❗S e b e l a s❗

518 Words
"Jadi begitu, Ca. Gue bingung harus ngelamar kerja di mana. Gue kan cuma punya ijazah SMA dan juga gue butuh pekerjaan yang cepat." Caca mengangguk-angguk pelan. Dia memandangku sambil tersenyum tipis. "Bisa sih sebenarnya kalau lo mau kerja di toko bunga keluarga gue," ucap Caca yang langsung mampu membuat kedua mataku berbinar-binar. "Beneran, Ca?" "Iya. Gue saat ini udah punya tiga karyawan, ya kalau nambah satu orang gapapa," Caca mengambil sesuatu di dalam dompetnya lalu memberikan sebuah kartu nama kepadaku, "itu alamatnya. Besok lo ke sana aja setelah adik lo pulang sekolah. Nanti jam tujuh-an lo boleh pulang," ucap Caca dengan begitu tenang. Ini ceritanya aku langsung diterima. Aku masih tidak menyangka mendapatkan pekerjaan dengan cara secepat ini. "Gue kerjanya ngapain, Ca? Gue enggak bisa merangkai bunga, Ca. Gue kan enggak ngambil kejuruan tentang hal itu." "Dih, kocak, enggak mungkin jadi florist juga lah," Caca mengambil bantal sofa lalu dia memeluknya, "ya bantu-bantu aja di sana. Bantu ngerawat bunga-bunga. Nanti lo kenalan aja ya sendiri. Ketiga karyawan gue udah punya job description-nya masing-masing. Nanti lo bantu-bantu mereka aja." Aku mengangguk cepat. "Oke, Bu, bos. Mulai besok gue udah langsung bisa kerja ya." "Iya. Semangat. Jangan sampai telat sahabat sekaligus karyawan baruku," ucapnya yang langsung mendapatkan kekehan pelan dariku, "eh, yaudah. Gue mau pulang. Mau ngerjain skripshit lagi." "Skripsi, Ca." "Skripshit." Beberapa saat kemudian, Caca pulang  dan meninggalkanku yang masih terdiam di rumah. Aku kembali melihat jam, waktu masih menunjukkan pukul dua. Kalau ke kampus, Pak Aarav ada tidak ya? Untuk menjawab pertanyaan itu, aku segera menghubungi Pak Aarav dan menanyakan tentang hal tersebut. Anda Assalamualaikum selamat siang, Pak. Saya mau nanya, hari ini Bapak sedang ada di kampus tidak ya? Kalau ada saya mau ketemu dengan Bapak Terima kasih Pak sebelumnya Maaf menganggu waktunya Setelah mengiriminya pesan, aku menunggu balasan darinya. Tidak lama kemudian ada notifikasi pesan balasan darinya. Pak Aarav (Dosen Rese) Assalamualaikum selamat siang, Pak. Saya mau nanya, hari ini Bapak sedang ada di kampus tidak ya? Kalau ada saya mau ketemu dengan Bapak Terima kasih Pak sebelumnya Maaf menganggu waktunya Pak Aarav (Dosen Rese) Kamu di mana? Anda Saya belum ada di kampus, Pak Kalau Bapak di kampus, saya berangkat Pak Aarav (Dosen Rese) ke sana sekarang Kamu di mana, Dhara? Anda Di rumah Pak Aarav (Dosen Rese) Cepat ke sini Saya enggak ada teman ngobrol Anda Teman ngobrol? Bapak ada di mana? Bapak ada di kampus? Pak Aarav (Dosen Rese) Enggak ada Anda Lalu, ada di mana? Di rumah sakit Pak Aarav (Dosen Rese) Saya lagi jenguk Ibu kamu Kaget. Kaget. Kaget. Karena terlalu kaget dengan refleks aku langsung menjatuhkan ponselku. Dosen ini aneh banget. Tindakan-tindakannya terkadang terlalu sulit untuk aku mengerti maksud dan tujuannya. Ponselku tiba-tiba berdering dan menampilkan panggilan masuk dari Pak Aarav. Aku menarik napas panjang sebelum mengangkatnya. "Ayo cepat ke sini." "Mau saya jemput?" "Dhara? Jangan diam aja kamu." Aku mengerjapkan mataku lalu bergegas keluar dari rumah. "Iya, Pak. Ini siap-siap mau on the way." "Tunggu di rumah aja. Saya jemput." "Eh, Pak. Jangan. Saya bisa sendiri." "Kelamaan kamu." Panggilannya langsung terputus. Emangnya kalau cepat-cepat mau ngapain? Bersambung  
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD