Adegan Tak Terduga I

1047 Words
Sarah menggeliat. Tangan kanannya menggaruk-garuk leher. Mengecap mulut kosongnya. Meregangkan tubuh. Mendesah puas. Tangan kirinya meraba ranjang. Membuka mata. Menarik kepalanya ke depan. Menengok ke kiri. Mengernyit kemudian. "Kemana gadis ini?" Dina yang menjadi teman sekamarnya, tidak ada di ranjang. Sarah kemudian berdiri. Berjalan mendekati meja. Menarik kabel pada ponsel yang sedang di charge sebelumnya. Layar menyala. Pukul 05.30 saat ini. "Tumben dia bangun sepagi ini." Sarah meraih sweater merah mudanya, yang tergeletak sembarangan di meja. Berkaca. Menyisir rambut dengan jemari. Membersihkan kerak di ujung kelopak mata. Di detik selanjutnya, ia keluar kamar. Pergi ke dapur yang ada beberapa langkah di sisi kirinya. Membuka lemari es. Mengambil sebotol air dingin. Memutar tutupnya. Meneguk beberapa kali. Kebiasaan setiap paginya, ketika bangun tidur selalu minum air putih dingin. Matanya berkerut. Melihat siluet dua orang yang tengah duduk di sofa, ruang tv. Tak jauh dari dapur. Tidak ada sekat atau apapun di ruangan itu. Semua menjadi satu. Sarah berjalan dengan hati-hati. Kalau-kalau yang di lihatnya itu bukanlah manusia, ia bisa segera lari sebelum jaraknya lebih dekat. Ketika hanya tinggal beberapa langkah, Sarah berhenti. Mendesis pelan. "Sepertinya, aku kenal gaya rambut itu," katanya lirih. Sudah teridentifikasi, jika dua siluet itu adalah manusia. Satu laki-laki. Satu perempuan. Sarah bergeser ke samping. Berjalan ke depan sofa. Melebarkan mata kemudian. Melihat Aldi dan Dina sedang bermesraan. "Kalian-" Sarah tak melanjutkan kalimatnya. Menatap geram keduanya, sementara yang terpergok terperanjat. "Mbak Sarah.. Sabar. Dengarkan dulu aku." Aldi bergegas berdiri. Mengarahkan kedua telapak tangannya pada Sarah. "Kalian gila? Apa yang kalian lakukan?!" Dina ikut berdiri. "Sarah.. Aku-" "Mbak, jadi kami itu-" "Kalian pacaran?" Aldi menahan napas dua detik. "Iya.. Kami-" "Kalian benar-benar gila!" Sarah memutar tutup botol. Menyiramkan isinya pada keduanya. Aldi dengan sigap memutar badan, memeluk Dina. Punggung Aldi basah karena itu. Membuat Sarah semakin geram. Mendengus kesal. "Mulai saat ini, kau bukan temanku. Dan, kau— juga bukan adikku lagi!" tunjuk Sarah. Kemudian pergi. Membuka pintu kaca yang menuju halaman belakang. Sarah berkacak pinggang. Napasnya memburu marah. Menghirup udara dengan kasar. Mengeluarkan melalui mulut. "Sepertinya, kau sedang kesal." Suara maskulin dari samping kanannya, membuat ia berjengit kaget. Matanya menatap gugup. "Pak Alan.. Sedang apa di sini?" "Menikmati udara pagi. Kau sendiri? Apa ada masalah?" "Tidak. Aku juga tiba-tiba terbangun." "Kau terbangun pasti karena haus?" Sarah mengernyitkan alis. Kebiasaan itu hanya diketahui 3 orang. Ibu, Aldi—juga Rama. "Bagaimana kau bisa tahu?" Alan menunjuk dengan dagu botol air kosong di genggaman Sarah. "Oh.. Ini? Iya. Kalau begitu, selamat menikmati pagi." "Tunggu. Apa aku boleh menanyakan sesuatu?" "Silakan." "Bagaimana kau bisa mengenal Willy?" "Dia seorang Dokter. Aku pasiennya." "Ah, begitu. Apa kau sedang sakit?" "Tidak. Kenapa kau menanyakan itu?" "Itu.. Karena aku bos mu sekarang. Jadi, aku perlu memastikan kondisimu. Karena Senin besok kita akan sibuk." "Jangan cemas. Aku tidak akan pernah absen, sekalipun aku sakit parah." Alan mengangguk. "Bisa aku bertanya satu kali lagi?" Sarah mengangguk. "Apa.. Sebenci itukah kau pada pria bernama Rama? Sampai kau dan Niko selalu pergi ketika melihatku." Sarah menggeleng. "Untuk apa aku benci dengannya. Dia tak melakukan kesalahan apapun padaku." "Tapi, dia meninggalkanmu." "Itu tidak di sengaja olehnya. Aku yakin