Kencan

1051 Words
Sementara Willy, berdiri gugup di depan pintu Sarah. Sesekali berdeham. Merapikan kemeja biru lautnya, yang di padukan dengan kaos putih polos di dalamnya. Menata rambutnya yang agak tipis dengan super rapi. Parfum beraroma maskuin tercium darinya. Di detik selanjutnya, ia terpukau. Melihat Sarah tengah berdiri di hadapannya. Baru saja membuka pintu. Willy tersenyum. “Wah, kau cantik sekali.” Sarah tersenyum malu. “Kita pergi sekarang?” “Ibumu tidak ada? Setidaknya, aku ingin meminta izin untuk mengajakmu keluar.” “Aku sudah berpamitan tadi. Ibu sedang konsentrasi menonton drama. Kita pergi saja.” “Baiklah.” *** Sepanjang perjalanan, mereka hanya diam. Mendengarkan musik bergenre jazz. Alunan biola yang mendayu-dayu membuat Sarah tak berhenti menguap. Berbeda dengan Willy, yang malam itu terlihat gugup. Dari sorot mata, ketukan jari pada setir dan mendorong udara keluar dari mulut berkali-kali-sangat kentara sekali seolah merasa tidak nyaman. Lalu lintas tak begitu padat malam ini. Lampu-lampu pertokoan berkerlap-kerlip. Beberapa warung kaki lima penuh dengan pembeli. Beberapa pemuda terlihat asik mengobrol di toko ponsel—yang berjarak beberpa langkah dari mobil Willy berhenti. Menunggu lampu merah. “Kita pergi kemana sekarang?” “Oh.. kau tahu minggu kemarin baru saja di buka sebuah rumah makan lantai 2. Yang di lantai atasnya adalah gedung bioskop.” “Pernah mendengarnya dari temanku.” “Kita pergi kesana. Dengar-dengar, makanannya sangat enak.” “Baiklah.” Lampu berubah hijau. Dua pengendara motor di depan mobil Willy—lebih dulu melaju. Setelah itu gilirannya. Willy menginjak gas pelan, di saat yang sama ponsel Sarah berdering. Sarah mengeluarkannya dari tas. “Niko.. ada apa meneleponku?” “Kau lagi dimana?” “Di jalan. Kenapa?” “Kau, keluar dengan dokter jelek itu?” Sarah melebarkan mata. Melirik Willy kemudian. Takut-takut jika dia mendengarkan ejekan Niko padanya. “Kalau tidak ada yang penting— aku tutup dulu.” “Tunggu! Kau mau pergi kemana?” “Willy mengajakku ke Restoran yang baru di buka.” “Ah.. Gedung 2 lantai itu? Atasnya bioskop?” “Oh, benar—itu.” “Baiklah.” “Memangnya, kau dimana sekarang?” “Kamar.” Setelah mengatakan 1 kata itu, Niko menutup telepon. “Temanmu yang tinggi itu?” “Iya.” “Sepertinya dia sangat peduli padamu. Mungkin dia menyukaimu.” “Hei, tidak. Dia hanya sahabatku sejak kuliah. Tak mungkin dia menyukaiku.” “Kita tak pernah tahu isi hati seseorang Sarah. Sepertiku. Apa kau tahu kenapa aku mengajakmu kencan malam ini?” “Karena aku tak datang ke Rumah Sakit tempo hari?” Willy terkekeh. “Kau terlalu polos, Sarah.” Sarah tersenyum. “Bukan aku tidak tahu. Tapi, aku pura-pura bodoh,” kata Sarah dalam hati. Setelah itu, suasana kembali hening. Kali ini terdengar alunan Saksofon, seusai suara penyanyi wanita yang husky. Sekitar 20 menit, mobil Willy terus melaju—dan tiba di kawasan pertokoan. Mobilnya mulai bergerak perlahan. Menyalakan sein kiri. Lalu masuk ke dalam halaman satu gedung yang terlihat mewah dan sudah ada beberapa mobil yang terparkir di depannya. Beruntung, parkiran tidak terlalu padat. Willy dengan mudah memarkir mobilnya. Keduanya pun turun, ketika mesin mobil mati. Berjalan masuk. Di lantai 