MARRIAGE AGREEMENT

1381 Words
Raut shock masih membingkai jelas di wajah ayu Clarissa. Rasa kaget, cemas, dan heran bergabung menjadi satu. "Tapi bagaimana mungkin bisa terjadi?" "Ini bukan saat yang tepat untuk bertanya, Clarissa." Pandu mengalihkan pandangannya ke arah Davka, "Kamu juga mau protes?" "Atau, ada usul lain?" Bukan Davka yang menyahut, tapi justru mulut toak Clarissa yang memekik keras. "Nggak, Om! Nggak! Aku nggak mau menggantikan posisi Kak Clau! Apa kata dia nanti?! Aku nggak mau merebut milik Kak Clau!" Pandu menaikkan sebelah alisnya, "Siapa bilang kamu merebut Davka?" "Jika Claudia sudah memutuskan pergi dari pernikahan ini, bukankah itu artinya Claudia sudah melepaskan Davka?" Kedua tangan Pandu terlipat, "Lalu, kenapa dia harus marah jika kamu menikah dengan Davka?" "Dan untukmu, Mitha." Wanita paruh baya yang berada di samping Clarissa kontan mengalihkan pandangannya ke arah Pandu. "Bukankah ini solusi yang terbaik untuk menutupi kesalahan puteri sulungmu?" Ketika mulut Mitha hendak berucap, tiba-tiba saja Clarissa mengatupkan kedua tangannya di depan d**a. "Atas nama Kak Clau, aku minta maaf, Om. Aku memang sayang Kak Clau, tapi bukan berati aku mau menggantikan posisinya." Clarissa menatap sekilas ke arah Davka yang sedari tadi mengunci mulutnya, "Lagi pula, aku tidak mencintai dia!" "Aku tidak mau menikah bersama orang yang mencintaimu dan tidak aku cintai!" "Clarissa!" tegur Mitha sebab suara puterinya berani meninggi. Namun, Clarissa tak gentar. Baginya, ini perlu dilakukan agar tidak mudah tertindas. "Kenapa, Bun?! Bunda rela aku hidup bersama sumber kebahagiaan Kak Clau?! Bunda rela?!" Pandu tertawa sumbang, "Kebahagian apa yang sedang kamu bicarakan, Clarissa?" "Kalau memang Claudia menginginkan pernikahan ini, mana mungkin dia kabur begitu saja kan?" Walau sanggahan itu ada benarnya, tapi demi apa pun, Clarissa tidak sudi menukar kehidupannya dengan dunia Claudia. Tidak! Tidak akan pernah! "Setiap tindakan pasti memiliki alasan! Putera Om juga pasti tidak setuju menikah denganku!" Di akhir kalimatnya, Clarissa melirik ke arah Davka yang sedari tadi tak angkat bicara. Apa pria itu sudah pasrah karena ditinggal Claudia? Pandu mengukir senyum, "Davka tidak mungkin menolak usul ini." "Benar begitu kan, Davka?" Dalam hati, Clarissa berdoa agar Davka berada di posisinya. Menolak keras agar tak terjadi ide gila ini! 'Please, kali ini aja! Jangan mau, Please!' Sorot mata tajam milik Davka mengarah pada Clarissa, "Saya tidak mencintai dia!" "Jadi hentikan kekonyolan kalian!" Helaan napas lega menguar dari hidung mancung Clarissa. Hatinya memekik senang sebab Davka sependapat dengannya. Ekspresi wajah Pandu berubah datar. Apa yang baru saja dikatakan Davka sungguh menganggu. "Cinta apa yang sedang kamu bahas, Davka?" Baik Pandu maupun Davka saling melempar tatapan tajam. Ego yang keras mendominasi masing-masing. "Kalau Claudia mencintaimu, dia tidak mungkin pergi di detik-detik pernikahannya!" Telunjuk Pandu mengarah tepat di wajah putera semata wayangnya, "Ingatlah satu hal, Davka!" "Tidak ada yang mustahil di dunia ini. Termasuk, menjadikan Clarissa sebagai pengganti Claudia!" Badan Clarissa lemas seketika. Ingin rasanya menenggelamkan diri di Samudera Pasifik daripada harus jadi pemeran