Brianna segera memutar tubuhnya kembali ke ruangan Joseph saat dia tahu Devian telah pergi dengan selamat. Tentu saja, memangnya siapa yang akan menyentuh pria menyeramkan itu? Tidak akan ada yang berani. Bahkan mendekat saat Brianna merasa enggan.
Jadi aneh rasanya saat ada wanita yang mau bercinta dengan pria itu. Seperti wanita yang baru saja diusir oleh Brianna tentu saja.
Brianna hanya mengangkat bahu dengan tidak peduli. Itu bukan masalahnya. Selama pria itu tidak mengusiknya, dia bisa berbuat apapun yang dia inginkan. Terserah dia dan hidupnya.
Brianna berdiri di depan pintu ruangan Joseph. Dia menenangkan dirinya. Rupanya bersama dengan Devian yang bisa dihitung dengan detik itu sanggup membuat nafas Brianna tidak teratur. Entah apa yang dibawa Devian pada hadirnya, dia membuat orang lain memiliki dua perasaan padanya yang cukup mengganggu.
Pertama kau akan tergoda dan jatuh cinta.
Kedua kau akan ketakutan seakan dia memiliki neraka pribadi di dalam dirinya.
Sayangnya Brianna merasakan perasaan yang kedua. Entah itu harus di sayangkan atau harus di syukuri. Yang pasti tampaknya keduanya bukan hal yang akan di pilih oleh Brianna.
Brianna mengetuk pintu ruangan saat dia sudah merasa lebih baik. Atau setidaknya. Cukup mampu mengatur deru nafasnya sendiri.
"Masuk," suara Joseph terdengar dari dalam.
Brianna segera membuka pintu dan melihat pria itu duduk di sofa. Tidak di kursi kebesarannya, dia malah memilih sofa di mana berkas-berkas telah dia pindahkan ke sana.
"Mr. Rudolf?"
Joseph mengangkat pandangannya. "Kau telah mengantar kakakku?"
Brianna mengangguk. Untung saja Brianna sempat membaca sebuah artikel di mana di sana dikatakan kalau pemilik perusahaan tempat dia akan magang masih mudah dan memiliki seorang kakak. Tidak bisa dipungkiri kalau Brianna langsung bisa menebak Devian sebagai kakak Joseph, mereka seperti tercetak dari percetakan yang sama. Hanya saja bedanya Joseph dingin dan Devian tampak lebih hidup. Walau bagi Brianna keduanya mengancam dengan cara yang tidak akan bagus jika didekati.
Brianna tidak akan mencobanya. Dia hanya ingin aman sampai dia selesai magang di tempat ini.
"Aku ingin kau menggantikan wanita itu sebagai asisten pribadiku. Rektormu mengatakan kalau dia sangat merekomendasikanmu bekerja di sini. Jadi kau pastinya tidak akan mengecewakan aku, kan?"
"Wanita itu, Sir?"
"Ya. Wanita yang baru saja b******u dengan kakakku di kursi kerjaku."
Tunggu, jadi wanita itu adalah asisten pribadi Joseph? Tapi kenapa tadi Joseph seakan tidak mengenalinya.
"Hari ini harusnya menjadi hari pertama dia bekerja tapi kau lihat insiden itu,"
Joseph seakan menjawab tanya di kepalanya. Entah bagaimana, tapi Joseph memang seperti membacanya.
"Baik, Sir."
"Dan juga, ingat satu hal."
Brianna menatap dengan menunggu. Memasang telinganya baik-baik karena Joseph terlihat sangat serius dengan apa yang akan dia katakan.
"Kau tidak kuizinkan tergoda pada kakakku. Jika sampai aku tahu kau menaruh rasa sama dia atau menggodanya makanya katakan selamat tinggal untuk kelulusanmu."
Brianna menelan ludahnya dengan susah payah. Menatap Joseph dengan agak tersinggung. Pria itu seolah menuduh dia akan melakukan hal senista itu. Bahkan niat saja tidak, dia malah takut pada kakak pria itu. Bagaimana mungkin dia akan menggodanya. Dia enggan mendekat pada sosok yang seakan siap menancapkan belati ke jantungmu itu dengan mata terbuka.
"Saya tidak berencana melakukan itu," gumam Brianna. Dia tidak mau Joseph tersinggung dengan pembelaannya.
Tapi tentu Joseph mendengarnya. Pendengaran pria itu sangat baik. "Banyak perempuan mengatakan itu pertama kalinya. Tapi kakakku selalu bisa meraihnya dan menguasainya. Aku hanya ingin kau tahu, Brianna dan mungkin ini bisa kau sebut nasihat. Kakakku bukan orang baik, siapapun yang berhubungan dengannya maka hanya akan ada dua hal untuk akhir mereka."
Brianna menelan ludahnya. Cara Joseph mendeskripsikan kakaknya, walau belum selesai tapi sanggup membuat Brianna merasakan bulu kuduknya meremang. Aneh. Apa yang membuat dua orang yang ditemuinya itu begitu mudah membuat orang lain ketakutan.
"Pertama adalah hancur. Kedua tidak lagi ada di dunia. Mengerti? Dan aku ingin ini menjadi rahasia kecil kita."
Brianna ingin segera melesat dari sana. Meninggalkan Joseph dan bahkan meninggalkan tempat itu. Bagaimana bisa dia direkomendasikan ke tempat ini. Jelas perusahaan ini lebih mirip seperti tempat menggali ketakutan terdalammu. Brianna tidak habis pikir.
"Saya...mengerti, Sir."
"Baik, kau boleh keluar. Jennie akan mengatakan di mana ruanganmu. Teleponmu akan langsung terhubung denganku jadi aku bisa memanggilmu kapanpun aku ingin."
"Baik, Sir."
Brianna segera berlalu dari sana. Beberapa kali gadis itu mengelus dadanya yang seperti genderang perang. Dia harus menenangkan dirinya. Dia hanya harus bertahan di sini enam bulan ke depan, setelah itu dia bisa kembali ke dunianya yang super tenang.
Pintu ruangan Joseph telah di tutupnya dengan perlahan.
"Hai,"
Brianna memutar tubuhnya dan hampir memekik pada sosok yang menyapanya. Melihat seorang gadis cantik berambut pirang yang telah berdiri di sana dengan senyuman ceria.
"Apa aku mengejutkanmu?" tanya wanita itu. "Aku Jeanie, kupikir Mr. Rudolf telah mengatakan tentangku."
Brianna menghela nafasnya. "Maafkan aku, Jennie."
"Kau pasti tertekan di dalam sana. Itu hal yang biasa. Lama-lama kau akan terbiasa. Percaya padaku."
"Ya. Kuharap." Brianna tersenyum. "Aku Brianna tapi panggil saja aku, Els."
"Els? Itu jauh sekali dari nama aslimu."
"Itu nama kecilku. Orangtuaku memberikan nama itu. Namaku Brianna Eloise, mereka yang cukup mengenalku memanggil aku, Els." Cerita Brianna.
"Jadi sekarang aku adalah seseorang yang cukup mengenalmu?" Jennie tertawa. "Lewat sini, Els. Aku akan memperlihatkan ruanganmu."
Jennie berjalan dan Brianna mengikuti di belakangnya. Gadis itu kembali melihat pintu ruangan Joseph, dan kembali pada jalannya. Dia menggeleng. Tidak ingin memikirkan banyak hal. Dia hanya harus mendapatkan sertifikat kelulusan di perusahaan ini dengan nilai yang baik. Hanya itu dan dia bisa pergi.
Semangat, Els!