Brianna meradang dan tentu saja dengan segera menjatuhkan wanita itu secara kejam ke lantai di mana anak tangga telah menyambut wanita itu dan dia berguling dengan bebas. Gadis itu memegang rambutnya yang kusut, wanita itu baru saja menjambaknya dengan marah dan tentu mata penuh dengki. Dasar wanita tidak tahu diri.
"Eh kau gadis kecil, berani sekali dirimu yang hina itu menyeret aku kemari. Kau tidak tahu siapa aku?" Wanita yang masih duduk di atas lantai menunjuk dirinya. Dengan penuh semangat untuk memberitahu Brianna siapa dirinya.
Brianna menatap dengan cemoohan. "Aku tidak peduli siapa kamu. Atasanku ingin kamu dienyahkan dari ruangannya dan aku melakukannya. Walau kamu anak Perdana Menteri itu bukan urusanku tahu."
"Awas kau! Akan aku balas perbuatanmu ini. Aku akan membuat kau menyesal."
Briana mendengus dengan tanpa peduli. "Perbaiki dulu bajumu dan balas aku. Kau sama seperti kucing jalanan sekarang, telanjang tanpa ada yang mau menyentuhnya."
"Kau..."
Brianna memutar tubuhnya dengan kibasan pada rambut coklat panjangnya yang beberapa helai telah keluar dari kuncirannya. Gadis itu meninggalkan wanita yang melakukan sumpah serapah padanya. Dia menulikan diri. Kata-kata semacam itu sudah tidak mempan lagi baginya. Dia kebal.
Setelah masuk ke ruangan berpendingin Brianna tidak memiliki pilihan lain. Dia akan menjadi pusat perhatian banyak orang jika melihat rambutnya yang kusut tidak karuan. Jadi tangannya meraih kuncir rambutnya dan membukanya. Membiarkan rambut itu tergerai dan menyisirnya sedikit. Untung saja rambutnya adalah tipe rambut yang mudah di rapikan. Dia akan menguncirnya lagi nanti.
Brianna sudah berjalan lebih dekat ke ruangan Joseph tepat saat pintu ruangan itu terbuka. Dua sosok keluar dari sana dan tanpa sadar Brianna memperhatikan keduanya. Benar sepertinya mereka adalah saudara, garis wajahnya membuktikan hal demikian. Ketampanan yang sama juga mata dengan warna yang sama. Hijau gelap yang memukau. Menciptakan keselarasan pada cara mereka berada di bumi. Tuhan seperti sengaja menciptakan mereka agar dunia tahu kalau Dia bisa menciptakan mahluk seindah ini.
Dua pasang mata itu menatap ke arah Brianna. Gadis itu mengerjap dan segera mengenyahkan hipnotis pada dirinya. Dia harus menyadarkan dirinya.
Kedua orang itu memberikan respon yang berbeda padanya saat sadar Brianna memperhatikan mereka.
Joseph menatap Brianna hanya sekilas dengan tampilan dingin yang tidak tergugah sama sekali pada apa yang dilakukan oleh Brianna.
Sementara Devian menatap Brianna dengan senyum memukau, sanggup membuat hati gadis manapun luluh dan menyerahkan diri. Tapi Brianna tanpa bisa mencegah dirinya merasa takut dengan tatapan itu, seperti ada sesuatu di dalam diri pria itu yang tidak akan bisa dia bayangkan. Semacam awan mendung di mana kau tidak akan tahu apa di baliknya. Senyuman itu bukannya membuat Brianna kagum, dia malah takut. Seolah pria itu akan sanggup merusaknya hanya dalam satu kali sentuhannya. Bahkan Brianna merasa tubuhnya merinding.
"Brianna?"
Brianna mengerjap. Menatap Joseph yang menatapnya dengan heran. Gadis itu sadar jelas panggilan itu bukan panggilan pertama. Segera Brianna mendekat dan mengutuk dirinya.
"Ya, Sir?"
