Adegan Tak Terduga II

2448 Words
Aldi—Dina, Niko juga Willy. Dan yang lain mulai keluar mencari Sarah. Dhira yang mencari dengan malas, bertemu dengan warga sekitar. "Kau mencari temanmu? Aku tahu dimana dia," kata Kakek tersebut. Dhira mengajak Kakek ke depan Villa dan memanggil mereka semua untuk berkumpul. "Ada apa? Kau sudah menemukannya?" "Kakek ini tahu, dimana Sarah berada." Dhira menunjuk kakek yang mengenakan jaket hijau tentara, sarung motif kotak dengan dagunya. "Beberapa bulan belakangan, banyak wisatawan datang kemari. Mereka suka berjalan-jalan pagi di sekitar sini. Tanpa pemandu. Padahal seharusnya, mereka harus membawa pemandu, karena banyak jalan terjal di sini. Selain itu, kabut tebal setiap pagi selalu mengganggu pandangan-" "Kek, jadi sebenarnya dimana teman kami?" sela Niko. Si Kakek mendesah panjang. "Kemungkinan dia jatuh ke jurang. Banyak wisatawan yang mati karena itu." Mereka kompak terkesiap. Saling pandang. Sementara pandangan Niko nanar. "Apa mungkin mas Alan juga? Sejak selesai sarapan tadi dia tak ada," ucap Indah, cemas. "MBAK SARAH!" Suara Aldi menggema dari sisi lain tempat itu. Mereka yang mendengar bergegas berlari. Alan sedang membopong Sarah. Tangan kanan Sarah melingkar di bahu Alan. Pipinya ada luka goresan. Kakinya pincang sebelah. "Darimana saja kau?" tanya Niko. "Mbak! Kau tidak apa-apa?" timpal Aldi. "Sarah, kenapa kaki dan wajahmu?" Willy juga bertanya. "Lebih baik, kita kembali Villa. Nanti, biar aku jelaskan di sana," tegas Alan. Sekembalinya mereka ke Villa, Sarah di rebahkan pada sofa ruang tengah. Willy segera mengeluarkan kotak P3K miliknya, memeriksa setiap jengkal tubuh Sarah yang terluka. Mulai dari wajah. Siku tangan. Terakhir kaki. "Wah, Mas Willy benar-benar seorang Dokter yang perfect. Bahkan, di hari libur seperti ini, dia membawa perlengkapannya," Puji Yura. "Sejak kapan kau sedekat itu dengan dia? Sampai kau panggil dia "Mas"?" sindir Dina. Yura meringis. “Aku selalu membawa kotak ini, kemanapun aku pergi. Untuk jaga-jaga kejadian tak terduga seperti ini,” jelas Willy. Dia memutar perlahan pergelangan kaki Sarah yang terkilir. “Sarah.. Ini akan sedikit sakit,” katanya. Kemudian di tariknya pergelangan sampai terdengar bunyi bergemeretak. Sarah mendesis sakit. “Apa lukanya cukup parah?” tanya Aldi. “Beruntung ligamennya tidak terluka terlalu parah. Hanya akan terjadi pembengkakan. Cukup di kompres saja.” “Sekarang jelaskan, Sarah. Kau kenapa? Dan, darimana saja?” tanya Willy. “Aku menemukannya di rumah warga. Kata mereka, Sarah terperosok di jalanan terjal. Beruntungnya, dia tak masuk ke dalam jurang,” jelas Alan. “Kau juru bicaranya?” kata Niko. “Hah?” “Kenapa Sarah yang di tanya, kau yang menjawab? Dan, kenapa kau repot-repot mencari Sarah? Dia tanggung jawabku.” “Aku hanya ingin membantu.” “Sudah aku katakan, kan? Kau jangan mendekati Mbak Sarah! Dan, Kau Mas Niko! Kau kekasih Mbak Sarah? Kenapa dia jadi tanggung jawabmu?” sergah Aldi. Niko mendesah panjang. “Kau yakin kemari untuk menjaga kakakmu? Jika aku tak mengajakmu mencarinya, kau mungkin masih bermesraan dengan Dina.” Aldi mengedip gugup. Berdeham selanjutnya. “Sudah hentikan. Ini semua salahku. Kalian tak perlu bertengkar.” “Itu yang aku pikirkan. Kenapa kau sangat mudah sekali membuat orang khawatir Bu Sarah?” kali ini Dhira menyela. Sarah mendesah panjang. “Aku juga tak ingin seperti itu. Tapi, mereka sendiri yang merasa khawatir padaku. Aku bisa apa?” Dhira mendengus. “Sombong sekali,” katanya lirih. “Lalu kenapa Mas Alan bisa bersamamu tadi?” Indah bertanya dengan kesal. *** Beberapa jam yang lalu Seusai sarapan, Alan keluar dari Villa. Mencari Sarah. Melewati jalan menurun dengan sedikit berlari kecil. Melewati jalanan sepi yang kanannya adalah hamparan lembah. Kirinya adalah tebing tinggi. Hamparan sawah dengan tanah terasering juga terlihat. Udara yang dingin tak membuatnya gentar. Ia terus berjalan. Melewati aspal yang berkelok. Dengan tinggi-rendah yang tak sama. Kadang menanjak. Kadang menurun. Membuat napasnya terengah. Hingga ia memutuskan untuk berhenti sejenak. Mengatur napas. Di saat yang sama seorang warga melintas dengan motornya. “Kau sedang liburan di sini?” “Iya.” “Apa kau sedang mencari temanmu?” pria yang seumuran dengannya menebak dengan tepat. “Kau melihatnya? Dia wanita. Rambutnya panjang. Mengenakan sweater merah muda.” “Tadi dia terperosok di lembah sana. Pak Tukan membantunya. Sepertinya, sekarang dia ada di rumah pak Tukan.” “Dimana rumahnya?” Alan nampak terburu-buru. “Rumahnya di bawah sana. Agak jauh dari sini. Aku mau mengantarkan sebenarnya, tapi aku juga sedang terburu-buru.” “Cukup beritahu aku harus kemana saja.” Setelah tahu, dimana rumah Pak Tukan, Alan segera berlari turun. Tergesa-gesa. *** Pukul 16.00. Setelah kejadian yang membuat sebagian dari mereka kesal, kini mereka bersiap untuk pulang. Sarah membereskan barangnya. Di bantu oleh Niko yang sejak tadi hanya diam. Sarah menatapnya dari bibir ranjang. Tahu jika Niko sedang emosi. Menggigit bibir bawahnya. Setelah Niko melipat beberapa baju milik Sarah, ia segera membawanya ke ranjang. “Semua barangmu sudah masuk ke dalam ransel?” Sarah mengangguk. Menepuk ransel di sisi kirinya. Niko mencondongkan tubuh. Lebih dekat ke arah Sarah. Membuatnya terkejut. Terbelalak. Niko meraih ransel Sarah. Memasukkan baju yang sebelumnya ia lipat. “Lain kali jangan begitu,” kata Sarah gugup. “Apanya?” “Ba-barusan.” “Ah.. Mengambil tasmu? Kenapa? Ada yang salah?" “Emm.. Tidak.” Niko membawa ransel Sarah di punggungnya. “Biar aku bawa sendiri.” “Dengan kondisimu yang seperti itu?” sindir Niko. Sarah meringis. “Kau sudah siap?” tanya Niko. Sarah mengangguk. Kedua tangan bertumpu pada ranjang. Bersiap untuk berdiri. Yang harus ia urungkan. Niko tiba-tiba menggendongnya. Bak seorang suami yang menggendong istri di malam pertama. Secara refleks Sarah menggantungkan tangannya pada tengkuk Niko. “A-aku masih bisa berjalan sendiri.” “Kali ini.. Tolong menurut padaku. Kau sudah cukup merepotkan banyak orang hari ini.” “Maaf.” Sarah menunduk. “Itu lebih bagus.” Niko membawanya ke teras depan. Dimana yang lain sudah berkumpul. Aldi bergegas membuka pintu mobilnya. Di dudukkan Sarah di kursi samping kemudi. Lagi. Niko melewati tubuh depan Sarah. Membuat Sarah dapat melihat jelas wajah sahabatnya itu. Menjadikan pipinya semu. Jantung berdegup kencang. Niko menarik sabuk pengaman. Memasangnya. “Setelah ini kau akan melakukan gerakan mendadak apalagi?” “Kenapa? Kau berharap aku akan menciummu?” “Kau gila?” Niko tersenyum. Kerutan kecil di mata saat ia tersenyum terlihat sangat manis bagi Sarah. Untuk pertama kalinya, ia menyadari hal itu. “Kau.. Manis juga,” kata Sarah, tak sadar. “Hah? Aku apa?” “Oh.. Itu.. Ah, cepat keluar. Jangan tutup pintunya. Aku belum berpamitan dengan yang lain.” “Baiklah.” Niko mundur selangkah. Meluruskan punggungnya. Berganti Willy yang datang. Membungkukkan badan. Kedua tangan ia letakkan pada lututnya. “Tubuhmu tidak sakit?” “Berkat kau. Terima kasih.” Willy tersenyum. “Aku sarankan, untuk memeriksa lebih lanjut di rumah sakit besok. Aku kosongkan jadwalku di siang hari. Jadi, kau tak perlu mengantre di sana.” “Terima kasih lagi. Aku tak tahu bagaimana harus membalasmu.” “Makan malam denganku kapan-kapan. Bagaimana?” Sarah mengangguk pasti. “Baiklah. Itu permintaan yang mudah.” “Aku rasa tidak semudah itu.” Willy menyunggingkan senyum. Sarah tersenyum bingung. “Kalau begitu, sampai jumpa besok. Aku akan ikut dengan mobil Indah.” Willy mundur selangkah. Meluruskan punggung. Melambaikan tangan. Di balas oleh Sarah. Kemudian mendorong pintu mobil. Niko bagian mengemudi sore ini. Setelahnya, Aldi dan Dina masuk. Sarah memicingkan mata melalui spion tengah yang tergantung di langit-langit mobil. Membuat Aldi menunduk takut. Di saat yang sama, Alan masuk ke dalam mobil. Sarah melebarkan mata. Memutar punggung. “Kenapa kau di mobil kami?” tanya Sarah. “Willy dan Indah sedang ada urusan keluarga. Jadi, aku tak mau ikut campur.” “Kau bisa ikut mobil Dhira dan Yura. Di sana lebih luas,” sahut Aldi. “Sepertinya, Direktur Alan sangat mencintai kita,” sarkas Niko. “Hentikan. Jika, kalian bertengkar lagi—aku bakar mobil ini,” ancam Sarah. “Cepat berangkat.” Ketiga mobil itu kemudian melaju dengan kecepatan berbeda. Menembus kabut rendah di lembah itu. Saat di persimpangan jalan, ketiganya kemudian berpisah. Mengambil rute masing-masing. Mobil Dhira dan Sarah ke arah timur. Sedangkan mobil Indah ke arah barat. Dalam mobil, Indah menyilangkan tangan di d**a dengan kesal. Mengernyitkan kening. Menatap sang kakak dengan sebal. “Sebenarnya, apa yang ingin kau bicarakan? Kenapa Mas Alan harus satu mobil dengan Sarah?” “Karena aku ingin membahasnya.” “Kenapa?” tangan Indah berada di paha kemudian. “Bagaimana kau bisa mengenalnya? Bukankah dia anak dari pemilik perusahaan S?” Bola mata Indah bergerak gugup. “Bu-bukan. Dia hanya berwajah mirip saja dengan Rama.” “Kau juga kenal dengan Rama?” “Tidak. Aku hanya tahu ceritanya saja.” “Kau belum jawab pertanyaanku. Bagaimana kau bisa mengenalnya?” “Aku bertemu dengannya