"Selamat pagi semuanya. Maaf aku terlambat."
Clarissa tersenyum kikuk begitu melihat orang tua Davka dan ibunya sudah siap menunggu di meja makan hotel berbintang lima ini.
Baik Pandu, Anna, maupun Mitha sama-sama memaklumi apa yang terjadi pada Clarissa.
"Nggak apa, Sayang. Lagi pula, kami justru senang kalau kalian datang telat," kekeh Anna disusul tawa renyah Mitha.
Pandu mengarahkan pandangan pada Davka yang baru saja menampakkan batang hidungnya.
"Bagaimana keadaanmu, Davka?"
Sekilas, Davka membalas tatapan sang ayah. Namun setelahnya, dia sibuk menuangkan air di gelas.
"Baik."
"Syukurlah. Kamu terlihat lebih fresh hari ini."
Anna menyahut cepat, "Tentu saja!"
"Apa semalam, program kalian berjalan lancar?"
"Uhukk!"
Davka seketika tersedak minumannya. Buru-buru, tangan Clarissa bertindak seperti seorang istri yang mencemaskan keadaan suaminya.
Elusan di punggung Davka terasa, "Ya Ampun, Mas. Pelan-pelan dong."
"Kamu nggak papa kan?"
Masih sempat Davka mendelik tajam ke arah Clarissa. Akan tetapi, gadis berbaju rajut navy itu tampak masa bodoh.
Dengan telaten, Clarissa menuangkan air di gelas yang baru untuk Davka. Lalu, bersikap semanis gulali.
"Nih diminum dulu, Mas. Hati-hati loh ya."
Pemandangan itu tak luput dari netra Anna, Pandu, dan Mitha. Desir hangat menyapa lubuk hati mereka melihat kedekatan sepasang suami istri baru itu.
"Romantis banget ya, Pah?" tanya Anna pada Pandu.
Kepalanya bergelayut manja di lengan sang suami, "Jadi keinget waktu pengantin baru."
Mitha tersenyum melihat ulah Anna. Sahabatnya memang sebucin itu kalau sudah bersangkutan dengan Pandu.
Ringisan kecil tercetak di bibir Clarissa, "Maaf, Ma. Tadi Clarissa refleks aja."
"Oh ya, ngomong-ngomong, ini udah boleh makan belum ya? Kasihan Mas Davka kalau keburu laper."
Clarissa mengelus lengan Davka, "Iya kan, Mas?"
"Huaaa! Romantis banget, Pah!" Anna berteriak histeris.
Pandu yang mendapatkan serangan dari sang istri hanya bisa menggaruk tengkuk tak gatal. Bingung juga harus bersikap bagaimana.
"Boleh, Nak. Kamu ambilin aja dulu buat Nak Davka," sahut Mitha pengertian.
Sudut bibir Clarissa terangkat, "Iya, Bun."
"Mau sama lauk apa, Mas?"
Davka memutar bola matanya jengah. Kalau boleh jujur, akting Clarissa berhasil membuatnya jijik.
"Terserah. Asal tidak yang pedas."
Clarissa menukikkan alisnya. Sedikit terkejut dengan selera makanan Davka.
'Apa pria dingin ini tidak kuat pedes? Cih! Padahal kalau ngomong pedesnya ngalahin cabai!'
Berhubung sedang di depan keluarga, Clarissa terpaksa tampak antusias menyiapkan menu sarapan Davka dari beragam hidangan yang tersaji.
Pasca beres, Clarissa menaruh piring putih itu di depan Davka sambil tersenyum selebar mungkin.
Walau jatuhnya, seperti kuntilanak yang tersenyum paksa!
"Dimakan ya, Mas Davka Sayang!"
Davka bergidik ngeri melihatnya. Ekspresi wajah Clarissa persis peran antagonist yang sudah menyelipkan racun di dalam makanannya.
"Tuh kan, Dav! Bener kata-kata Mama kemarin, Clarissa itu orangnya tulus banget."
Anna menatap wajah sahabatnya, "Aku nggak nyesel pilih Clarissa loh, Mith."
"Dan akhirnya, kita beneran jadi besan. Jadi nggak sabar bakal jadi nenek bareng sama kamu, Mith!"
Ibunda Clarissa tersenyum manis, "Iya, Na. Bener."
"Semoga pernikahan anak-anak kita langgeng dan bahagia terus ya?"
Semua orang di meja makan itu mengaminkan doa Paramitha dengan antusias.
Kecuali, sepasang pengantin baru di sana yang sama-sama membisu.
***
Semburat orange perlahan mulai menghiasi angkasa luas. Jadi saksi bisu, senja hadir mengiringi perpisahan ibu dan anak di sana.
"Bun, jangan tinggalin aku sendiri," lirih Clarissa menggengam erat tangan Mitha.
Wanita paruh baya itu tersenyum haru, "Princess kecilnya Bunda udah besar."
"Udah jadi istri orang. Iya kan?"
Clarissa menghela napas panjang. Kenapa rasanya berat sekali membenarkan pertanyaan sang ibu?
"Kalau sudah menikah, wajib bagi seorang istri untuk ikut ke mana pun suaminua tinggal."
Tatapan Mitha mengunci iris hazel itu, "Bunda tahu, awalnya memang tidak mudah."
"Apalagi, untuk kamu yang menikah dalam keadaan tidak siap. Pasti sulit sekali."
Mitha mengelus bahu Clarissa, menyalurkan kekuatan untuk sang puteri bungsu.
"Tapi Bunda yakin, Clarissa adalah gadis yang tegar, mandiri, dan tangguh. Kamu pasti bisa melewati ujian yang Tuhan berikan."
Bola mata gadis cantik bercempol kecil itu berkaca-kaca, "Clarissa takut, Bun."
"Gimana kalau Clarissa nggak bisa memenuhi ekspetasi orang lain dengan pernikahan ini?"
Seulas senyum terbit di bibir Mitha, "Kenapa harus takut, Nak?"
"Berjalanlah sesuai alur yang sudah Tuhan atur. Jangan pernah bersandiwara hanya untuk menutupi kebohongan yang ada."
'Apakah Bunda tahu tentang kepura-puraanku?'
Lagi-lagi, Mitha hanya menampilkan lengkungan sabitnya. Pembawaannya terlihat tenang.
"Firasat seorang ibu tidak pernah meleset, Nak."
"Bun-"
"Pesan Bunda hanya satu, Clarissa Amoora," sela Mitha cepat.
Raut serius kini mendominasi aura-nya yang selalu kalem dan luwes, "Kamu adalah istri."
"Tugas istri itu patuh pada ucapan suami, bersikap baik dan bersedia melayani kebutuhan suami."
"Tapi, Bun ..."
Kepala Mitha menggeleng tegas, "Tidak ada pengecualian, Clarissa."
"Sekalipun kamu adalah pengantin pengganti, tapi statusmu di mata Tuhan adalah janji yang harus dipenuhi."
Mitha membingkai wajah sayu puterinya, "Davka itu pria yang baik dan bertanggung jawab."
"Bunda yakin, waktu akan mengubah perasaan di hati kalian. Meski perlahan, tapi pasti akan terjadi."
Mulut Clarissa hendak melayangkan protes, namun Mitha lebih dahulu memeluknya.
"Kalau ada apa-apa, jangan ragu datang ke Bunda, Nak. Bunda akan selalu ada di sisimu."
Mitha mengurai rengkuhannya. Taksi sudah menunggu. Dia tidak bisa terlalu lama bercengkrama lagi.
"Kapan-kapan, main ke rumah Bunda ya."
Bibir Clarissa menyunggingkan senyum, "Pasti, Bun."
"Sampai juga dan berbahagialah, Nak."
Lepas mengucap kata perpisahan, Mitha masuk ke dalam kendaraan roda empat berwarna biru itu.
Clarissa berusaha menahan tangis yang bisa saja meluncur kapanpun. Dia tidak mau Mitha melihatnya rapuh.
"Hati-hati, Bunda!"
Lambaian tangan Clarissa mengiringi kepergian taksi itu dari hadapannya. Meski tidak rela, tapi Clarissa tidak bisa berbuat apa-apa.
Kepala Clarissa mendongak. Menatap langit senja yang begitu indah.
"Tuhan kumohon katakanlah, pernikahan sandiwara ini akan berakhir kan?"
"Clarissa!"
Refleks, atensi Clarissa beralih pada sosok pria berwajah dingin yang kini melangkah, menghampirinya.
"Kau ke mana saja?! Ini sudah waktunya pulang!" sentak Davka.
Sedari tadi, Davka sudah berkeliling seluruh ruangan hotel demi menemukan Clarissa.
Bukan bermaksud khawatir atau cemas, melainkan waktu yang Davka miliki tidak banyak.
Ada berkas untuk proyek besar yang harus segera Davka selesaikan. Dan tentunya, Davka harus bereskan perkara kepindahan Clarissa lebih dahulu.
"Kita di sini tidak untuk main-main, Clarissa. Saya sibuk dan harusnya kau jangan merepotkan saya!"
Clarissa menghela napas panjang. Baru sehari jadi istri, Davka sudah berkali-kali menekannya.
Kira-kira, berapa bulan dirinya sanggup bertahan?
Ah entahlah.
"Aku tadi harus antar Bunda lebih dulu," jawab Clarissa pada akhirnya.
Kedua alis Davka menukik heran, "Ibumu sudah pulang?"
"Kenapa tidak berpamitan dengan Mama?"
Bola mata Clarissa berputar jengah, "Bunda buru-buru karena ada pesanan kue mendadak."
"Sudahlah. Jangan banyak tanya! Kau merusak mood-ku!"
Davka mengangguk singkat. Toh, dia tidak peduli dengan kehidupan gadis ingusan ini.
Tapi satu hal yang pasti, dia harus segera membawa Clarissa ke apart sebelum Anna kembali berkoar-koar.
"Cepat kemasi barang-barangmu. Kita harus pergi!"
Clarissa menggeleng berulang kali, "Aku masih mau di sini!"
"Kamu pulang saja dulu. Nanti aku akan ikut Mama Anna."
Decakan kasar menguar, "Bodoh!"
"Saya tidak akan mungkin mengajakmu tinggal di mansion Mama! Kita akan ke apartment saya!"
Keras kepalanya Clarissa kembali kumat, "Nggak! Nggak! Nggak!"
"Akan sangat berbahaya dan membosankan kalau aku tinggal bersamamu!"
Davka mengetatkan rahangnya, "Apa saya perlu meminta pendapatmu?"
"Saya adalah kepala keluarga. Suka tidak suka, kau harus patuh pada ucapan saya!"
Bola mata hazel Clarissa berputar, "Ya elah, Dav."
"Kita kan cuma nikah sand-"
"Belum ada lima menit Ibumu pergi, kau sudah lupa dengan nasihatnya?"
Kedua alis Clarissa saling bertautan, "Bunda?"
"Apa hubungannya?"
Bola mata hitam legam itu menghunus tajam, "Sesuai apa yang dikatakan Ibumu, bersikap patuh-lah pada suami."
"Jadi sekarang, kemasi barang-barangmu!"
"Tap-"
"Saya tidak menerima bantahan apa pun!"