Chapter 6

947 Words
Devian mematikan putung rokoknya. Dia tahu kalau Joseph tidak pernah suka ada asap rokok di tempatnya, jadi dia harus memastikan tidak membawa masuk asap itu ke penthouse adiknya. Kadang Devian merasa aneh dengan Joseph, terlalu banyak hal yang tidak disukai pria itu. Devian masuk ke dalam lift yang terbuka. Dia menekan angka 21. Tepat satu lantai di atas ruang kantornya, ada penthouse Joseph. Yang sengaja dia buat hanya sebagai tempat dia berisitirahat sejenak saat dia tidak ingin kembali ke rumah dan melihat kelinci kecilnya. Adiknya yang lucu. Dia memelihara kelinci berambut merah di rumah pribadinya, yang tentu saja hanya Devian dan beberapa orang kepercayaannya yang tahu tentang kelinci itu. Devian sendiri pernah sekali melihat kelinci adiknya, secara tidak sengaja tentu saja dan kelinci itu sangat menggodanya. Menggoda untuk dia bunuh dan mendengar erangan kesakitannya tentu saja, tapi dia tidak mungkin melakukannya. Adiknya akan lebih dulu membasmi Devian kalau sampai Devian merencanakan hal semacam itu. Dentingan suara lift yang terbuka kembali terdengar. Lantai yang di tuju sosok itu telah ada di depan mata. Devian masuk dengan merapikan jaket hitamnya. T-shirt putih ada dibalik jaket itu. Dengan celana hitam panjang juga sepatu berwarna putih, dia melangkah bak pangeran penggoda. Wajahnya yang dingin menciptakan keselarasan dengan ketampanannya, bibirnya sedikit basah. Dia tadi sempat menjilatinya sedikit. Sorot matanya tajam dengan warna mata hijau gelap juga bulu mata panjang. Wajah itu kaku tapi menggiurkan. Devian masuk lewat salah satu pintu di mana penthouse itu memang memiliki banyak pintu. Entah apa yang di pikirkan Joseph saat membangun tempat ini, pintu-pintunya yang cukup banyak membuat Devian geleng-geleng kepala. Devian sendiri walau memang kerap berbuat onar, dia kaya. Sangat bahkan. Dengan beberapa bisnis gelap di luar sana yang tentu saja tersemat rapat. Kekayaan Devian tersembunyi dan Joseph sebaliknya. "Jose, aku di sini." Suara langkah kaki terdengar. Devian harus mendongak untuk menemukan Joseph yang tampak hanya mengenakan pakaian kasual. Rambutnya lembab, dia baru saja selesai mandi. Rambut itu berantakan. Wajah yang serupa dengan wajahnya itu membuat Devian berdecak. "Kau mengundang aku kemari untuk melihatmu mandi?" Devian meringis. "Tidak seru," tambahnya dengan nada tidak dilebihkan. Devian dan Joseph memang saudara kembar tapi wajah itu jelas memiliki perbedaan yang mencolok. Juga bagaimana pun orang ingin memiripkan mereka, mereka akan tetap menemukan perbedaan di antara keduanya. Joseph tidak akan pernah bisa menjadi Devian dan Devian tidak akan pernah menjadi Joseph. Mereka memiliki ciri khas yang berbeda. Mata mereka tidak bisa menipu siapapun. "Kau datang sendiri?" Joseph telah berada di bawah. Di lantai yang sama dengan kakaknya. Mereka berhadapan. "Tentu. Kau memintanya begitu. Pengawalku, ada di rumah. Kau aneh sekali, kau tahu itu kan?" Devian memilih duduk di sofa. Menatap pada Joseph santai. "Jennie," panggil Joseph. Devian menatap ke balik punggungnya. Melihat wanita kepercayaan Joseph di sana dengan satu map di tangannya. Tampak menunduk hormat pada Devian yang di balas Devian hanya dengan seringaian. "Sudah kau lakukan semua yang aku minta, Jennie?" "Sudah, Mr. Rudolf. Semua pintu telah di kunci." Devian mengerut. Menatap pada Jennie dengan bingung, lalu kembali ke adiknya. "Apa yang kau rencanakan, Jose? Kau tidak mungkin akan mengakhiri hidupku di sini bukan?" Joseph mendengus. Devian tertawa kecil. "Itu lucu, kau tahu." Pria itu mengerling. Tidak melihat Joseph tersenyum sedikitpun. Adiknya memang pelit senyum. "Cepat katakan apa yang membuat aku ada di sini. Aku ingin segera pulang dan mandi. Sebelum aku tertarik pada darah sekretarismu." Jennie mundur dua langkah. Mata Devian telah menghujam padanya dengan menyeramkan. Wanita itu menelan ludahnya dengan susah payah, mencoba tidak menatap pada Devian saat Devian melihat dia seperti sebuah kesenangan yang akan menyenangkan. "Dia tidak akan melukaimu, Jennie. Berikan map itu padaku." Joseph mengulurkan tangannya. Jennie sekuat tenaga mengabaikan Devian yang masih sibuk menatapnya. Pria itu sangat suka melihat ketakutan di wajah mangsanya, Jennie tampak menggiurkan sekarang. Tapi Jennie tetap berjalan dengan langkah yang agak sempoyongan. Sepertinya perlindungan yang di nyatakan Joseph barusan hanya setengahnya dia percayai. Jennie memberikan map itu dengan tangan gemetar. "Kau boleh keluar, Jennie. Dan kunci pintu kacaku semuanya. Jangan menyisakan satu lubang pun." Devian bersiul. "Kau semakin membuat aku penasaran, Jose. Apa sebenarnya yang kau rencanakan? Kau tidak mungkin ingin mengurung dirimu berdua denganku di sini kan?" Mata Joseph dingin menatap pada kakaknya. Jennie telah keluar, pintu sudah otomatis terkunci lewat alat yang tadi di pegang Jennie. Alat yang diberikan oleh Joseph. Hanya menyisakan mereka berdua di rumah itu, tidak ada jalan untuk pergi. Bahkan lalat saja tidak mampu menyelinap sekarang. Joseph melempar map itu ke meja kaca. Dia sudah duduk di depan Devian terhalang meja kaca. Melihat kakaknya menatap map itu tanpa tertarik. Bahkan Devian terlihat tidak akan menyentuh benda itu sama sekali, dia sungguh tidak tertarik. Devian hanya bersedekap dengan pongah dan menatap adiknya dalam balutan seringaian mengejek. Tapi kali ini, Joseph membalas seringai itu dengan senyuman tipis. "Nama yang di pakainya saat ini adalah Brianna Eloise. Kau tentunya masih ingat dia kan? Tadi pagi kalian bertemu dan kau bilang dia mengingatkanmu pada gadis kecilmu. Kupikir takdir memang cukup senang bermain. Kau bahkan mengenalnya walau hanya dalam prasangka." Mata hijau Devian melebar. Dia tidak menunggu detik berlalu saat tangannya meraih map itu segera. Membukanya dan melihat isinya. Foto gadis yang ditemukannya tadi pagi adalah yang pertama menjadi pusat retinanya. Gadis kecilnya? "Kenapa aku tidak menemukan aroma vanila di tubuhnya?" "Kau harusnya bersamanya lebih lama. Aroma itu tertutup oleh parfum murahan yang dia pakai, parfum itu akan hilang baunya saat dia sudah lebih lama beraktivitas. Aroma yang menyenangkan." Joseph menggoda kakaknya. Dia tidak suka aroma tubuh gadis itu, hanya aroma kelincinya yang bisa menariknya. Devian meremas map itu dengan kasar. Matanya tampak sedikit memerah dengan gurat tidak terkendali. Pria itu akan siap berlari dan mengambil gadis itu dalam cengkramannya. Milikku. Iblis dalam diri Devian mulai mengklaim. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD