Aku keluar dari ruang inap Ibu lalu duduk di bangku depan. Helaan napas terdengar beberapa kali dari mulutku. Sudah seminggu Ibu di rawat disini dan tampaknya belum ada juga perkembangan ke arah lebih baik. Untung saja Ibu mempunyai jaminan kesehatan dari tempatnya bekerja sehingga segala biaya rumah sakit tidak perlu aku pikirkan.
Saat ini yang aku pikirkan adalah kondisi keuangan keluargaku yang semakin lama semakin menyusut. Meskipun kedua adikku bersekolah di sekolah negeri, tetapi tetap saja ada biaya uang jajan yang harus aku berikan.
Setiap harinya selalu ada pengeluaran dari tabungan keluargaku yang jumlahnya tidak seberapa. Selalu pengeluaran, tanpa ada satu kali pun pemasukan.
Aku tahu, aku tidak bisa berdiam terus. Aku harus mencari kerja demi memenuhi kebutuhan keluargaku karena saat ini aku lah yang menjadi tulang punggung keluarga.
"Kakak!" suara Dani tiba-tiba mengejutkanku. Aku menoleh ke arah sumber suara, Dani dan Lulu berjalan mendekatiku. Baju seragam masih melekat di tubuhnya. Memang, biasanya sehabis pulang sekolah mereka berdua langsung pergi kesini.
"Kakak kok enggak kuliah terus? Emang kuliahnya libur?" tanya Lulu sambil duduk di sebelahku.
Ah, iya. Aku baru teringat tentang kerangka penelitianku yang sampai saat ini belum juga tersentuh. Terlalu fokus memikirkan keadaan Ibu dan juga kondisi keuangan keluarga kami sampai tidak ada waktu untuk memikirkan itu.
Aku terdiam sebentar kemudian tersenyum tipis. "Kalau Kakak kuliah, nanti yang jaga Ibu siapa?" tanyaku membalikkan pertanyaannya.
Lulu terdiam sambil menatap ke arah Dani. Adik pertamaku itu langsung menatapku dengan tatapan penuh keyakinan. "Dani dan Lulu bisa jaga Ibu. Kita gantian aja, Kak. Nanti kalau ada apa-apa Dani bisa telepon Kakak."
Benar juga.
"Iya, Kak. Kakak sekarang ke kampus nanti Bapak guru yang kemarin marah loh gara-gara Kakak bolos terus," ucap Lulu dengan polosnya. Aku terkekeh pelan sebelum mengusap rambut panjangnya.
"Kakak pergi sekarang ya?"
"Iya, Kak."
"Nanti kalau ada apa-apa telepon ya. Kalau dokter nanya apa-apa, telepon Kakak aja. Biar Kakak yang jawab."
"Siap, Kak."
Aku melirik ke arah jam, waktu sudah menunjukkan pukul satu siang. Tanpa pikir panjang, aku langsung mengambil tasku dan pergi dengan menggunakan angkot. Tujuanku bukanlah kampus, tetapi rumah. Aku bersiap-siap dan berusaha untuk mencari kerja.
Di sepanjang perjalanan, aku berusaha berpikir keras aku harus melamar kerja dimana. Hanya bermodalkan ijazah SMA, saat ini tampaknya sulit untuk mendapatkan pekerjaan.
Tiba-tiba, aku teringat tentang Caca dan toko bunga miliknya. Mungkin saja perempuan itu bisa menolongku dengan memberikan pekerjaan. Dengan pergerakan cepat, aku langsung merogoh ponselku dan segera menghubunginya.
"Eh, elu. Di chat enggak dibalas-balas. Sok sibuk banget sih. Gue perasaan ngerjain skripsi enggak sesibuk elu," cerocos panjangnya saat panggilan tersambung.
"Ca. Lagi dimana?" tanyaku cepat.
"Di rumah. Ngerjain skripshit."
"Ada yang mau gue omongin, Ca."
"Serem amat. Ngomong disini aja bisa kali."
"Harus ketemu, Ca."
"Yaudah. Lo lagi dimana?"
"Mau ke rumah."
"Yaudah. Gue langsung ke rumah lo nih."
"Eh. Gue aja yang ke rumah lo, Ca."
"Gue mau ke rumah lo."
Tiba-tiba panggilan terputus sepihak. Sahabatku ini memang kebiasaan.
Bersambung