bc

Istri CEO yang Dijual ke BOS MAFIA

book_age18+
0
FOLLOW
1K
READ
revenge
dark
badboy
mafia
heir/heiress
drama
bxg
city
office/work place
enimies to lovers
office lady
like
intro-logo
Blurb

Suaminya menjualnya demi melunasi hutang.

Dalam satu malam, hidup Seraya Valeen berubah selamanya. Kaiven Rethan, suaminya sendiri, menyerahkannya kepada Ivar, seorang bos mafia yang ditakuti banyak orang.

Seraya mengira hidupnya telah berakhir. Namun semakin lama berada di sisi Ivar, ia justru menemukan kenyataan yang tak pernah ia bayangkan. Pria yang dikenal kejam itu menjadi satu-satunya orang yang benar-benar melindunginya, sementara suaminya menyimpan pengkhianatan yang jauh lebih besar daripada sekadar menjual dirinya.

Ketika rahasia di balik kematian kedua orang tuanya, hilangnya warisan keluarga, dan kebusukan Kaiven mulai terungkap, Seraya dihadapkan pada pilihan yang akan mengubah hidupnya selamanya: kembali kepada pria yang telah mengkhianatinya, atau mempercayai pria yang selama ini paling ia takuti.

Saat cinta berubah menjadi pengkhianatan, masih adakah keberanian untuk mempercayai seseorang lagi?

chap-preview
Free preview
Bab 1: Dijual
"Apa maksud semua ini, Kaiven?" Suara Seraya Valeen bergetar pelan. Tatapannya bergantian antara suaminya dan seorang pria asing yang duduk tenang di sofa seberang. Wajah pria itu dingin tanpa ekspresi, sementara beberapa pria berbaju hitam berdiri berjaga di sekitar ruangan. Tanpa sadar Seraya menggenggam lengan Kaiven. "Siapa mereka?" Kaiven menghela napas panjang sebelum menjawab. Tatapannya sempat menghindari Seraya, seolah berat untuk mengucapkan apa yang akan disampaikannya. "Aku ingin memberitahukan sesuatu. Ada masalah di perusahaan." Jantung Seraya langsung berdegup lebih cepat. Ia menatap Kaiven dengan cemas. "Masalah apa?" Kaiven terdiam sesaat. Jemarinya mengepal perlahan sebelum akhirnya ia berkata, "Proyek yang kutangani gagal." Ia menarik napas pendek. "Bukan hanya gagal. Rekan bisnisku membawa kabur dana proyek." Seraya membelalak. "Apa?" Kaiven menundukkan pandangan, lalu mengusap wajahnya dengan lelah. "Perusahaan digugat dan aku harus membayar ganti rugi." Seraya segera mendekat. "Kenapa baru sekarang kau bilang? Bukankah setiap aku bertanya, kau selalu bilang semuanya baik-baik saja?" Kaiven tersenyum lelah. "Aku tidak ingin membuatmu ikut khawatir, aku pikir aku masih bisa menyelesaikannya sendiri. Tapi ternyata aku gagal." Seraya menatap suaminya tidak percaya. "Kenapa kau memikul semua ini sendirian? Aku ini istrimu, Kaiven. Bukankah kita sudah berjanji akan menghadapi apa pun bersama?" Kaiven tersenyum tipis. "Aku tidak ingin melihatmu menangis. Aku pikir semuanya bisa kuselesaikan sebelum kau mengetahuinya. Tapi aku salah." Air mata Seraya jatuh tanpa bisa ditahan. "Lain kali jangan seperti itu lagi. Apa pun masalahnya, ceritakan padaku. Aku tidak ingin menjadi istri yang hanya tahu menikmati hidup tenang." Air mata Seraya mulai menggenang. Sejak kedua orang tuanya meninggal lima tahun lalu, Kaiven selalu menjadi tempatnya bersandar. Pria itu yang mengurus semua urusan keluarga, termasuk perusahaan yang ditinggalkan ayahnya. Karena itulah Seraya tidak pernah meragukan apa pun. "Maaf... Aku benar-benar tidak tahu." Kaiven menggeleng. "Bukan salahmu." Seraya menggenggam kedua tangan suaminya. "Kita masih punya rumah. Kita bisa pindah ke kontrakan dulu. Aku tidak malu memulai dari nol, aku juga masih sehat, aku bisa bekerja. Kalau perlu aku akan membantu di perusahaan, sedikit demi sedikit kita pasti bisa membayar semuanya." Kaiven hanya memandang wajah istrinya. Tatapan itu dipenuhi rasa iba atau setidaknya begitulah yang dilihat Seraya. Beberapa detik kemudian ia berkata lirih, "Semuanya sudah terlambat." Seraya menggeleng. "Belum. Kita pasti masih bisa mencari jalan." Kaiven memejamkan mata sesaat. "Kalau malam ini aku tidak bisa membayar... aku akan dipenjara." Wajah Seraya langsung memucat. "Tidak... Aku tidak mau itu terjadi. Kalau kau dipenjara... aku benar-benar sendirian." Ia menggenggam tangan Kaiven semakin erat. "Pasti masih ada cara. Kita cari bersama. Aku tidak akan membiarkanmu menghadapi ini sendirian." Kaiven mengangguk. "Aku tidak ingin membuatmu khawatir." Kalimat itu langsung meruntuhkan pertahanan Seraya. Ia memeluk Kaiven erat. "Maaf... Aku akan membantumu. Apa pun caranya, asal kau tidak dipenjara." Kaiven membalas pelukan itu, tetapi tatapannya sempat melirik ke arah pria asing yang duduk di sofa. Tatapan mereka bertemu sesaat, ada sesuatu dalam sorot mata pria itu yang membuat Kaiven terdiam sejenak sebelum akhirnya perlahan melepaskan pelukan istrinya. "Aku sudah mencoba semua cara. Tapi tetap tidak cukup." Seraya mengerutkan kening. Ia mengikuti arah pandangan Kaiven dan akhirnya menyadari keberadaan pria yang sejak tadi duduk diam di sofa. Barulah Seraya kembali menoleh kepada pria asing itu. "Siapa dia?" Kaiven terdiam sesaat sebelum menjawab, "Orang yang bisa menyelesaikan masalahku." Seraya tanpa sadar menoleh ke arah pria itu. Pria itu tetap duduk tenang, tatapannya tidak lepas dari Seraya, seolah sedang menilai setiap reaksi wanita itu. Harapan langsung muncul di wajah Seraya. "Kalau begitu kita pinjam uang darinya. Nanti kita cicil, aku juga akan bekerja." Kaiven menggeleng pelan. "Tidak semudah itu." "Memangnya apa yang dia minta?" Ruangan kembali sunyi. Pria di sofa masih belum mengatakan apa pun. Tatapannya hanya berpindah dari Kaiven kepada Seraya, sesekali jemarinya mengetuk pelan sandaran kursi. Wajahnya tetap datar, seolah seluruh percakapan itu tidak ada hubungannya dengan dirinya. Justru sikap tenang itu membuat Seraya semakin gugup. Ia tidak tahu siapa pria itu. Namun entah kenapa, keberadaannya membuat ruangan terasa semakin menyesakkan. Kaiven menarik napas panjang. "Ada satu syarat." Seraya menatapnya penuh harap. "Katakan. Apa pun akan kulakukan." Kaiven menatap mata istrinya lama. "Kalau semua ini bisa menyelamatkanku... apa kau akan menyesal?" Seraya tersenyum tipis di balik air matanya. "Selama kau baik-baik saja... aku tidak akan menyesal." Kaiven memejamkan mata. "Terima kasih." Ia lalu membalikkan badan menghadap pria asing itu. "Aku setuju." Pria itu akhirnya bergerak. Ia meletakkan cangkir kopinya di atas meja, lalu menyandarkan tubuhnya ke kursi. Tatapannya tetap tertuju pada Kaiven. "Kau yakin?" Kaiven mengangguk mantap. "Ya." Ivar terdiam beberapa saat. Jemarinya mengetuk pelan permukaan meja sebelum akhirnya ia berkata, "Keputusan ini tidak bisa dibatalkan." Kaiven menatapnya tanpa ragu. "Aku tahu." Seraya mulai panik. "Kesepakatan apa? Kaiven? Kalian sedang membicarakan apa?" Kaiven menatap istrinya. Tatapan yang terasa begitu asing. "Maafkan aku." Jantung Seraya mencelos. Ia mengerutkan kening, sementara perasaan tidak nyaman mulai muncul di dadanya. "Kenapa kau minta maaf?" Kaiven mengalihkan pandangan sejenak. Rahangnya mengeras sebelum akhirnya kembali menatap Seraya. "Tadi kau bilang... kau rela melakukan apa saja demi menyelamatkanku." Seraya mengangguk pelan. "Iya." Kaiven menoleh kepada pria asing itu. "Mulai malam ini... Seraya menjadi jaminan atas seluruh hutangku." Kalimat itu menghantam Seraya lebih keras daripada tamparan. Dadanya sesak, napasnya tercekat. Untuk beberapa detik, ia bahkan tidak mampu memahami apa yang baru saja didengarnya. "Apa...?" suaranya nyaris tak terdengar. Kaiven mengulanginya. "Aku menjadikan Seraya jaminan sampai seluruh hutangku lunas." Tubuh Seraya melemas. Ia menutup mulutnya dengan kedua tangan, air matanya terus mengalir. Semua terasa begitu mendadak. Namun setiap kali melihat wajah Kaiven yang tampak putus asa, hatinya kembali goyah. Pria itu adalah suaminya, orang yang paling ia percaya di dunia. Jika benar hanya ini satu-satunya cara, mungkin ia memang harus berkorban. Ia menatap Kaiven dengan mata berkaca-kaca. "Kita... masih bisa menjual semuanya. Asal kita tetap bersama." Kaiven menggeleng. "Sudah terlambat, tidak ada cara lain untuk menyelamatkan ini." Seraya menggigit bibir. "Kalau aku ikut dengannya... kau benar-benar akan selamat?" "Iya, aku akan selamat. Perusahaan juga masih bisa diselamatkan dan setelah semuanya selesai... aku akan menjemputmu." Seraya menatap wajah suaminya lama. Ia ingin menemukan sedikit saja kebohongan, namun yang ia lihat hanyalah pria yang selama ini selalu dipercayainya. Air matanya jatuh tanpa henti. "Aku takut..." Kaiven menggenggam tangannya. "Percayalah padaku. Ini hanya sementara, aku janji." Seraya menarik napas panjang. Dadanya terasa sesak, tetapi ia tetap mengangguk pelan. "Kalau itu bisa menyelamatkanmu... aku akan menurutimu." Ucapan itu terasa seperti merobek hatinya sendiri. Namun dibanding kehilangan Kaiven, ia memilih mengorbankan dirinya. "Tapi jangan lama. Aku akan menunggumu." Untuk sesaat Kaiven hampir tersenyum. "Aku janji." Seraya mengusap air matanya, lalu membalikkan badan menghadap pria asing itu. Tatapannya tak lagi seragu sebelumnya. "Baik, mari kita pergi." Barulah pria itu berdiri. Tatapannya tetap dingin, namun ketika melihat wajah Seraya yang penuh harapan, ada sesuatu yang berubah di sorot matanya. Ia lalu menoleh kepada Kaiven. "Sudah selesai?" Kaiven mengangguk. "Iya." "Kalau begitu." Pria itu menatap Seraya. "Ikut denganku." Sebelum pergi, Seraya kembali memeluk Kaiven. "Jangan lupa janjimu. Aku akan menunggumu." Kaiven membalas pelukan itu. "Tunggu aku." Seraya tersenyum tipis di tengah tangisnya, lalu melangkah keluar. Pria asing itu berhenti sejenak di ambang pintu. "Suatu hari... kau akan menyesali keputusanmu." Kaiven hanya tersenyum. "Aku rasa tidak." Pria itu pun melangkah pergi. Begitu pintu tertutup, senyum hangat di wajah Kaiven perlahan menghilang. Ia bahkan tidak menoleh ke arah pintu yang baru saja tertutup. Yang tersisa hanyalah seringai tipis tanpa sedikit pun rasa bersalah.

editor-pick
Dreame-Editor's pick

bc

Terpaksa Menjadi Istri Kedua Bosku

read
24.4K
bc

Dinikahi Karena Dendam

read
238.3K
bc

Kali kedua

read
223.5K
bc

Sentuhan Semalam Sang Mafia

read
197.2K
bc

Bukan SEX-retaris Simpanan

read
26.7K
bc

MENCINTAIMU TANPA SENGAJA

read
1.3K
bc

Langit Tak Selalu Abu-Abu

read
125.5K

Scan code to download app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook