Suara klakson mobil menggema memasuki indra pendengaranku. Dengan gerakan sigap aku langsung berjalan dengan cepat lalu masuk ke dalam mobil itu. Pak Aarav yang sedang memakai kemeja hitam dan juga celana bahan hitam langsung menatapku dengan tatapan tajamnya.
Penampilannya dan tatapannya cukup membuat suasana menjadi mencekam. Tanpa berbicara dia sudah terlihat sangat menakutkan. Aku menelan ludah dengan susah payah. Tatapan tajamnya semakin intens menatapku, aku jadi salah tingkah.
"Bapak, maaf," ucapku buru-buru. Daripada dia keburu marah, lebih baik aku langsung meminta maaf, "saya kan enggak tahu kalau Bapak mau jenguk Ibu."
Dia hanya terdiam, tetapi tatapan matanya semakin lama semakin melembut. "Kenapa enggak balas chat saya dari beberapa hari yang lalu?" tanyanya tiba-tiba.
Aku terdiam. Mencoba mengingat-ingat. Seingatku Pak Aarav tidak mengirimkanku pesan apapun. Atau jangan-jangan pesan itu tenggelam, tapi tadi aku mengirimkan pesan untuknya dan tidak ada pesan apapun yang belum terbaca.
"Emang Bapak nge-chat saya?" tanyaku membalas pertanyaannya.
Pak Aarav terdiam, tatapannya berubah menjadi datar. "Perasaan, Bapak enggak nge-chat saya apa-apa kok."
"Coba cek dulu."
"Sebentar." Aku mengambil ponselku lalu membuka room chat antara aku dengan dirinya.
Ah, iya, benar. Ternyata pesannya lima hari yang lalu tidak aku balas.
Aku memandangnya sambil menyengir. "Maaf, Pak. Saya enggak lihat. Chat-nya tenggelam."
Pak Aarav mendengus lalu dia mulai mengendarai mobilnya. "Makanya kontak saya di-pin. Biar enggak tenggelam."
Eh? Di-pin. Aneh-aneh aja.
Aku hanya terdiam, tidak menggubrisnya. Berpura-pura tidak mendengar adalah cara terbaik menurutku.
Kami saling terdiam. Saat lampu merah, Pak Aarav menatapku lekat.
"Saya nungguin setiap hari," ucapnya tiba-tiba.
Aku semakin tidak paham. "Nungguin apa, Pak?"
Dia berdecak sebal lantas kembali menjalankan mobilnya. "Nunggu balasan pesan kamu. Setiap hari."
Eh? Gimana?
Sesampainya di rumah sakit, aku dan Pak Aarav langsung memasuki kamar rawat Ibu. Untungnya saat aku datang, Ibu sudah bangun dari tidurnya. Aku duduk di bangkar sebelahnya, sedangkan Pak Aarav duduk di kursi yang berada di hadapanku.
"Dosen kamu sedari tadi nungguin kamu loh, Dhar," ucap Ibu sambil menepuk-nepuk pelan tanganku.
Aku mengangguk sambil tersenyum kecil. "Iya, Bu. Tadi Dhara pulang dulu ke rumah."
"Tadi adik-adikmu bilang kamu ke kampus. Makanya Ibu kaget pas Pak Aarav ke sini, dia juga bilang kamu enggak ada di kampus."
Aku hanya mengangguk saja.
"Iya, Bu. Tadi saya khawatir makanya saya langsung menjemput Dhara saja, ternyata dia lagi ada di rumah," ucap Pak Aarav menimpali.
"Kasihan loh, Dhara. Dosenmu itu sampai khawatir."
Aku hanya tersenyum kikuk.
Beberapa saat kemudian, aku dan Pak Aarav keluar dari kamar rawat inap dikarenakan saat ini waktunya Ibu istirahat.
Aku dan Pak Aarav duduk di bangku depan, sedangkan adik-adikku pamit pulang. Mereka berdua ingin mengerjakannya tugas katanya. Awalnya Pak Aarav menawarkan untuk mengantar mereka, tetapi aku menolak dengan keras. Tidak enak hati kalau merepotkan dia terus.
"Sudah makan siang?" Aku menoleh ke arahnya sambil mengerutkan kening, "kamu sudah makan siang belum?" tanyanya memperjelas.
"Belum, nanti aja."
"Sekarang saja."
Aku menggeleng cepat. Tiba-tiba aku teringat akan tujuanku bertemu dengannya. "Pak, saya mau bimbingan. Ada yang mau saya bicarakan tentang jadwal bimbingan kita."
"Saya enggak mau membicarakan segala sesuatu yang berhubungan dengan perkuliahan," ucapnya ketus. Mulai deh nyebelinnya, padahal aku pikir dia sudah baik loh. Namun, ternyata sifat menyebalkannya belum benar-benar hilang.
"Kenapa? Ini kan bukan jam istirahat dosen," ucapku mengingatkan.
"Kamu makan dulu. Setelah itu kita bahas tentang perkuliahan."
"Bapak maksa banget sih. Kalau enggak makan yang lapar kan saya, bukan Bapak. Saya aja enggak terlalu memikirkan dan memerdulikan diri saya. Sekarang kita bahas tentang bimbingan saya dulu. Biar urusan selesai satu-satu," cerocosku cepat. Ini pertama kalinya aku berbicara seketus ini. Habisnya aku kesal.
"Yaudah, mulai sekarang, saya yang memikirkan dan memerdulikan diri kamu," dia menarik tanganku pelan, "ayo makan."
Akhirnya, aku mengikuti perintahnya.
Bersambung