Satu minggu Kayla dirumah sakit dan satu minggu pula Alya tidak bekerja, dia tidak mungkin meninggalkan anaknya sendiri dirumah sakit. Meskipun banyak dokter dan suster yang menjaganya.
“Bunda Kay pulangnya kapan?” Tanya Kayla dengan memainkan boneka beruangnya, bukan boneka yang dulu tapi boneka yang baru.
Boneka yang lama sudah Alya buang karena terkena noda darah Kayla pasca kecelakaan. Dan untung saja Kayla tidak mengenali boneka barunya.
“Bunda gak tau sayang, nanti coba bunda tanyain ke dokter dulu.” Jawab Alya, dia bersyukur harta satu-satunya yang dia punya bisa bersama dirinya kembali.
Meskipun keadaan Kayla yang kurang baik, sekarang Kayla memerlukan bantuan Alya dimana pun, sebab Kayla belum diperbolehkan untuk jalan.
Ceklek.
Pintu terbuka dari luar, menampilkan Naila dengan membawa boneka ditangannya. “Bu Naila silahkan masuk.” Kata Alya.
Naila menghampiri Alya dan Kayla diranjang, Kayla gadis kecil itu berbinar menatap boneka ditangan Naila. “Ini untuk Kayla.” Kata Naila memberikan boneka yang dia beli sewaktu perjalanan kesini.
“Makasih Bu.” Jawab Kayla, dia bingung ingin memanggil Naila dengan sebutan apa.
“Panggil Oma aja oke.” Jawab Naila yang mendapat anggukan dari Kayla.
“Makasih Bu sudah mau menjenguk Kayla beberapa hari ini.” Kata Alya, selama satu Minggu Kayla dirumah sakit sudah lima kali Naila menjenguk Kayla.
“Sama-sama.” Jawab Naila, pandangannya fokus pada gadis kecil yang sedang duduk bersandar.
Hatinya meringis melihat kaki gadis kecil itu yang berbalut dengan perban, gadis kecil itu harus merasakan rasa sakit yang luar biasa.
“Alya saya ingin bicara dengan kamu.” Kata Naila, Alya mengangguk dan segera berdiri dari duduknya.
Naila mengajak Alya untuk keluar dari ruangan Kayla sebentar, tidak mungkin mereka membicarakan hal ini didalam ruangan.
“Masih ingat dengan syarat waktu itu?” Tanya Naila, Alya sejenak berfikir sebelum akhirnya mengangguk kan kepala.
Ini memang sudah jalan hidupnya, untuk menikah dengan anak dari bos nya. “Iya Bu, saya masih ingat. Dan tidak mungkin melupakan begitu saja.” Jawab Alya.
Naila tersenyum mendengar jawaban Alya, tidak salah jika Naila memilih Alya sebagai istri Adit dan menantu baginya.
“Hari ini Kayla boleh pulang.” Kata Naila membuat senyum Alya mengembang indah.
“Dan nanti saya akan ajak anak saya untuk melamar kamu.” Sambung Naila kembali.
“Iya Bu.” Jawab Alya, dia sudah tidak bisa apa-apa lagi. Jika dia harus mengembalikan uang milik Naila butuh bertahun-tahun untuk mengumpulkan nya.
“Ya sudah ayo kita bawa Kayla pulang.” ajak Naila.
Kontrakan Alya.
“Wah bunda, akhirnya aku tidur disini lagi.” Kata Kayla dengan wajah yang sangat bahagia.
“Iya sayang, sekarang kamu istirahat biar bunda buat makanan buat kamu makan siang.” Jawab Alya, Naila baru saja mengantarkan Alya dan Kayla pulang dia tidak bisa mampir karena dia harus memberitahu Adit dan Malik tentang hal ini.
“Iya bunda.” Jawab Kayla, gadis kecil itu memainkan boneka pemeberian Naila dengan senyum yang mengembang.
Alya tidak masak yang sulit sulit, dia hanya memasak tumis kangkung dan tempe goreng, uangnya hanya cukup untuk itu, uangnya sudah habis dia gunakan untuk membeli makanan saat di rumah sakit.
“Sayang ini makanannya sudah jadi.” Kata Alya membawa makanan yang dia masak kedalam kamar.
“Iya bunda.” Jawab Kayla, gadis itu meletakkan boneka miliknya disamping tempat tidur.
“Biar bunda suapin.” Kata Alya, dengan telaten Alya menyuapi Kayla, senyum keduanya terukir begitu indah.
Setelah selesai menyuapi Kayla, Alya membantu gadis kecil itu untuk meminum obatnya.
“Sekarang kamu tidur ya, biar cepet sembuh.” Kata Alya, ia membantu Kayla untuk berbaring kembali.
“Huft,” Alya menghela nafasnya panjang, seminggu ini dia sama sekali belum istirahat. Dia pulang kerumah hanya untuk mencuci pakaian nya saja setelah itu kembali lagi kerumah sakit.
.
.
.
“Papa!” Panggil Naila pada suaminya.
“Kenapa ma?” Tanya Malik yang sedang duduk disofa ruang tamu dengan kertas kertas ditangannya.
“Nanti malem kita kerumah Alya buat bicara in masalah pernikahan.” Jawab Naila dengan antusias.
“Emang anaknya udah sembuh?” Tanya Malik pada istrinya, Naila mengangguk dengan mantap.
“Ya sudah kalau begitu.” Jawab Malik, Malik tidak menolak istri nya menjodohkan putranya dengan Alya. Malik juga tidak mempermasalahkan tentang Alya dan Kayla.
“Adit kok belum pulang ya pa?” Tanya Naila, dia takut putrannya itu tidak pulang, Adit biasanya pulang ke apartemen nya yang dekat dengan kantor.
“Coba aja mama telfon, minta dia pulang.” Jawab Malik, Adit dan Malik memang mempunyai perusahaan sendiri-sendiri.
Tapi Malik lebih sering bekerja dirumah, dia akan kekantor jika ada yang penting saja.
Perusahaan AG grup.
“Pusing banget kepala gua.” Kata Adit memijat pelipisnya.
“Kenapa Lo?” Tanya Novan sahabat Adit sedari mereka SMA, Novan adalah pengusaha kuliner dikotanya. Dia sudah memilik istri dan anak berumur 2 tahun.
“Mending cepet nikah deh, biar gak pusing.” Sahut Ilham, Ilham juga sahabat Adit dan Novan sedari mereka SMA. Ilham bekerja dirumah sakit milik keluarga Adit, dan dia juga sudah menikah 4 tahun lalu. Sekarang istrinya tengah mengandung anak kedua.
“Ya itu yang bikin gua pusing, mama minta gua buat nikah.” Jawab Adit dengan malas.
“Yaudah Lo nikah aja.” Jawab Novan yang mendapat lirikan tajam dari Adit.
“Gua bilangin nih ya Dit, lebih baik Lo cepetan deh luapain Siska, gua yakin Siska juga udah bahagia dengan dirinya sendiri, jangan gara-gara Siska Lo bikin mama papa Lo sedih. Kasian mereka, Cuma Lo yang mereka punya kakak Lo udah gak ada cuma Lo yang bisa bahagiain mereka.” Kata Novan yang membuat hati Adit berdenyut nyeri.
Novan benar dia harus melupakan Siska, tunangannya yang kabur entah kemana tanpa kejelasan dan alasan.
Dan benar kata Novan tentang kebahagiaan mama papanya, kakaknya Farel sudah meninggal 4 tahun lebih karena kecelakaan jadi dia yang harus membahagiakan kedua orang tuanya.
“Inget kata-kata gua, kehidupan Lo masih berlanjut jangan Lo sia-sia in dengan Lo nutup hati buat wanita-wanita yang ingin deket sama lo.” Sahut Ilham, Adit kembali mengangguk karena perkataan dua sahabatnya ini benar.
“Udah kita cabut duluan, ini udah sore.” Kata Ilham. Setelah Ilham dan Novan pergi perkataan mereka kembali teringat dibenak Adit.
“Iya gua harus bahagia in mama, dengan cara gua nikah sama wanita pilihan mama.” Kata Adit. Dia sudah memutuskan untuk menikah dengan wanita pilihan mamanya.
Meskipun dia tidak tahu latar belakang calon istrinya, baik atau tidak nya calon istrinya yang paling penting bagi Adit adalah mamanya bahagia.
Matanya melirik ponsel diatas meja didepannya, ternyata yang menelfon dirinya adalah sang mama.
“Hallo, Assalamualaikum ma.” Kata Adit.
“Waalaikumsalam, Adit kamu pulang sore ini ya.”Jawab Naila dengan bahagia.
“Kenapa ma?” Tanya Adit. Dia sedikit bingung mendengar suara mamanya yang sangat bahagia.
“Nanti malem kita kerumah calon istri kamu.” Jawab Naila, Adit terdiam beberapa saat setelah mendengar perkataan sang mama.
“Iya mah Adit pulang.” Kata Adit, dia menghela nafasnya panjang.