldi, tiba-tiba datang.
"Iya. Tidak ada."
"Baiklah. Cepat masuk. Dingin sekali di sini."
"Em, tunggu sebentar. Apa aku boleh mengajak adikku kemari?"
"Adikmu?" tanya Aldi.
Willy mengangguk.
"Lebih banyak orang, makin seru."
Aldi tersenyum. Berjalan pergi.
"Aku sudah bagikan lokasinya padamu. Hati-hatilah saat kemari. Cuacanya sedikit buruk."