Sarah yang masih berstatus mahasiswi, memiliki jiwa yang energik. Tak kenal takut. Dan, pintar. Ia selalu mendapatkan nilai A+ di semua mata kuliah. Membuat kagum semua temannya. Ia cukup populer karena kepintarannya.
Sarah memang cantik. Tapi, ia bukan gadis tercantik di kampusnya. Banyak gadis cantik di kampus ini. Namun, bagi beberapa orang dia yang tercantik.
Bunga. Cokelat. Boneka. Ajakan berkencan. Selalu datang silih berganti padanya. Tetapi, ia tolak mentah-mentah. Di samping tidak tertarik, Sarah saat itu tengah menyukai seorang pemuda. Satu tingkat di atasnya.
Rama. Pemuda kaya yang tak congkak. Berhasil merebut hatinya. Bahkan, semua perilaku yang di tunjukkan para pemuda untuk mendapatkan Sarah, di lakukannya pada Rama. Selalu mengajaknya makan siang. Menempel kemanapun Rama pergi. Juga membelikan Rama Kopi s**u kesukaannya, seperti sekarang. Mencarinya di beberapa ruangan. Biasanya di jam-jam siang seperti ini, Rama sering menghabiskan waktu di ruang musik. Sarah mencoba kesana kali ini. Mendorong masuk pintu ruangan. Melongokkan kepala. Mengedarkan pandangan. Tidak ada siapapun di situ. Sarah mundur selangkah dengan desahan panjang. Kembali menutup pintu.
“Siapa kau?” suara barito halus dari seorang pemuda terdengar dari arah belakangnya.
Sarah berbalik. Melihat pemuda tinggi nan berkulit bersih.
“Siapa kau? Dan, untuk apa kau kemari?” tanya pemuda itu lagi.
“Aku mencari temanku. Tapi, dia tak ada di sini.”
“Siapa nama temanmu?”
“Rama.”
“Ah, Rama. Dia sedang ke kamar mandi.”
Sarah mengangguk mengerti. “Kalau begitu, nanti saja aku kembali lagi.”
Sarah berjalan sopan, melewati pemuda itu.
“Kau yang bernama Sarah?”
Kini ganti pemuda itu yang berbalik. Menatap punggung Sarah.
“Kau mengenalku?” tanya Sarah kembali. Menengok.
Pemuda itu mengangkat kedua bahunya dengan satu gerakan.
“Begitulah,” jawabnya. “Rama seringkali cerita tentangmu.”
“Kau teman dekat Rama?”
“Bisa di bilang begitu.”
“Aah. Aku Sarah. Kau siapa?” Sarah mengulurkan tangan.
“Aku sudah tahu namamu.”
“Oh, iya. Aku lupa.” Sarah meringis.
“Aku Niko. Satu jurusan dengan Rama. Kami juga satu SMA dulu.”
“Jadi, kau sangat dekat dengannya? Dia sering menceritakanku?”
Niko mengangguk.
“Cerita apa saja?” Sarah bertanya dengan sangat antusias. Matanya berbinar.
“Kau penasaran sekali.” Rama menyembul dari samping Sarah. Membuat Sarah berjengit kaget. Menggeser tempatnya berdiri.
“Sejak kapan kau datang?” Sarah bertanya dengan gugup.
“Baru saja. Kau kesini mencariku?”
“Aku membawakan minuman kesukaanmu.” Sarah menyodorkan cup putih dengan tutup hitam pada Rama.
Rama memanyunkan bibir. “Maaf, Sarah. Aku harus menolaknya.”
Sarah tertegun dengan penolakan itu.
“Kenapa?”
“Perutku mulas sejak pagi. Lebih baik ke kantin denganku. Belikan aku teh hangat. Sebagai gantinya aku traktir minuman kesukaanmu—cokelat panas. Bagaimana?”
Sarah mengangguk.
“Kau tak ikut?” tanya Rama. Menatap Niko.
“Kalian duluan saja. Aku masih ada urusan.”
“Baiklah.”
Rama berjalan terlebih dahulu. Sarah kemudian. Namun, di detik selanjutnya ia membelokkan langkah. Menghampiri Niko.
“Minuman ini untukmu saja.”
Niko menerimanya dengan ragu.
“Terima kasih.”
“Lain kali, ceritakan padaku tentang Rama, ya?”
Sarah tersenyum lebar. Membuat jantung Niko berdegup kencang.
***
Senin langit abu-abu. Akhir-akhir ini cuaca di kota Malang agaknya tidak bersahabat. Meski, jarang turun hujan, tapi matahari selalu bersembunyi di balik awan abu. Tak menghangatkan kota dingin ini.
Alarm Sarah berbunyi. Dia menggeliat dari balik selimut. Lalu berhenti bergerak. Sayup matanya terbuka. Melihat siluet laki-laki yang tampak gagah punggungnya. Menggeser korden.
“Sejak kapan tubuh Aldi sekeren itu?”
Ia kembali menutup mata, setelah menggumamkan kalimat itu. Di detik selanjutnya, ia kembali membuka mata. Otaknya mengirim sinyal, seolah-olah ada yang sedang memperhatikannya. Benar saja, samar ia melihat laki-laki berjongkok di samping ranjang. Memandang dirinya.
