El turun dari Ducatti Vino, gadis itu melepaskan helm yang ia gunakan lalu memberikan helm itu pada Vino. "Makasih"
Setelah membayar bill, Vino mengantarkan El pulang sedangkan ke-4 teman Vino pergi ke markas mereka duluan, setelah Vino mengantarkan El pulang ia akan segera menyusul.
Vino mengganggukkan kepalanya lalu tersenyum lembut kepada El, ia menjulurkan tangannya lalu mengelus puncak kepala El, gadis itu jadi salting, wajahnya juga sudah memerah.
"Ihh, apa apan sih lo?! Cepet pulang!" usir El gadis itu berlari secepat kilat melewati gerbang besi bercat hitam yang menjulang tinggi untuk menyelamatkan jantungnya yang deg degan.
El itu wanita normal kalo di perlakukan manis seperti itu ia juga akan baper.
Vino terkekeh melihat kelakuan El, "Muka lo udah kaya kepiting rebus" setelah gadis itu menghilang dari pandangannya, Vino melajukan motornya dengan hati yang gembira.
"Dari mana El? kenapa baru pulang?" Tanya Ezra dari arah ruang tv, laki laki itu sedang nonton The Lord of The Rings saat El akan menaiki tangga
"EC" Ezra tau EC yang El maksud adalah Elnina Café
"Sama siapa?" Tanya Ezra lagi sambil menyuapkan keripik kedalam mulutnya
"Temen"
"Kenapa lo megangin d**a? Sakit lo?" Gadis itu baru sadar sejak masuk rumah ia memang memegangi dadanya yang deg degan.
"kepo banget sih lo, udah ahh gue cape, bye" El melanjutkan langkahnya menaiki tangga
"Yeu, orang cuma nanya" Ezra melanjutkan aktivitas nontonnya sambil makan keripik kentang kesukaanya.
Setelah sampai di kamar gadis itu langsung membersihkan dirinya di kamar mandi, lalu merebahkan tubuhnya di atas kasur.
***
"RANDYYYYYY, BALIKIN GAK BUKU GUEEE?!!!" Clara berlari mengejar Randy yang membawa buku fisika miliknya.
"GAK MAU!!" Seru Randy sambil terus berlari mengelilingi kelas menghindari kejaran Clara yang murka.
"CEPET.. BALIK--INN hoshh.. hoshh.." gadis itu membungkukkan badannya dengan kedua tangan bertumpu pada lutut, nafasnya tersenggal tanda kelelahan, keringatnya juga sudah bercucuran.
"PINJEM DOANG PELIT AMAT, GUE CUMA MAU NYONTEK PR FISIKA" Teriak Randy dari pojok kelas, Jean menggelengkan kepala melihat kelakuan teman sekelasnya yang gesrek, pagi pagi udah pada rusuh aja.
"TAP--" ucapan Clara terpotong saat tangan seseorang tiba-tiba bertengger manja di bahunya.
"Udah Cla, pinjemin aja. Sesama manusia harus saling berbagi, gak boleh pelit nanti kuburannya sempit, hihihi" Sera terkikik melihat wajah Clara yang kusut, bibirnya juga udah maju kaya selogan salah satu merk motor "Yamaha semakin di depan".
"Yaudah, cepetan" dengan nada terpaksa dan gak ikhlas.
"Yang ikhlas dong Cla, minjeminnya"
"Sebenernya gue gak ikhlas, susah payah itu gue ngerjainnya semalem, ampe bergadang. Tapi yaudah lah gue ikhlasin"
"Nah gitu dong, kan jadi nambah cantik kalo baik" Clara menghembuskan nafasnya panjang.
Sera membawa Clara kembali duduk di bangku mereka. Beberpa dektik kemudian datang El dari arah pintu kelas sambil cengar cengir.
"Woi sehat lo?" Tanya Sera
"Kesurupan kali tu anak" kata Clara
"Ni anak kenapa sih? Bukannya tadi abis dari ruang guru ya?"
Bukannya menjawab pertanyaan temannya El malah tambah keras ketawanya.
"Wah beneran kesambet ni orang" kata Clara lagi
"Lo kenapa El? jangan bikin gue ngeri ngapa" Sera bergidik ngeri
El menceritakan kejadian yang ia alami kepada ke-3 temannya saat ia keluar dari ruang guru, seketika tawa mereka pecah saat El menceritakan semuanya.
"HAHAHAHA, beneran El?"
"Iya"
"Ngakak banget anjirr, pantesan lu sampe kaya orang stres ketawa sendiri"
"Iya jarang jarang si El ketawa, sekalinya ketawa malah ketawa sendiri, kan kita jadi ngeri"
"Mulut lo minta di cincang"
"Gila, penasaran banget gue pengen liat ekspresi kakak lo, bete banget tuh pasti"
***
Tok tok tok
"El, gue masuk ya" tanpa menunggu jawaban Ezra masuk kedalam kamar El, lalu ia duduk di samping kasur deket meja belajar dimana El tengah duduk.
"Ngapain El?" Tanya Ezra ketika melihat El yang sedang serius mengerjakan sesuatu dengan laptopnya yang berlogo apel di gigit cuma sekali.
"Ehh, itu tadi lagi bikin tugas kelompok" ucap El sambil menutup laptopnya.
"Mau gue bantu?"
"Ngga usah, dikit lagi juga beres" Ezra hanya ber-oh ria lalu merebahkan badannya di kasur.
"Mau ngapain ke kamar gue?"
"Ohh iya lupa" ucap Ezra sambir nyengir "tadi Mama sama Papa suruh kita turun buat makan malem" lanjutnya.
"Kirain mau ngapain"
"Emangnya lu pikir gue mau apa, ayo turun gue udah laper" Ezra menarik tangan gadis itu memabawanya ke ruang makan.
"Ya siapa tau mau curhat masalah tadi pagi" ucap El
"Diem! gausah di bahas" Ezra yang kesal langsung mempercepat langkahnya sehingga El ikut terseret.
Flashback
Lily duduk di meja makan sambil mengolesi selai coklat diatas roti untuk sarapan suaminya, kegiatannya berhenti ketika melihat anak sulungnya menuruni anak tangga dengan terburu-buru, Lily mencoba memperingatkan anaknya agar berhati-hati namun telat p****t Ezra keburu mencium lantai.
"Ezra hati-hati nanti ja--"
Brukk!!
"--tuh"
Mama dan Papa mendengar suara yang jatuh sepontan meringis, mereka tau betul suara yang jatuh itu bukan suara dari sebuah barang, tapi suara tubuh Ezra yang bertubrukan dengan lantai marmer yang dingin. Keduanya segera menghampiri Ezra dan membantunya untuk berdiri.
"Awww, ssshh.. p****t Ezra sakit ma" adu Ezra sambil memegangi pantatnya
"Baru mau di bilangin, ehh udah jatoh duluan"
"Lagian kamu itu udah besar, ngapain lari-larian kaya gitu"
"Ishh Papa Ezra lagi buru-buru tau bentar lagi telat"
"Makanya, bangun pagi-pagi. Tidur ko kaya mati suri"
"Mama!" pekik Ezra
Lily dan Gerald terkekeh melihat ekspresi kesal anaknya "yaudah sana cepet berangkat, katanya takut telat".
"Yaudah Ezra berangkat ya Pa, Ma" Ezra menyambar helemnya lalu berjalan ke luar rumah.
Ezra menaiki motornya bersiap untuk pergi namun panggilan sang mama mengintrupsinya.
"Ezraaa" Mama berlari kecil menghampir anaknya, baru saja Lily akan membuka mulutnya untuk mengataka sesuatu, Ezra udah menyerobot duluan.
"Ezra sarapan di sekolah aja ma, udah ya Ezra udah telat ini" tanpa menunggu jawaban dari sang mama Ezra langsung ngebut meninggalkan kediamannya.
Pagi ini Ezra berangkat ke sekolah naik motor sportnya agar sampai dengan lebih cepat, sedangkan El sudah berangkat lebih awal karena ia dapat giliran piket.
Pada saat lampu merah sedang menyala, motor Ezra pun berhenti, banyak pasang mata memperhatikannya, Ezra tak peduli karena ia sudah terbiasa ditatap oleh orang-orang.
"Tapi ko kali ini kaya ada yang beda ya?" batin Ezra bertanya-tanya.
Ezra celingukan ke kiri dan ke kanan memperhatikan ekspresi orang orang yang memandang ke arahnya sambil menutup mulut seperti sedang menahan tawa.
"Emang ada yang lucu apa? Ahh bodo amat" Ezra mengedikkan bahunya acuh tak mau ambil pusing.
Seorang anak kecil membawa ukulele datang menghampirinya, anak itu bernyannyi sambil memainkan ukulelenya, suaranya cempreng tapi lumayan merdu.
Setelah menyelesaikan satu lagu, anak itu menyodorkan kantong pelastik kehadapannya, Ezra memasukan uang dua puluh ribu kedalam kantong plastik tersebut. Sebelum pergi, anak itu sedikit lebih mendekat.
Ezra menaikan sebelah alisnya, bingung "kakak emang boleh sekolah pake sendal jepit?" Tanya anak itu dengan wajah polos, kening Ezra menyerngit, seketika arah pandangannya yang tadinya memandang wajah anak kecil itu langsung beralih ke bawah, tawa orang-orang pun pecah tak terbendung lagi.
Shit.. shit.. shit..
"Malu banget gue" Ezra mengencangkan pegangannya pada stang motor menahan rasa malu "Mau di taro dimana muka gue sekarang" saat itu juga rasanya Ezra ingin menghilang dari muka bumi.
Ezra terus merutuki dirinya karena pergi terbiru-buru hingga tak menyadari menggunakan sendal jepit saat berangkat.
Saat lampu hijau sudah menyala Ezra langsung menancapkan gas dengan kecang, ia pergi sambil menahan rasa malu yang sendari tadi ia tahan.
Sesampainya di sekolah, semua mata tertuju padanya, ia merasa sangat konyol. Setelah memarkirkan motornya ia langsung menghubungi seseorang untuk membawakan sepatu untuknya.
Ezra terpaksa berjalan di koridor menggunakan sendal jepit, mengabaikan orang-orang yang menertawakannya, bisa bisanya cowok paling kece pake sendal jepit ke sekolah di tertawakan pula, turun sudah harga dirinya.
"Woiii Ezra" Zico dan Andrew berlari menghampiri temannya itu saat sudah dekat mereka baru menyadari sesuatu.
"Kenapa lo pake sendal jepit?" Ucap Zico "Abis kebanjiran lo wkwkwk" Tawa Zico dan Andrew pun pecah, sedangkan Ezra? tidak usah di tanya lagi, wajahnya sudah merah menahan kesal dan malu.
El yang sedang lewat habis dari ruang guru melihat kakaknya di tertawakan oleh orang-orang jadi penasaran, El yang tidak ingin ketinggalan berita langsung menghampri kakaknya.
"Kak, lo kenap-- pfffffft.. hahaha" tawa El pecah
Jarang sekali El tertawa lepas, tawa yang jarang ia tampilkan membuat kecantikannya semakin terpancar dan membuat orang orang terkagum kagum, termasuk Zico dan Andrew.
El tak habis pikir dengan kakaknya bisa bisanya pergi kesekolah pakai sendal jepit, kalo sendal jepit polos sih gak terlalu masalah tapi sendal yang Ezra pakai sendal bergambar Tayo, itu yang bikin orang orang menertawakannya.
Sebenarnya sendal itu hadiah ulang tahun dari El beberapa bulan lalu. Pikir El, Ezra tidak akan memakainya karena ia hanya iseng sebab hadiah yang sesungguhnya adalah jam tangan dengan merk ternama.
"Berisik lo semua!" Ezra pergi meninggalkan mereka dengan wajah kesal. Sepertinya hari ini adalah hari yang s**l bagi Ezra sudah jatuh dari tangga sekarang di tertawakan semua orang gara gara pake sendal Tayo.
SEMPURNA.
Flashbalck off
"Yaampunn anak mama, akur bangettt seneng mama liatnya" ucap mama yang merasa senang melihat kedua anaknya turun dari tangga sambil bergandengan tangan, padahal kenyataannya tidak seperti itu.
"Mana ada akur, mimpi sekali mama ku yang montok ini" batin Ezra
"Gitu dong adek kakak gandengan, jangan perang terus" Papa ikut menimpali
"Gandengan dari mana, yang ada gue di seret kaya karung beras" gerutu El dalam hati
"Mama mau bilang sesuatu sama kalian"
El dan Ezra yang tadinya sedang fokus ke arah makanan yang ada di piring sontak melirik sekilas ke arah mamanya lalu kembali melanjutkan aktivitasnya.
"Anak temen mama mau pindah ke sekolah kaliannnn" ucap mama senang
"Terus" El dan Ezra yang akan menyuapkan makanan kedalam mulutnya langsung menghentikan kegiatannya, mereka berdua kompak menaikan sebelah alisnya
"Anak temen mama itu cowok, nanti kalo dia udah mulai masuk sekolah kalian temenin, inget jangan dibully"
"Siapa juga yang mau ngebully, emang tampang kita kaya tukang bully apa"
"Ya gitu deh" mama mengedikkan bahunya, "pokonya inget kalian harus baik sama dia"
"Gak janji"
"Loh ko gitu, tadinya mama malah mau jodohin kamu sama dia"
"Apaan sih ma, ini udah bukan jaman siti nurbaya" kasian siti nurbaya setiap ada kata di jodohkan pasti ia di bawa bawa.
"Iya makanya ngga jadi" ucap mama santuy
El menghembuskan nafasnya lega "sukur deh"
"Ehh Ezra, tadi kamu di sekolah gimana?"
"Uhukk uhukkk" El menjulurkan air putih kedepan mulut Ezra yang terbatuk batuk, dengan cepat Ezra meminumnya.
"Tadi pagi mama mau bilang, kamu masih pake sendal tayo" ucap mama enteng tanpa beban
"Kenapa mama baru bilang sekarang?" Kesal Ezra, sudah tau dia pake sendal Tayo kenapa mamanya gak bilang, dia kan jadi malu di tertawakan orang orang.
"Mama tadi mau bilang, tapi kamu motong ucapan mama, terus langsung pergi"
"Kak Ezra tadi di ketawain satu sekolah ma, pasti malu banget"
"Durhaka tuh sama mama"
"Ko durhaka sih ma"
"Iya, soalnya kalo mama lagi ngomong suka di potong-potong jadinya kaya gitu kena ajab"
Ezra hanya mendengus mendengarkan perkataan mama cantiknya untung sayang, kalo ngga Ezra bakal tuker tambah sama Kendall Jenner.