"Bapak, maaf."
"Saya terlalu terbawa suasana jadi enggak sopan tadi."
"Seharusnya saya enggak minta peluk-peluk begitu. Saya kurang ajar sekali ya."
"Sekali lagi, maaf ya, Pak." Aku memandangnya dengan tatapan merasa bersalah. Untung saja Pak Aarav hanya sebagai dosen pembimbing sehingga tidak ada penilaian sikap darinya.
Pria itu hanya mengangguk lalu mengeluarkan sebungkus roti dari tasnya. "Kamu makan dulu. Waktu sudah menjelang pagi, kamu pasti lapar," ucapnya sambil memberikan roti itu kepadaku.
Aku terdiam menatapnya tanpa berkedip. "Ini, Dhara. Dimakan," ucapnya lagi. Aku mengambil roti itu lalu membuka bungkusnya.
Di otakku tiba-tiba terlintas kata-katanya yang menyatakan bahwa pagi ini dia akan ada pertemuan dengan dosen-dosen dari universitas lain. Seharusnya dia sudah pulang dari tadi dan bersiap-siap untuk pergi, tetapi pria ini masih disini menemaniku.
"Bapak enggak jadi pergi? Katanya pagi ini ada pertemuan dengan dosen-dosen di luar Jakarta," ucapku mengingatkan.
Dia berdeham singkat lantas mengangguk. "Iya, tapi saya bisa minta dosen yang lain untuk mewakili saya."
Eh?
"Kenapa harus diwakilkan? Bapak kan bisa pergi," ucapku sebelum mengigit roti yang dia berikan.
"Saya mau disini, menemani kamu."
Eh? Gimana?
"Saya mau ke depan dulu." Dia bangun dari duduknya lalu pergi. Aku masih di sini, memakan roti pemberiannya sambil menatapnya dengan tatapan aneh.
Beberapa saat kemudian, aku melangkah masuk ke dalam kamar rawat Ibu. Aku duduk di kursi sebelah bangkarnya sambil mengelus tangannya pelan. Aku menatapnya dengan seksama, dalam keadaan tidur pun wajah Ibu terlihat benar-benar pucat.
Ibu memiliki riwayat penyakit jantung sedari dulu. Dia seharusnya tidak bekerja terlalu keras karena saat dia kelelahan penyakit jantungnya berpotensi besar untuk kambuh.
Apalagi tadi dokter mengatakan penyakit jantung Ibu telah merambah ke organ lain. Ada penyumbatan pada pembuluh darah di paru-paru sehingga saat ini kondisi Ibu harus dirawat secara intensif. Apabila terlambat ditangani, penyakit ini dapat berakibat fatal.
Aku menghela napas berat. Bukan hanya kondisi Ibu yang menjadi beban pikiranku, tetapi juga adik-adikku. Kondisi Ibu yang seperti ini tentunya mengharuskan Ibu untuk berhenti bekerja sehingga tidak ada lagi yang mencari nafkah dikeluarga kami, sedangkan adik-adikku masih membutuhkan banyak biaya untuk sekolahnya.
Tiba-tiba ada suara pintu yang diketuk dari luar. Aku menoleh ke arah sumber suara dan terlihatlah Pak Aarav yang sedang berdiri di balik pintu yang sedikit terbuka. "Saya boleh masuk?" Aku mengangguk pelan lalu pria itu berjalan masuk dan meletakkan sebuah parsel buah di meja.
Setelah itu, dia berjalan mendekatiku lantas memberikan sebotol air mineral ke arahku. "Tadi makan belum minum kan? Minum dulu."
Aku benar-benar tidak mengerti dengan tindakannya.
Aku hanya salah satu dari sekian mahasiswi bimbingannya dan hubungan kami juga tidak sedekat itu, tetapi aku merasa tindakan baik Pak Aarav terlalu berlebihan.
Atau jangan-jangan, dia bertindak seperti ini karena iba dengan keadaanku?
Bersambung