"Pak Niko tidak bilang apa-apa padaku."
"Yang pasti.. Mulai hari ini kita akan menjadi rekan kerja."
Sarah bergeser. Mendekati Dhira. Mengulurkan tangan.
"Selamat datang di tim kami."
Dhira menatap sinis pada Sarah.
"Bu Sarah.. kau legenda di kantor ini."
"Maaf?"
"Siapa yang tak kenal Bu Sarah. Tunangan dari Rama, pewaris K&C grup. Oh, atau lebih tepatnya mantan tunangannya."
"Bicaramu sedikit keterlaluan aku rasa," sahut Linda.
Sarah menggeleng samar pada Linda. Memberi kode agar tak memicu pertengkaran.
"Kau benar. Aku mantan tunangannya. Dan, aku rasa itu tidak ada hubungannya dengan pekerjaan kita. Kenapa? Kau terganggu dengan itu?"
"Sedikit. Aku tidak suka ada percintaan dalam dunia kerja."
"Aku minta maaf untuk itu. Dan, kau tak perlu risau akan hal itu. Khawatirkan dirimu sendiri saja."
Linda—Fei dan Lingga kompak menahan tawa. Membuat Dhira menggeram diam.
"Itu mejamu, kan? Mulai hari ini aku akan duduk di situ."
"Permisi, Bu Dhira.. Kau ini terlihat sopan wajahnya. Tapi, kenyataannya tidak. Meja itu milik Bu Sarah sejak dulu," timpal Lingga, yang sudah tak tahan dengan sikap semena-mena Dhira.
"Oh, ayolah. Apa kita harus bertengkar masalah tempat duduk? Bu Sarah.. Tidak apa akan aku duduk di situ?"
"Silakan saja. Setelah kau membawakan meja baru untukku dan anak buahmu."
Sarah nyengir. Kembali duduk.
Sementara itu, di sisi lain kantor. Tepatnya, di ruang CEO. Sam sedang berbicara dengan seorang pria.
"Kau yakin akan bertindak sampai sejauh ini?" tanya pria itu.
"Aku tidak punya pilihan lain. Semuanya sudah terlanjur."
***
Sesuai perintah Sarah—Dhira dan dua bawahannya membawa sendiri meja mereka ke ruangan Sarah. Menyeretnya dengan rasa kesal.
"Wanita itu keterlaluan sekali. Dia belum tahu siapa aku!" gerutunya.
"Bu Dhira, kenapa kita harus melakukan ini juga? Bukankah ini pekerjaan OB?"
"Diam saja kau! Cepat angkat saja meja itu!"
Dhira mendesah kesal. Berhenti. Mendorong muak meja di depannya. Mengibas-ibaskan tangannya pada wajah. Mencoba mengusir rasa gerah.
"Bawa ini," kata Niko, muncul dari belakang Dhira. Membawa minuman sarah dan yang lain.
"Kau pikir aku siapa?!"
"Cepat bawa ini."
Niko memberikan paksa pada Dhira, yang mau tak mau harus menerimanya. Sebagai gantinya, ia mengangkat meja Dhira.
"Ruang Tim Pemasaran, kan?" tanya Niko.
Dhira mengangguk. Terenyuh melihat sikap Niko. Tersenyum malu kemudian.
Setibanya di depan ruangan, Lingga bergegas mendekati Niko.
"Pak, kenapa kau tak bilang pada kami? Masalah penggabungan karyawan itu?"
"Ah, maaf. Aku lupa."
Niko meletakkan meja itu di tengah-tengah.
"Kau bisa letakkan meja itu, di samping meja Bu Sarah," kata Dhira, baru saja sampai. "Itu meja baru Bu Sarah."
Niko mengernyit. Menatap Dhira.
"Kenapa kau seenaknya memerintah begitu? Sarah takkan pindah dari tempatnya."
"Tapi-"
"Aku sudah menyetujuinya tadi. Tidak apa, Niko."
Telepon kabel di sebelah Fei, berbunyi.
"Dengan siapa ini?" sapa Fei. "Oh, baiklah."
Fei menutup telepon. "Bu Sarah, Kau di panggil ke ruangan Pak Sam."
Sarah meninggalkan ruangan dan masalahnya. Berjalan ke sisi lain lantai 3. Melewati kamar mandi, setelah berbelok ke kanan dari ruangannya. Koridor kosong. Belok kiri. Tiba di depan pintu kayu solid cokelat berkilau. Dua sisi. Dengan gagang alumunium perak panjang. Mengetuk pintu. Setelah terdengar perintah agar ia masuk, Sarah mendorong pintu ke dalam.
Sam sedang duduk di kursi eksekutif hitamnya. Plakat kaca di meja tertulis nama dan jabatannya.
"Ada apa Ayah memanggilku?"
"Aku dengar kau kemarin pingsan di lobi. Apa ada masalah dengan kesehatanmu?"
Sarah tersenyum. "Terima kasih sudah mengkhawatirkan ku. Aku baik-baik saja."
"Apa bekerja di sini sangat sulit sekarang?"
"Awalnya seperti itu. Terlalu banyak kenangan bersama Rama. Tapi, kemarin aku sudah memutuskan, untuk melupakannya. Jadi, ke depannya semua tidak akan ada masalah."
"Kau yakin? Tak ada yang perlu aku khawatirkan? Atau kalau kau mau, Ayah bisa memindahkan mu ke cabang lain."
Sarah menggeleng pasti.
"Terima kasih untuk penawarannya. Tapi, aku lebih baik di sini. Ada Niko dan yang lainnya."
"Baiklah. Ayah harap ke depannya tidak akan ada masalah. Kau bisa kembali ke ruangan mu."
***
Sekembalinya dari makan siang, Sarah dan Niko saling menatap heran. Linda—Fei dan yang lain tengah berdiri berdampingan. Pak Sam berada di depannya bersama seorang pria.
"Pak Sam," panggil Niko. Sam menoleh.
"Ah, Niko—Sarah. Kebetulan sekali. Kami sedang menunggu kalian."
"Apa ada masalah?"
"Tidak. Aku hanya akan membuat pengumuman saja."
"Pengumuman apa?"
"Mulai sekarang, kalian akan mempunyai Direktur Pemasaran baru."
Niko mengernyit.
"Perkenalkan dirimu," perintah Sam.
"Namaku Alan. Mungkin sebagian dari kalian sudah tahu siapa aku. Tapi, agar semuanya tahu. Aku adalah anak dari penanam modal terbesar di perusahaan ini. Untuk ke depannya, aku harap kita dapat bekerja sama dengan baik."
Alan menjabat tangan mereka satu persatu. Dan, tiba giliran Sarah yang sejak tertegun tak percaya.
"Kau Kepala Manager di sini? Ke depannya kita akan sering bertemu."
Alan mengulurkan tangan. Sementara Sarah tetap tergemap. Mata mereka bertemu.
"Aku Niko. Manager periklanan."
Niko menyambut uluran tangan Alan yang seharusnya untuk Sarah.
"Kalau begitu, silakan kalian kembali bekerja," kata Sam. Kemudian berjalan keluar. Dan pergi.
Sarah menyusulnya. Menghadang langkahnya.
"Apa karena ini kau memanggilku tadi?" tanya Sarah.
"Aku hanya ingin memastikan jika kau baik-baik saja dengan kehadirannya. Seperti yang kita tahu, wajahnya sangat mirip dengan Rama."
"Kenapa? Kenapa dia harus berada di divisiku?"
"Aku tak punya pilihan lain. Itu keinginannya."
"Ayah-"
"Aku sudah memberimu kesempatan tadi. Tapi, kau menolaknya. Maaf, Sarah. Kau harus bersikap profesional."
Sam bergeser. Berjalan pergi. Niat hati ingin kembali menyusul, Niko memegang tangannya.
"Biar aku saja yang bicara."
Dengan langkah muak, Niko berjalan membuntuti Sam. Hingga tiba di koridor kosong, Niko berlari kecil dan memblokade langkah Sam.
Sam mendesah singkat.
"Sekarang kau?"
"Apa ini tidak keterlaluan?" tanya Niko.
"Aku tidak mau bicara panjang lebar. Aku akan melakukan apapun demi perusahaan ku."
Sam. Pria berwajah kotak ini merintis perusahaan K&C sejak dia masih kuliah. Jatuh bangun dia lakukan agar perusahaannya berkembang. Di tolak investor sana-sini. Dan, akhirnya sukses di usianya yang ke-30. Lalu bertemu dengan Ibu Rama. Menikah. Setahun kemudian Rama hadir di kehidupan sempurna mereka. Setidaknya, setelah Rama menginjak usia 13 tahun. Kehidupan sempurna mereka hancur begitu saja. Ibu Rama meninggal karena mengidap kanker payud*ra. Menjadikan Sam orang tua tinggal. Sampai sekarang.
Sam melepas kacamatanya yang berbentuk kotak, setibanya di ruangan. Duduk bersandar di kursinya. Mendesah panjang. Menatap foto Ibu Rama yang berukuran besar. Terpajang di dinding seberang sofa depannya.
"Sayang.. Aku tidak melakukan hal salah, bukan?"
Niko sudah kembali ke ruangan. Kali ini suasana terasa canggung. Fei dan yang lain saling menukar pandang. Sesekali memperhatikan Sarah.
Telepon kabel di meja Sarah berdering.
"Ada yang bisa di bantu?"
"Aku Alan. Ke ruanganku sebentar."
Sarah memejam sebal.
"Siapa?" tanya Niko.
"Pak Alan."
"Ada apa?"
"Dia memanggilku."
"Biar aku saja yang pergi."
"Yang di panggil bukan kau. Kenapa kau yang harus pergi. Kita harus bersikap profesional. Bukan begitu Bu Sarah?" celetuk Dhira.
"Tapi, dia-"
"Benar kata Dhira. Aku harus bersikap profesional. Biar aku saja yang pergi."
Sarah bergeser. Berjalan. Menarik pintu kaca ke dalam. Keluar. Ruangan Alan ada tepat di sebelah ruangan Sarah. Sejenak ia berdiri di depannya. Mendorong keluar udara melalui mulut. Mengetuk pintu kaca di detik selanjutnya.
Terdengar suara Alan mempersilakan masuk.
"Ada apa memanggilku?"
Lagi. Mata mereka bertemu. Sarah berusaha mengendalikan emosi. Menyembunyikan kedua tangan yang tengah mengepal di punggung.
"Aku hanya ingin memastikan, untuk ke depannya tidak akan ada masalah di antara kita."
Sarah mengernyit. "Apa yang kau bicarakan?"
"Aku dengar anak dari Pak Sam mirip sekali denganku. Dan, aku dengar kau dan dia hampir menikah."
"Lalu? Apa yang kau khawatirkan?"
"Bukankah dia menghilang setahun yang lalu? Karena kecelakaan pesawat."
"Yeah. Memang seperti itu."
"Tidak akan ada masalah, kan? Karena wajahku ini?"
"Jangan khawatir. Sebisa mungkin aku akan bersikap kompeten saat bekerja."
"Baiklah. Kau boleh pergi."
Sarah membalik badan. Berhenti di langkah pertamanya. Kembali membalik badan.
"Kau sungguh bukan Rama?"
"Kenapa kau berpikir seperti itu?"
"Aku hanya merasa janggal saja. Kalian bukan saudara kembar. Tapi, kenapa bisa semirip ini."
"Di dunia banyak sekali orang berwajah mirip. Jadi, itu bukanlah suatu yang aneh aku rasa."
"Suara. Wajah. Bahkan cara berjalan mu mirip dengannya. Apa itu juga tidak aneh?"
"Kau mempunyai foto Rama? Aku ingin melihat seberapa mirip aku dengannya."
"Tidak. Aku sudah membakarnya. Cincin—dan semua hadiah darinya. Sudah aku bakar."
Alan diam.
"Kenapa? Kau merasa kecewa? Menyayangkan sikapku? Kau tidak menyangka aku akan seperti itu? Jangan mimpi. Jika, kau bisa meninggalkanku—kenapa aku tidak bisa melupakanmu? Itu hal mudah bagiku."
"Maaf?"
"Itu yang ingin aku katakan, jika Rama di depanku."
Alan mengangguk berulang. "Tapi, apa boleh aku menanyakan sesuatu."
"Silakan."
"Tempo hari.. Kau tiba-tiba pingsan di lobi—apa sekarang baik-baik saja?"
"Berkat kau. Aku sangat baik. Aku dengar dari Niko, kau yang menolongku. Terima kasih untuk itu."
"Tapi, tidak ada masalah yang serius, kan? Kau tidak sakit parah?"
"Jika tidak ada lagi yang di bicarakan, aku akan kembali ke ruanganku."
"Baiklah."
Sarah membalik badan. Kali ini benar-benar pergi. Keluar dari ruangan. Terdiam mematung setelah itu. Bernapas gugup. Mengusap keduanya bahunya sendiri.
"Kau melakukannya dengan baik, Sarah."
***
Satu hari berat untuk Sarah terlewati dengan susah payah. Ia merebahkan diri di ranjang. Menatap langit-langit kamar. Memikirkan semua kejadian di kantor hari ini. Dhira—Alan, dan semua yang terjadi hari ini, seolah tertulis di kertas skenario. Skenario yang buruk tentunya. Jika saja, ia tak takut dosa, mungkin sekarang mayatnya sudah di temukan di dasar jurang. Jika saja, tak ada Niko di sampingnya mungkin saja ia kembali terlengar.
Sarah mencoba memejamkan mata. Ingin sejenak melupakan semua kejadian itu. Di detik selanjutnya, ponselnya berdering.
Niko memanggil.
"Sudah tiba di rumah?" tanya Niko.
"Iya, baru saja. Kau sendiri?"
"Sama. Aku juga. Kenapa kau tak mau aku antar tadi?"
"Maaf, aku hanya ingin sendiri. Terlalu banyak hal yang terjadi hari ini. Otakku rasanya akan meledak."
"Hei, sudah aku katakan.. Jangan memikirkan hal yang tidak penting. Pikirkan saja aku."
"Cih, memang kau siapa?"
"Aku? Aku pria tampan yang selalu peduli padamu."
"Kau terlalu banyak memuji dirimu sendiri, Tuan."
"Tidak. Hei, kau tidak tahu, kan? Aku sangat populer di kantor. Aku selalu mendapatkan bunga setiap harinya."
"Bunga bangkai?"
"Wah, mulut cantikmu bisa jahat juga, eh?"
"Hehe. Aku hanya bercanda. Ah, betul.. Bagaimana? Kau sudah mengaku padanya?"
"Siapa?"
"Gadis itu."
"Gadis yang mana?"
"Ayolah. Gadis yang kau suka. Kau sudah menyatakan perasaanmu padanya?"
"Tidak. Aku belum mengatakannya. Kenapa kau tiba-tiba menanyakan itu?"
"Akhir-akhir ini, kau terlalu banyak memperhatikan aku. Aku takut kalau nanti kau jadi perjaka tua."
"Sarah yang dulu sudah kembali rupanya."
Sarah tersenyum sopan.
"Aku sudah berjanji padamu.."
"Yap. Juga tepati janjimu untuk esok hari."
"Janji apa?"
"Hei, bibi tua.. Kau lupa? Besok kita akan pergi ke vila yang tempo hari kita bicarakan."
"Ah, iya aku hampir lupa."
Niko mendecak.
"Kalau begitu cepat tidur. Sampai ketemu besok."
Niko menutup telepon. Sarah meletakkan ponselnya begitu saja. Memiringkan tubuh. Memejamkan mata.
"Mbak.." Aldi mengetuk pintu. Belum diizinkan masuk, ia sudah membuka pintu.
"Kau tidur?"
"Belum."
Aldi bergegas naik ke ranjang. Tidur di sebelah Sarah. Menatap punggungnya.
"Besok siapa saja yang ikut?"
"Ke villa?"
"Iya."
"Niko dan yang lain."
"Siapa? Apa Dina juga ikut?"
"Mungkin saja."
"Kau tidak mengajaknya?"
"Sudah. Tapi, aku belum memastikan lagi dia ikut atau tidak."
"Pasti dia ikut. Kalau begitu terima kasih."
Aldi turun dari ranjang.
"Tunggu," kata Sarah. Duduk di ranjang. Menghadap Aldi.
"Kenapa kau memanggil Dina dengan namanya saja?"
"Memang kenapa? Tak boleh?"
"Kau memanggil Yura dengan Mbak. Kenapa Dina kau panggil hanya namanya saja?"
"Terserah aku. Memang ada masalah?"
Sarah menggeleng.
"Baiklah, kalau begitu."
"Tapi.. Kenapa kau sangat yakin jika Dina akan ikut? Dan, kenapa kau menanyakan dia?" Sarah kembali bertanya. "Jangan-jangan kau-"
"Apa yang kau pikirkan? Bukan seperti itu. Aku hanya merasa cocok saja kalau mengobrol dengannya. Sudah cepat tidur. Besok kita pergi liburan."
Aldi menari konyol.
Sudah mengukur seluruh jarak. Dari ufuk barat hingga timur. Sudah menengok seluruh pandang. Dari pucuk daun hingga lubang semut. Mencari jejaknya yang tertutup tabir misteri.
Tak akan pernah hilang cerita tentangnya, ribuan kata yang ingin terucap tersimpan rapi dalam hatiku, bahkan di setiap hembusan nafasku selalu ada namamu, Rama...