"Antar Mr. Kando ke lift. Setelahnya kembali ke ruangan saya. Ada sedikit perubahan pada pekerjaanmu."
"Baik, Mr. Rudolf."
Brianna menelan ludahnya. Baru sadar kalau Devian tampak tidak memutuskan pandangan darinya. Tidak ada lagi senyum pada bibir itu, tidak ada lagi godaan di wajahnya. Pria itu murni tengah memperhatikannya. Penuh dengan tanda tanya di matanya. Brianna merasa enggan tapi dia tidak mungkin mencegah pria itu untuk tidak melakukannya.
"Lewat sini, Mr. Kando." Brianna merentangkan tangannya untuk menunjukkan jalan.
Devian menatap Joseph. "Aku pergi."
"Ingat pesanku, jika kau ikuti maka akan aku atasi sepenuhnya."
Devian mengangguk sedikit. "Bulan ini, Jose. Aku akan bisa menahannya hanya sampai akhir bulan ini."
"Aku mengerti."
Devian akhirnya berjalan dengan langkah mantap meninggalkan ruangan adiknya. Brianna ada di depannya memberikan panduan jalan yang memang tidak perlu, hanya saja itu memang prosedur yang telah ditetapkan di perusahaan itu.
Brianna memperhatikan setiap mata dengan berani menatap pada teman berjalannya sekarang. Tidak seperti saat Joseph yang bersamanya dan mereka semua menunduk, mereka mengira kalau Devian memang lebih mudah dipandang tanpa perlu dengan rasa takut. Tapi jelas Brianna heran, apa mereka tidak melihat ada kekejaman di mata hijau itu. Kekejaman kelam yang terpendam, kenapa hanya Brianna sepertinya yang melihat kekejaman itu.
"Kau lebih cantik saat rambutmu tergerai seperti itu."
Brianna hampir menghentikan langkahnya karena terkejut. Suara Devian masuk ke telinganya seolah pria itu ada di dekatnya, tidak, itu lebih seperti pria itu seperti ada di dalam dirinya. Devian benar-benar meraih sisi penakut dalam dadanya dan Brianna tidak memiliki cara untuk mencegah hal itu.
"Kau takut padaku?"
Kembali suara Devian mengalun bagai musik pengantar jenazah. Brianna berdehem. Dia tidak bisa bungkam saja saat seseorang mengajaknya bicara, walau sosok itu menyeramkan baginya. Tapi Devian juga orang penting bagi atasannya.
"Apa yang harus saya takutkan, Mr. Kando? Anda pastinya tidak akan melakukan hal buruk terhadap saya."
Ada senyum yang dirasakan Brianna di belakang punggungnya. Dia tidak ingin memastikan karena tampaknya senyum Devian berpengaruh berbeda padanya ketimbang dengan wanita lainnya.
"Kau cukup pintar, Brianna. Kau tahu apa yang harus kau takutkan. Dalam kasus kita ini, tentu saja seseorang."
Brianna menelan ludahnya. Apa maksudnya? Apa Devian baru saja mengumumkan padanya kalau dia memang semenyeramkan apa yang dibayangkan Brianna? Kenapa Devian harus mengatakan hal itu padanya. Apa pria itu memberikan ancaman terselubung? Tapi kenapa? Brianna tidak melakukan apa-apa.
"Antar aku hanya sampai di sini saja. Aku takut kau akan mati berdiri di depanku, aku tahu jalannya."
Devian segera berjalan dengan lebih cepat. Melewati Brianna dan tidak menatap padanya. Brianna hanya menunduk dan tidak menatap pria itu lagi. Dadanya sudah bertalu ribut di dalam sana. Sedang pria itu dengan santai meninggalkan dia. Sungguh ajaib dia masih bisa berdiri di sana. Setidaknya dia tidak akan bersinggungan dengan Devian cukup sering, untung saja Joseph adalah bosnya dan bukan pria itu. Brianna tidak akan bisa membayangkan kalau Devian menjadi bosnya. Dia bisa mati berdiri kalau seperti itu.
***