MALAM PERTAMA?

1118 Words
Penderitaan Clarissa tak sampai di sana saja! Setelah lelah berpura-pura seperti pasangan berbahagia di altar, Clarissa kini dihadapkan pada pesta resepsi pernikahan yang digelar begitu megah. Dengan dekorasi mewah bernuansa white-gold, ballroom seluas seratus meter persegi ini tampak begitu indah. Kerlap-kerlip lampu warm white semakin memperkental suasana romantisme yang tercipta. Sepadan dengan pesta megah yang diadakan, ratusan tamu Keluarga Baskara yang mayoritas berasal dari kolega bisnis silih berganti datang. Harus Clarissa akui, kekuasaan keluarga Baskara memang benar-benar sehebat itu. Hampir dua jam berlalu, tapi tamu tidak henti-hentinya naik ke atas panggung tuk mengucapkan selamat. Saking banyaknya, jari Clarissa bahkan tidak sanggup menghitung sudah berapa kali dia bersalaman. Bibir Clarissa rasanya sudah kering kerontang sebab terlalu banyak melempar senyum. Andai saja yang berada di posisinya adalah Claudia, mungkin ini akan jadi pesta yang menyenangkan. Clarissa bisa tenang dan leluasa wisata kuliner ke sana dan kemari demi memuaskan perut karetnya ini. Sayang, yang terjadi justru sebaliknya. Clau hilang entah ke mana akibatnya rencana wisata kuliner batal total! Ini benar-benar menyedihkan! Letih karena harus berdiri terus, Clarissa tak bisa lagi menahan rasa dongkolnya. "Huft! Kenapa tamunya nggak habis-habis sih?!" dumel Clarissa sebelum tamu berikutnya sampai ke depannya. Davka tak menggubris keluhan istrinya itu. Mau sampai berbusa pun, Davka tidak sudi peduli. Lagi pula, untuk apa mengurus gadis ingusan itu? Tidak penting saja! Ketika mulai cukup lenggang, sudah banyak tamu yang sibuk menyantap hidangan, helaan napas lega menguar dari mulut Clarissa. Dia langsung duduk meski gaun skirt lebar model tutu-nya sangat menggangu! "Ck! Bener ya kata orang, nikah sama orang kaya tuh ribet!" celetuk Clarissa tiba-tiba. Davka menoleh sekilas. Namun setelahnya, dia tak lagi minat mendengar ocehan Clarissa. Bibir Clarissa mencebik, "Udah acaranya ribet, lama banget lagi!" "Tahu gini gue ogah nikah sama lo." Alis Davka terangkat, "Kau pikir saya mau?" "Kalau bisa memilih, lebih baik menikahi singa daripada gadis ingusan sepertimu!" Tuh kan! Apa Clarissa bilang tadi saat di ruang make up? Davka ini tipe manusia dingin yang irit bicara, tapi sekalinya buka mulut, kata-kata pedas dan menukik tertancap jleb di hati. Dengusan kasar menyeruak, "Sembarangan nyamain gue sama singa!" "Awas aja kalau sampai nanti lo jatuh cinta beneran sama gue," cibirnya pelan. Namun, selirih-lirihnya nada suara Clarissa, tetap saja masih bisa telinga Davka tangkap perkataanya. Apalagi, mereka duduk bersebelahan. Tanpa mengalihkan pandangan, mulut pedas Davka kembali beraksi, "Jangankan jatuh cinta ..." "... melirikmu saja saya tidak tertarik!" *** Pukul sembilan lebih sepuluh, acara baru benar-benar tamat. Tidak ada lagi tamu, hidangan sudah diangkut, dan pastinya dia sudah bisa melepas heels yang menyiksa ini! "Kamu pasti capek banget ya, Sayang?" Clarissa meringis kecil. Menurutnya, itu pertanyaan retorik. Sebab tak enak hati, Clarissa tetap menjawab. "Iya, Tante." Wajah Rihanna berubah masam, "Kok manggilnya masih Tante sih?" "Kan udah sah jadi istrinya Davka." Anna mengelus pipi Clarissa, "Panggil Mama dong, Sayang. Biar samaan kayak Davka ya?" Lagi-lagi, Clarissa hanya bisa bersikap kalem. Tersenyum, patuh, dan sedikit mengurangi sikap rusuhnya. "Ngomong-ngomong, Davka ke mana?" tanya Anna sambil celingukan. Ah iya! Clarissa bahkan baru ingat kalau Davka tidak ada di sebelahnya. Perasaan, tadi mereka turun dari panggungnya bersamaan. Tapi, ke mana pria dingin bermulut pedas itu? "Saya di sini." Tubuh Clarissa tersentak kaget. Entah dari mana arah datangnya, Davka tiba-tiba sudah berada di sampingnya. 'Hey! Apa pria dingin itu keturunan jin tomang yang bisa muncul tiba-tiba?' pikir Clarissa dalam hatinya. "Kalian pulangnya besok aja ya. Sekarang, istirahat langsung aja ke kamar." Sebuah kunci diberikan Tan—Mama Anna pada putera semata wayangnya yang hanya diam saja. Aih! Apa seperti itu sikap Davka pada ibunya sendiri? "Sayang," panggil Anna pada Clarissa. Gadis cantik itu menoleh, "Iya, Tan—eh maksudnya, Ma?" Anna tersenyum maklum. Entah kenapa, sikap Clarissa begitu lucu dan lugu di matanya. "Maaf ya udah bikin kamu kelelahan hari ini. Mama berhutang banyak padamu, Sayang." Sebenci-benci pada pernikahan ini, tapi Clarissa tidak bisa tidak menyukai sikap baik ibunda Davka. "Jangan bilang gitu, Ma. Clarissa yakin, ada hikmah di balik pernikahan ini. Iya kan, Mas?" Davka refleks menoleh. Raut wajahnya terlihat terkejut mendengar panggilan khusus yang Clarissa sematkan. Seakan tersadar, air muka Davka kembali datar. Dia tidak peduli dengan apa pun yang Clarissa akan lakukan. Namun sebaliknya, Anna justru tak ragu menampilkan binar bahagia di wajahnya. "Wahh! Kamu panggil Davka dengan embel-embel 'Mas'?" "Iya dong, Ma! Kan Mas Davka udah jadi suamiku. Biar ada peng-khusus-an hehe." Davka mengumpat dalam hati. Bisa-bisanya Clarissa bersandiwara dengan ide yang setengah tidak waras itu. "Aduhh! Mama jadi keinget waktu masih pengantin baru. Hawanya tuh romantis mulu." Anna menyentuh pundak Davka, "Harusnya kamu bersyukur punya istri kayak Clarissa." "Udah cantik, baik, perhatian lagi." Pujian itu membuat Clarissa tersenyum penuh kemenangan. Memiliki nilai plus di hadapan ibu mertua memang sangat menguntungkan. "Ah Mama bisa aja," elak Clarissa. Anna tertawa renyah, "Mama serius loh." "Suaminya ganteng, istrinya cantik, aduhh Mama kok jadi nggak sabar ya pingin cepet-cepet lihat hasil perpaduan kalian." Kedua tangan Anna menyentuh lengan Clarissa dan Davka. Binar penuh harap terpatri di bola matanya. "Malam ini kalian nggak keberatan lembur buat cucu untuk Mama kan?" "Hah?!" Clarissa menyentuh lengan kekar Davka dengan lancang, "Mas ih! Jangan kaget gitu dong." "Mama kan pingin yang terbaik buat kita. Lagian, kita memang pingin punya twins baby kan?" Bola mata Davka mendelik tak percaya. Apa gadis ingusan ini sudah kehilangan akal sehatnya? "Kamu serius, Sayang?!" pekik Anna kegirangan. Clarissa tersenyum manis, "Aku dan Mas Davka akan berusaha." "Mama doakan saja ya?" *** "Apa maksudmu?!" Clarissa yang tengah menghapus make up di wajahnya pun refleks mengalihkan pandangan. Di ambang pintu, Davka berdiri dengan raut yang super duper dingin. Ada apa dengan pria itu? "Kalau ada pertanyaan tuh tanya yang jelas," cibir Clarissa. Langkah kaki Davka mendekat ke arah meja rias. Rahangnya mengeras seperti berusaha menahan murka. "Kau pikir dengan memberi harapan palsu pada Mama, kau bisa bebas begitu saja?" Oh, jadi soal itu. Clarissa membalikkan badan. Tanpa repot berdiri, dia mendongak agar bisa bersitatap dengan Davka. "Gue punya alasan kenapa tadi menyanggupi apa yang diminta Mama Anna." Jari telunjuk Clarissa terangkat, "Yang pertama, karena surat perjanjian itu." "Di point kedua, kita wajib tampak bahagia di depan keluarga. Dan apa yang gue lakukan tadi termasuk di dalamnya." "Ti-" "Yang kedua!" sela Clarissa cepat. Kali ini, dia beranjak berdiri. Kedua tangan Clarissa bersidekap dengan dagu mendongak angkuh, "Di mana hati lo?" "Mama Anna ingin lihat antusias lo di pernikahan ini. Kalau tadi gue nggak pura-pura menyanggupi permintaan 'malam pertama' yang dia harapkan, kita pasti melukai hatinya." Clarissa tertawa sumbang, "C'mon, Dav." "Ini cuma pura-pura." Helaan napas panjang menguar, "Kau itu belum tahu bagaimana Mama." "Jika sudah berjanji, Mama pasti akan terus menagih. Dan itu, sangat membahayakan hubungan sandiwara ini!" Bahu Clarissa mengedik acuh, "Itu urusan gampang." "Bilang aja kalau belum dikasih sama Tuhan. Beres kan?"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD