Devian tidak lagi menunggu waktu, dia segera bangun dari sofa dan map yang tadi ada dalam genggamannya telah di genggam dengan sangat kuat hingga rusak dan kini jatuh ke lantai dengan menyedihkan.
Pria itu berdiri di pintu dan siap membukanya dengan sekuat yang dia bisa. Tentu saja kesadaran baru menghampirinya dan tatapannya jatuh pada kaca sialan yang telah adiknya kunci. Bukan Devian namanya kalau dia menyerah begitu saja dengan keadaannya. Pria itu menendang pintu. Hasilnya nihil. Dia meraih satu meja kecil yang ada di sana dan tetap kaca itu mengejek dia dengan buruk.
Devian tahu, bahkan walau dia tidak pernah meneliti kaca itu, dia tahu setebal apa kaca itu dan tidak mungkin bisa di pecahnya. Juga Joseph pernah mengatakan kalau dia melapisi kaca itu dengan kaca anti-peluru. Untuk berjaga-jaga katanya.
"JOSE!!!!!"
Devian berteriak. Tangannya hampir terluka karena memukul kaca itu danJoseph tidak tampak akan menghentikannya.
Joseph malah sibuk dengan minuman yang tadi di ambilnya di kulkas dan menonton aksi kakaknya dengan wajah datar seperti biasa. Tidak tampak terhibur tapi tiada raut kasihan di sana. Joseph tidak memiliki rasa kasihan di hatinya dan jelas untuk hal yang satu itu dia sama dengan Devian. Fakta itulah yang membuat Joseph meminta Jennie mengunci dia berdua dengan Devian di tempat ini, Karena Joseph sangat tahu apa yang akan dilakukan Devian sesaat setelah dia tahu.
"Jose, buka pintunya! Aku harus mengambil dia. Milikku."
Mata Devian membara menatap Joseph dengan kemarahan tertuju pada adiknya. Tangannya telah gemetar tapi dia tidak terlihat kesakitan. Jelas tangan itu sedikit retak, ada darah di dalam kulitnya.
Joseph bangun dari duduknya, melihat pada Devian dan tidak bermaksud mendekat. Devian tidak stabil dan pria itu bisa lupa siapa Joseph. Dia tidak akan meresikokan keselamatannya tentu saja. "Kau ingin mengambil dia secara paksa?"
"Tentu saja, dia harus tahu siapa pemiliknya."
"Dan pikirmu dia akan sukarela ikut denganmu?"
"Aku tidak peduli." Bengis mata itu melihat pada adiknya. "Dia milikku, Jose! Jika dia tidak mau dimiliki olehku maka dia tidak seharusnya ada di dunia ini."
Joseph mengangguk dengan pelan. Pria itu bahkan menggosok pelipisnya dengan ibu jarinya, sementara ada gelas minuman di tangan itu. Minuman berwarna merah. Dia sangat mengerti apa yang dirasakan Devian saat ini. Beberapa tahun yang lalu dia juga merasakan hal yang sama. Sebuah tanda kepemilikian kental yang mutlak. Tidak ada yang bisa membantahnya atau menolaknya. Bahkan pemilik tubuh juga tidak.
Itu telah menjadi kodrat alami dalam darah dua bersaudara tersebut.
Tentu Joseph tidak akan menghalangi kakaknya untuk mengambi gadis itu. Jelas Joseph juga tidak memiliki hak untuk ikut campur dalam semua yang menjadi keputusan Devian. Hanya saja ada alasan kenapa Joseph melakukan semua ini dan dia ingin Devian mendengarnya. Pria itu akan sulit mendengar kalau pintu itu terbuka, karena jelas jika itu yang terjadi, yang akan ada di kepala Devian hanya bagaimana caranya sampai secepat mungkin di depan gadis itu lalu memaksa sang gadis menjadi miliknya.
"Kau tidak ingin menggunakan cara yang lebih baik, Dev?"
"Apa maksudmu?" Devian mengangkat satu alisnya. Kemarahan belum meninggalkan wajahnya. "Aku tidak punya waktu untuk melakukan segala omong kosong ini, Jose. Cepat buka pintunya atau aku hancurkan tempatmu!"
Joseph berdecak dengan ketenangan yang masih dia pertahankan. Walau dia sendiri tahu akan sangat mudah bagi Devian melakukan apa yang dia katakan. Tapi melawan Devian untuk saat ini jelas harus dengan ketenangan. "Aku tahu cara kau bisa memiliki, Brianna dengan benar. Membuat dia berada di dekatmu dengan sukarela. Lalu pelan-pelan jatuh cinta padamu."
Devian mendengus. "Kau bercanda? Aku tidak butuh semua itu."
"Tentu saja kau membutuhkannya. Gadis itu takut padamu saat ini, tanpa terkatakan dia memiliki ketakutan di matanya saat melihatmu. Kau tidak menyadarinya?"
Devian diam. Tentu saja. Gadis itu memang takut padanya. Satu-satunya gadis yang menatap dia dengan ketakutan.
"Tampaknya kau tahu?" Joseph memberikan senyum dinginnya saat melihat keterdiaman pada kakaknya.
"Jangan berbelit, Jose. Katakan yang kau tahu."
"Dia adalah saksi atas aksi gila yang kau lakukan pada kedua orangtuanya. Secara tidak langsung tubuhnya mengenalimu tapi otaknya tidak."
Mata hijau gelap Devian melebar tidak percaya. "Tidak mungkin..."
"Malam itu dia di sana, Dev. Dia ada dan kau tidak menyadarinya. Ibunya sepertinya menyembunyikan dia di suatu tempat."
Devian menatap Joseph. Mencari setitik kebohongan di wajah adiknya dan dia tidak menemukannya. Tentu saja karena Joseph tidak memiliki alasan untuk berbohong padanya. Adiknya bukan tipe orang yang akan berbohong. Sama seperti dirinya.
Ingatannya kembali ke lima belas tahun silam. Tepat di malam berhujan saat dia datang ke rumah wanita yang adalah ibu Brianna. Devian datang ke sana sebagai kekasih gelap ibu gadis itu dan meminta suaminya agar berpisah dengannya. Devian mengacaukan keluarga kecil itu hingga sang kepala keluarga hendak memukulnya. Lalu dia membalas dengan maksud membunuhnya. Karena memang itulah tujuan Devian sejak awal meniatkan dirinya datang ke rumah itu.
Devian hanya ingin mereka menyerahkan anak mereka tapi tampaknya wanita itu entah bagaimana telah tahu niatnya dan menyembunyikan anak itu. Devian mencari anak itu ke segala arah tapi nihil. Setiap sudut rumah di carinya dan dia tidak menemukannya. Akan beda ceritanya jika rumah itu memiliki ruang rahasia yang tidak bisa ditemukannya. Jika itu benar, berarti Brianna memang ada di ruangan itu. Melihat dari dalam ruangan aksi kejam Devian pada orang tuanya. Menumbuhkan rasa takutnya pada Devian walau dia tidak melihat wajah Devian dengan baik.
"Jika psikiater tidak menanganinya maka kemungkinan besarnya gadis itu akan ada di rumah sakit jiwa," tambah Joseph.
Tangan Devian terkepal. Dia tidak bisa datang pada gadis itu dan menunjukkan dirinya seperti lima belas tahun silam. Dia tidak mau Brianna memiliki gangguan mental. Tidak seperti dirinya. Tidak akan dia biarkan. Helaan nafas Devian terdengar berat. Dia mengangkat pandangannya dan melihat pada Joseph. Ada harapan di mata hijau gelap Devian, Joseph pastilah memiliki cara untuknya.
"Apa yang harus aku lakukan, Jose?"
***