Gadis itu berjalan meninggalkan lampu merah dengan setumpuk buku di salah satu tangannya, sedang tangannya yang lain memegang ponselnya di mana layar ponsel itu tertulis sebuah alamat perusahaan yang menjadi tujuannya. Dia sejak tadi mencari tapi tampak terlalu kebingungan untuk menemukan tempat itu. Apalagi gadis itu memang tidak mengenal daerah perkotaan itu.
Tapi untung saja matanya jeli dan juga perusahaan itu memiliki tulisan yang sangat besar hingga dia bisa segera mengenali tujuannya.
Buku-buku yang dibawanya berjatuhan. Dia menabrak seseorang. Atau lebih tepatnya, dialah yang ditabrak.
"Maaf... maaf..."
Gadis itu berlutut mengambil buku-bukunya dengan permintaan maaf yang telah terlontar di bibirnya. Sepontan. Setidaknya tata kramanya tidak buruk.
Anehnya adalah pria itu tidak bersuara. Dia berlutut bersama dengan gadis itu dalam memungut buku-bukunya. Tangan mereka tanpa sengaja bersentuhan dan pria itu segera menarik tangannya segera. Sang gadis menemukan kebingungan dalam dirinya, dia sampai harus mengangkat kepalanya untuk memperhatikan pria itu.
Sosok di depannya tidak memiliki deskripsi yang banyak. Menawan cukup untuk menggambarkannya. Dia tampan. Elegan. Menggoda. Itu adalah kata-kata pujian yang cukup mampu disandangnya. Yang pasti, pria itu sempurna. Hanya mungkin satu hal yang kurang, dia dingin. Tidak dalam artian harfiah. Kulitnya memang sungguh dingin dan tentu saja itu membuat sang gadis cukup aneh. Apalagi pria itu langsung menarik dirinya begitu mereka bersentuhan. Seakan dia takut kalau gadis itu akan tahu siapa dirinya.
Dia tidak mungkin seorang vampir kan? Itu sangat konyol.
Gadis itu segera meraih semua buku-bukunya dan mendekapnya. "Terimakasih," ujarnya dan segera bangun. Meningggalkan pria itu untuk berjalan pergi ke salah satu pintu raksasa di mana nama perusahaan yang dicarinya tertera di atas pintu itu.
Sang gadis masuk ke pintu itu dan menemukan kalau pria dingin itu mengikutinya. Dia tidak ingin berpikir yang macam-macam karena tentu saja dia ada di tempat umum. Sudah pasti tidak hanya dirinya yang memiliki kepentingan di sini. Pria itu bisa saja salah satunya.
Dengan kemeja yang mencetak ototnya dan juga beberapa hal mewah di dirinya sudah menyatakan pada gadis itu kalau si pria memang orang kaya dan bukan tidak mungkin dia memang memiliki urusan di tempat semewah ini.
Mereka telah sampai di lift dan pria itu masih berdiri di belakangnya. Dia tidak mau mendekat, dia menjaga jarak dan itu mengganggu gadis itu. Sangat. Saat gadis itu hendak melontarkan suara pintu lift sudah berdenting terbuka. Di dalam sana kosong dan gadis itu masuk. Dia merasakan pria itu juga ikut masuk bersamanya. Di tatapnya CCTV ruangan itu dan bersyukur karena benda itu menyala. Jadi pria itu tentu tidak akan macam-macam dengannya. Setidaknya bersikap waspada tidak akan merugikanmu bukan?
"Lantai berapa?"
"YA?"
Gadis itu membungkam mulutnya dengan rapat. Dia sangat terkejut mendengar pertanyaan itu tapi suara refleksnya yang lebih mengejutkannya. Suara pria itu berat dan serak. Seolah dia memiliki sakit pada tenggorokannya. Tapi bukannya terdengar aneh, suara itu malah terdengar seksi untuknya. Sang gadis juga harus mengingatkan dirinya atas kesiapnya pada suara itu.
"Lantai berapa?" ulang suara itu bertanya padanya.
Pria itu tidak menatapnya tapi jelas sosok itu bicara padanya. Mereka hanya berdua di sana dan pria itu tidak mungkin bicara sendiri bukan?
"Dua puluh."
Pria itu menekan angka yang disebutkan sang gadis. Dia terlihat cukup irit bicara karena kebersamaan mereka harus dilewati dalam diam. Mereka orang asing jadi tidak mungkin bagi pria itu beramah-tamah. Mungkin.
"Kau adalah anak magang, Brianna?"
Brianna menatap pada pria itu. Kerutan samar ada di dahirnya. Sosok itu menyebut namanya dengan fasih. Seolah nama itu telah terapal di lidahnya seribu kali dalam sehari.
"Bagaimana kau..."
"Name tag mu memberitahuku."
Briana menatap ke bajunya dan memeriksanya. Bodoh. Dia harusnya tahu kalau sosok itu memang membaca name tag yang tergantung di lehernya. Brianna menelan ludahnya, dia tadi sudah berpikir yang macam-macam. Sepertinya pengaruh dalam menyukai film horor telah membawanya pada keparnoan yang tidak perlu.
"Oh ya, aku pegawai magang," akhirnya Brianna menjawab. Dengan suara yang agak lega.
"Selamat datang di tempat ini, Brianna. Kuharap kau akan menyukainya."
"Terimakasih, Sir. Anda..."
"Aku, Joseph Rudolf. Orang yang akan menjadi atasanmu."
Mata Brianna melebar. Tidak yakin kalau dia baru saja mendapatkan nama yang baik atau malah buruk di mata bosnya. Ya Tuhan, harusnya dia mendengarkan temannya yang meminta dia mencari tahu wajah-wajah atasannya jadi dia tidak akan sehebat ini dalam tingkahnya. Dia bahkan sempat curiga pada atasannya sendiri. Bodoh Els!
Briana sudah akan mengoreksi semua tentang dirinya termasuk meminta maaf atas sikap tidak sopannya, hanya saja sosok atasannya sepertinya tahu apa yang akan dia katakan hingga pria itu dengan segera lebih dulu bersuara.
"Tidak perlu mengatakan apa-apa, Brianna."
Bertepatan dengan suara itu, pintu lift terbuka dan pria itu dengan segera keluar.
"Ikut aku!" pinta Joseph dengan penuh perintah dan kuasa.
Briana segera berjalan di belakang Joseph dan menatap punggung atasannya itu dengan ludah tertelan tidak tentu. Beberapa orang menyapa mereka tapi Joseph lebih banyak diam. Tidak ada yang tersinggung dengan kediaman sosok itu, mereka mungkin tahu kalau pria itu memang sedingin itu.
Joseph membuka ruangannya dengan lebar dan terdiam melihat pemandangan di depan mereka. Brianna yang malah terkesiap kaget dan segera menutup matanya dengan bukunya.
Di dalam sana tampak dua orang saling b******u mesra dan juga dengan punggung wanita itu yang tidak tertutup apapun. Jelas bagian depannya juga setelanjang bagian belakangnya. Wanita itu sedang duduk di paha seorang pria tepat di kursi kerja Joseph. Joseph tampak hanya menghela nafasnya saja dan melihat dengan tidak berkata-kata. Sampai dua orang itu yang sadar sendiri dengan kehadiran mereka dan menghentikan apa yang tengah mereka lakukan.
***