figuran. Demi Tuhan, itu adalah mimpi buruk! Walau tak tega melihat Clarissa didesak seperti itu, tapi Mitha sebagai ibu kandungnya tak mampu berbuat banyak. Apa yang dilakukan Claudia sudah menciptakan aib besar bagi Keluarga Baskara. Mitha tidak buta. Dia tahu sorot mata Clarissa seolah meminta pertolongan padanya. Namun sayang, apa yang Pandu katakan itu benar. Clarissa-lah satu-satunya harapan yang tersisa. "Nak," panggil Mitha pelan. Bolehkan Clarissa menangis tersedu-sedu saat ini? "Bunda tahu, kamu tidak siap. Tapi percayalah, semua akan baik-baik saja." Kedua tangan Mitha membingkai wajah ayu Clarissa, "Dengarkan Bunda, Nak." "Claudia sudah membuat bencana besar untuk Keluarga Baskara dan hubungan pertemanan kami dipertaruhkan." Bola mata Mitha berkaca-kaca, "Hanya kamu yang bisa Bunda harapkan, Nak. "Tolong, lakukanlah ini demi Bunda," pinta Mitha penuh harap. Satu elusan di punggung Clarissa terasa, "Maafkan, Tante ya, Sayang." "Sebenarnya Tante tidak tega, tapi kita tidak punya waktu banyak. Pesta telah siap, para tamu dan pendeta sudah hadir, sangat mustahil kita tiba-tiba membatalkannya." Tatapan Clarissa tertuju pada sahabat ibunya. Entah kenapa, ada pancaran kesedihan yang tak bisa disembunyikan. "Nama baik Baskara Corp dipertaruhkan. Banyak orang yang bergantung hidup pada perusahaan kami. Kalau pernikahan ini dibatal-" "Baiklah!" Ucapan Anna seketika terpotong oleh sebuah keputusan sulit yang baru saja terlontar dari mulut Clarissa. Sontak saja, raut bahagia terpancar di wajah para orang tua di ruangan itu. Mitha, Anna, dan pastinya Pandu Baskara tersenyum lega. "Terima kasih banyak, Nak Clarissa. Kebaikan hatimu benar-benar tidak perlu diragukan lagi." Anna memeluk tubuh mungil di hadapannya dengan begitu erat, "Terima kasih, Sayang!" "Tante janji, Tante nggak akan buat kamu menyesal sudah menyetujui pernikahan ini!" Clarissa tersenyum miris mendengarnya. Justru, sesal yang kini mendominasi hatinya. Tangan Mitha merangkul puteri bungsu, "Sayangnya Bunda, terima kasih ya, Nak?" Bibir Clarissa berusaha memancarkan senyum. Namun yang terlihat, justru hanya keterpaksaan. "Davka." Panggilan itu membuat pria ber-tuxedo dark grey mengalihkan pandangan. Raut datarnya sejak tadi tak berubah sama sekali. "Mulai detik ini, lupakan Claudia dan belajarlah mencintai calon istri penggantimu, Clarissa!" *** Kedua tangan Clarissa bersedekap di depan d**a. Iris hazelnya menyorot lurus ke arah pria dingin itu. "Lo mau ngomong apa?" "Sesuatu yang pastinya wajib kita bicarakan sebelum pandeta meresmikan hubungan palsu ini!" Selembar kertas dilempar kasar oleh Kadavka Baskara, pria berhati dingin yang tak pernah suka basa-basi. Clarissa mendelik kaget melihat ketidaksopanan Davka. Baru kali ini, dia tahu sisi buruk mantan kekasih kakaknya. Walaupun kesal dengan sikap arogan Davka, tapi bagi Clarissa sangat perlu mengetahui isi lembaran kertas itu. Dengan ogah-ogahan, Clarissa menyambar benda tersebut. Lalu, tatapan Clarissa langsung tersorot pada headline yang terpampang jelas. "Marriage Agreement?" Kepala Davka mengangguk singkat, "Ya." "Kita sama-sama terpaksa melakoni pernikahan ini. Oleh karena itu, wajib ada perjanjian yang harus disepakati!" Sebelah alis Clarissa terangkat, "Kenapa harus?" "Menikah itu bukan