Hampir satu minggu menjalani perawatan intensif, akhirnya Raisha mendapatkan izin untuk pulang. Gadis itu masih terlihat sangat lemah, pipinya tirus, dan langkahnya belum sepenuhnya kuat sehingga dia harus diantar dengan kursi roda. Meski tubuhnya terasa lelah, perasaan yang paling menghinggapi hatinya justru adalah kebingungan yang mendalam saat melihat siapa yang datang menjemputnya.
Bukan Gianna, kakak yang selalu dia harapkan kehadirannya setiap saat, melainkan seorang suster muda yang tersenyum ramah sambil mendorong kursi rodanya keluar dari gedung rumah sakit yang terasa dingin. Raisha berkali-kali menoleh ke kiri dan ke kanan, matanya menyapu setiap sudut lorong, berharap sosok yang akrab itu muncul dari balik pintu atau membawa minuman kesukaannya. Namun harapannya itu pupus sama sekali. Gianna tidak ada di sana.
Sesampainya di rumah kecil mereka yang sederhana, suasana terasa jauh lebih sepi dari biasanya. Rumah itu terasa kosong dan hampa, tanpa suara langkah kaki maupun aroma masakan khas yang selalu membuat hatinya terasa hangat.
"Gianna mana?" tanya Raisha pelan, suaranya bergetar menahan tangis yang hendak tumpah.
Suster itu hanya tersenyum tipis, namun tatapan matanya menyiratkan rasa iba yang mendalam. Dia tidak menjawab pertanyaan itu, melainkan menyerahkan sebuah amplop cokelat yang terlihat biasa saja, namun terasa begitu berat di tangan Raisha.
"Ini surat dari Gianna. Beliau menitipkan ini sebelum pergi," ujar suster itu dengan nada lembut.
Tangan Raisha gemetar hebat saat menerima amplop itu, jari-jarinya terasa dingin seolah dunia berhenti berputar seketika. Tanpa menunggu lebih lama, dia segera membukanya dan membaca tulisan tangan kakaknya yang sudah dia hafal di luar kepala.
"Raisha sayang. Maaf aku tidak bisa menjemputmu hari ini. Maaf juga karena aku harus meninggalkanmu sendirian untuk sementara waktu. Aku harus pergi karena ada urusan yang sangat penting dan mendesak. Kamu jangan takut, kamu tidak akan benar-benar sendirian. Aku sudah menyewa seorang suster yang baik untuk merawatmu, menyiapkan makanan, dan menemanimu sampai kamu benar-benar pulih sepenuhnya. Jaga dirimu baik-baik ya, Sha. Makanlah dengan teratur dan jangan lupa minum obat. Aku berjanji akan kembali secepatnya. Aku menyayangimu lebih dari apa pun. Gianna."
Air mata yang sejak tadi ditahan akhirnya jatuh membasahi pipinya. Raisha menggigit bibirnya sekuat tenaga, berusaha menahan tangisan meski hatinya terasa hancur berkeping-keping.
"Jaga diri baik-baik," gumamnya lirih, mengulang kalimat terakhir dalam surat itu. "Bagaimana aku bisa menjaga diri dengan baik kalau kamu pergi gitu aja, Gi? Kamu tahu kan aku hanya punya kamu seorang?"
Surat itu dia lipat kembali dengan sangat hati-hati seolah itu adalah barang paling berharga di dunia, lalu dipeluknya erat-erat ke dadanya. Dia berharap pelukan itu bisa membuat kakaknya tetap ada bersamanya, namun kenyataannya tetaplah pahit Gianna sudah pergi dan Raisha sama sekali tidak tahu ke mana dia melangkah maupun apa yang sedang dihadapinya saat ini.
Di tempat yang jauh sekali, di mana kemewahan dan kekuasaan menjadi hal yang biasa, Gianna Damayanti berdiri terpaku di bawah langit malam. Napasnya tercekat di tenggorokan saat matanya menatap bangunan megah yang menjulang tinggi di hadapannya. Rumah itu tampak bagaikan istana dalam dongeng, namun baginya tempat ini justru terasa seperti penjara yang mewah. Lampu taman yang menyala dengan cahaya kuning yang hangat sama sekali tidak mampu menghangatkan hatinya yang terasa membeku. Gerbang besi yang tinggi dan tertutup rapat itu seolah menjadi batas tegas antara kehidupan yang biasa dia jalani dengan dunia baru yang asing dan menakutkan ini, sesuatu yang tidak pernah sekalipun dia bayangkan akan dia alami.
Belum sempat dia mencerna semua kejadian yang berlangsung begitu cepat, sebuah tangan menarik lengannya dengan kasar hingga membuat tubuhnya tersentak kaget.
"Nggak usah ngelamun! Lo kira ini tempat wisata?" bentak suara yang sudah sangat dia kenal.
Gianna segera menoleh dan di sana berdiri Alana Liora Gantari, sosok yang membuat hidupnya berubah total. Wanita itu tampak begitu anggun dengan gaun malam bermerek yang harganya mungkin setara dengan gaji Gianna selama setahun penuh. Rambutnya tertata rapi, wajahnya tampak dingin tanpa ekspresi, dan tatapan matanya tajam seolah tidak pernah mengenal rasa lembut sedikit pun.
"Lo udah sampai di sini, berarti nggak ada jalan untuk mundur lagi," ucap Alana dengan nada datar yang tidak memberi ruang untuk penolakan. "Kesepakatan sudah dibuat, uang sudah ditransfer dan sekarang giliran lo menepati janji."
Gianna menelan ludah dengan susah payah, tenggorokannya terasa sangat kering. "Mbak Alana, aku ...."
"Stop!" potong Alana dengan nada mengancam. "Udah gue bilang, jangan panggil nama gue begitu di sini. Mulai detik ini juga, lo adalah gue. Lo adalah Alana Liora Gantari, istri dari Aryanendra Bamantara. Paham?"
Darah seolah berhenti mengalir di seluruh tubuh Gianna. Dia tertegun, tidak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya.
"Ingat satu hal aja," desis Alana dengan nada yang pelan namun penuh penekanan. "Jangan buat kesalahan sedikit pun dan jangan sampai dia curiga bahwa lo bukan gue. Kalau hal itu terjadi, lo pasti tahu sendiri apa akibatnya buat lo dan juga buat saudara perempuan lo itu."
Ancaman itu tertanam kuat di dalam pikiran Gianna. Dia hanya bisa mengangguk pasrah, meski jantungnya berdebar kencang seolah ingin melompat keluar dari rongga dadanya.
Malam itu, Gianna berdiri di depan cermin besar di kamar tidur yang luas dan mewah itu. Pantulan dirinya sendiri hampir tidak dia kenali. Gaun sutra berwarna gelap membalut tubuhnya dengan sempurna, wajahnya yang biasanya polos kini terlihat lebih dewasa dan anggun berkat riasan yang rapi, serta rambutnya yang ditata persis seperti gaya rambut Alana. Namun di balik semua penyamaran itu, ada satu hal yang tidak bisa diubah, yaitu tatapan matanya yang masih penuh dengan ketakutan, keraguan, dan keputusasaan.
Dia memejamkan matanya sejenak, berusaha menenangkan diri dan menghafal semua petunjuk yang sudah disampaikan Alana sebelumnya.
"Apakah aku benar-benar sanggup melakukan ini semua?" gumamnya lirih. "Menjadi orang lain, menjadi istri palsu seorang pemimpin perusahaan yang konon bersikap dingin dan keras hati."
Pikiran-pikiran buruk mulai memenuhi benaknya, namun seketika itu juga bayangan wajah Raisha yang lemah di rumah sakit muncul kembali. Itulah yang menjadi kekuatan terbesarnya.
"Meskipun aku merasa tidak mampu, aku harus tetap melakukannya," bisiknya pada dirinya sendiri sambil menatap cermin. "Ini adalah konsekuensi yang harus kutanggung dan ini juga harga yang harus kubayar demi keselamatan dan kesehatan Raisha. Aku sama sekali tidak punya pilihan lain."
Waktu terasa berjalan sangat lambat, setiap detiknya terasa menyiksa. Gianna mencoba berbaring dan beristirahat, meski seluruh otot tubuhnya terasa tegang dan pikirannya dipenuhi rasa cemas yang tak kunjung hilang. Namun ketenangan itu hanya berlangsung sebentar saja.
BRAKK!!
Pintu kamar terbuka dengan keras, suaranya bergema ke seluruh ruangan dan memecah keheningan malam dengan tiba-tiba. Gianna langsung terbangun, jantungnya berdebar kencang karena kaget. Di ambang pintu itu berdiri seorang pria bertubuh tinggi dan besar dengan setelan jas yang tampak tidak rapi lagi. Kemejanya terbuka di bagian atas, memperlihatkan sedikit kulit di lehernya dan tatapan mata itu terasa sangat dingin serta tajam bagaikan sebilah pisau yang siap melukai siapa saja yang ada di hadapannya dialah Aryanendra Bamantara.
Aroma alkohol yang menyengat langsung tercium begitu Arya melangkah masuk dengan langkah yang sedikit goyah, namun tetap memancarkan wibawa yang membuat orang lain merasa tertekan. Dia menatap Gianna lama, pandangan Arya menyapu seluruh tubuhnya seolah sedang mencari sesuatu yang salah, lalu terdengar suaranya yang berat, serak dan sedingin es.
"Alana."
Satu kata itu saja sudah cukup membuat seluruh tubuh Gianna terasa membeku.
Arya berjalan mendekat ke arah ranjang dengan langkah yang berat. "Lo udah tidur?" tanyanya dengan nada yang penuh sindiran. "Sementara gue baru pulang setelah bekerja keras dan lo udah bersantai dengan nyaman di sini?"
"Aku, aku hanya," jawab Gianna terbata-bata, tidak tahu harus berkata apa.
Arya mendengkus kasar lalu menjatuhkan tubuhnya ke tepi ranjang tepat di samping Gianna. Dia memejamkan mata sejenak sambil menarik napas panjang yang terdengar berat.
"Lo kira rumah ini cuma tempat menginap yang bisa lo nikmati seenaknya?" ucapnya lagi dengan nada yang masih dipenuhi kemarahan yang ditahan.
Gianna gemetar hebat, matanya tidak berani menatap lurus ke arah pria itu. "Kamu minum, Arya?" tanyanya dengan suara yang sangat pelan, hanya berusaha bersikap seperti yang seharusnya dilakukan oleh istrinya.
Seketika itu juga Arya membuka matanya lebar-lebar, tatapannya langsung tertuju tepat ke mata Gianna.
"Lo ngomong seolah kita nggak saling mengenal," desisnya sambil tersenyum sinis. "Alana, apa lo udah lupa gue ini siapa? Apa lo juga udah lupa hubungan kita selama ini kayak gimana?"
Gianna tertegun. Dia hampir lupa bahwa di mata pria ini, dia bukanlah Gianna yang lembut dan penakut, melainkan Alana, wanita yang dibencinya, wanita yang dinikahinya hanya karena alasan dendam.
"Maaf," ucap Gianna sambil menundukkan kepalanya dalam-dalam.
Arya tidak menjawab lagi. Mungkin karena pengaruh alkohol atau rasa lelah yang luar biasa, tubuhnya perlahan terkulai dan tak lama kemudian dia sudah tertidur dengan suara napas yang teratur.
Gianna menatap wajah pria itu dalam diam. "Aku kira kalian saling mencintai," gumamnya pelan dan sangat pelan bahkan Arya pun tak bisa mendengar gumaman Gianna. "Aku kira setidaknya kamu akan bersikap baik atau manis seperti yang ada dalam cerita-cerita."
Namun kenyataannya sangat jauh berbeda. Arya bukanlah sosok yang diharapkannya, dia hanyalah pria yang dingin, keras, dan tidak bisa bersikap lembut sedikit pun, dengan hati-hati, Gianna melepaskan jas dan sepatu yang dikenakan Arya, lalu menutupi tubuhnya dengan selimut agar dia tidak kedinginan. Setelah itu, dia melangkah mundur perlahan menjauhi ranjang itu.
"Lebih baik aku tidur di sofa aja," bisiknya. "Di sana aku akan merasa lebih aman dan jauh dari bahaya." Dia berjalan menuju sudut ruangan, meninggalkan pria yang masih terlelap itu sendirian.
Arya sama sekali tidak tahu bahwa wanita yang dipanggilnya dengan nama Alana malam ini adalah awal dari sebuah rahasia besar yang suatu hari nanti akan mengubah semuanya, bahkan menghancurkan hati mereka berdua.