Suara dari Episode Hilang
Hujan turun deras malam itu. Jalanan kota basah dan kosong, hanya lampu-lampu jalan yang berkedip redup seperti mata lelah yang belum tidur selama berhari-hari.
Raka memarkir motornya di depan rumah kontrakan kecil miliknya. Helm hitamnya meneteskan air hujan saat ia membuka pintu yang berderit pelan.
Sudah hampir tengah malam.
Ia melempar tas ke sofa lalu menyalakan laptop tua di meja kerja. Layar menyala lambat. Di dinding kamar tergantung foam peredam suara murahan dan mikrofon bekas yang mulai berkarat.
Inilah markas “Podcast Horor.”
Podcast kecil miliknya yang mulai kehilangan pendengar.
Raka mengusap wajahnya frustrasi. Sudah dua bulan ia kehabisan ide. Semua cerita terasa biasa. Tidak ada yang cukup menyeramkan lagi.
Ia membuka aplikasi statistik pendengar.
Turun lagi.
“Gila…” gumamnya pelan.
Ponselnya tiba-tiba berbunyi.
Nomor tak dikenal.
Raka ragu beberapa detik sebelum mengangkatnya.
“Halo?”
Tidak ada jawaban.
Hanya suara napas.
Panjang.
Pelan.
Seperti seseorang berdiri sangat dekat dengan mikrofon.
“Halo?” ulang Raka.
Kemudian terdengar suara perempuan berbisik.
“Cari episode yang hilang…”
Sambungan langsung terputus.
Raka membeku.
Beberapa detik ia hanya menatap layar ponselnya sendiri.
“Prank apaan…”
Ia mencoba mengabaikannya lalu membuka email. Namun matanya langsung terpaku pada satu pesan baru tanpa nama pengirim.
Subjeknya pendek.
EPISODE 0
Jantung Raka berdetak lebih cepat.
Ia membuka email itu.
Hanya ada satu file audio.
Tanpa penjelasan.
Tanpa isi pesan.
Tangannya ragu saat menekan tombol download.
Entah kenapa bulu kuduknya mulai berdiri.
File itu selesai terunduh dalam beberapa detik.
Audio berdurasi tiga puluh menit.
Nama filenya aneh.
podcasthoror_final_lastREAL.mp3
“Siapa sih…” gumamnya.
Raka memakai headset lalu memutar audio itu.
Awalnya hanya suara statis.
Krrrkkk…
Lalu terdengar musik pembuka.
Ia langsung membeku.
Itu suara opening podcast miliknya.
Namun ada sesuatu yang berbeda.
Versi lama.
Opening yang bahkan sudah ia hapus tiga tahun lalu.
“Selamat malam… kembali lagi di Podcast Horor…”
Suara host terdengar berat dan pelan.
Itu suara Raka sendiri.
Napas Raka tercekat.
“Apa?”
Ia memperbesar volume.
Di audio itu, “Raka” mulai bercerita.
Tentang seorang podcaster yang menerima kiriman audio misterius dari nomor tak dikenal.
Wajah Raka perlahan pucat.
Cerita itu…
Sama persis seperti yang sedang terjadi padanya sekarang.
Keringat dingin mengalir di lehernya.
“Ini gak lucu…”
Audio terus berjalan.
“Podcaster itu tidak sadar,” suara dalam audio berkata pelan, “bahwa seseorang sedang mendengarkannya… dari dalam rumah.”
BRAK!
Suara keras tiba-tiba terdengar dari dapur.
Raka langsung menoleh.
Jantungnya nyaris copot.
Ruangan kembali sunyi.
Hanya suara hujan di luar.
Dengan langkah pelan, ia berjalan menuju dapur.
Lampu dapur berkedip-kedip redup.
Tidak ada siapa-siapa.
Namun kursi kayu di dekat meja makan bergerak perlahan.
Seperti baru saja diduduki seseorang.
Raka menelan ludah.
“Tolong jangan mulai hal aneh…”
Tiba-tiba audio di laptop berubah kacau.
Suara statis memenuhi ruangan.
Lalu terdengar suara perempuan menangis.
Dekat sekali.
Bukan dari headset.
Tapi dari belakangnya.
Raka membalik tubuh cepat.
Kosong.
Tidak ada siapa-siapa.
Napasnya mulai tidak teratur.
Dengan tangan gemetar ia kembali ke meja kerja dan menghentikan audio itu.
Namun layar laptop tiba-tiba berubah hitam.
Kemudian muncul tulisan putih.
AKU ADA DI EPISODE TERAKHIR
Raka mundur perlahan.
Tubuhnya dingin.
Listrik rumah mendadak mati.
Gelap total.
“Anjir…”
Suara hujan kini terdengar jauh lebih keras.
Lalu…
Tok.
Tok.
Tok.
Ada suara ketukan dari pintu kamar.
Pelan.
Teratur.
Raka mematung.
Ia tinggal sendirian.
Tok.
Tok.
Tok.
“Siapa?” suaranya gemetar.
Tidak ada jawaban.
Kemudian terdengar suara perempuan yang sama seperti di telepon tadi.
Tepat di balik pintu.
“Putar sampai habis…”
Handle pintu bergerak perlahan.
Ceklek.
Pintu mulai terbuka sendiri.
Dan dari celah gelap itu…
Seseorang berdiri sambil tersenyum