main-main! Aku nggak mau bercanda kalau urusannya sama Tuhan!" Davka menghela napas jengah. Sebenarnya apa yang ada di pikiran gadis ingusan ini? Bukannya tadi dia-lah yang paling terkesan menderita saat dipaksa jadi pengantin pengganti? Lalu kenapa malah menolak perjanjian pernikahan? "Kita lupakan urusan dengan Tuh-" Clarissa mendelik tajam, "Heh! Kurang ajar banget sih lo!" "Senakal-nakalnya gue, gini-gini gue masih takut neraka tahu! Tuhan marah baru tahu rasa lo!" Mendengar itu, Davka menggeram tertahan. Kalau tidak ingat Clarissa adalah wanita, sudah Davka pastikan wajah songong itu babak belur! "Di mana attitude-mu?! Bisa tidak kau dengarkan dulu apa yang mau saya katakan?! Jangan asal memotong ucapan orang lain!" Bola mata hazel Clarissa melotot tak terima. Seenak jidat Tuan Arogan ini menghinanya. "Jaga mul-" "DIAM!" Davka habis kesabaran. Telunjuknya mengacung tegak ke arah wajah Clarissa. "CEPAT BACA DAN TANYAKAN APA YANG MASIH TIDAK KAU MENGERTI!" Clarissa mendengus sebal. Dia jadi berpikir keras. Bagaimana bisa Claudia jatuh cinta dengan pria kasar seperti Davka? Aih! Untung saja Claudia tidak jadi menikah dengan Davka, eh! Manik mata Clarissa menyusuri empat point utama yang dicantumkan dalam surat perjanjian itu. Dan yang paling menarik perhatian Clarissa, tentu saja pada point pertama. "Harus cerai setelah setahun?" Dengan wajah datar, Davka mengangguk cepat. Ini adalah garis utama yang harus ditegaskan sejak awal. Clarissa mendengus sebal, "Kenapa mesti setahun sih?" "Sebulan aja deh. Atau kalau perlu, sehari aja gimana?" tawarnya. Kontan, Davka mendelik tajam. Sorot matanya berubah menghunus bak belati yang siap menggorok kebodohan Clarissa. "Pakai otakmu, Gadis Ingusan! Orang-orang bisa curiga kalau hanya bertahan sebulan!" Ketika Clarissa hendak menyahut, Davka justru menikung ucapannya lebih dahulu. "Dan apa kau bilang? Sehari? Kau gila ya? Kau sedang nikah atau nginap di rumah teman?" Clarissa mencebikkan bibirnya. Selain kasar, mulut Davka ternyata jauh lebih pedas dari mie level yang kerap Clarissa santap. Menyebalkan! "Ada lagi yang ingin kau tanyakan?" Netra Clarissa kembali berselancar. Point-point selanjutnya lebih mengarah pada bagaimana mereka harus bersikap dalam pernikahan sandiwara ini. Mulai dari harus pura-pura bahagia di depan keluarga, dilarang mengusik kehidupan masing-masing, dan pastinya tidak boleh ada cinta di antara mereka. Clarissa menggeleng kecil, "Nggak." "Gue udah paham kok. Lagi pula, siapa yang bakal cinta sama lo? Dih! Amit-amit!" Bola mata Davka mendelik tajam. Ucapan Clarissa benar-benar membuat ubun-ubunnya terbakar. "Cepat tanda tangani surat perjanjian itu!" Sebuah bolpoin diulurkan Davka. Seakan mengerti, Clarissa langsung menyambar cepat. "Ya elah! Ribet amat sih hidup lo! Tinggal deal doang kok susah banget!" gerutu Clarissa. Davka tak menggubris keluhan calon istrinya itu. Bagi dirinya, tanda tangan adalah bukti otentik sebagai simbol yang bisa dipertanggung jawabkan. "Nih!" Tangan Clarissa menyerahkan kontrak perjanjian yang sudah diberi tanda tangan itu pada Davka. Senyum culas terpatri di bibir calon suami Clarissa itu, "Bagus." "Senang bekerja sama denganmu, Gadis Ingusan!" "Dasar manusia sinting!"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD