“Adit ayo cepetan dong.” Teriak Naila dari bawah tangga, dia dan suaminya sudah bersiap untuk pergi kerumah Alya sedangkan Adit masih didalam kamar ntah apa yang dia lakukan.
“Iya ma.” Jawab Adit, dia sudah rapi dengan celana panjang dan kemeja berwarna merah maroon.
“Ayo dong cepetan.” Kata Naila kembali.
Mereka berangkat diantar oleh pak Udin, Adit semakin tidak mengerti kenapa mereka masuk dipemukiman padat penduduk.
Dan rata-rata rumahnya sangat biasa, “Mah kita kok kesini?” Tanya Adit pada mamanya.
“Udah deh dit, diem aja bentar lagi sampe kok.” Jawab Naila. Mobil yang mengantar mereka sudah sampai didepan rumah yang sangat sederhana sekali.
“Ini rumahnya.” Kata Naila membuat Adit melongo, calon istrinya tinggal dirumah seperti ini?
“Udah ayo masuk.” Kata Malik menarik putranya.
Tok.
Tok.
Tok.
“Assalamualaikum, Alya ini Bu Naila.” Kata Naila dengan mengetuk pintu, Alya yang baru saja menidurkan Kayla bergegas keluar kamar dan membuka pintu.
Ceklek.
“Bu Naila, silahkan masuk Bu.” Kata Alya, Naila dan Malik langsung duduk dikursi kayu milik Alya. Berbeda dengan Adit dia masih berdiri didepan pintu memandang isi rumah Alya.
“Adit duduk.” Peringat Naila, Adit menoleh kearah sang mama kemudain mendudukkan dirinya dikursi kayu yang sangat sederhana.
“Sebentar Bu.” Kata Alya, dia bergegas kedapur untuk membuatkan minuman untuk keluarga bosnya.
“Mama dia siapa?” Tanya Adit pelan.
“Dia Alya, calon istri kamu.” Jawab Naila, Adit kaget calon istri nya sangat sederhana dan kurang menarik baginya.
“Mama gak salah kan milihin aku wanita tadi?” Tanya Adit tidak percaya, Naila mengangguk membuat Adit mendengus kesal.
“Apa tidak ada wanita lain.” Guman Adit pelan.
Alya datang dengan tiga cangkir teh ditangannya, “Permisi Bu ini minumannya.” Kata Alya dengan senyum ramah.
“Ehm Alya, perkenalkan ini suami saya.” Kata Naila memperkenalkan Alya pada Malik.
“Dan ini adalah Adit putra saya, Adit yang akan menikah dengan kamu.” Sambung Naila. Alya tidak berani mendongok menatap Adit dia terus menundukkan pandangannya.
“Bundaa.” Teriak Kayla dari dalam kamar.
“Permisi sebentar pak Bu.” Kata Alya sopan. Dia bergegas pergi kekamar untuk menemui putrinya.
“Mah, kok ada yang manggil bunda?” Tanya Adit heran, mamanya bilang Alya belum menikah tapi dia sudah dipanggil bunda.
“Udah diem, pokoknya kamu harus menikah dengan Alya.” Jawab Naila tegas.
Alya masuk kedalam kamar dan mendapati Kayla yang sedang menangis, “Sayang kenapa?” Tanya Alya pada Kayla yang terus menangis.
“Sayang kamu mimpi buruk?” Tanya Alya kembali, hal itu membuat Kayla semakin menangis dengan keras.
Naila yang mendengar tangisan Kayla menjadi khawatir dengan gadis kecil yang sebentar lagi akan menjadi cucunya.
“Pah ada apa dengan Kayla ya kenapa dia menangis?” Tanya Naila pada suaminya.
“Papa gak tau mah.” Jawab Malik. Sedangkan Adit dia mendengus sebal dengan drama dirumah ini.
“Mah kita pulang yuk, udah selesai kan yang penting Adit nikah sama dia.” Kata Adit, dia sudah tidak tahan berada dirumah ini, ia ingin segera keluar sekarang juga.
“Adit!” Peringat Naila. Adit kembali menyandarkan tubuhnya dikursi. Pandangannya lurus kedepan memandang foto Alya dan seorang laki-laki paruh baya. Adit yakin bahwa dia adalah ayah dari Alya.
Alya keluar dari kamar dengan menggendong Kayla, Kayla terus menangis tidak ingin ditinggal oleh Alya. “Bu maaf.” Kata Alya tidak enak hati pada bosnya.
“Tidak apa Al.” Jawab Naila tersenyum. Kayla masih memeluk tubuh Alya dengan erat.
Perlahan pandangan Kayla jatuh pada laki-laki yang duduk dihadapannya, ya siapa lagi kalau bukan Adit. Gadis kecil itu tersenyum melihat Adit, membuat Naila dan Malik ikut tersenyum.
“Oma.” Panggil Kayla saat melihat Naila duduk disampingnya.
“Kayla udah sembuh?” Tanya Naila dengan senyum yang sangat hangat, gadis kecil itu mengangguk mengiyakan.
“Bagaimana kalau kalian menikah dua hari lagi?” Tanya Naila, membuat Adit mendongokkan pandangan nya.
“Terserah mama aja.” Jawab Adit, yang sudah malas dengan semua ini.
“Gimana Al?” Tanya Naila pada Alya. Alya sedikit menarik nafasnya pelan sebelum menghembuskan nya.
“Alya ikut saja Bu.” Jawab Alya pelan.
Adit memandang Alya dengan tatapan tidak suka, ia mengira bahwa Alya mau menikah dengan dirinya karena harta nya saja.
Dia menatap Alya dengan tatapan merendahkan, katanya belum pernah menikah tetapi sudah punya anak.
“Mah, Adit minta pernikahan nya hanya kita saja dan keluarga dekat saja.” Kata Adit, dengan cepat Naila mengangguk dari pada sang anak akan berubah fikiran tidak mau menikah dengan Alya itu akan merepotkan.
Setelah berbincang bincang cukup lama, Naila memutuskan untuk pulang. Karena hari juga sudah larut dan Kayla gadis itu sudah tidur dipangkuan sang bunda.
“Maaf Bu tidak bisa mengantar kedepan.” Kata Alya, dia tidak mungkin menggendong Kayla dengan kondisi kaki Kayla yang patah.
“Tidak masalah Al, kita permisi dulu.” Jawab Naila. Mobil milik Naila melaju meninggalkan kontarakan Alya.
“Mah, kok mama bisa milih dia jadi istri Adit sih?” Tanya Adit yang tidak habis fikir.
“Adit kamu sudah janji dengan mama.” Jawab Naila penuh penekanan.
“Pasti dia cuma ingin harta aku aja, dia juga seperti wanita murahan.” Kata Adit dalam hati. Sepanjang perjalanan dia memang diam tapi tidak didalam hatinya dia terus mengumpat.
Tiga puluh menit menempuh perjalanan mereka sudah sampai dirumah dengan selamat, tanpa bicara Adit langsung naik keatas menuju kamarnya.
“Huft.” Adit menghempaskan tubuh besarnya diranjang king size miliknya.
“Kenapa sih wanita itu, apa tidak ada wanita lain.” Gumam Adit, pandangannya jatuh pada laci nakas dipaling bawah.
Perlahan tangannya membuka laci itu, terdapat beberapa foto Siska, tunangannya yang kabur ntah kemana.
“Kenapa kamu ninggalin aku gitu aja?” Tanya Adit menatap foto Siska.
“Cuma kamu wanita yang aku cinta, tapi kamu tega sama aku.” Sambung Adit.
Tangannya mengusap satu undangan pernikahan yang bertuliskan namanya dan nama Siska. Untung undangan yang mereka buat belum mereka sebar, Adit tidak akan merasa malu karena Siska kabur.
“Aku udah cari kamu dimana pun, tapi kamu gak pernah ada kabar.” Guman Adit kembali.
Mengingat kebersamaan nya dengan Siska membuat senyum dibibirnya mengembang, tapi perlahan senyumnya memudar.
Siska dan Adit sudah berpacaran sejak mereka Kuliah, mereka dahulunya memang berteman semasa kuliah tapi pada akhinya mereka saling jatuh cinta dan memutuskan untuk menjalin kasih.
Empat tahun sudah Siska menghilang dari kehidupan Adit, membuat dunia Adit seakan runtuh dengan tanah.
Semangat hidupnya hampir saja hilang jika saja tidak ada kedua orang tuanya yang memberi semangat kepada dirinya.
Adit kembali menyimpan foto Siska kedalam laci, kemudian dia pergi kekamar mandi untuk menyegarkan otaknya yang terasa panas.
Selesai mandi Adit merebahkan tubuhnya keranjang, setelah itu matanya perlahan terpejam dengan nafas yang teratur.
Dia akan cepat tidur jika dia sedang ada banyak masalah, berbeda dengan orang-orang lain diluar sana jika banyak masalah tidak bisa tidur.
Ditengah malam Adit terbangun sebab dia ingin buang air kecil. “Dingin banget.” Gumam Adit menatap jendela kamarnya. Gorden dikamarnya berterbangan karena angin yang menerpa.