Radania Florist
Aku membaca neon box yang terpampang di depan sana sebelum akhirnya masuk ke dalamnya. Aroma semerbak bunga langsung masuk ke dalam indra penciumanku. Pandangan mataku menyapu ke berbagai sudut ruangan, bunga-bunga segar tertata rapi di setiap sudutnya.
"Dhara!" panggil seorang perempuan yang sedang berjalan mendekatiku. Senyuman ramah terukir di bibirnya, "Dhara kan?" tanyanya yang langsung aku respons dengan anggukan kepala.
Dia menarik tanganku pelan dan membawaku mendekati karyawan-karyawan lainnya. "Kenalin gais, ini Dhara, dia karyawan baru di sini," ucap perempuan itu mengenalku.
Aku tersenyum sambil mengangguk kecil. "Aku Dhara, salam kenal semuanya."
"Gue Fani, manager sekaligus bagian kasir di sini," ucap perempuan tadi yang saat ini telah aku ketahui namanya adalah Fani.
Fani menunjuk seorang perempuan yang sedang duduk di hadapan kami. "Dia namanya Yuli, dia bagian perawatan bunga dan mengurus segala alat-alat di toko ini," ucapnya lagi.
Aku mengangguk paham lantas Fani menunjuk seorang pria yang duduk di sebelah Yuli. "Dia namanya Nata, bagian florist di toko ini."
Aku mengerutkan kening. "Florist?" tanyaku.
"Iya, perangkai bunga. Nanti lo yang melayani customer dalam pemilihan bunga dan bentuk rangkaiannya, nah Nata nanti yang buatin." Aku mengangguk lagi.
"Ada yang mau ditanyain ga? Sebelum gue lanjut kerja lagi?"
"Enggak ada, Fan."
"Yaudah. Sekarang kalian boleh kerja dengan bagiannya masing-masing," ucap Fani bersamaan dengan masuknya calon customer ke toko ini. Perempuan itu menepuk bahuku pelan, "semangat," ucapnya lalu melenggang pergi.
Dengan sigap aku menghampiri calon customer itu dan menampilkan senyuman paling ramah. "Ada yang bisa saya bantu, Kak?" tanyaku sopan. Perempuan itu melirik sekilas ke arahku lalu matanya kembali fokus pada susunan bunga anggrek bulan yang tertata di sana.
"Aku mau pesan hand bouquet," dia menyentuh bunga anggrek bulan berwarna ungu, "mau pakai bunga ini lalu dicampur sama mawar putih ya? Bisa kan?"
"Iya, Kak. Bisa."
"Aku mau lihat katalog desain dan ukurannya, boleh?"
"Boleh, Kak. Sebentar ya, saya ambilkan dulu." Aku berjalan menghampiri Fani meminta katalog yang dia inginkan.
Beberapa saat kemudian, aku kembali menghampiri customer itu lalu mencatat segala hal yang dia inginkan untuk pesanannya kali ini. "Iya, segitu aja ya. Aku mau langsung bayar sekarang, bisa?"
"Bisa, Kak. Langsung ke kasir aja."
Setelah dia pergi, kakiku melangkah mendekati Nata yang sedang sibuk menata bunga-bunga. Aku memberikan secarik kertas berisi permintaan-permintaan customer tadi. "Makasih ya," ucapnya sambil tersenyum tipis.
Aku membalas senyumannya lalu mengangguk pelan. Ini pertama kalinya kami saling berpandangan. Wajahnya terlihat begitu ramah, aku tebak, pribadinya pasti menyenangkan.
"Kamu suka bunga apa?" tanyanya tiba-tiba. Aku terdiam berusaha mencari jawaban dari pertanyaannya.
"Hmm, bunga Anyelir," aku menoleh ke arah belakang di mana bunga-bunga itu berada, "tapi di sini ada ga sih?" Nata mengangguk lalu dia meletakkan hasil rangkaian bunganya ke dalam display cooler.
"Ada," pria itu menunjuk ke sebuah kursi yang terletak di tengah ruangan, "mumpung belum ada customer lagi, kita duduk di situ yuk." Aku mengangguk lalu kami berdua duduk di sana.
"Kamu enggak ngerangkai bunga buat customer tadi?"
"Dia ngambilnya lusa kan?"
"Iya."
"Besok aku baru buat."
"Oh, begitu ya." Dia mengangguk lantas pergi dari hadapanku. Netraku mengikuti langkahnya, dia mengambil sebuah bunga Anyelir lalu kembali dan memberikan bunga itu kepadaku.
"Bunga Anyelir dariku sebagai ucapan selamat datang," dia menyodorkan bunga itu lebih dekat denganku, "ambil." Aku mengambil lalu mencium aromanya.
"Suka karena harumnya?" tanyanya sambil duduk di sebelahku.
"Iya," aku mencium lagi aroma bunga ini, "harumnya enak." Dia tersenyum setelah itu kami berbincang-bincang singkat.
Dan benar seperti tebakkanku, Nata memiliki pribadi yang menyenangkan.
Bersambung