Aku duduk dengan gelisah saat dokter sedang memeriksa keadaan Ibu. Pikiran negatifku semakin menjadi-jadi. Aku takut penyakit jantung Ibu bertambah parah. Aku tidak punya orangtua lagi selain Ibu. Aku benar-benar takut kehilangannya.
"Tenang," ucap Pak Aarav yang sedari tadi menemani di sampingku. Mungkin dia menyadari gelisahan yang aku rasakan.
Aku menatapnya dengan tatapan sendu. "Takut Ibu kenapa-kenapa," ucapku pelan.
Tiba-tiba fokus kami teralihkan saat mendengar suara pintu yang terbuka. Rupanya dokter baru saja selesai mengecek kondisi Ibu. "Dengan keluarga Bu Zila?" Aku mengangguk sambil berdiri, "bisa kita bicara? Di ruangan saya." Aku mengangguk kecil lalu mengikuti langkahnya.
Baru saja dua langkah aku berjalan, tiba-tiba langkahku mendadak terhenti. Aku benar-benar lemas sampai berjalan pun tidak sanggup. "Kenapa?" tanya Pak Aarav yang dengan sigap langsung menghampiriku.
"Lemas banget." Kebiasaanku, kalau sedang panik dan gelisah, tubuhku mendadak melemas.
"Mau saya antarkan?" Aku memandangnya dengan tatapan segan. Aku hanya tidak ingin merepotkannya terlalu banyak. Dia sudah menolong dengan membawa Ibu ke rumah sakit, rasanya aku sudah benar-benar merepotkannya, "saya antarkan ya," ucapnya.
Kami berjalan bersamaan menuju ruangan dokter. "Masuk sendiri, bisa? Atau saya tunggu di sini saja?" tanyanya saat kami berada di depan pintu.
Sebenarnya aku ingin dia masuk dan menemaniku di dalam. Namun, aku cukup tahu diri. Pembicaraanku dengan dokter nanti adalah hal yang cukup sensitif, hal yang berhubungan dengan keluargaku. Bagaimana pun juga Pak Aarav masih tergolong orang yang asing bagi kami sehingga rasanya dia tidak perlu tahu tentang penyakit Ibu.
"Saya bisa sendiri, Pak."
"Oh, ya sudah. Silahkan. Saya tunggu disini ya." Dia duduk di sebuah bangku panjang, sedangkan aku melangkah masuk ke dalam ruangan dokter.
Beberapa saat kemudian, saat aku keluar dari ruangan dokter tangisku langsung pecah begitu saja. Aku mendekati Pak Aarav yang memandangku dengan wajah terkejutnya. Tidak ada percakapan yang kami lakukan. Aku hanya duduk di sampingnya dan dia mengusap bahuku, menyalurkan ketenangan disana.
"Ibu, Pak. Ibu saya," ucapku sambil diselingi dengan isak tangis.
"Kenapa dengan Ibumu? Bagaimana keadaannya?" tanya Pak Aarav tak kalah khawatir.
Saat aku ingin menjawab, lidahku mendadak keluh. Rasa sedih, khawatir, dan rasa takut kehilangan mendadak keluar semua. Aku menangis dengan lebih histeris. "Pak Aarav. Aku enggak mau kehilangan Ibu," dia hanya memandangku dengan tatapan yang tidak bisa aku artikan, "boleh peluk ga? Biasanya aku kalau sedih suka peluk Ibu, peluk adik-adik, tapi adik-adik kan enggak ada disini. Mereka di rumah."
Tanpa menunggu lama, dia langsung membawaku ke dalam pelukannya. Bermenit-menit aku terdiam sambil merasakan ketenangan dan kehangatan yang dia salurkan. Sampai dua puluh menit kemudian, aku baru tersadar. Aku telah meminta pelukan dari dosen seramku.
Saat ini, aku bukan hanya merasa sedih, khawatir, dan takut, tapi ditambah lagi dengan rasa malu.
Bisa-bisanya aku terlalu terbawa suasana.
"Bapak, maaf," ucapku sambil melepaskan pelukanku sepihak. Dia hanya terdiam sambil menyunggingkan senyuman tipisnya.
Bersambung