Cokelat Panas

2230 Words
Di rumah lain kawasan ini—tepatnya rumah Alan. Pria yang menjadi pokok permasalahan di hidup Sarah akhir-akhir ini—nampak sepi. Suram. Meski, hari sudah pagi, Alan tak membuka korden. Ruangan di semua sisi rumah terlihat remang hampir gelap. Alan yang mengenakan kaus putih, duduk di kursi meja makan. Satu tangan ia letakkan di atas meja. Tatapannya nanar. Mendesah sesekali. Bahkan, suara teko berdenging tanda air sudah mendidih saja tak terdengar di telinganya. Ponselnya berdering di detik selanjutnya. Dalam layar tertulis “Pria Itu” menghubungi. Dia mengangkat telepon dan tidak mengatakan apapun. “Sampai kapan kau akan tinggal di rumah itu?” tanya pria di seberang telepon. “Hingga kau mengakhiri semua ini.” “Pulanglah. Kenapa kau harus menyiksa dirimu sendiri.” “Sejak awal, kau yang menyiksaku. Kau yang membuat hidupku hancur. Mulai sekarang— tolong jangan hubungi aku lagi.” Alan menutup telepon. Meletakkan ponsel di meja dengan muak. Menggeser kursi ke belakang. Berdiri. Memutari meja. Mendekati kompor. Mematikan kompor. Menuang air dari teko pada gelas putih tulang yang berisi bubuk kopi dan gula. Satu tangan lainnya bertumpu pada meja kompor. “Auch!” Karena menuang air dengan melamun, Alan tak sengaja menuangkan air ke tangannya, alih-alih ke dalam gelas. Ia segera memutar keran wastafel di sampingnya. Membiarkan air mengalir membasahi punggung tangannya yang mulai memerah. Setelahnya, ia berjalan ke kamar mandi. Membuka kotak P3K yang berada di atas wastafel. Memperhatikan obat yang berjajar di dalamnya. Tak ada salep luka bakar. Ia berjalan keluar rumah. Menggeser pagar. Berjalan melewati tiga rumah. Menggeser pagar. Berjalan masuk. Mengetuk pintu. Sang pemilik rumah membuka pintu. Keduanya sama-sama tercengang saat mata mereka bertemu. “Rama?” “Oh.. Aku tetangga barumu. Tinggal di rumah milik Bu Kasih. Namaku Alan,” jelas Alan dengan tersenyum. Laras diam. Di detik selanjutnya ia bicara, “Ah—maaf. Aku kira kau seseorang yang aku kenal. Ada apa kemari sepagi ini?” “Apa kau punya salep luka bakar? Aku tak sengaja menumpahkan air panas ke tanganku.” “Silakan masuk dulu.” Laras berjalan masuk kembali. Sementara Alan memejam kesal. “Kenapa aku harus kemari?” Alan berjalan masuk. Mengedarkan pandangan. “Duduk dulu. Aku ambilkan salepnya.” Alan segera duduk. Sambil terus memperhatikan setiap detil rumah Sarah. Tidak. Sebenarnya, yang di carinya adalah Sarah. Entah berharap Sarah keluar kamar. Atau apapun itu. Tak lama setelah itu, Laras kembali. Memberikan salep pada Alan. “Terima kasih.” Laras mengangguk ketus. “Nanti aku kembalikan salepnya.” “Tidak perlu. Untukmu saja.” Perut Alan bergemuruh di saat yang tak tepat. “Kau tinggal sendiri?” tanya Laras. “Iya.” “Kau belum sarapan?” Alan menggeleng. “Sarapan saja di sini. Pagi ini aku masak sedikit banyak.” “Tidak pe-“ “Tak usah menolak. Ini tawaran pertama dan terakhirku.” “Ah.. Iya. Terima kasih.” *** Seperti biasa, Sarah melakukan aktifitas paginya. Mandi. Berdandan. Memilih pakaian terbaiknya. Menyemprotkan parfum ke udara. Mewarnai bibir peach dengan gradasi oranye. Kemeja putih bermotif garis hitam. Celana palazzo sebagai pelengkap. Rambutnya di biarkan terurai. Turun ke lantai bawah. Dengan gerakan sedikit meloncat. Menunduk. Takut-takut jika ia tersandung. Mengucapkan selamat pagi pada mereka yang sudah berada di meja makan terlebih dahulu. Mata Sarah dan Alan bertemu—sesaat setelah dua kakinya berpijak di anak tangga terakhir. Niko segera menghampiri Sarah. “Kakimu tidak sakit?” “Tidak. Tapi, Niko— itu Alan?” “Ya. Aku tidak tahu kenapa dia bisa di sini. Abaikan saja. Ayo kita sarapan. Kau bisa jalan sendiri?” “Dari tadi juga aku jalan sendiri.” “Hehe. Benar juga.” Sarah berjalan pelan ke arah meja makan. Niko menarik kursi ke belakang, agar Sarah bisa duduk. Setelahnya, ia duduk di samping Sarah. Aldi dan Sarah sama-sama menatap Alan. Bedanya, hanya Aldi memandang dengan picingan kesal. Sementara sang Ibu hanya diam. Makan roti dengan malas. “Kenapa Pak Alan di sini?” Sarah sudah tak bisa menahan rasa ingin tahunya. “Dia kemari tadi meminta salep luka bakar. Sekalian saja Ibu ajak sarapan.” “Kenapa harus memberikan sarapan pada orang yang tak di kenal?” tanya Aldi, sambil terus menatap Alan. “Kau mengenalnya, kan Sarah?” tanya Laras. “Oh— iya. Dia Direktur di divisiku sekarang.” “Lebih baik kita sarapan saja sekarang,” ajak Niko. Selanjutnya mereka sarapan dengan tenang. Meski, sedikit tak nyaman. Menu sarapan keluarga Sarah, tidak begitu rumit. Cukup s**u ataupun jus sebagai minuman. Roti lapis yang berisi selada, daging iris, juga keju dan saus buatan Laras sebagai menu utamanya. “Tumben sekali, kau sudah bangun jam segini?” tanya Laras pada Aldi. Meneguk air putih. “Tentu. Kuliahku hampir selesai. Aku harus semangat agar bisa bekerja di perusahaan besar seperti Mbak Sarah!” Aldi meringis. Mengunyah roti yang sudah di gigitnya beberapa detik yang lalu. Sarah mendengus. Duduk di samping Aldi. “Sarah.. Kau dengar kalimat adikmu barusan? Wah.. Bisa bayangkan betapa bahagianya hatiku—anak bungsuku memikirkan masa depannya,” kata Laras. “Aku tidak bisa tinggal diam seperti ini. Bagaimana kalau kita makan malam di luar bertiga? Kita rayakan itu! Lagi pula, kita juga sudah lama tidak keluar bersama?” “Aku setuju,” kata Aldi. Sarah mengangguk malas. “Tapi, apa Ibu tahu? Alasan dia bangun pagi sebenarnya-" Aldi menjejalkan roti lapis miliknya pada mulut Sarah. “Mbak Sarah.. Makan yang banyak, ya.” Aldi meringis gugup. Selanjutnya kepala Aldi tertunduk tiba-tiba. Sarah mengeplaknya cukup kencang. “SAKIT!” “Mau aku pukul lagi?!” Aldi menggeram kesal. Alan yang melihatnya, menatap iri. Pertengkaran itu baginya interaksi antar keluarga yang hangat. *** Usai sarapan, Sarah berjalan ke rak sepatu yang ada di dekat pintu depan. Memilih sepatu yang tak memiliki heels. Alan sudah pamit pulang beberapa waktu yang lalu. Niko yang sudah siap terlebih dahulu, tengah menunggu di depan. “Kenapa aku tak boleh pacaran dengan Dina? Huh?” Tanya Aldi, menghadang langkah Sarah. “Minggir. Aku tak ingin bicara denganmu.” “Katakan dulu! Apa alasannya?” “Apa aku harus memberitahu Ibu sekarang? Kalau kau akan menjemput Dina?” “Mbak!” “BU!” Aldi bergeser dengan desisan kesal. Sarah membuka pintu dan keluar. Ketiganya pergi bersama. Mampir sejenak ke rumah Niko. Lalu, menjemput Dina. Dan pergi ke kantor. Sama seperti sebelumnya, Sarah mengabaikan sahabat SMA-nya itu. Bahkan ketika Dina berpamitan di lobi saja, ia membuang muka. “Haruskah kau bersikap seperti itu?” Tanya Niko. “Kalau kau tak ingin aku juga bersikap seperti itu padamu—diam saja." Niko menutup erat bibirnya. Selanjutnya, keduanya tengah menunggu lift turun. Di saat yang sama ponsel Sarah berdering. “Halo.” “Sarah.. Pukul berapa kau kemari? Aku sudah mengosongkan jadwal praktekku untukmu.” “Ah.. iya. Aku belum memberitahumu. Maaf, kakiku sudah tidak terlalu sakit. Lebih baik aku tak pergi kesana.” “Wah.. padahal aku sudah membuatmu seperti tamu VIP. Kau tahu betapa sibuknya diriku?” “Maaf.” “Maaf saja tidak cukup.” “Lalu?” “Rabu. Pukul 19.00. Aku akan menjemputmu.” “Mau kemana?” “Kencan.” Selanjutnya pintu lift terbuka. Willy sudah menutup telepon. Namun Sarah masih tertegun. dengan ponsel masih menempel di telinga. “Kau tak masuk?” Tanya Niko, yang sudah di dalam lift. Sarah segera menggeleng, untuk menyadarkan diri. Masuk ke dalam lift. Dan, pintu tertutup. “Dokter itu meneleponmu?” “Willy.” “Huh?” “Kau bisa memanggilnya Willy. Itu namanya.” “Malas.” “Apanya?” “Aku tidak suka namanya.” Sarah mengernyit heran. “Kau punya dendam pribadi dengannya?” “Well, begitulah. Jadi, apa yang di bicarakannya tadi?” “Emm.. dia menanyakan apa aku jadi ke rumah sakit. Aku bilang tidak.” “Lalu?" Sarah diam. Sejenak berpikir. “Jika aku memberitahunya soal kencan itu—pasti dia marah besar.” “Itu saja.” “Kau yakin?” Sarah mengangguk dan tersenyum. *** Pukul 13.10. Setelah makan siang, Sarah kembali bekerja. Sementara Niko sedang bekerja di luar kantor bersama Dhira. Tumpukan berkas ada di samping kanannya. Dan, harus selesai hari ini juga. Setelah kedatangan Alan, ia menjadi sibuk. Bahkan, saat makan siang saja ia tak ada waktu untuk menoleh ke kanan dan kiri. “Apa ini?” Tanya Sarah, mendongak. Menatap Dina yang datang tiba-tiba. Membawa Cup minuman. “Cokelat panas. Kesukaanmu.” “Aku sudah tahu dari baunya. Tapi, untuk apa kau memberikanku ini?” “Sogokan?” Sarah mendengus. “Singkirkan.” “Sarah! Apa yang harus aku lakukan agar kau merestui hubunganku dengan dia?!” Sarah melotot. Suara Dina terlalu kencang. Hingga para karyawan di ruangan menatap mereka. Sarah berdiri. “Ikuti aku.” Keduanya keluar dari ruangan. Tepatnya berdiri saling berhadapan di sudut lorong. Dina melipat tangan di d**a. “Katakan. Apa alasanmu?” “Bukankah itu sudah jelas?” “Apa?” “Kau dan Aldi sudah membohongiku!” Dina berdeham gugup. Menurunkan tangannya. Sementara, di dalam ruangan, Linda dan yang lain tengah bergosip. “Apa mungkin teman Bu Sarah itu, pacaran dengan pak Niko?” Lingga membuka pembicaraan. “Hei, tak mungkin,” kata Fei. “Iya. Itu tidak mungkin,” timpal Sinta, karyawan baru yang datang bersama Dhira. “Benar. Pak Niko sejak dulu suka dengan BU Sarah,” jelas Linda. “Ck Ck. Kau salah. Pak Niko suka dengan Bu Dhira,” tepis Sinta. “Kau bergabung dengan kami baru beberapa hari saja. Jika, kau tahu bagaimana sikap Pak Niko dengan Bu Sarah. Kau pasti akan langsung memahami.” “Kalian tahu? Pak Niko membawakan meja Bu Dhira waktu itu? Jelas dia menyukainya. Jika, tidak. Untuk apa repot-repot membawakan itu.” “Hanya itu saja? Lalu, kau berspekulasi seperti itu?” “Mau taruhan? Pak Niko menyukai siapa?” “Siapa takut.” “Baiklah. Bagaimana kalau yang kalah akan membelikan makan siang selama seminggu?” “Daripada itu— lebih baik yang kalah harus mencukur kedua alisnya. Bagaimana? Lebih menarik bukan?” “Ide gila! Tapi, aku setuju. Bagaimana yang lain?” Sisanya mengangguk setuju. Seperti itulah akhirnya tercipta kubu Sarah dan kubu Dhira. Linda dan Fei satu suara mendukung Sarah. Lingga memilih bersama Sinta, mendukung Dhira. Sementara, Sarah dan Dina masih saja berdebat. “Maafkan aku untuk itu,” kata Dina. “Baiklah.” “Kalau begitu, kau sudah menyetujui hubunganku dengan Aldi?” Sarah menggeleng. “Tetap tidak boleh.” Dina merengek. Menghentakkan seluruh tubuhnya. Mengernyit kesal. “Kenapa sebenarnya? Kau sudah memaafkan aku. Lalu apalagi?” Sarah mendesah panjang. Melipat tangan di d**a. “Lihat kau sekarang. Kita bertengkar hanya karena Aldi. Lalu, bagaimana nanti jika kau berselisih paham dengan Aldi? Kemudian kalian putus. Kau mungkin tidak akan menyapaku lagi.” Dina diam. Memahami kekhawatiran Sarah. Di detik selanjutnya, ia memeluk Sarah. “Inilah alasanku memilihmu menjadi sahabat dulu. Kau— gadis yang baik, Sarah.” Dina melepaskan pelukannya. Berganti menggenggam tangannya. “Jangan khawatir. Sekalipun aku dan Aldi tidak lagi bersama— aku takkan pernah berhenti untuk menjadi sahabatmu.” Desahan panjang kembali di lakukan oleh sarah. “Kau memang gadis keras kepala.” “Itu nama tengahku,” Kata Dina centil. Kemudian mencium singkat pipi Sarah. Lalu berlari. “Aku sayang padamu, kakak ipar!” teriaknya. Sarah mendengus dan tersenyum. Kemudian berjalan kembali ke ruangannya. Menghentikan langkah, ketika melihat Linda bergerak gelisah dengan kaki di silangkan. Di depan pintu ruangan Alan. Membawa nampan yang di atasnya terdapat sebuah cangkir lengkap dengan tatakan. “Linda, kau sedang apa di sini?” “Bu sarah, kebetulan ada Ibu di sini. Tolong bawakan ini.” Linda memberikan nampan yang di bawanya. “Tolong berikan pada Pak Alan. Tadi dia minta kopi, kebetulan petugas pantry sedang beristirahat semua.” “Tapi, kenapa a-“ “Aku sudah tak tahan lagi Bu Sarah. Rasanya kandung kem*hku penuh.” Linda berlari pergi kemudian. Meninggalkan Sarah yang tengah mendesah panjang. Jarinya sudah siap untuk mengetuk pintu, di saat yang sama mendengar suara Alan yang kelihatan tengah emosi—berteriak kencang. Lantas, ia mengurungkan niatnya. Menatap cangkir yang berisi kopi hitam. Menggantinya dengan cokelat panas miliknya. Setelah itu mengetuk pintu ruangan Alan. “Masuk,” kata Alan. Sarah mendorong masuk pintu. Berjalan mendekati meja Alan, di mana sang pemilik ruangan Nampak tengah sibuk. Hingga tak sempat menatap Sarah. Ia hanya meletakkan Cup minuman, lalu membalik badan. Berjalan menjauh dari meja Alan. “Apa ini?” Tanya Alan, membuka penutup cup. “Bukankah aku katakan tadi? Aku mau kopi! KAU BODOH?!’ Sarah menghentikan langkah. Kembali membalik badan. Mata mereka bertemu. “Sarah.. kenapa kau yang membawakan ini?” “Linda meminta tolong padaku. Tadinya, memang dia membuatkan kopi untukmu. Tapi, aku tak sengaja mendengar kau tengah emosi tadi. Suaramu sangat kencang.” “Lalu apa hubungannya dengan cokelat ini?” “Kopi mengandung kafein yang hanya akan membuat jantungmu terpacu semakin cepat. Dan, juga tidak baik di minum saat kau sedang emosi. Sebaliknya dengan cokelat panas. Dari harumnya saja sudah menenangkan. Apalagi meminumnya. Kau akan dapat berpikir lebih tenang nanti.” “Ah.. seperti itu. Terima kasih.” Sarah diam sesaat. “Boleh aku memberikan saran?” Alan mengangguk. “Marah tidak akan menyelesaikan masalah. Justeru itu akan semakin memperumitnya. Seseorang pernah berkata padaku. Seberat apapun masalahmu—usahakan kau selalu tersenyum. Maka semua akan terlihat baik-baik saja, sekalipun itu tidak. Dengan tersenyum akan membuat segala di sekitar menjadi sesuatu yang positif.” Alan tersenyum ragu.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD