Ranjiel hanya bisa menatap tak percaya, saat ini ada empat orang masuk ke ruangan kepala sekolah. Cowok itu mengusap wajahnya kasar, kenapa harus seperti ini? Apa yang terjadi? Dan ... cowok itu tak tahu lagi harus mengatakan apa. “Yo, brader ... keknya kita emang jodoh.” Niel tersenyum, ia senang membuat Ranjiel kaget. Wajah Ranjiel begitu menghiburnya. Ranjiel menatap Theo dan Oris, mereka harus dengan sukarela menerima Niel dan satu lagi makhluk cowok menyebalkan. Jika seperti ini, mau tak mau mereka harus bekerja sama dengan mereka juga. “Pak ....” Ranjiel menarik napas panjang. Baiklah, tak ada gunanya untuk mengomentari hal ini lebih jauh lagi, sekarang bukan waktunya memikirkan masalah pribadi, dan bukan waktunya untuk bicara sembarangan dengan Pak Hutapea. Lia yang melihat keha