Sarah mengerutkan kening.
“Oh? Selamat pagi, Niko,” kata Sarah. Tersenyum ramah.
Niko tersenyum.
“Selamat pagi, Sarah.”
Satu.
Dua.
Tiga.
Sarah melebarkan mata.
“Niko?”
Ia berjengit kaget. Duduk segera. Menarik selimut untuk menutupi diri. Bersandar pada punggung ranjang.
“Apa yang kau lakukan di sini sepagi ini?!”
Niko berdiri. “Kau lupa? Aku menginap di rumahmu semalam.”
“Iya. Aku tahu. Maksudku, kenapa kau masuk ke kamarku?”
“Oh.. Itu.. Aku mencari pengering rambut. Kata Aldi, ada di kamarmu.”
“Ah.. Ada di laci meja paling bawah." Menunjuk meja di seberangnya.
“Baiklah.”
Niko berjalan mendekati meja. Membungkuk. Membuka laci. Mengambil pengering rambut.
“Aku rasa kau tidak perlu menutupi tubuhmu seperti itu,” kata Niko. Mencolokkan kabel.
“Hei.. Meskipun kita sahabat. Tapi, aku wanita. Dan, kau pria.”
“Aku tahu. Tapi, apa yang bisa kulihat? Kau saja memakai kaus lengan panjang begitu?”
Sarah mengintip tubuhnya. Meringis kemudian.
“Benar juga.”
Niko menggeleng heran. “Jangan terlalu sering menonton drama cinta yang membuat otakmu gila dengan fantasi.”
“Kau tak tahu betapa romantisnya dalam drama itu, saat sang pria menatap si gadis dengan sangat dekat! Kyaaa! Membuat jantungku berdebar melihatnya.”
Niko hanya mendengus heran. Menyalakan pengering. Sedetik kemudian berteriak,
“Panas!”
Menjauhkan moncong pengering dari rambutnya. Sarah menyibakkan selimut. Mendekati Niko. Berjalan dengan sedikit pincang.
“Kemarikan pengeringnya.”
Niko dengan ragu memberikannya.
“Duduk.”
Niko menuruti perintahnya. Dan, Sarah segera mengarahkan moncong pengering pada rambut Niko. Mengacak-acak pelan.
“Makanya jangan sok mengeringkan rambut seperti ini. Kau pikir gampang.”
“Aku juga tidak pernah sebenarnya.”
“Lalu, kenapa kau melakukannya sekarang?”
“Itu hanya alasanku saja.”
“Alasan?”
“Agar bisa bertemu denganmu.”
Sarah tertegun. Menghentikan aksinya. Karena kalimat singkat itu, hatinya merasa hangat. Seolah tersipu.
“Sarah! Panas!”
“Ah, maaf. Ke-kenapa kau ingin bertemu denganku se-sepagi ini? Huh?!”
“Agar bisa melihat wajah jelekmu!”
“Haish! Sudah kuduga!”
Sarah mematikan pengering. Meletakkannya di meja.
“Sudah kering.”
“Terima kasih.”
“Tunggu. Biar aku rapikan sedikit rambutmu.”
Sarah mendekat pada Niko. Menutup jarak di antara mereka. Menaikkan tumit, karena tinggi mereka tak sepadan.
Pipi Niko menjadi semu. Memandang dekat bola mata Sarah. Terlihat refleksi dirinya pada mata Sarah. Tangan Niko seolah bergerak dengan sendirinya. Membersihkan kotoran kecil di pelupuk mata Sarah. Membuat Sarah tertegun.
“A-ada kotoran di matamu.” Tanpa Alasan Niko menjadi gugup.
“Ah.. Seharusnya kau beritahu saja.”
Sarah menunduk malu.
“Sarah..”
Sarah segera mendongak ketika namanya di sebut lembut oleh Niko. Tanpa permisi, bibir Niko menyentuh bibir Sarah. Melumat ragu bibir Sarah yang hanya diam tak membalas. Sarah yang sebelumnya terbelalak. Kini mulai memejamkan mata. Hangat. Tubuhnya berdesir nikmat. Untuk sekian lama, dia merasakan kenyamanan itu kembali. Niko terus menggerakkan bibirnya. Kedua tangannya dengan perlahan mendekap punggung Sarah. Membuat Sarah tersadar dari nikmat dunia. Berjalan mundur. Matanya menatap ke berbagai arah.
“Sarah..”
“AH! Sudah pukul 7.10! Aku harus cepat-cepat mandi! Nanti bisa terlambat pergi ke kantor.”
Sarah segera keluar kamar. Meninggalkan Niko yang bersandar di bibir meja. Tersenyum kecil.
Sementara di dalam kamar mandi, Sarah memandang dirinya pada Pantulan cermin wastafel. Nafasnya masih terengah. Jarinya menyusuri bibir. Jari tangan lain memegang d**a.
“Aku tidak seharusnya merasakan hal ini. Dia sahabatku.”
Sarah mendesah panjang. Lalu terkesiap. Mengarahkan telapak tangan pada mulut, lalu mendorong udara keluar dari mulutnya.
“Untung saja tidak sebau itu.”