Kesabaran yang diuji

1119 Words
Bell pulang sudah berbunyi, Vanka menghampiri Aeere. Bertanya apa yang dia inginkan. "Lo, mau gue lakuin apa sekarang?" "Gue, udah share lok ke whats*p lo, Gue tunggu lo di alamat itu," ujar Aeere lalu pergi meninggalkan Vanka. Vanka pun meninggalkan kelas, menemui Cia yang lebih dulu, berada di mobil mereka. "Mak limper, mau kita melakukan apa kak?" "Aeere minta gue datang ke alamat ini." Vanka memperlihatkan ponselnya kepada Cia. "Ok, kita kesana sekarang." "Bukan kita, tapi gue sendiri. Lo gue anterin pulang buat jaga bayinya, nggak enak menyusahkan orang Ci," tegas Vanka sembari memasang seat belt-nya. "Tapi, kak. Aeere bakal nyusahin Lo nanti, gue nggak mau lo susah, semetara gue enak-enakan di rumah. Kalau Lo susah otomatis gue harus ikutan merasakan ke susahan lo juga," lirihnya berharap diizinkan ikut dengan Vanka. "Apaan sih lo, drama deh. Gue bisa kok mengatasi hal ini sendiri, lo harus nurut sama gue. Jaga dedek bayinya. Kita nggak boleh menyusahkan orang terus Ci." "Kitakan bayar dia kak, bukan cuma-cuma minta tolongnya," sahut Cia masih berusaha. "Tapi kan, dia punya tugas lain yang harus dikerjakan." Cia tidak ingin menimpali ucapan Vanka lagi. Jika Vanka sudah meninggikan nada bicaranya. Itu artinya dia tidak ingin dibantah. Sesampainya di rumah, Vanka berpesan kepada Cia, untuk menjaga dedek bayinya memberi s**u tepat waktu. Vanka kembali melajukan mobilnya menuju alamat yang diberikan, saat di perjalan Aeere menghubunginya. Dengan malas dia memakai earphone lalu mengangkat panggilan itu. "Ada apa?" "Gue mau lo, ambil laundry gue, alamat sudah gue whats*p tu." Vanka segera mematikan ponselnya sebelum wanita yang di juluki Mak limper oleh sahabatnya itu. Memerintahnya dengan permintaan yang aneh-aneh. Vanka bertanya kepada resepsionis yang tersenyum, saat menyambut kedatangannya. "Mbak saya mau ambil laundry atas nama Aeere. Resepsionis itu melihat catatan konsumen yang melaundry di tempat ini." "Maaf kak, saya tidak menemukan nama itu, di daftar konsumen kami yang melaundry di tempat ini." Vanka menghela napas kasar, kenapa mengambil laundry aja harus seribet ini. "Kalau atas nama Zea ada nggak? Vanka bertanya kembali. Resepsionis itu kembali mencari nama yang disebutkan, namun resepsionis itu terlihat bimbang. "Nggak ada ya mbak?" "Iya kak, nama itu juga gak ada di daftar konsumen." "Mungkin teman kakak salah memberi alamat laundry." Vanka pun mencoba menghubungi Aeere, setelah panggilan terhubung. Masih berusaha tenang. Vanka bertanya dimana alamat laundry sebenarnya. "Gue udah datang ke tempat laundry, yang lo suruh, tapi nama lo ataupun Zea nggak ada di situ." "Emang lo ke laundry mana?" "Premium laundry." "Lo nggak read chat dari gue? Tadi tu typo, gue udah kirim ulang tempatnya dimana. Salah lo, nggak read chat dari gue." Vanka mematikan panggilannya, setelah itu mengucapkan terimakasih kepada penjaga laundry. Vanka kembali masuk ke mobilnya lalu melihat alamat yang dikirim Aeere. Masih mencoba menahan emosinya Vanka kembali melanjutkan mobilnya membelah jalan di tengah teriknya matahari, meski beberapa jam lagi sudah sore hari. Vanka meremas roknya, meredam emosinya yang sudah di ubun-ubun. Saat di tempat kedua masih tidak menemukan nama Aeere ataupun Vanka. Andai saja, ini bukan negara hukum, mungkin Vanka akan membunuh kedua gadis yang berani-beraninya mempermainkan seorang Vanka. Gadis itu kembali menghubungi Aeere. "Lo mau mati ya ngerjain gue seperti ini! Sekali lagi gue tanya dimana lo laundry pakaian lo sebenarnya?" "Sabar, gue tadi kan udah hubungin lo, tapi nggak lo angkat, tadinya gue mau bilang Zea salah beritahu alamatnya, itu tempat laundry gue bulan lalu, yang benar king wash laundry." Vanka menarik napas, membuangnya dengan perlahan, mencoba menenangkan dirinya kembali. Gadis itu kembali melajukan mobilnya ke tujuan laundry yang kata Aeere itu laundry yang benar dengan sisa kesabaran yang ada di dirinya. Ternyata Laundry yang terakhir ini memang, ada laundrynya Aeere. Setelah mengambil pakaian yang cukup berat. Vanka melanjutkan tujuan awalnya. Ya itu rumah Aeere. Sesampainya di rumah Aeere, Vanka melangkahkan kakinya menuju kolam renang, setelah scurity menyampaikan pesan jika Aeere, menunggu kedatangannya di kolam renang. Vanka sempat mengerjap, saat melihat kondisi kolam renang Aeere yang penuh dengan sampah dedaunan kering. "Buat apa lo, nyuruh gue ke kolam renang? Jangan bilang lo minta gue untuk bersihkan kolam ini!" "Nah, tu Lo tahu. Lo emang berbakat jadi pembokat, jangan-jangan … emang kerjaan lo pem …." Belum sempat menyelesaikan ucapannya. Leher Aeere dicengkram dengan satu tangan Vanka. "Sekali, aja lo ngatain gue yang nggak benar! Gue pastiin lo nggak akan bisa bicara selamanya." Vanka melepaskan Aeere yang terbatuk karena sempat kehilangan pasokan udara. Vanka mengambil jaring yang berada di dekatnya, lalu mulai membersihkan kolam, sementara Aeere juga Zea masuk ke dalam menenangkan diri karena merasa sedikit ketakutan. Butuh waktu cukup lama membersihkan kolam renang, Hingga bertepatan dengan Azan magrib yang menggema. Vanka baru selesai membersihkan kolam renang itu. Vanka merasa sangat kelelahan. Kurang tidur ditambah pekerjaan yang menguras tenaga. Sangking lelahnya dia tertidur saat usai sholat, masih mengenakan mukenah. "Woi bangun! Malah tidur." Aeere mengguncang tubuh Vanka. "Eh, gue ketiduran, sekarang apa lagi? Lo mau gue ngelakuin apa lagi?" tanya Vanka sembari melepas mukena nya. "Gue sama Zea lapar, masakin kita makan malam ya, yang enak dan nggak pakai lama!" "Lo punya pembokat kan di rumah ini, kenapa nggak minta mereka masakin kalian." "Lo, nggak nyadar ya kalau lo sekarang itu pem …." Aeere tidak jadi melanjutkan ucapannya, saat melihat tatapan membunuh yang diberikan Vanka. "Mak … maksud gue, lo kan udah janji memenuhi permintaan gue karena kalah balapan." Dengan malas Vanka beranjak ke dapur melihat isi kulkas, mengambil bahan-bahan apa saja yang dia masak. Setelah empat puluh lima menit lebih. Vanka berada di dapur, makanan pun sudah siap di tata di atas meja makan. Udang saus padang, tumis pokcoy juga Ayam goreng tepung masakan yang Vanka masak malam ini. Vanka pun menghampiri dua orang gadis yang tengah tertawa menikmati acara di televisi sambil memakan cemilan. Kepala Vanka kembali berdenyut saat melihat keadaan ruang televisi ini. Bantal sofa yang sudah tidak beraturan. Sampah bungkus camilan yang berserakan dimana-mana. "Masakan udah selesai, tugas gue selesaikan, kalau gitu gue pamit." "Tunggu dulu, lo masak apa?" "Udang, ayam goreng, tumis sayur." "Maaf ya, gue nggak bisa makan makanan itu, gue alergi udang," "Gue juga lagi diet," timpal Zea. Vanka mengepalkan tangannya, rasanya di benar-benar ingin mencabik-cabik wajah kedua gadis itu, Merasa waktu yang digunakan untuk masak tadi terbuang sia-sia. "Tersera kalian mau makan atau nggak, yang penting gue udah selesai sekarang, bye." "Tunggu! Lo nggak liat ruangan ini berantakan?" Vanka yang mulai beranjak menghentikan langkahnya. "Terus?" "Ya lo, harus bereskan ruangan ini." "Gue gak mau, kalau mau kalian aja yang bersihkan sendiri." "Tapi, lo masih harus nepati janji lo saat kalah balapan." "Dengan lo, mempermainkan gue untuk mengambil laundry, membersihkan kolam juga memasak. Gue rasa itu sudah cukup," tandas Vanka meninggalkan kedua gadis itu. Sementara Aeere tidak berani, untuk menahan Vanka setelah lehernya tercekik tadi.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD