Episode yang Tidak Pernah Direkam
Pintu kamar terbuka perlahan.
Krrrkk…
Raka mundur hingga punggungnya menabrak meja kerja. Nafasnya tercekat saat melihat sosok di balik pintu itu.
Perempuan.
Rambutnya panjang menutupi wajah. Bajunya putih kusam dan basah seperti baru kehujanan. Tubuhnya diam tanpa bergerak sedikit pun.
Lampu luar dari jendela hanya memperlihatkan siluetnya.
“Si… siapa kamu?” suara Raka bergetar.
Tidak ada jawaban.
Perempuan itu hanya berdiri sambil menunduk.
Tok.
Setetes air jatuh dari ujung rambutnya ke lantai.
Tok.
Tok.
Raka meraih ponselnya dengan tangan gemetar lalu menyalakan flashlight.
Cahaya langsung menyorot wajah perempuan itu.
Kosong.
Tidak ada siapa-siapa.
Pintu kamar terbuka lebar tanpa sosok apa pun di depannya.
Raka membeku.
“Astaga…”
Tiba-tiba laptopnya kembali menyala sendiri.
Audio misterius tadi kembali terputar otomatis.
“Dan ketika dia membuka pintu…” suara di podcast berkata pelan, “…perempuan itu sudah berada di dalam kamarnya.”
Raka langsung menoleh ke belakang.
Tidak ada siapa-siapa.
Namun suhu ruangan terasa jauh lebih dingin.
Bulu kuduknya berdiri.
Ia segera mencabut kabel laptop dengan panik.
Layar mati.
Ruangan kembali sunyi.
Hanya suara hujan.
Dan detak jantungnya sendiri.
⸻
Pagi datang terlambat bagi Raka.
Ia sama sekali tidak tidur semalaman.
Mata sembabnya menatap cangkir kopi di meja kecil warung dekat kampus. Beberapa motor lalu lalang di jalanan yang masih basah.
Di depannya duduk Dimas, sahabat sekaligus editor audio podcast miliknya.
“Lo kelihatan kayak mayat hidup,” kata Dimas sambil menyeruput kopi.
Raka diam beberapa saat sebelum akhirnya menceritakan semuanya.
Mulai dari telepon misterius.
Email aneh.
Sampai sosok perempuan semalam.
Dimas mendengarkan sambil mengernyit.
“Kesimpulannya,” katanya pelan, “lo terlalu capek.”
“Gue serius.”
“Dan gue serius kalau lo butuh tidur.”
Raka membuka ponselnya lalu memutar sebagian audio misterius itu.
Suara statis terdengar.
Lalu suara opening lama Podcast Horor.
Wajah Dimas langsung berubah.
“Tunggu… ini opening lama kan?”
“Iya.”
“Bukannya file itu udah ilang?”
Raka mengangguk pelan.
Dimas mengambil headset lalu mendengarkan lebih lama.
Beberapa detik kemudian wajahnya mulai pucat.
“Ra…”
“Apa?”
“Suara ini…”
“Kenapa?”
“Itu bukan suara lo.”
Raka langsung terdiam.
“Apaan? Itu jelas suara gue.”
“Bukan,” kata Dimas cepat. “Mirip lo. Tapi beda.”
Raka mengambil headset dan mendengarkan ulang.
Kini ia mulai sadar.
Ada sesuatu yang aneh.
Nada bicara itu terlalu lambat.
Terlalu datar.
Seperti seseorang menirukan dirinya.
Dimas menelan ludah.
“Lo dapet file ini dari mana?”
“Email anonim.”
“Jangan diputar lagi.”
“Kenapa?”
Dimas terlihat ragu.
Lalu ia berkata pelan.
“Karena gue pernah denger suara itu.”
Angin dingin berembus melewati warung.
Raka menatap sahabatnya bingung.
“Maksud lo?”
Dimas diam cukup lama sebelum akhirnya bicara.
“Tiga tahun lalu… sebelum Podcast Horor mulai terkenal…”
Raka mulai merasa tidak nyaman.
“Dulu ada podcaster lain,” lanjut Dimas lirih. “Namanya Bayu.”
Raka mengernyit.
Ia belum pernah mendengar nama itu.
“Podcastnya mirip punya lo. Tema urban legend, misteri, hal-hal gaib.”
“Terus?”
“Dia hilang.”
Sendok kopi di tangan Raka berhenti bergerak.
“Hilang gimana?”
“Gak ada yang tahu. Polisi nyari berbulan-bulan tapi gak pernah ketemu.”
Dimas membuka ponselnya lalu menunjukkan sebuah artikel berita lama.
Foto seorang pria muncul di layar.
Usianya sekitar dua puluh lima tahun.
Wajahnya pucat dengan mata sayu.
Namun yang membuat Raka membeku adalah…
Wajah pria itu sangat mirip dengannya.
“Ini…” suara Raka mengecil.
“Bayu,” kata Dimas pelan.
Tangan Raka mulai dingin.
“Mustahil…”
“Dan sebelum dia hilang…” Dimas menatap Raka serius. “Dia sempat upload satu episode terakhir.”
Raka merasa tenggorokannya kering.
“Judul episodenya apa?”
Dimas terdiam beberapa detik.
Lalu menjawab pelan.
“Episode 0.”
Hening.
Suara kendaraan di jalan tiba-tiba terasa jauh.
Raka menatap artikel itu tanpa berkedip.
Di bawah foto Bayu ada tulisan kecil.
PODCASTER DITEMUKAN HILANG SETELAH SIARAN TERAKHIR
Tiba-tiba ponsel Raka bergetar.
Nomor tak dikenal lagi.
Kali ini ada pesan masuk.
Raka membuka pesan itu perlahan.
Isinya hanya satu kalimat.
DIA BELUM SELESAI BERCERITA
Dan beberapa detik kemudian…
Sebuah foto masuk.
Foto ruang kerja Raka.
Foto yang diambil…
Beberapa detik lalu.
Dari luar jendela kamarnya.