Tak seperti biasanya, kafetaria hari ini agak sepi. Hanya beberapa saja yang terisi. Lingga dan kelompoknya duduk satu meja. Sarah juga yang lainnya, duduk bersama. Dina dan Yura ikut bergabung.
“Hari ini Niko yang traktir. Makan yang banyak,” kata Sarah.
Dina dan Yura melakukan gerakan TOS semangat. Segera pergi mengambil makanan.
“Bu Sarah, sangat bersemangat sekali. Kau sangat menyukai sesuatu yang gratis rupanya,” sindir Dhira.
Sarah tersenyum lebar. “Sangat. Kau juga, kan? Ah, Bukannya kau terkenal pelit di Divisimu sebelumnya?” Sarah menjengitkan dua alisnya ke atas.
Dhira sudah merasa kepanasan. Menggeretakkan giginya.
“Tapi, Bu Dhira.. Apa kau suka dengan Niko?”
Dhira terkejut dengan pertanyaan Sarah. Meluruskan punggungnya.
“Kenapa? Kenapa kau menanyakan hal itu?”
“Kenapa kau gugup? Kau benar menyukainya?”
“Jika, Ya. Kenapa memang?”
Sarah mendengus. “Kau tak tahu? Niko itu-“
Yang di gosipkan datang. Membawa dua nampan berisi makanan.
“Kalian akrab sekali. Senang melihatnya.”
“TIDAK!”
Jawaban kompak dari keduanya, membuat Niko terkejut. “Kenapa kalian marah?” Niko terkekeh gugup. Kemudian memberikan makanan milik Sarah. Wajah Dhira sekejap cemberut.
“Milikku mana?”
“Oh?”
“Kau membawakan milik Bu Sarah. Lalu, milikku?”
“Tangan dan kakimu tak berfungsi? Kenapa kau tak ambil sendiri makananmu!” tegas Sarah.
“Bagaimana denganmu? Apa Niko itu pesuruhmu? Kenapa dia harus mengambilkan makanan untukmu!”
“Hei.. sudahlah. Kenapa kalian selalu bertengkar,” kata Niko. Menyerahkan makanan miliknya pada Dhira. “Kau makan saja milikku. Aku bisa ambil lagi.”
Kemudian Niko berjalan pergi. Kembali mengambil makanan. Sementara kedua wanita itu, saling melemparkan picingan tajam—di meja yang terpisah, Lingga kembali bergosip.
“Kali ini 100% yakin! Pilihan jatuh pada Bu Dhira,” katanya berbisik.
Sedangkan, Linda dan Fei mulai gusar. Takut-takut jika pilihannya salah. Keduanya akan kehilangan alis yang setiap pagi di ukirnya. Desahan panjang di lakukan mereka.
Setelah sedikit drama pada makan siang kali ini, mereka mulai menikmati makanan. Sarah, Dina—dan Yura duduk saling berdampingan. Sementara Niko duduk di samping Dhira.
“Kau ingin tambah sosis?” tanya Niko pada Sarah.
“Tidak. Terima kasih.”
Jawaban singkat dengan nada kesal dari Sarah, membuatnya menggeleng kesal. Di tambah lagi satu masalah yang datang. Niko hanya memejam kesal.
“Boleh aku bergabung dengan kalian?” tanya Alan, berdiri di sebelah Sarah. Membawa makanannya.
“Maaf-“
“Silakan!”
Niko segera membelalak ke arah Dina, karena menyela juga memberi izin Alan untuk bergabung.
“Bagaimana Sarah?” tanya Alan, masih berdiri.
“Huh?”
“Aku boleh bergabung?”
Sarah mengangguk tak pasti. Sementara, Alan meletakkan nampannya di meja. Mengangkat kursi yang terletak di belakangnya. Duduk di antara Niko dan Sarah. Di detik selanjutnya, mereka kembali makan. Dina menyeruput sayur asam yang sengaja tidak di campur bersama nasi. Berbeda dengan yang lain, lebih memilih untuk di tuangkan pada nasi. Dhira menyisihkan potongan tempe. Lebih memilih makan telur puyuh yang di masak dengan bumbu utama kecap. Beda dengan nampan Sarah yang hampir habis tak tersisa semua makanannya.
“Wah, nafsu makanmu besar sekali. Apa kau kelaparan karena olahraga pagi tadi?” Tanya Alan.
Seketika semua yang berada satu meja dengan mereka, menengok pada Sarah dan sejenak menatap Alan. Melebarkan mata. Tadi pagi mereka bersama? Setidaknya itu yang di pikirkan. Sementara yang di tanya, memandang Niko yang memasang wajah marah. Tertawa gugup.
“Kami tak sengaja bertemu tadi pagi. Kita bertetangga sekarang,” jelas Sarah.
“Satu kawasan denganmu?” tanya Yura.
“Iya. Hanya berjarak tiga rumah saja.” Sarah meringis.
“Wah.. apa itu sebuah kebetulan atau takdir?” goda Dhira.
“Kebetulan. Benar, kan Pak Alan?” sergah Niko.
Alan mengangguk. “Yah, bisa di katakan seperti itu.”
“Tapi, wajahmu mirip dengan anak Direktur kami—apakah itu juga sebuah kebetulan? Ah, kebetulan lagi, kau tiba-tiba muncul dan menjadi Direktur di Divisi Bu Sarah. Wah.. aku seperti menyaksikan sebuah drama. Sungguh ironis sekali.”
Kalimat panjang Dhira membuat suasana tak nyaman. Bahkan, Alan hanya mengabaikan saja di awal. Hingga Dina menambahkan,
“Apa benar? Itu hanya sebuah kebetulan? Kau benar bukan Rama, kan? Kau tak mungkin datang kembali hanya untuk menyakiti Sarah.”
Niko mendesah panjang. Meletakkan sendok yang sedikit di banting. Kesal dengan keadaan.
“Bisakah aku makan siang dengan tenang? Jika kalian ingin menginterogasinya—lakukan di tempat terpisah. Jangan di sini. Mulai detik ini, jangan ada yang bersuara sedikit pun. Hingga kita selesai makan. Mengerti?!”
Tak ada yang menjawab. Mereka hanya melanjutkan makan. Takut pada wajah emosi Niko.
Di detik selanjutnya, ponsel Sarah berdering. Sarah segera menariknya dari saku celana depan. Tertulis Dokter Willy menelepon.
“Halo.”
“Sedang makan siang?”
“Iya. Ada apa meneleponku?”
“Hanya mengingatkan saja.Sekarang hari Rabu. Jangan lupa nanti malam. Dandan yang cantik. Aku akan menjemputmu.”
“Ah, itu. Iya. Baiklah.”
“Kalau begitu—selamat menikmati makan siangmu.”
Willy menutup telepon.
“Siapa?” tanya Niko.
“Willy.”
“Dokter tampan itu?” Yura menyela.
Sarah mengangguk. Menatap sejenak Yura.
“Dia sering sekali meneleponmu. Ada apa memang?” tanya Niko lagi.
“Dia menagih janji.”
“Kau ada janji dengannya.”
Sarah hanya mengangguk.
“Janji apa?”
“Sebenarnya, dia mengajakku makan malam nanti.”
“Heh? Makan malam? Kenapa? Kau sudah sedekat itu dengannya?”
“Bukan begitu-“
“Sepertinya, Dokter Willy itu sangat perhatian pada pasiennya. Dia sampai mengajak seorang pasien makan malam. Bukankah, itu luar biasa?” Sela Alan.
“Bagaimana denganmu?” sahut Niko. “Akhir-akhir ini, kau selalu melibatkan diri untuk dekat dengan Sarah. Direktur kita rupanya juga seorang pimpinan yang SANGAT baik. Bukan begitu?” sergah Niko.
“Kapan aku seperti itu?”
“Di Villa. Kau tiba-tiba mencari Sarah. Rumahmu satu kawasan dengan Sarah. Tadi pagi, kau membuntutinya, kan? Dengan dalih tak sengaja bertemu.”
Alan berdeham. Sorot matanya gugup.
“Dan, sekarang. Kau yang biasa tak pernah makan di kantin karyawan. Kau selalu makan siang bersama Indah, tunanganmu. Kenapa hari ini kau tak makan siang dengannya? Apa dia takkan sedih?”
“Indah sedang berada di Pulau Jeju, Korsel. Ada pekerjaan di sana.”
Sarah refleks menatap Alan. Memiringkan kepala. Mengernyit penasaran.
“Pulau Jeju? Bukankah, di sana resor Rama di bangun?” katanya dalam hati.
“Perdebatan ini akan membuat perutku mual. Lebih baik, aku pergi dari sini,” kata Dhira. Mengangkat nampan. Berdiri. Berjalan pergi. Di ikuti yang lain.
Menyisakan Sarah, Niko dan Alan. Yang sama-sama memandang Alan. Satunya pandangan heran. Satu lagi pandangan kesal.
***
Langit senja semburat oranye telah berganti warna kehitaman. Senja telah lewat. Kini pukul 18.30. 30 menit lagi, Willy akan menjemput Sarah.
Sedangkan, Sarah masih bimbang saat ini. Memandang dua jenis baju yang di letakkan di atas ranjang. Satunya dress cantik berwarna peach. Satu lagi setelah celana jeans dengan cardigan dan kaus biasa. Membuat bentuk centang dengan Ibu jari dan jari telujuknya. Ia letakkan di bawah dagu. Sementara tangan kirinya, ia tekuk untuk menopang tangan kanan.
Harus berpenampilan cantik? Atau kasual? Semua itu membuat keputusannya berat. Takut-takut jika nantinya Willy salah mempersepsikan sikapnya.
Setelah desahan panjang di lakukan, ia membuat keputusan. Memilih setelah kasual. Dan berdandan seadanya. Mengikat separuh rambutnya. Sisanya di biarkan terurai. Memoleskan warna bibir yang polos. Tidak terlalu mencolok. Menyemprotkan parfum di berbagai titik. Memilih tas selempang kecil hitam sebagai pelengkap. Kemudian turun ke bawah. Melihat Sang Ibu sedang menonton TV.
“Sedang menonton apa, Bu?” tanya Sarah, begtu jaraknya dekat dengan sofa yang di duduki Laras.
“Yang Tersayang. Bagus drama ini. Kau mau menemani Ibu?”
Laras menatap Sarah. Terdiam kemudian.
“Wah, anak gadis Ibu mau pergi berkencan? Dengan siapa? Niko? Atau Dokter tampan itu?”
“Hei, tidak,” sanggah Sarah. Duduk di samping Laras. “Willy mengajakku makan malam. Sebagai ganti, aku tak datang ke Rumah Sakit saat dia sudah mengosongkan jadwalnya untukku.”
Laras mendesah panjang. “Itu namanya, kencan. Tapi, sejak kapan kau dekat dengannya? Sampai memanggilnya dengan nama saja?”
“Oh.. itu. Ah, tak tahu! Dia sendiri yang minta untuk di panggil seperti itu. Yang pasti, ini bukan seperti yang Ibu pikirkan.”
Laras mencibir. Menggodanya.
“Benarkah? Kau benar tak ada perasaan apapun padanya? Mesti itu hanya secuil?”
Sarah menatap heran Laras. “Ibu terlalu banyak menonton drama tak jelas ini. Bukankah, drama ini di putar sejak tahun lalu?”
“Benar. Ini episode yang ke-3.000.”
Sarah terkesiap. “Itu drama atau sebuah situs peninggalan zaman kerajaan? Bagaimana Ibu bisa bertahan menjadi penonton setianya?”
“Ini episode yang paling seru. Coba saja, sekali kau lihat. Kau pasti juga suka.”
Sarah mendengus. “Minggu lalu, Ibu juga mengatakan hal yang serupa. Kalau aku menonton ini, otakku bisa kusut seperti kaset radio.”
“Ck Ck. Anak muda zaman sekarang. Kolot sekali.”
Sarah terkekeh mendengar Laras mengolok dirinya.
“Ngomong-ngomong, sepi sekali. Dimana Aldi?”
“Sudah pergi dari tadi. Katanya akan mengerjakan tugas kampus dengan temannya,” jelas Laras. Desahan panjang di lakukan lagi olehnya.
“Rasanya menyedihkan saat anak-anak sudah tumbuh dewasa. Pasti mereka memiliki kesibukan masing-masing. Mengabaikan Ibunya yang kesepian di sini.”
“Ibu.. kenapa kau mengatakan hal menyedihkan seperti itu. Apa aku lebih baik membatalkan janjiku?”
“Tidak usah. Kau pergi saja. Biarkan nyamuk-nyamuk malam menemaniku.”
“Haha. Sejak kapan Ibu menjadi berlebihan seperti ini? Atau Ibu ingin ikut denganku?”
“Hei! Bisa menjadi kikuk nanti Dokter tampan itu-kalau Ibu ikut.”
Tak lama kemudian, bel pintu depan berbunyi.
“Dia datang. Cepat pergi.”
“Ibu yakin tidak apa-apa?”
“Tentu.”
“Aku janji tidak akan lama.”
Sarah mencium singkat pipi Laras. Dan, berlari kecil. Menjauh dari tempat Laras.