WELLCOME TO THE HELL

1043 Words
Ini semua gara-gara Claudia! Clarissa tak mungkin terjebak dalam pernikahan tak diinginkan jika Claudia tidak berulah. "Awas aja kalau sampai nanti lo balik, Clau! Gue bakal bikin perhitungan sama lo!" Netra Clarissa menatap pantulan penampilannya dalam balutan gaun pernikahan yang semestinya dikenakan Claudia Amoora. Entah dari mana asalnya, rasa bersalah tiba-tiba lancang mengetuk lubuk hati Clarissa. Apakah ini yang dinamakan merebut singgasana orang? Hembusan napas berat menguar, "Lo ke mana sih, Clau?" "Harusnya ini gaun milik lo, hari bahagia lo, dan pria dingin itu bakal jadi suami lo, tapi kenapa malah jadi gue?" Clarissa menunduk dalam. Katanya, saudara kembar memiliki ikatan batin yang begitu kuat. Lantas mengapa Claudia tak mendengar suara hatinya yang meronta lepas dari jerat hubungan sandiwara ini? Kenapa, Tuhan? Coba katakan pada Clarissa! "Nak." Merasakan ada sentuhan di bahunya, Clarissa membalikkan badan. Di detik itulah, netranya menatap wajah sendu Paramitha. "Bunda ..." Kedua tangan Clarissa memeluk tubuh Mitha dengan sangat erat. Tangisnya pecah sebab tak kuasa menahan sesak di d**a. "Kenapa Kak Clau melakukan ini padaku, Bun? Apa salahku?" Mitha mengelus puncak kepala puteri bungsunya dengan penuh kasih sayang. Ada perasaan tidak rela, tapi Mitha mau tak mau melepas Clarissa. "Maafkan Bunda ya, Nak. Tapi percayalah, skenario Tuhan jauh lebih indah daripada apa yang sudah manusia rencanakan." Clarissa mengurai rengkuhannya. Dia sudah tidak peduli lagi jika make up menyebalkan ini akan luntur. "Kalau Kak Clau memang cinta dengan Kak Davka, seharusnya dia tidak pergi kan, Bun?" Helaan napas panjang menguar, "Hati manusia tidak ada yang tahu, Clarissa." "Meskipun selama ini hubungan Clau dan Davka terlihat baik-baik saja, tapi kita tidak tahu apa yang sebenarnya dirasakan Clau bukan?" Clarissa menarik napas dalam. Ini terdengar konyol baginya, tapi fakta memang berkata demikian. Apa mungkin, Clau tidak siap menikah dengan Davka? Entahlah, Clarissa tidak bisa menebak pasti. "Sekarang, jangan pikirkan lagi tentang Kakakmu. Kita fokus saja pada kehidupan masing-masing ya?" Tatapan Clarissa tertuju pada senyum manis sang ibu. Dari matanya, Clarissa tahu kalau Mitha hanya sedang berusaha tegar. "Apa Bunda marah pada Kak Clau?" Mitha lagi-lagi tersenyum tipis, "Untuk apa, Sayang?" "Apa dengan Bunda marah, akan mengembalikan Claudia ke sini? Tidak kan?" Ucapan itu terdengar memilukan di telinga Clarissa. Kekecewaan pasti dirasakan oleh Mitha. "Sudahlah. Tidak perlu membahas tentang Claudia lagi." Jari-jari Mitha mengelus pipi Clarissa, "Hari ini adalah milik princess kecil Bunda." "Jadi, tersenyumlah dengan lebar. Lakukan itu demi Bundamu. Oke?" *** Suasana gereja begitu syahdu dengan hiasan serba putih yang memancarkan nuansa kesucian. Jajaran kursi berpita senada telah dipenuhi oleh para tamu yang didominasi kaum konglomerat di negeri ini. Karpet merah menjulur dari pintu utama gereja hingga titik pelabuhan cinta terakhir menjadi sorotan utama. Altar seolah tengah merentangkan tangan, menanti calon pengantin wanita yang sebentar lagi akan tiba. Para tamu bahkan telah berdiri, tak sabar rasanya ingin menyambut ratu utama di hari spesial ini. Tak lama setelahnya, pintu utama gereja yang didesain bak kerajaan negeri dongeng terbuka begitu lebar. Menampilkan seorang gadis cantik beriris hazel dalam balutan gaun ball gown yang mengembang sangat indah. Bersama dengan pamannya, Clarissa Amoora melangkah anggun sambil menggenggam sebuket bunga mawar putih menuju ke altar. Dari sudut matanya, Clarissa bisa melihat rona bahagia terpancar di setiap wajah para tamu. Apakah semua orang tahu jika mempelai wanita-nya telah berganti? Atau sandiwara ini tertutup dengan baik karena wajahnya mirip Claudia? Entahlah. Clarissa tak mau ambil pusing. Walau sebenarnya malas, tapi Clarissa tetap berusaha tersenyum layaknya menjadi yang paling bahagia di sini. Sebelum benar-benar menginjak altar, iris hazel itu tak sengaja bersitatap dengan manik mata sang ibu. Bibir bisa menyunggingkan senyum, tapi Clarissa tahu kalau ibunya menyimpan luka di balik ketegarannya. 'Lihatlah, Kak Clau. Karena ulahmu, Bunda juga harus pura-pura bahagia!' Meski rasa kesal itu tiba-tiba hinggap, Clarissa berusaha menepisnya. Ini bukan saat yang tepat tuk buat perhitungan pada Claudia. Enggan membuat Mitha khawatir, lengkungan sabit di bibir Clarissa terukir. 'Aku akan baik-baik saja, Bunda,' ucap Clarissa seolah berbicara dari sorot matanya. Tanpa sadar, kedua heels yang Clarissa kenakan telah menyentuh undakan altar. "Aku titipkan dia padamu, Davka." Pria ber-tuxedo dark grey itu tersenyum, "Akan kujaga dia sebaik mungkin." Balasan itu tak urung membuat Clarissa menoleh ke arah calon suaminya. Harus Clarissa akui, akting Davka benar-benar menganggumkan! 'Great! Manusia Kutub itu ternyata punya bakat terpendam! Kenapa tidak jadi aktor saja sih?!' "Hey, cepatlah," desis Davka sambil menunjuk lengannya. Jujur saja, Clarissa paling anti dengan yang namanya kontak fisik dengan lawan jenis. Akan tetapi, karena situasi yang menghimpitnya, Clarissa terpaksa melingkarkan tangan di lengan kekar Davka. Dan akhirnya pun, mereka melangkah mesra menuju titik temu di altar. Saling berhadapan satu sama lain dengan pendeta yang berada di antara keduanya. "Bisa kita mulai sekarang?" Davka mengangguk singkat sebagai jawaban. Lelaki minim ekspresi itu menggenggam mesra kedua tangan Clarissa. Layaknya prosesi pemberkatan pada umumnya, pendeta melempar beberapa pertanyaan sebagai simbolis kesungguhan kedua mempelai. Hingga pada babak inti, janji suci di hadapan Tuhan tuk saling setia, mengasihi, bersama dalam suka dan duka akhirnya terucap sudah. "Silakan untuk mempelai saling memasangkan cincin." Lebih dahulu, Davka menyempatkan cincin pernikahan di jari manis Clarissa. Setelahnya, barulah giliran Clarissa. "Sekarang, kalian telah resmi menjadi pasangan suami istri. Untuk itulah, bagi Tuan Davka, dipersilakan memberikan kecupan pertama." Bolehkah Clarissa kabur sekarang juga? Demi apa pun, Clarissa tidak siap jika sampai lelaki dingin inilah yang menodai dirinya. 'Oh, Tuhan! Selamatkan aku!' Melihat ekspresi gugup begitu ketara di wajah Clarissa, senyum miring tercetak di bibir Davka. Apa sebegitu takutnya Clarissa? Memangnya, sepolos apa dia? Perlahan, Davka mendekatkan wajahnya. Arah pandangnya tertuju pada bibir ranum yang melambai-lambai itu. Demi Tuhan, jantung Clarissa rasanya ingin merosot ke lambung. Kakinya berubah seperti jelly. Lemas bukan main! 'Tidak! Jangan sekarang, please!' jerit Clarissa dalam hatinya. Semakin dekat, deru napas hangat menerpa permukaan wajah Clarissa. Refleks, Clarissa memejamkan matanya. Clarissa tidak sanggup menatap balik bola mata hitam legam itu! Seperdetik kemudian, satu kecupan mampir begitu saja. Sontak saja, tubuh Clarissa mematung kaku. Ada sesuatu yang basah baru saja Clarissa rasakan. Tapi tunggu! Kenapa Clarissa kecupan itu seperti menyentuh dahinya? "Apa kau sedang berharap saya mengecup bibirmu?" Refleks, kelopak mata Clarissa terbelalak lebar. Iris hazel itu langsung menyorot lurus smirk milik Davka. "Ingatlah posisimu. Kau hanya peran pengganti," bisik Davka. Clarissa meneguk ludahnya susah payah. Oh Tuhan, kenapa rasanya jantung ini mendadak berhenti berdetak? "Dan ya, selamat datang di neraka yang sesungguhnya, Nyonya Clarissa Baskara."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD