"Jadi begitu, Ca. Gue bingung harus ngelamar kerja di mana. Gue kan cuma punya ijazah SMA dan juga gue butuh pekerjaan yang cepat."
Caca mengangguk-angguk pelan. Dia memandangku sambil tersenyum tipis. "Bisa sih sebenarnya kalau lo mau kerja di toko bunga keluarga gue," ucap Caca yang langsung mampu membuat kedua mataku berbinar-binar.
"Beneran, Ca?"
"Iya. Gue saat ini udah punya tiga karyawan, ya kalau nambah satu orang gapapa," Caca mengambil sesuatu di dalam dompetnya lalu memberikan sebuah kartu nama kepadaku, "itu alamatnya. Besok lo ke sana aja setelah adik lo pulang sekolah. Nanti jam tujuh-an lo boleh pulang," ucap Caca dengan begitu tenang.
Ini ceritanya aku langsung diterima. Aku masih tidak menyangka mendapatkan pekerjaan dengan cara secepat ini.
"Gue kerjanya ngapain, Ca? Gue enggak bisa merangkai bunga, Ca. Gue kan enggak ngambil kejuruan tentang hal itu."
"Dih, kocak, enggak mungkin jadi florist juga lah," Caca mengambil bantal sofa lalu dia memeluknya, "ya bantu-bantu aja di sana. Bantu ngerawat bunga-bunga. Nanti lo kenalan aja ya sendiri. Ketiga karyawan gue udah punya job description-nya masing-masing. Nanti lo bantu-bantu mereka aja."
Aku mengangguk cepat. "Oke, Bu, bos. Mulai besok gue udah langsung bisa kerja ya."
"Iya. Semangat. Jangan sampai telat sahabat sekaligus karyawan baruku," ucapnya yang langsung mendapatkan kekehan pelan dariku, "eh, yaudah. Gue mau pulang. Mau ngerjain skripshit lagi."
"Skripsi, Ca."
"Skripshit."
Beberapa saat kemudian, Caca pulang dan meninggalkanku yang masih terdiam di rumah. Aku kembali melihat jam, waktu masih menunjukkan pukul dua.
Kalau ke kampus, Pak Aarav ada tidak ya?
Untuk menjawab pertanyaan itu, aku segera menghubungi Pak Aarav dan menanyakan tentang hal tersebut.
Anda
Assalamualaikum selamat
siang, Pak. Saya mau
nanya, hari ini Bapak
sedang ada di kampus
tidak ya? Kalau ada
saya mau ketemu
dengan Bapak
Terima kasih Pak
sebelumnya
Maaf menganggu
waktunya
Setelah mengiriminya pesan, aku menunggu balasan darinya. Tidak lama kemudian ada notifikasi pesan balasan darinya.
Pak Aarav
(Dosen Rese)
Assalamualaikum selamat
siang, Pak. Saya mau
nanya, hari ini Bapak
sedang ada di kampus
tidak ya? Kalau ada
saya mau ketemu
dengan Bapak
Terima kasih Pak
sebelumnya
Maaf menganggu
waktunya
Pak Aarav
(Dosen Rese)
Kamu di mana?
Anda
Saya belum ada
di kampus, Pak
Kalau Bapak di
kampus, saya berangkat
Pak Aarav
(Dosen Rese)
ke sana sekarang
Kamu di mana,
Dhara?
Anda
Di rumah
Pak Aarav
(Dosen Rese)
Cepat ke sini
Saya enggak ada
teman ngobrol
Anda
Teman ngobrol?
Bapak ada di mana?
Bapak ada di kampus?
Pak Aarav
(Dosen Rese)
Enggak ada
Anda
Lalu, ada di mana?
Di rumah sakit
Pak Aarav
(Dosen Rese)
Saya lagi jenguk Ibu kamu
Kaget. Kaget. Kaget.
Karena terlalu kaget dengan refleks aku langsung menjatuhkan ponselku. Dosen ini aneh banget. Tindakan-tindakannya terkadang terlalu sulit untuk aku mengerti maksud dan tujuannya.
Ponselku tiba-tiba berdering dan menampilkan panggilan masuk dari Pak Aarav. Aku menarik napas panjang sebelum mengangkatnya.
"Ayo cepat ke sini."
"Mau saya jemput?"
"Dhara? Jangan diam aja kamu."
Aku mengerjapkan mataku lalu bergegas keluar dari rumah. "Iya, Pak. Ini siap-siap mau on the way."
"Tunggu di rumah aja. Saya jemput."
"Eh, Pak. Jangan. Saya bisa sendiri."
"Kelamaan kamu." Panggilannya langsung terputus.
Emangnya kalau cepat-cepat mau ngapain?
Bersambung