dia bukan pria seperti itu." "Lantas, kenapa kau selalu merasa canggung ketika melihatku?" Sarah diam sejenak. "Karena kau terlalu mirip dengannya," jelas Sarah. "Wajah. Postur tubuhmu. Senyummu. Bahkan suara dan cara berjalanmu— sangat mirip dengannya. Aku hanya memikirkan dua hal. Pertama, kau adalah Rama. Tapi, ingatanmu hilang. Dan, ada sesuatu yang kau dan Ayahmu sembunyikan. Kedua, kau adalah Alan. Bukan Rama." "Bagaimana jika aku adalah Rama?" "Kenapa kau sebreng*ek itu?" "Maaf?" "Aku pasti sudah mengatakan hal itu, jika kau adalah Rama." Mereka saling menukar pandang sedikit lama. Setidaknya, sebelum Aldi membuyarkan semuanya. "Mbak.. Dengarkan aku dulu-" "Sudahlah! Aku tak mau mendengar alasan apapun darimu." Sarah berjalan masuk. "Kau mau kemana, Mbak?" "Jalan-jalan melihat lembah! Kau, jangan berani-berani ikuti aku!" Sarah berteriak dari dalam, tanpa menengok sedikitpun pada Aldi. "Kau selalu saja, membuatmu kakakmu marah," cetus Alan. Aldi menatapnya dengan geram. "Aku tidak mau tahu, bagaimana kau tahu hal itu. Dan, aku juga tidak tertarik pada kehidupanmu. Tapi, jika kau ingin mempermainkan Mbak Sarah—kau akan habis di tanganku." Aldi berjalan masuk. Sementara, Alan mendesah panjang. "Aku tahu itu dari Willy." Alan menyesap kopi paginya. *** "Sarapan siap!" Dina berteriak dari dapur. Semua yang berada di kamar, keluar satu persatu. Berkumpul di meja makan. Tempe goreng. Ikan lele. Tahu goreng. Sambal tomat. Tak ketinggalan timun dan kubis—juga kerupuk sebagai pelengkap. Andalan warga Jawa Timur jika makan tak ada kerupuk kurang lengkap. Teh manis hangat di pilih sebagai penyegar tenggorokan. "Dimana Sarah?" tanya Niko, sesaat setelah menarik kursi ke belakang. "Dia bilang tadi mau jalan-jalan. Sudah biarkan saja. Nanti juga pulang sendiri,"Jelas Aldi, menyeruput teh manisnya. "Tapi-" "Sarah sudah dewasa. Dia bisa menjaga dirinya. Kau makan saja dulu. Semalam kau tidak makan," sahut Dhira, mencolek sambal. Kedelapan dari mereka makan dengan hikmat. Tanpa berbincang. Tanpa ada yang menyela. Semua menikmati masakan Dina. Aldi—Yura dan Dhira juga Indah memberikan jempol untuk memuji masakan Dina. Tak butuh waktu lama, semua piring jadi kosong tak bersisa. Giliran Dhira dan Indah yang mencuci piring. "Seumur-umur, aku tidak pernah mencuci piring," kata Dhira, kesal. Memutar keran. "Aku juga," sahut Indah, memberikan piring kotor pada Dhira. "Aku tidak suka aroma sabun cuci piring," gerutu Dhira lagi. "Astaga. Kau sama denganku. Aku juga benci hal itu. Sepertinya, kita akan cocok. Kau mau jadi temanku? Aku tidak punya teman di kota ini." Dhira menatap Indah. "Tidak. Kenapa aku harus jadi temanmu?" Indah tercengang. Mendengus kesal. Keduanya mencuci piring dengan tenang kemudian. Mereka melakukan kegiatan masing-masing, setelah sarapan. Aldi dan Dina masih saja bermesraan di halaman belakang. Yura mengecat kukunya di kamar Sarah. Sementara Niko masih saja kebingungan karena Sarah belum juga kembali. Pun dengan Willy yang mencoba menghubungi ponsel Sarah. "Ponsel Sarah ada di kamar," kata Yura, menyembul dari balik pintu. Menenteng ponsel hitam dengan tiga kamera di belakangnya. Willy mendesah panjang. Menilik jam di tangan kirinya. "Sudah pukul 11.00. Kemana dia sebenarnya." Serupa dengan Niko yang mulai merasa tidak tenang. Menghampiri Aldi di halaman belakang. Sedang mengusap-usap mesra punggung tangan Dina. "Kau tidak khawatir dengan kakakmu? Dia belum kembali sampai sekarang." Aldi melihat jam di tangan kanannya. "Kau benar juga. Mbak Sarah, berangkat dari pukul 07.00 pagi tadi." "Lebih baik kita berpencar mencarinya."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD