Brianna sangat yakin kalau dia sudah sangat sial sejak Sharon pulang dengan raut kesakitan juga meminta membelikan dia pembalut dan juga alat kompres. Tapi sepertinya takdir berpikir berbeda, takdir belum puas menimpa kesialan pada diri Brianna. Itulah yang membuat takdir mengakhirinya duduk di dalam mobil Devian saat ini.
Brianna sudah coba mengatakan pada dirinya kalau dia akan baik-baik saja. Pria ini hanya akan mengantarnya pulang dan semuanya selesai. Tapi tetap saja, ketidaktenangan menggelayutinya bagai jerawat yang tidak bisa hilang dengan segala macam hal. Brianna terus menatap keluar, bertanya-tanya kapan mereka akan sampai. Tiba-tiba saja jalan menuju ke rumahnya terasa sangat jauh sekali.
Tadinya dia sudah akan pulang dengan mobil tuanya. Kesialannya karena berpapasan dengan Devian hanya akan sampai di sana, dia tidak perlu memikirkan semuanya terlalu jauh. Pria itu pastinya hanya berada di tempat yang tidak seharusnya dan bertemu dengan Brianna. Dia sudah tenang.
Hingga satu detik setelahnya dia sadar kalau segalanya tidak akan pernah berakhir di sana. Mobil tua sialan milik Sharon tiba-tiba saja memutuskan saat itu untuk mogok. Brianna sudah mencoba yang terbaik untuk menyalakan mobil itu, tapi tidak berhasil. Dan Devian masih berdiri di samping mobil mengamati Brianna. Hingga satu kesimpulan datang padanya.
"Mobilmu tidak mau menyala?" tanya Devian. Sangat basa-basi sekali. Dia tahu kalau mobil itu memang tidak mau menyala, orang buta juga tahu. Brianna sangat kesal.
Brianna keluar dari mobil dengan senyum canggung kali ini. Dia tidak bisa lagi memberikan senyum palsu, dia sangat malu. Beberapa detik tadi dia sudah akan melesat meninggalkan Devian. Dia tidak menyembunyikan keinginannya untuk segera berlalu meninggalkan pria itu, sayang sekali karena dia masih di sini. Berdiri di depan Devian dengan rasa malu yang sangat mengguncangnya.
"Sepertinya ada yang salah dengan mesinnya," tutur Brianna. Dia ingin memukul kepalanya sendiri.
Devian menatap ke belakang Brianna. Melihat mobil tua itu dengan sebuah pertimbangan dan Brianna ragu kalau dia akan suka dengan pilihan yang akan diambil oleh sosok di depannya. Apapun keputusan itu, Brianna tidak akan berdukacita.
"Hendrik bisa membantu membawa mobilmu ke bengkel,"
Brianna menatap dengan enggan. "Tidak perlu, Mr. Kando. Saya akan mengurus..."
"Tidak apa-apa," sela Devian. Tanpa mau tahu pendapat Brianna atau apa yang akan menjadi kalimat penolakan Brianna. "Hendrik," panggil Devian juga.
"Yes, Sir?"
Devian tanpa menatap Hendrik dan jelas mencoba tidak menghujam Brianna dengan pandangannya mulai memberikan perintah. "Bawa mobil, Brianna ke bengkel dan pastikan mendapatkan servisnya dengan baik."
"Baik, Sir."
Kini mata Devian menatap Brianna. Gadis itu hanya diam mendengar apa yang menjadi perintah Devian pada orangnya. Dia terlalu memikirkan banyak hal hingga tidak bisa menolak lagi apa yang menjadi keputusan Brianna.
"Aku akan mengantarmu pulang."
Bahkan kalimat seperti itu tidak mengejutkan lagi bagi Brianna. Hingga gadis itu berakhir duduk di dalam mobil mercy hitam pria itu yang beraroma cukup menenangkan. Sejenis aroma lavender namun dengan campuran aroma lain yang entahlah, Brianna tidak pernah mencium aroma itu. Tapi jelas Brianna menyukainya.
"Apa pekerjaanmu hari ini baik?"
Brianna menatap pada Devian, dia pikir pria itu tidak akan pernah bersuara padanya. Setidaknya sejak pertama mobil melaju, Devian bungkam jadi Brianna agak lega karena mereka tidak harus bercakap. Brianna hanya takut kalau dia salah bersuara nanti. Salah satu yang tidak untuk Brianna lakukan adalah membuat Devian tersinggung dengan kata-katanya.
Tapi dia juga tidak mungkin mengabaikan pertanyaan Devian kan? Dia hanya harus berhati-hati.
"Cukup baik."
"Hanya cukup?"
Brianna menelan ludah. "Itu mungkin karena posisi saya yang berbeda. Harusnya saya hanya karyawan biasa tadinya, tapi ada insiden yang membuat saya naik jabatan seketika."
"Insiden apa?"
"Hal yang anda lakukan dengan wanita itu. Yang di atas kursi." Brianna berdehem. Mencoba mencari padanan kata yang tepat. Yang lebih masuk akal juga lebih membuat posisinya baik-baik saja. "Mr. Rudolf terlambat tahu kalau wanita itu harusnya menjadi asistennya, hingga saat dia tahu, wanita itu dipecat jadi saya menggantikannya."
Devian diluar dugaan terlihat mengulas senyum sempurna. Brianna harus takjub melihat itu. Senyum malaikat di depannya. Betapa Tuhan sangat tidak adil memberikan sebuah keindahan.
Mata hijau gelap itu membalas pandangannya. Brianna seketika itu juga langsung mengalihkan pandangannya dengan salah tingkah. Mengutuk dirinya karena tertangkap menatap pria itu dengan takjub, harusnya dia tidak melakukannya. Dia harus ingat, ada peringatan yang tidak bisa dia lampui.
Jika Joseph tahu maka tamatlah riwayatnya. Dia akan mendapatkan nilai merah. Brianna tidak akan membiarkan hal itu terjadi.
"Joseph cukup menyebalkan dalam memberikan pekerjaan, kuharap kau akan betah di sana."
Brianna mengangguk saja. Bersyukur karena Devian tidak membahas tentang tatapan mereka yang tadi bertemu.
"Saya mengerti."
"Tidak bisakah kau singkirkan keformalan antara kita?"
"Ya?"
Devian menggeleng. Fokus menatap ke depan. "Itu sedikit mengganggu. Aku tidak terlalu suka ada orang uang bersikap formal padaku, itu semacam phobia sejak kecil."
Brianna ragu. Apa phobia semacam itu ada. "Bagaimana dengan bawahan Anda. Seperti Hendrik tadi?"
"Mereka sudah kuminta seperti itu, tapi mereka bilang lebih suka dipecat jika sampai melampaui batasnya. Jadi aku merasa lebih bagus aku yang tidak tenang dari pada orang-orangku."
Brianna mengangguk saja.
"Tapi kau berbeda, kau adalah karyawan Jose jadi tentu kau bisa bersikap tidak formal padaku bukan?"
Brianna merapikan rambut coklatnya. Mencoba menepis alarm di kepalanya yang sejak tadi memberikan peringatan. Dia sangat tahu kalau tentu saja dengan mudah dia akan bisa menyingkirkan keformalan dalam suaranya pada Devian. Seperti yang dikatakan Devian, mereka tidak memiliki hubungan kerja yang harus membuat Brianna memanggilnya dengan sopan. Tapi apa itu hal yang benar untuk dilakukan.
Brianna hanya takut kalau Joseph akan berpikir dia menggoda kakaknya dan kemudian menyingkir Brianna seperti menyingkirkan wanita itu. Brianna bergidik ngeri membayangkannya.
"Kau baik-baik saja?"
Suara itu menyadarkan Brianna dari lamunannya tentang hal mengerikan yang bisa terjadi pada hidupnya. Dia melihat Devian dengan gelengan kecil.
"Berhenti di sini, Mr. Kando."
Mobil berhenti tepat didepan rumah sewaan yang cukup minimalis tapi terlihat nyaman.
"Ini tempat tinggal saya," beritahu Brianna. Setidaknya dia sudah bebas. Dia sampai di rumahnya dengan selamat sentosa dan utuh.