Devian menatap dua orang yang ada di ambang pintu. Dia mengulas senyum saat tatapannya bertemu dengan Joseph, adiknya. Pria itu tampak tidak suka tapi tentu saja Devian tidak akan perduli. Joseph bisa tidak suka dengan semua hal di sekelilingnya dan Devian masih tidak akan pernah peduli akan hal itu
Tapi hari ini dia sungguh datang ke perusahaan adiknya dengan satu tujuan. Jadi dia tidak bisa bermain-main hanya untuk mengaduk emosi Joseph, itulah yang membuat Devian bangun dari duduknya. Tidak peduli dengan suara tubuh yang tadi masih dinikmatinya kini telah jatuh mengenaskan ke lantai. Pria itu berdiri dengan angkuh. Kancing kemejanya terbuka dan dia tidak terlihat akan merapikannya.
"Apa yang kau inginkan di sini?" Joseph bertanya. Dingin dan jauh. Mata hijau gelap itu membalas tatapan mata yang sewarna dengan matanya. "Membawa pelacurmu bersama," tambahnya. Menatap wanita yang terlihat sangat tidak cantik dengan tampilan setengah telanjangnya.
Devian berjalan mendekat. Duduk di sofa panjang dengan tatapan wanita telanjang itu mengiringinya. Tatapan itu penuh kekaguman dan sepertinya wanita itu sangat tidak peduli walau Devian baru saja menjatuhkannya dengan kejam. Tatapan kagum hingga bisa menyayat dirinya sendiri. Sehebat itulah ketampanan seorang Devian Kando.
"Aku memiliki masalah."
"Bukankah itu memang kebiasaanmu? Bermasalah?"
"Polisi turun tangan, pembunuhan. Satu keluarga."
"Dev! Hentikan omong kosongmu." Mata hijau Joseph menyala dalam amarah gelapnya. "Pergi!" Pintanya pada wanita telanjang itu. Tapi jelas itu tidak mempan.
Ketenangan Joseph terguncang. Memang sejak kapan Devian datang dengan kedamaian. Tidak pernah sama sekali. Apapun yang disentuh Devian akan hancur, itu telah menjadi kodrat hidupnya.
Wanita itu masih tidak beranjak. Matanya terus tertuju pada Devian dan harapannya adalah Devian meminta dia mendekat agar mereka bisa melanjutkan apa yang tertunda. Wanita itu bahkan tidak terlihat akan menutup dirinya sama sekali.
"Brianna, bawa p*****r itu keluar!" Joseph memerintahkan orang yang akan mau mendengarkan. Entah apa yang selalu diberikan Devian pada korbannya. Wanita-wanita gila itu akan selalu tergila-gila padanya dan dengan sukarela memberikan apapun yang diinginkan. "Sekarang, Brianna."
"Baik, Sir."
Mata Devian jatuh pada wajah gadis itu. Brianna? Rambut coklatnya yang panjang terkuncir dengan rapi dan tinggi. Pipinya dipoles dengan sedikit blush-on tapi jelas itu tidak bisa menyembunyikan kecantikan alami di baliknya. Juga bibir merah muda pucatnya.
Gadis itu sedikit mengingatkannya pada seseorang.
Devian mengulas senyum pada sosok itu sesaat setelah pandangan Brianna jatuh padanya. Segera gadis itu menghindar, tampak sedikit ketakutan di wajahnya dan itu sangat tidak diperlukan. Devian tidak akan menggigitnya. Pastinya percakapan sepenggal yang didengarnya barusan yang menjadi tolak-ukur ketakutan gadis itu.
Brianna membawa wanita itu bersamanya. Jelas wanita itu melawan tapi Brianna bukan lawan yang mudah. Dia tidak mau harus mendengar nada memerintahkan Joseph lagi padanya. Pria itu dingin dan terkesan menyeramkan. Jadi setengah menyeret, Brianna membawa wanita itu.
Setelah gadis itu hilang dari pandangan Joseph dengan p*****r jalanan yang entah ditemukan kakaknya di mana, Joseph mendekat.
"Lain kali kalau kau ingin membeberkan padaku tentang betapa mudahnya kau membunuh, lakukan itu saat kita berdua. Orang-orang tidak akan bangga mendengarnya. Mengerti?"
"Kau yang memulainya."
Joseph jelas tidak akan mendebat Devian. Pria itu akan selalu membenarkan dirinya, dalam kamus hidupnya dia tidak pernah salah sama sekali. Menyebalkan memang.
"Siapa lagi sekarang yang kau bunuh?"
Devian menatap Joseph yang berbicara dengan berjalan ke mejanya. Melihat pads kursinya dengan jijik yang tidak disembunyikan. Melihat itu Devian hanya tersenyum.
"Sudah kuberitahu. Satu keluarga. Kepala keluarganya adalah polisi jadi aku sedikit tidak bisa berkelit. Kau harus membantu aku membereskan semua ini. Kau tentu tidak mau satu-satunya keluargamu harus di penjara bukan?"
Joseph menatap Devian dengan desah kesal. "Aku bahkan berharap tidak memilikinya sama sekali. Keluarga yang kau sebutkan itu hanya hisa menyusahkan saja."
"Tapi tanpaku kau tidak akan bisa di sini, Jose. Kau tentu tidak lupa siapa yang menusuk ayah kita karena sering memukulmu kan?"
Mata Joseph nyalang. Penuh ancaman pada kakaknya.
Devian mengangkat tangannya dengan tubuh yang telah berdiri. Joseph tidak pernah senang hal semacam itu diungkit dan Devian sangat tahu itu. "Maafkan aku, aku tidak akan membahasnya lagi. Aku berjanji."
"Jangan pernah mengungkit semua itu, Dev. Kau tahu aku tidak menyukainya."
"Siap, maafkan aku."
Hela nafas Joseph terdengar. "Aku akan membantumu. Akan kubuat orang lain menjadi tersangkanya tapi kau harus berjanji untuk tidak pernah bercinta dengan siapapun di ruanganku. Aku tidak suka ada wanita aneh di ruanganku."
"Bukan salahku, Jose. Dia yang datang padaku saat aku sedang menunggumu di sana." Devian menunjuk pada kursi di depannya. Di mana di sanalah tempat wanita itu menyodorkan dirinya. "Dia duduk dipangkuanku dan langsung melucuti pakaiannya. Aku hanya menikmati apa yang dia tawarkan, walau tentu saja aku sangat tidak menikmatinya."
Kini kejijikan Joseph menular pada Devian.
"Tunggu, jadi dia bukan p*****r yang kau pungut di pinggir jalan?"
"Tentu tidak, aku tidak suka memungut sampah. Aku lebih suka membunuhnya."
Joseph tampak bingung, jika wanita itu bukan p*****r lantas siapa dia? Kenapa Joseph tidak mengenalnya? Sama sekali. Tidak mungkin ada orang aneh yang masuk ke ruangannya dan menggoda kakaknya. Perusahaannya adalah perusahaan besar, tidak akan ada sembarang orang yang bisa masuk ke sana tanpa izin.
"Baiklah, kau bisa berpikir selama yang kau ingin. Aku pergi."
Devian sudah memutar tubuhnya dengan segera. Meninggalkan Joseph yang tentu mengejar dengan cepat, mensejajarkan langkah mereka.
"Bisa kau janji satu hal?" pinta Joseph.
"Apa?"
"Jangan membunuh dulu dalam waktu dekat. Aku serius."
Devian terlihat menatap dengan keras dan tidak suka. Tapi tampaknya adiknya tahu titik lemahnya hingga Devian pada akhirnya berujar, "aku tidak janji dengan penuh, Josh. Kau tahu cara menghentikan aku. Temukan gadis itu dan aku tidak akan membunuh siapapun lagi. Aku hanya ingin dia. Tapi aku janji akan menahan diri."
Joseph mengangguk. "Aku pasti akan menemukannya untukmu. Aku janji."
Devian mengangguk dan berjalan keluar. Meninggalkan ruangan itu dengan tatapan lurus ke depan dan juga kesan dingin tak tersentuh yang sama persis seperti adiknya. Mata hijau itu berkilat dan penuh ancaman. Hanya orang pintar yang bisa melihat ancaman pada mata itu dan kadang hanya sedikit saja gadis pintar di dunia ini. Mereka semua hanya akan terlalu terpukau dengan betapa tampannya sosok itu tanpa peduli apa dia baik seperti yang terlihat. Atau malah sebaliknya.
Mereka hanya akan sadar sesaat setelah Devian menancapkan pisau di jantungnya. Salah mereka bukan yang salah menilai dirinya?
“Ah ya,” Devian kembali berhenti dan menghadap pada adiknya. “Gadis yang tadi kau bawa…”
“Brianna? Ada apa dengan dia?”
“Bukan apa-apa. Dia hanya sedikit mirip dengan milikku. Tidakkah kau pikir begitu?”
“Jangan macam-macam, Dev. Dia karyawanku.”
“Kau tidak menyenangkan sama sekali.”
***