1 sudah ada beberapa pasangan kekasih yang menikmati makan malam. Adapula anak muda yang hangout bersama teman. Beberapa menikmati makanan. Sepasang kekasih di sudut mengobrol usai menghabiskan makanan. Sekumpulan anak muda tengah asik selfie. Willy dan Sarah segera naik tangga ke atas. Segera di sambut poster LED yang menyala terang. Beberapa gambar Film yang sedang booming bulan ini. Juga satu—dua yang di putar di hari ini. “Kau ingin popcorn atau soda?” tanya Willy. “Tidak usah. Kita makan setelah menonton saja.” “Baiklah. Tunggu di sini. Aku akan mengantre untuk membeli tiket.” Sarah mengangguk. Kemudian Willy turut berbaris dengan para pengunjung yang lain. Sarah hanya mengedarkan pandangan. Agaknya, karena tempat itu baru dan unik— sehingga lantai 1 dan 2 juga hampir padat pengunjung. Tidak ada tempat duduk tunggu yang kosong. Sisanya yang tak dapat duduk, dan harus menunggu hingga waktu film di putar—hanya bersandar pada dinding. Adapula yang memantau display LED. Untuk mengetahui Film yang terlaris. Adapula Yura dan Niko yang melambai ke arahnya. Mendekati Sarah—yang nampak terkejut. “Kenapa kalian bisa di sini?” tanya Sarah. “Mas Niko tiba-tiba ingin menonton. Dia mengajakku sekalian. Anggap saja kami sedang kencan,” Yura menjelaskan. Tersenyum centil. Sarah berganti menatap Niko dengan sinis. “Bukankah kau tadi mengatakan jika sedang tidur di kamar?” “Aku hanya mengatakan di kamar saja. Aku tidak bilang jika ingin tidur.” “Lalu, kenapa kau di sini?” “Menonton Film, tentu saja. Pertanyaanmu aneh sekali.” “Lalu, kenapa kalian bisa bersama?” “Ah, tadi Mas Niko ke rumahku. Lalu kita ke kamar-“ “APA??” Pekikan suara Sarah yang terkejut, membuat Yura tak melanjutkan kalimatnya. Sarah melirik kanan-kiri. Mendekat pada Niko dan Yura. “Kalian tidur bersama?” Niko mendorong kepala Sarah pelan. Sementara, Yura mengerut kesal. “Kau pikir aku gadis murahan?” kata Yura. “Ck Ck. Pikiranmu itu sangat kotor sekali,” tambah Niko. “Lalu, kenapa kau bisa di kamar Yura?” “Karena kami berkumpul bersama.” Suara familiar dari sisi kiri Sarah, membuatnya segera menoleh. Melebarkan mata di detik selanjutnya. “ALDI?!” Aldi meringis. Mengangkat lima jarinya. Mengarahkan telapaknya pada Sarah. “Hai, Mbak.” “Kau bohong pada Ibu?!” Senyuman Aldi seketika sirna. Melangkah mundur. Bersembunyi di balik Dina. “Maaf. Aku belum siap mengatakan padanya.” Sarah mendesis kesal. Mengepalkan tangannya. Niko yang melihatnya, segera menggenggam kepalannya. “Kendalikan dirimu. Ini tempat umum,” bisik Niko. “Lihat saja. Di Rumah kau akan habis di tanganku!” geram Sarah. Aldi menggelak ludah gugup. “Oh, kenapa kalian semua di sini?” tanya Willy, yang baru saja kembali dari membeli tiket. “Apa Sarah mengundang kalian?” Sarah segera menggeleng. Selaras dengan ke-sepuluh jarinya menggoyang cepat. “Aku tidak mengajak mereka. Sungguh.” “Orang-orang pergi ke bioskop—untuk apalagi jika tidak menonton Film,” jawab Niko dengan nada kesal. “Kebetulan sekali. Apa mungkin karena kau menelepon Sarah tadi? Kau tak ingin dia keluar denganku?” Niko berdeham gugup. “Tidak! Kenapa aku harus begitu?!” “Karena kau menyukai Sarah. Bukan begitu?”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD