Pak Aarav
(Dosen Rese)
Saya di depan
Aku gelagapan setelah membaca pesan singkat itu. Pasalnya saat ini masih jam enam yang berarti masih satu jam lagi waktu kerjaku. Aku merasa tidak enak kalau Pak Aarav sampai menungguku selama itu.
"Kenapa, Ra? Tegang begitu," ucap Nata yang sedang merapikan bunga-bunga di sebelahku. Aku terdiam sambil menggeleng pelan.
"Ah, enggak apa-apa, Nat." Dia mengangguk pelan lalu kami berdua sibuk membantu Yuli untuk merapihkan susunan bunga yang akan dijual besok.
"Segini doang, Yul? Ada lagi gak?" tanyaku yang dibalas dengan gelengan kepala. Perempuan itu mengambil bunga-bunga yang sudah tidak terlalu segar lalu bersiap membawanya ke belakang.
"Udah, segitu doang. Besok pagi baru ada lagi stok bunga yang baru."
"Oh, iya. Oke. Oke." Aku melangkah ke arah pintu depan dan melirik ke luar jendela, benar saja mobil Pak Aarav sedang terparkir tepat di depan toko. Aku buru-buru membuka ponselku lalu segera mengirimkannya pesan.
Pak Aarav
(Dosen Rese)
Saya di depan
Saya masih lama Pak
Anda
Jam 7 baru boleh pulang
Pak Aarav
(Dosen Rese)
Yaudah
Saya tunggu
Aku memasukan ponselku dan kembali bekerja. Malam ini tidak ada customer yang datang sehingga para karyawan di sini hanya berbincang-bincang sambil membangun keakraban. Baru satu hari bekerja saja, aku merasa nyaman di sini. Sepertinya aku akan betah apabila bekerja di sini dalam jangka waktu yang cukup lama.
"Eh udah hampir jam tujuh," ucap Fani sambil menatap ke arah jam dinding di depannya, "ayo kita siap-siap tutup toko." Kami semua mengangguk lalu menuruti perintahnya.
Beberapa saat kemudian, aku memakai tasku lalu bersiap untuk pergi. "Gue pamit dulu ya."
Mereka semua mengangguk. "Hati-hati, Ra," ucap Nata dari arah belakangku, aku menoleh ke arahnya. Dia sudah menghias bunga Anyelir yang tadi dia berikan dengan pita-pita cantik di tangkainya, "ini. Ketinggalan," ucapnya.
"Eh, iya," aku mengambil bunga itu lalu berjalan ke depan pintu, "makasih ya Nat. Makasih semuanya."
Aku berlari kecil dan langsung masuk ke dalam mobil Pak Aarav. "Maaf Pak, lama," ucapku sambil menarik seatbelt dan memakainya ke tubuhku.
Pak Aarav hanya diam. Dia memandangku datar. Wajahnya seram sekali, tatapan matanya seperti mengintimidasi. "Pak, saya kan udah bilang, saya pulangnya jam tujuh," ucapku pelan. Mungkin dia marah karena menungguku terlalu lama.
Pria ini masih saja terdiam. Aku jadi semakin yakin pria ini marah denganku. Aku mencoba mengingat-ingat kesalahan apa yang telah aku perbuat. Pesannya selalu aku balas dengan cepat.
Duh, aku enggak tahu salahku di mana.
"Bapak kenapa sih?" tanyaku mulai tidak nyaman, "mukanya seram banget. Saya salah apa?"
Pak Aarav menarik napas panjang. Dia memakai seatbelt-nya lalu bersiap untuk untuk mengendarai mobilnya. "Pak, kenapa? Jawab dulu," ucapku.
Pak Aarav kembali menatapku dengan lekat. "Beberapa hari yang lalu saya meminta kamu menjadi pasangan saya, tapi kamu tidak memberikan respons apa-apa," dia melirik ke arah bunga anyelir yang ada di pangkuanku, "terus hari ini tiba-tiba ada pria yang memberikan kamu bunga."
Eh? Terus kenapa?
"Emangnya kemarin itu serius, Pak?" Pak Aarav berdesis pelan, "saya kira bercanda. Lagian cepat banget. Kita kan enggak terlalu dekat. Lagian kita ini dosen dan mahasiswa loh. Emangnya boleh menjalin hubungan istimewa begitu, Pak?" tanyaku lagi.
"Saya enggak mau jawab. Sebelum kamu jawab pertanyaan saya kemarin," ucapnya tegas.
Menyebalkan sekali dosen ini.
"Saya enggak tahu, Pak. Saya butuh waktu buat pendekatan. Masa langsung tiba-tiba jadian. Enggak banget ah."
"Yaudah," ucapnya lalu menjalankan mobilnya.
"Yaudah apa?"
"Kita pendekatan."
Ih, benar-benar ini dosen.
Bersambung