Kedatangan Mantan Istri

1031 Words
Daniel, seorang miliarder yang penuh dengan kearogan, hidup dalam kemewahan dan kemakmuran yang luar biasa. Harta kekayaannya seakan tidak memiliki batas, namun ia memilih untuk menunjukkan dominasinya dengan keangkuhan yang mencolok. Dikelilingi oleh cahaya gemerlap dan barang-barang mewah, Daniel sering terlihat bersikap sombong terhadap orang-orang di sekitarnya. Namun, di balik semua itu, ada kisah yang lebih dalam tentang kehidupan Daniel. Ketika ia masih muda, ia menghadapi banyak sekali kesulitan dalam meraih kesuksesannya. Kekayaannya tidak didapatkan dengan mudah, melainkan melalui upaya keras, risiko besar, Sosok Daniel yang keras dan arogan sebenarnya adalah bentuk pertahanan diri dari masa lalu yang sulit. Dia belajar untuk tidak menunjukkan kerentanannya kepada siapa pun, dan karena itulah, citra keangkuhannya terbentuk. Meskipun ia memiliki segalanya, ia merasa takut kehilangan semuanya dan selalu berusaha untuk menjaga kontrol atas segala hal di sekitarnya. Keheningan ruangan kerja milik Daniel, tiba-tiba terpecah oleh langkah hells seorang perempuan yang datang dengan ragu. Dalam gaun hitam yang elegan, Brenda berjalan masuk dengan pandangan yang penuh keraguan, menatap Daniel yang sedang terfokus pada pekerjaan nya. Daniel, yang duduk di meja besar dengan wajah tegang, mengangkat pandangannya saat Brenda masuk. Dia merasakan campuran emosi di dalam dirinya, amarah, kekecewaan, dan juga kebencian. Ingatan tentang pengkhianatan Brenda di masa lalu membuatnya merasakan rasa sakit yang mendalam. "Brenda," gumam Daniel dengan suara yang tegas namun terdengar datar. "Apa yang kamu inginkan?" Brenda menelan ludah, matanya melirik ke lantai seolah mencari kata-kata yang tepat. Akhirnya, dia mengangkat kepala, tatapannya menemui mata Daniel. "Daniel, aku tahu aku melakukan kesalahan yang besar. Aku menyesal telah berselingkuh dan meninggalkanmu. Aku merindukanmu, hidup kita dulu. Aku ingin kembali, memperbaiki semuanya," ucap Brenda dengan suara lemah. Daniel memandangnya dengan ekspresi yang tidak bisa diartikan dengan jelas. Dia ingat betapa dalamnya kebencian Daniel terhadap perempuan itu, sebuah kebencian yang Brenda tinggalkan padanya. Meskipun kenangan itu masih ada, dia telah belajar untuk menjaga hatinya agar tidak mudah terpengaruh oleh kata-kata manis perempuan itu. "Brenda, apa yang telah terjadi di antara kita sudah lama berlalu. Luka itu tidak bisa semudah itu diobati. Kita berdua telah berjalan masing-masing di jalannya," kata Daniel dengan suara datar, Brenda menangis, mencoba meraih tangan pria itu. Namun, Daniel menggeleng dan menarik tangannya kembali. "Aku tidak bisa membiarkan diriku terluka lagi, Brenda. Maafkan aku, tetapi aku tidak bisa memberimu kembali apa yang dulu pernah kita miliki." Brenda tergopoh-gopoh menahan tangisnya, tangannya tergantung di udara seakan tak tahu apa yang harus dilakukannya. Brenda terus memohon dengan penuh harap agar Daniel mau memberinya kesempatan kedua. Air mata mengalir deras di wajahnya ketika dia berkata, "Daniel, aku tahu aku telah membuat kesalahan besar. Tapi aku sungguh menyesal dan ingin memperbaikinya. Aku bersedia melakukan apapun untuk membuatmu percaya lagi padaku." Daniel menghela nafas dalam-dalam, memandang Brenda dengan ekspresi campuran antara benci dan sakit hati. "Sorry. tapi aku telah menemukan seseorang dan aku telah menikah lagi, jangan berharap untuk kembali," Brenda terdiam, matanya memandang kosong ke luar jendela. Berita itu menusuk hatinya seperti duri yang tajam. Dia merasakan seolah-olah seluruh dunianya runtuh dalam sekejap. Setelah beberapa saat, dia akhirnya mengangkat wajahnya, mata bercucuran air mata. Dengan tatapan tajam, Daniel menatap Brenda dengan tegas. "Brenda, aku tidak bisa mengabaikan kenyataan bahwa kamu pernah berselingkuh dan melukai hatiku dengan caramu yang tak tahu malu. Aku tidak bisa melupakan bagaimana perempuan yang ku nikahi bisa melakukan hal seperti itu." Brenda mengangguk dengan penuh penyesalan, wajahnya terlihat pucat dan mata yang penuh dengan air mata. "Aku tahu, Daniel. Aku sangat menyesal atas apa yang ku perbuat. Aku mengerti kalau kamu membenciku karena itu. Daniel mengambil napas dalam-dalam sebelum melanjutkan, suaranya terdengar lebih lembut. "Ini bukan hanya tentang kebencian, Brenda. Ini tentang rasa sakit yang telah kau timbulkan dan kehilangan rasa percaya yang telah kau hancurkan. aku tidak bisa melupakan apa yang pernah terjadi, kamu bukan hanya menghianati ku, tapi kamu mengambil uangku!" Brenda menangis dengan susah payah, menggenggam ujung gaunnya sebagai tanda ketidakpastian. "Aku sungguh menyesal, Daniel. Aku harap ada cara untuk memperbaiki semuanya," "Brenda, perjalanan kita bersama telah berakhir. Aku telah menemukan seseorang dan Aku telah menikah lagi, itu adalah pilihan yang kuambil untuk melanjutkan hidup." Brenda merasakan seolah-olah hatinya ditarik dalam dua arah yang berlawanan. Di satu sisi, rasa sakit akan kehilangan yang mendalam, dan di sisi lain, pengertian bahwa Daniel telah menemukan kebahagiaan yang baru. "Sekarang, aku minta agar kamu meninggalkan hidupku dan berikan aku ketenangan. Aku harap kamu juga menemukan kedamaian dan kebahagiaanmu sendiri, bukankah kau berhubungan dengan Samuel Couch?" ucap Daniel, mengakhiri percakapan mereka dengan keputusan yang tak dapat diubah. Brenda terdiam, iya tidak mungkin mengatakan pada Daniel kalau Samuel meninggalkannya dan sekarang dia jatuh miskin serta tidak memiliki penghasilan dengan cara mendekati Daniel, dia bisa mendapatkan uang, dan hal yang harus ia lakukan sekarang adalah bersikap baik dan manis di hadapan Daniel, lalu merayunya agar Daniel yakin kalau dirinya sudah berubah. "Brenda, ku pikir sudah saatnya kita mengakhiri ini. Aku minta agar kamu pergi dari sini." Brenda menatap Daniel dengan mata yang penuh air mata, mencoba meraih kata-kata untuk merayu atau meminta maaf lagi. Namun, wajah tegas Daniel membuatnya sadar bahwa sudah tidak ada lagi jalan untuk memutar kembali waktu. "Aku mengerti," ucap Brenda dengan suara lemah, berusaha menahan tangisnya. Dia mengambil langkah mundur dan berbalik menuju pintu, memaksakan dirinya untuk tetap tegar meskipun hatinya hancur. Dengan langkah ragu, Brenda keluar dari pintu ruangan mewah. "Dasar perempuan tidak tahu malu! Dia pikir aku tidak tahu rencananya datang ke sini untuk merayuku!" ucap Daniel dengan perasaan kesal. Sementara amarah dan kesal masih membakar dalam dirinya, Brenda merasakan dorongan untuk balas dendam. Dia berjanji dalam hati bahwa dia akan menghancurkan hidup istri baru Daniel, ingin memberikan rasa sakit yang sama yang pernah dia rasakan. "Tidak ada yang boleh mendapatkanmu selain aku! aku akan mencari tahu siapa perempuan yang telah kau nikahi, lihat saja nanti!" Brenda mengepalkan tangannya keras, dia ingin menghancurkan hidup perempuan yang telah dinikahi Daniel, bagaimanapun caranya. Perempuan itu berjalan dengan langkah kesal, Brenda kemudian menghubungi seseorang untuk mencari tahu tentang latar belakang perempuan yang telah Daniel nikahi. "Frank, cari tahu mengenai istri baru Daniel, berikan data-data itu segera!" Ucapnya di sambungan telepon Anak buah Brenda mengangguk. "Baik, akan segera ku infokan" Brenda terkekeh, dia sudah siap dengan pertarungan ini, dan dia yakin, Daniel masih mencintainya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD