Sarah berada di dalam mobil Niko. Willy mengizinkannya pulang, karena keadaannya cukup membaik. Dengan catatan, ia tidak boleh memikirkan atau mendekati suatu hal yang dapat memicu rasa stress. Well, meski sudah di beri peringatan seperti itu, Sarah masih saja melamun. Dan, masih saja memikirkan mimpinya semalam. Langit biru tanpa cela, tak dapat membuatnya tersenyum. Ia menurunkan kaca mobil. Mencoba menikmati udara yang telah terkontaminasi dengan asap kendaraan. Menghirup udara sebanyak mungkin. Mengeluarkannya perlahan.
"Apa masuk akal.. Ada seseorang yang wajahnya sangat mirip seperti itu?" celetuknya.
"Kau masih saja memikirkan hal itu. Kau tidak ingat kata dokter itu?"
"Tapi, apa kau tidak curiga? Bisa saja dia Rama. Dia mengalami amnesia."
"Sudahlah. Jangan bahas itu lagi. Kau mau makan apa sekarang?"
"Di tambah lagi mimpiku yang seperti itu. Ini semua pasti-"
"SARAH!" bentak Niko. "Berhenti memikirkan dia. Aku mohon."
Sarah diam. Menaikkan kembali kaca mobil. Mendesah singkat.
"Kau tak ingin makan dulu sebelum pulang?"
"Aku tidak lapar."
Keheningan di mulai. Sarah memainkan jari kurusnya. Melirik ke arah luar sesekali. Barisan gedung yang di lewatinya juga tampak bisu. Sarah mendesah singkat. Perasaannya tidak karuan. Akal sehatnya tidak ingin memikirkan hal itu. Hati nuraninya berlawanan pinta. Tiap kali kamuflase Rama terlihat, dadanya seperti ada yang menusuknya dengan jarum kecil. Tiba di kawasan rumahnya pun, ia tak sadar. Niko keluar terlebih dahulu dan membuka pintu untuk Sarah.
"Kau ingin aku gendong?" goda Niko.
Sarah mendengus. Tersenyum sopan.
"Dua kakiku masih berfungsi."
"Aku hanya tak ingin kau pingsan, saat setengah perjalanan. Lihat saja sendiri, jalanan ke rumahmu seperti naik gunung."
Sarah kembali tersenyum.
Setelah melewati tanjakan yang semakin tegak, dan membuat tubuh harus sedikit condong, mereka tiba di depan pagar rumah Sarah.
"Aku akhirnya tahu, kenapa pusat olahraga di buat," kata Niko, terengah-engah. "Hampir tiap hari aku kemari. Tapi, masih saja belum terbiasa dengan jalanan menuju puncak ini."
"Sebenarnya," Kata Sarah. Terengah-engah. "Aku juga. Kenapa Ibu membeli rumah di kawasan ini."
Setelah menggerutu, keduanya masuk. Mengatur napas. Aroma wangi yang menggugah selera tercium, saat Sarah mendorong pintu bercat cokelat kayu itu. Bunyi bergemuruh dari perut mereka saling bersahutan.
"Duduk dulu. Kau mau minum apa?"
"Air dingin saja. Sepertinya akan menyegarkan."
Sarah berjalan lurus dari ruang tamu. Berbelok ke kanan. Masuk ke ruangan dapur tanpa pintu. Niko mencoba membuat nyaman punggung dan kakinya di sofa bergaya Lawson dengan warna cokelat kulit dengan motif garis-garis yang hampir tak terlihat.
"Bu.." panggil Sarah.
"Sarah!" Laras memeluknya sejenak. "Maaf, Ibu tak mendengarmu datang. Dimana Niko?"
"Di ruang tamu."
"Kau sungguh baik-baik saja, kan?"
"Jangan khawatir. Anak gadismu ini tangguh."
Laras tersenyum. Membelai rambut Sarah.
"Temani Niko. Ibu hampir selesai memasak."
Sarah mengangguk. Membalik badan. Mendekati Lemari es 2 pintu. Berwarna abu. Mengambil sebotol air dingin. Dan, kembali pada Niko.
"Cepat minum," perintah Sarah. Memberikan botol air itu.
Niko memutar tutup botol. Dan, segera meneguknya. Sarah duduk.
"Untuk yang terakhir kalinya. Bolehkah aku bertanya?"
"Kau tak minum?" Niko menawarkan botol air pada Sarah. Di raih olehnya. Dan, meneguknya beberapa kali.
"Sarah, itu bekasku."
"Memang kenapa? Kau ada penyakit menular?"
"Tidak."
"Syukurlah. Sekarang jawab pertanyaanku."
Niko mendesah panjang. Seolah enggan untuk menjawab.
"Ini benar-benar yang terakhir kalinya. Kau harus janji."
Sarah mengangguk.
"Apa yang mau kau tanyakan?"
"Kenapa pria yang bernama Alan itu datang ke kantor?"
"Entahlah. Mungkin saja, dia ingin menemui Pak Sam."
"Apa Ayah—Pak Sam tidak terkejut melihat Alan sangat mirip dengan Rama?"
Niko mengangkat singkat kedua bahunya.
"Aku tidak mau tahu. Dan, itu bukan urusanku."
"Pada akhirnya, dia memang bukan Rama."
"Sarah.. Apa lagi yang kau harapkan? 1 tahun menunggu itu lebih dari cukup. Kau menderita selama itu. Apa kau tak ingin bahagia?"
Sarah tersenyum. "Sudah aku katakan, kan? Pertanyaan tadi adalah yang terakhir kalinya. Aku.. Sudah berjanji pada diriku sendiri. Aku akan melupakannya. Dan, memulai hidup baru."
"Aku akan membantumu. Semampuku."
***
Sarah menutup tirai kamar. Setelah itu beralih ke meja yang berada di sisi lain kamar. Mencabut semua potongan koran tentang kecelakaan pesawat yang selama ini ia kumpulkan. Mengambil album foto yang tersimpan di kardus menjadi satu bersama semua barang pemberian dari Rama. Menumpuk potongan koran di atas kardus, dan keluar dari kamar. Sarah turun ke lantai satu. Melihat Laras masih menonton tv.
"Aldi, belum datang bu?"
Laras menengok pada jam dinding di sisi kanannya.
"Masih pukul 22.00. Jika dia datang jam segini, Ibu akan memakai riasan tebal besok."
"Tepati janji Ibu."
Aldi baru saja masuk ke dalam rumah.
"Ibu pasti mengigau barusan," dalihnya.
Sarah tertawa kecil.
"Kau mau kemana mbak?"
"Membuat api unggun."
"Mau aku bantu?"
Sarah mengangguk.
Keduanya pergi ke halaman belakang yang tak begitu luas. Hanya ada satu pohon palem. Di tanam paling pojok. Dan, tempat sampah bulat dari semen di pojok yang lain.
Sarah memberikan satu persatu koran yang dibawanya pada Aldi. Ia segera memantik api dari korek gas yang dibawanya. Membuangnya begitu saja, setelah ujung koran terbakar.
"Kau yakin akan membakar semuanya?"
"Tentu. Aku sudah berjanji pada Niko dan diriku sendiri. Aku akan memulai hidup yang baru," jelas Sarah. Sambil membuka kardus. Dan, membuang satu persatu isinya.
Gantungan kunci. Topi. Syal. Boneka kecil. Album foto. Dan, banyak lagi yang lain. Semua ia buang tanpa keraguan. Meski, di hati masih sedikit berat.
"Langkah yang bagus," puji Aldi. Memeluk bahu Sarah. "Aku juga akan membantumu. Meski, harus berdarah sekalipun."
"Tertusuk jarum saja kau berteriak histeris."
"Karena itu sakit—nona Sarah."
Kalimat datar yang di ucapkan Aldi, membuat Sarah tertawa.
***
Hari yang cerah. Suhu kota malang pagi ini 25 derajat celcius. Lebih hangat 2 derajat dari kemarin. Sarah membuka tirai. Dan, di sapa oleh gunung panderman yang kali ini terlihat sangat jelas bukit-bukit kecil, serta pepohonan nya.
Alam seakan mendukung Sarah untuk memulai lembaran baru. Hari yang baru. Dan, hidup yang baru. Burung pagi menyanyikan kicau indah seolah memberikan penghargaan untuk Sarah, atas keputusannya pada hidupnya sendiri. Alas bedak tipis telah di ratakan pada wajahnya halusnya. Kedua pipi di saput warna peach samar. Selaras dengan warna bibir. Kali ini, dia memilih untuk mengikat rambutnya menjadi satu. Jumpsuit hitam tanpa lengan, bermotif rajutan bunga tipis yang menyebar, di pilihnya sebagai pelengkap mode hari ini. Tak ketinggalan blazer putih elegan.
Sarah turun begitu sudah siap. Tas selempang putih, menyangkut di bahu kanan.
Seperti biasa. Sarah menunggu Niko datang. Dan, pergi bersama. Di kantor bekerja bersama. Menikmati coffee break bersama.
"Masih pukul 10.00," kata Niko dari mejanya. "Aku mau membeli kopi di bawah. Kau mau Sarah?"
"Aku ikut saja."
"Hei, kau baru saja pulih. Duduk manis saja di sini. Pelayanmu ini akan membawakan cokelat panas untukmu," goda Niko.
Sarah mendengus senyum. "Bagaimana kau tahu aku akan memilih cokelat panas?"
"Pak Niko, perhatian sekali dengan Bu Sarah," cibir Lingga, rekan kerja yang mejanya berseberangan dengan Niko.
"Aku memang orangnya seperti ini. Sangat perhatian dengan rekan kerjaku. Kalian juga mau kopi? Bilang saja, aku akan mentraktir kalian," Kata Niko dengan sombongnya. Membusungkan d**a.
"Kalau Pak Niko perhatian dengan kami, seharusnya tahu apa yang akan aku dan Fei pesan."
Lingga. Pria berkacamata Harry Potter. 27 tahun. Putih. Berdarah Chinese. Memiliki masalah jerawat yang cukup serius. Rambut keriting pendek. Badan kurus kering. Mulai bekerja di di Tim Pemasaran sejak usia 21 tahun. Sebagai Project Coordinator.
"Mana mungkin Pak Niko tahu," sahut Fei.
Fei. Berdarah Jawa-Chinese. Super konyol. Gigi berpagar. Ramping. Tatatan rambut selalu sama tiap harinya. Curly.
"Kenyataannya, Pak Niko memang selalu perhatian pada kita. Yah, terlebih dengan Bu Sarah."
Linda semakin membuat suasana canggung untuk Niko dan Sarah yang saling bertatap.
"Lingga. Frapucino dengan banyak es. Fei—Caramel Machiato sedikit krim kocok. Linda, Es teh manis. Kalian masih meremehkanku?"
Ketiganya ternganga. Bertepuk tangan untuk Niko.
"Justru kalian yang tak tahu kesukaanku."
"Capucino dengan krim kocok yang banyak." ketiganya kompak menjawab. Di detik selanjutnya seisi ruangan tertawa.
Setelahnya, Niko keluar dari ruangan.
Tim pemasaran 1 hanya terdiri dari 5 orang. Sarah sebagai ketua tim manager pemasaran produk. Niko sebagai manager periklanan. Ketiganya berada di bawah arahan kedua manager tersebut.
Dan, akan menjadi 7 orang hari ini.
TOK. TOK.
Pintu terdorong masuk. Wanita seusia Sarah masuk.
"Bisa bertemu dengan Pak Niko?" katanya.
"Silakan masuk," kata Sarah.
Heels hitam ramping seperti pensil milik wanita itu berbunyi nyaring, ketika saling bersentuhan dengan lantai.
"Aku Dhira. Kepala Tim Pemasaran 2."
Sarah berdiri.
"Ada yang bisa di bantu?"
"Pak Niko belum memberitahu kalian? Mulai hari ini, Tim Pemasaran hanya akan ada 1 divisi saja. Dan, kami bergabung dengan kalian."