waktu di Korea Selatan.” “Ayah yang mengenalkan kau padanya?” “Bagaimana kau tahu?” “Dia bukan tipemu.” Indah mendesah singkat. Menggeser duduknya. “Tapi, dia sekarang menjadi tipeku.” “Kau suka padanya?” “Sangat.” Willy mendesah panjang. “Kenapa kau tiba-tiba peduli tentang siapa kekasihku?” “Dari dulu juga aku peduli padamu.” “Tapi, kau selalu masa bodoh.” “Aku hanya tak ingin bertengkar denganmu. Tapi, Indah.. Aku merasa suatu saat kau akan terluka karena Alan.” “Kau sungguh aneh. Kenapa kau berpikir seperti itu? Apa karena wanita itu? Siapa namanya? Sarah?” kemudian Indah diam. Terkesiap di detik selanjutnya. “Benar juga. Dia wanita yang memeluk Mas Alan waktu di lobi itu! Putar balik arah mobil kita! Aku ingin menyusul Mas Alan!” “Sarah—Kau tahu apa yang sedang di hadapinya?” “Dia hanya gadis manja yang selalu merengek karena tunangannya hilang! Aku benci dengannya.” “Kau salah. Sarah Adalah orang yang paling kuat. Dia tak cengeng sepertimu.” “Mas Willy! Kenapa kau membelanya?!” “Aku tidak membelanya. Tapi, memang begitu keadaannya.” “Kau suka padanya?” “Siapa yang tak suka padanya? Dia cantik. Baik. Periang. Senyumnya menawan. Tapi..” “Tapi apa?” “Sarah.. Dia sedang sakit parah.” Indah mengernyit. “Dia kelihatan baik-baik saja.” “Karena itu.. Aku minta sekarang, kau mengatakan yang sejujurnya padaku.” Di sisi lain kota Malang, Mobil Sarah baru saja melewati jembatan kembar dan gedung kampus Sarah dulu. “Jika melihat gedung kampus lagi, rasanya aku teringat akan tugas akhir kuliah yang membuat berat badanku turun,” kata Niko. Sarah terkekeh. “Kau benar. Itu adalah masa yang sungguh tak ingin aku kembali.” “Kau masih ingat, Sarah? Waktu pertama kali kita bertemu?” “Tentu. Waktu itu, Niko yang dalam ingatanku adalah Niko yang kurus kering dan penuh jerawat.” “Hei, kau selalu saja mengingat yang buruk.” “Hehe.” “Mbak.. Kau tak lapar?” Sarah diam. “Sarah.. Kau akan terus seperti ini? Kau akan mengabaikanku?!” bentak Dina. “Sudah aku katakan.. Kalian bukan siapa-siapaku lagi.” “Mbak!” “Sarah!” “Sudah hentikan. Kalian seperti anak kecil saja. Kau ingin mampir makan?” kata Niko. Sarah menggeleng. “Ah, iya. Rumah Pak Alan daerah mana? Biar kami mengantarkanmu.” Alan tersenyum. “Sama dengan yang kalian tuju.” Kening Sarah berkerut heran. Pukul 20.39. Hujan ringan kembali datang malam ini. Macet dimana-mana. Bunyi whiper terdengar seperti nina bobo. Semua sudah lelah. Bahkan, Aldi sudah terlelap dengan mulut terbuka. Setelah mengantarkan Dina pulang, kini Niko menghentikan laju mobil di g**g masuk rumah Sarah. Memandang Alan dari spion kecil. “Dimana rumahmu?” tanya Niko. “Masuk saja ke g**g itu." Alan menunjuk g**g menuju rumah Sarah. Membuat Sarah dan Niko menoleh ke belakang. “Kau tinggal di daerah sini?” tanya Sarah. Alan mengangguk. “Sejak kapan?” “Semenjak aku datang ke kota ini. Kenapa? Ada masalah?” Sarah menahan kalimatnya. Kembali menatap depan. Memberi isyarat pada Niko untuk melanjutkan perjalanan. Otak Sarah sudah ramai dengan berbagai spekulasi. Kenapa dan bagaimana bisa tempat tinggalnya berada di kawasan yang sama dengan Sarah. Dia terus meyakinkan dirinya, jika itu hanya sebuah kebetulan. Itu semua tidak di sengaja. Sebuah kebetulan yang sangat—kebetulan. Rumah Alan hanya berjarak tiga rumah dari tempat Sarah. “Bukannya ini rumah Bu Kasih? Kau kerabatnya?” tanya Sarah, menatap rumah bermodel perumahan modern itu. “Tidak, aku membelinya. Pemilik sebelumnya sudah pindah.” Alan turun. Membuka bagasi belakang. Mengambil ranselnya. Kembali membuka pintu tengah. Sedikit membungkukkan badan. “Terima kasih tumpangannya. Sampai bertemu besok.” Alan menutup pintu mobil. Berjalan ke pagar rumahnya. Menggeser pagar dan masuk. “Apakah ini tidak terlalu aneh?” tanya Sarah. “Hanya kebetulan. Hei, Aldi! Cepat bangun.” Niko menggoyangkan tubuh Aldi dengan kencang. Mata sayup Aldi terbuka. “Kita sudah sampai?” “Cepat turun dan buka gerbang. Mobil ini semakin lama semakin menggelondor ke depan. Susah untuk menahannya. Kakiku kram menginjak rem terus.” Tanpa menjawab, Aldi bergegas turun. Berlari kecil. Mengikuti jalan menurun. Berhenti di depan rumah. Menggeser pagar. Kebanyakan rumah di komplek itu memiliki pagar. Namun, mereka jarang menguncinya. Alasannya satu. Biar lebih mudah memasukkan kendaraan ke halaman rumah mereka yang kecil. Setelah mematikan mesin mobil, Niko turun. Menyerahkan kunci pada Sarah. Pukul 20.51 sekarang. Hujan sedikit menderas. Mereka berteduh di teras rumah. “Kau kemari naik apa kemarin?” tanya Sarah. “Apa tidak terlalu terlambat, kau baru menanyakan itu?” “Lebih baik terlambat. Daripada tidak sama sekali.” Niko mendengus. Tersenyum lebar. Sederet gigi putihnya terlihat. “Aku naik Ojek Online kemarin.” Sarah menilik jam tangannya. “Hujan. Dan, sudah malam. Lebih baik kau menginap saja.” “Tidak, lebih baik aku pulang.” “Hei, jangan memaksakan diri. Besok kita bisa berangkat lebih lagi. Kita mampir di rumahmu dulu esok.” “Tidak apa-apa jika aku menginap? Nanti, apa kata bibi.” “Kau bisa tidur dengan Aldi. Ibu pasti mengizinkan. Jangan khawatir.” “Ah, iya—Aldi. ” Sarah menarik lehernya ke belakang. Menatap Niko dengan alis berkerut. “Kau pikir kita akan tidur bersama?” “Tidak! Kau pikir aku lelaki mes*m?!” “Hei.. Sepertinya begitu.” “Memang kenapa kalau kita tidur bersama?” “Bukan muhrim, bodoh.” “Kita halalkan saja.” Sarah diam. Tatapannya membeku pada Niko. Terlalu terkejut dengan kalimat pria tampan itu. Sementara, yang di pandang tertawa geli. “Aku bercanda, bodoh. Kenapa kau serius sekali.” Sarah berdecak kesal. “Tapi, jika kita jadi pasangan sepertinya cocok. Kau mau?” “Cih. Dalam mimpimu. Cepat masuk. Dingin.” Sarah masuk terlebih dahulu. Niko tersenyum pahit. Memandang langit malam. Jemarinya di sembunyikan pada saku celana depan. “Penolakan yang sangat halus.” Tak seindah mimpi tanpanya di sisi. Semua hilang dan pergi. Hanya merindukan rasa itu, menghancurkan hati. Ingin melupakannya tapi selalu rindu. Tidak ingin menyesalinya karena dia selalu di hati ini.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD