Olahraga Pagi Dan Rumor Cinta

1349 Words
Pukul 05.00. Subuh yang sangat dingin saat ini. Kabut rendah masih mengganggu pandangan mata. Sarah bangun lebih pagi hari ini. Membasuh muka. Mengenakan kaus putih polos. Jaket bertudung sebagai tambahannya. Celana training abu. Mencolokkan kabel Earphone pada ponselnya. Memutar musik dengan beat sedikit cepat. Berjalan ke pintu depan. Mengenakan sepatu kets putih yang sudah lama tak dipakainya. Mengeratkan talinya. Dan, membuka pintu. Di detik selanjutnya, ia mulai meregangkan tubuh. Melakukan sedikit pemanasan. Mendorong udara keluar melalui mulut. Kemudian berjalan cepat. Inginnya melakukan lari pagi, tapi pergelangan kakinya belum sembuh sepenuhnya. Meski, sudah tidak terasa sakit, karena kemarin Laras mendatangkan tukang pijit paling handal di daerah itu. Ia berjalan menjauh dari kawasan rumahnya. Tak jauh dari situ, ada sebuah taman yang setiap pagi banyak orang melakukan olahraga pagi, seperti Sarah. Setibanya di sana, nafasnya sudah cukup tersengal. Tubuhnya belum terbiasa melakukan aktifitas semacam itu. Terakhir kali, ia melakukan olahraga sekitar 2 tahun yang lalu. Bersama Rama tentunya. Sebagian dari kehidupan sehari-harinya dulu, di lakukan bersama Rama. Seolah-olah keduanya insan yang sulit untuk di pisahkan. Sarah memilih menyerah sejenak. Mencari bangku kosong di taman. Kedua tangannya bertumpu pada bangku. Menengadahkan kepala. Membiarkan semilir angin menerpa wajahnya yang basah karena keringat. Menyaksikan burung-burung pagi mengepakkan sayapnya. Terbang kesana-kemari. Hinggap dari pohon satu ke pohon yang lain. Bersama cuitan mereka. Hingga seseorang menyodorkan botol minuman padanya. Sarah duduk dengan tegak. Mengerutkan kening ke atas. “Kau suka olahraga rupanya,” kata pemberi minuman. “Pak Alan? Kenapa kau di sini?” “Olahraga tentunya. Mana mungkin aku di sini untuk tidur.” “Ah, iya.” “Cepat ambil ini. Tanganku sudah lelah.” Sarah segera meraih botol yang berada di tangan Alan. Membuka tutupnya. Meneguknya beberapa kali. “Ah.. segarnya. Terima kasih.” “Boleh aku duduk di sampingmu?” Anggukan Sarah menjawabnya. "Terima kasih," ucapnya. "Untuk apa?" "Cokelat panas darimu sangat membantu. Juga kata-katamu—Memang benar. Sepertinya, aku tidak ingat bagaimana cara tersenyum. Rasanya aku seperti kehilangan sesuatu yang berharga." "Kau bertengkar dengan kekasihmu?" "Tidak. Entah belakangan ini, hatiku seolah kosong. Hidupku seperti tidak ada gunanya. Ingatanku seolah memutar satu kejadian yang menyakitkan. Semakin aku berusaha menghapusnya, semakin ingatan itu berputar dengan sempurna di kepalaku. Dalam dadaku, seolah ribuan semut menggigit secara bersamaan. Kadang aku berpikir, apakah aku pantas memiliki semua ini? Apa aku pantas hidup? Apa aku pantas untuk tersenyum bahagia? Aku tak bisa memahami diriku sendiri. Lucu, bukan?” "Menyerah,” kata Sarah. “Terkadang hal itu di butuhkan dalam kehidupan. Ketika kau sudah melakukan segalanya, tapi keadaan tidak juga berubah—maka menyerahlah. Tidak perlu memaksakan diri, jika nanti akhirnya akan terluka sendiri. Tapi, sebelum menyerah—berusahalah. Jika kau memang mencintainya, maka kau harus mengorbankan setidaknya sebagian dari hidupmu. Jika kau menemukan sesuatu yang sangat berharga, kau tidak akan merusaknya. Sama seperti memelihara bunga. Kalau kau ingin melihatnya tumbuh dan mekar sangat indah, maka setiap hari kau harus memberinya air. Kau tidak akan tega melihat bunga-bunga itu mati.” Alan hanya menatap Sarah. Kemudian tersenyum kecil. "Tapi, jika seseorang yang telah kau cintai, tiba-tiba menyakitimu. Apa kau akan tetap mencintainya?” “Aku akan melihat apa alasannya telah menyakitiku. Jika menyakitiku sesuatu yang baik untuk dirinya, mungkin aku akan memaafkannya. Dan, mungkin akan terus mencintainya sampai rasa itu pudar dengan sendirinya.” "Kenapa kau sangat menyukai cokelat panas?" Sarah mendengus dan tersenyum. “Kenapa tiba-tiba menanyakan itu?” “Hanya ingin tahu saja.” “Karena Rama menyukainya,” jawabnya. “Setiap hariku buruk-dia selalu datang membawa secangkir cokelat panas. Berharap dengan meminum itu, aku akan sedikit baik-baik saja. Padahal, dengan kehadirannya saja, sudah membuatku cukup baik. Dulu.. pelukannya yang selalu menghangatkanku. Tapi, sekarang hanya cokelat panas yang mampu menggantinya.” "Apa menurutmu dia orang yang baik?" Sarah menjawab dengan anggukan. “Aku yakin.. setiap manusia pasti memiliki sisi baik. Tidak ada satupun manusia yang terlahir jahat. Sebagian menjadi buruk karena keadaan yang mendesak mereka.” “Bagaimana kau bisa sebijak itu? Jika, aku menjadi kau—aku akan segera mencari pengganti Rama. Untuk apa menunggu sesuatu yang tak pasti.” “Tidak. Aku tak sebijak itu. Aku hampir gila karenanya. Menutup diri dari dunia luar. Tak pernah, keluar kamar. Selama setahun penuh, aku terus mencari kabar tentangnya. Meski, aku tahu itu semua percuma. Tapi, aku terus melakukannya. Setidaknya, itu membuatku lebih tenang.” Alan diam. Menatap lamat-lamat wajah Sarah. Desahan panjang di lakukannya. Untuk suatu alasan, hatinya berkecamuk. Di detik selanjutnya, ia berdiri. Menilik jam di pergelangan tangan kirinya. “Sudah pukul 06.00. Lebih baik kita kembali. Nanti terlambat masuk kantor.” *** Ruangan divisi marketing terlihat sunyi. Hanya suara 10 jari yang mengetik di papan QWERTY masing-masing komputer. Dhira sedang menggandakan berkas dengan mesin fotokopi. Lingga meregangkan jemarinya sejenak, lalu kembali mengetik. Niko tengah mengobrol dengan divisi lain, melalui telepon kabel di mejanya. Sementara sang ketua tim hanya meletakkan kepalanya di atas meja. Menatap berkas yang menumpuk di depan matanya. Mendesah panjang. “Kapan ini semua akan selesai? Malas sekali rasanya.” Sekalipun Sarah pekerja keras dan sangat bertanggung jawab untuk menerima jabatan sebagai Ketua Tim—adakalanya, dia merasa penat dan lelah dengan pekerjaannya. Manusiawi. “Apa kita tak mengadakan makan malam bersama?” tanya Dhira, tiba-tiba. “Apa kau akan mentraktir kami?” Fei berbalik bertanya, dengan mata berbinar. Dia sangat suka segalanya yang berlabel GRATIS. “BSS,” jawab Dhira singkat. Merapikan kertas. “Apa itu?” Fei kembali bertanya. “BAYAR SENDIRI-SENDIRI.” Tiga kata yang di beri penekanan itu menggambarkan jika Dhira adalah seseorang yang pelit. Pernah pada suatu hari, saat ia masih belum bergabung dengan Tim Sarah— Saat itu waktunya makan siang. Dan, dia mengajak para karyawan di Timnya untuk makan siang di Restoran baru, tak jauh dari kantor. Semua pasti berpikir, jika Dhira akan mentraktirnya. Setelah selesai makan, mereka mengatakan terima kasih pada Dhira. Karena makan siangnya sangat enak. Dhira yang tak mengerti segera mengernyitkan kening. Kenapa kau ber terima kasih padaku? Katanya. Jelas salah satu dari mereka menjawab, Karena kau sudah membelikan kami makan siang. Wajah datar Dhira muncul, melipat tangan di d**a. Kenapa aku harus membayar makanan yang kalian nikmati sendiri? Lalu, untuk apa uang gaji kalian? Jika, tak untuk membeli makanan sepreti ini?Setelahnya, ia berjalan pergi ke kasir. Dan, meminta tagihan terpisah dari mereka. “Pekerjaan kita masih banyak. Tidak ada waktu untuk melakukan itu,” kata Sarah. “Benar kata Bu Sarah. Sampai akhir bulan ini, masih banyak berkas yang belum selesai.” Linda menambahkan. “Bukankah kita juga harus menyambut kedatangan Pak Alan? Direktur baru kita?” gagas Dhira kembali. Mengabaikan jawaban Sarah. Kemudian mendekati meja Niko, yang berada di samping mesin fotokopi. “Bagaimana menurutmu?” Dhira tersenyum centil pada Niko. Yang di tanya mengangkat kepala, setelah meletakkan gagang telepon pada tempatnya. Menatap Dhira. “Tentu saja. Kenapa tidak." Lingga, Sinta—Linda dan Fei saling betukar pandang. Di detik selanjutnya, Lingga meraih ponselnya. Mengirim pesan pada grup Chat yang di beri judul “CINTA NSD” Niko. Sarah. Dhira. Di mana anggotanya, keempat dari mereka. “Dengar, kan? Pak Niko langsung menyetejui pinta Bu Dhira! Itu berarti dia menyukai Bu Dhira! Linda dan Fei siap-siap untuk mencukur alis ya. Haha.” Ponsel ketiganya berdenting kompak. Membaca pesan Lingga secara diam-diam. Agar Sarah dan yang lainnya tidak mencurigai mereka. “Sebelum Pak Niko mendeklarasikan perasaannya, jangan terlalu percaya diri. Bisa-bisa nanti percaya dirimu yang kuat akan menggiringmu ke penderitaan,” balas Linda, menambahkan emoticon menjulurkan lidah di akhir kalimat. Ponsel mereka kembali berdenting bersamaan. “Sudah waktunya makan siang. Kita pergi ke kantin bersama saja. Aku yang traktir,” kata Niko. Berdiri. “Kenapa kau membelikan kami makan siang?; tanya Dhira, masih berdiri di depan meja Niko. “Agar kau tak mengeluarkan uangmu.” Lingga menangkup mulutnya. Terkekeh bahagia. Kemudian melirik mereka yang duduk di kursi masing-masing. Mengangkat kedua alisnya berulang-ulang. Sedangkan, Niko menggeser langkah ke kiri. Berjalan mendekati Sarah yang memasang wajah kesal. “Ayo makan,” ajaknya. “Kalian berempat juga. Jangan bertukar pesan di sini. Ck Ck.” Keempat dari mereka terbelalak. Saling pandang. Kemudian menyusul Niko, Sarah dan Dhira yang sudah lebih dulu keluar dari ruangan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD