Diujung Pilihan
“Ayo, lebih cepat! Event segera dimulai!” bentak chef senior dari sisi ruangan.
Suara itu langsung menekan suasana. Gianna tidak menanggapi dengan kata-kata, dia hanya mengangguk singkat sambil mempercepat gerakan tangannya. Fokusnya tidak boleh pecah sedikit pun.
“Aku butuh semua selesai tepat waktu, Gia!” suara itu kembali terdengar, lebih keras dari sebelumnya.
“Baik, Chef,” jawab Gianna datar, tanpa menoleh.
“Dessert dan cocktail jangan sampai ada yang terlambat.”
“Baik, Chef.”
Jawaban itu keluar tanpa emosi berlebihan, tetapi tangannya bergerak semakin cepat. Keringat mulai mengalir di pelipisnya, napasnya terasa lebih berat, namun dia tidak berhenti.
Di dalam pikirannya hanya ada satu hal, tidak boleh ada kesalahan.
Waktu terus berjalan tanpa kompromi.
Hingga akhirnya, suara timer berhenti bersamaan dengan hidangan terakhir yang diletakkan di meja penyajian.
Ruangan itu seketika terasa sedikit lebih longgar.
Gianna mengembuskan napas panjang, tubuhnya langsung turun ke lantai dapur tanpa peduli lagi pada kekacauan di sekelilingnya. Kaki yang sejak tadi dipaksa bekerja tanpa henti akhirnya benar-benar berhenti.
Namun kelegaan itu tidak bertahan lama.
“GIA!” suara keras memanggil dari arah pintu dapur.
Gianna menoleh cepat.
Katya, pelayan dengan wajah panik, berlari menghampirinya. Tanpa basa-basi, dia langsung berjongkok di depan Gianna.
“Kamu ngapain duduk di sini? Di luar rame banget,” ucap Katya dengan nada mendesak.
Gianna mengernyit pelan. “Kenapa? Ada masalah?”
Katya tampak ragu sejenak sebelum menjawab, “Ada yang nyariin kamu di parkiran.”
Gerakan Gianna berhenti sesaat. “Siapa?”
“Aku nggak tahu. Tapi dia nungguin kamu dari tadi,” jawab Katya cepat.
“Siapa, laki-laki atau perempuan?” tanya Gianna, kali ini lebih pelan.
Katya menghela napas. “Aku nggak sempat nanya detail. Pokoknya kamu lihat sendiri aja.”
Sebelum Gianna sempat bertanya lagi, Katya sudah berdiri dan kembali terburu-buru ke dalam dapur.
Keheningan kecil tertinggal dan rasa penasaran mulai mengalahkan lelahnya. Gianna akhirnya berjalan menuju parkiran. Langkahnya pelan di awal, lalu semakin berat ketika dia mulai merasakan sesuatu yang tidak biasa.
Sampai dia berhenti. Seorang perempuan berdiri di bawah cahaya lampu parkiran, penampilannya sempurna, terlalu sempurna untuk tempat seperti ini. Gaun rapi, sepatu mahal, rambut hitam panjang yang jatuh lurus tanpa cela. Wangi parfum mahal langsung menyentuh udara di sekitarnya, menciptakan jarak yang tidak terlihat tapi terasa. Gianna sangat terkejut saat melihat dengan teliti wajah perempuan di hadapannya.
Tatapan perempuan itu langsung jatuh ke arah Gianna. Dingin dan mengukur. Seolah dia bukan manusia, melainkan sesuatu yang sedang dinilai.
“Gue ada urusan sama lo,” ucap perempuan itu akhirnya. Suaranya tenang, tapi tidak memberi ruang untuk penolakan. “Ikut gue.”
Gianna sedikit mundur satu langkah. “Maaf, Mbak siapa?”
Perempuan itu tidak langsung menjawab. Dia hanya tersenyum tipis, lalu berkata pelan, “Nama nggak penting sekarang. Lo ikut aja dulu.”
Jantung Gianna mulai terasa tidak nyaman. Namun ada sesuatu dari cara perempuan itu berbicara yang membuatnya tidak bisa langsung menolak. Setelah beberapa detik ragu, dia akhirnya mengikuti.
Di dalam mobil itu, Gianna tidak banyak bicara. Begitu juga perempuan di sebelahnya. Hanya suara mesin dan jalanan malam yang mengisi ruang di antara mereka. Sampai akhirnya mobil itu berhenti di sebuah gedung besar.
Perempuan itu turun lebih dulu. “Masuk,” katanya singkat.
Gianna mengikuti tanpa benar-benar mengerti apa yang sedang terjadi.
Di dalam ruangan itu, semuanya terlalu mewah untuk seseorang sepertinya. Sofa kulit, meja kaca dan suasana dingin yang terasa seperti tidak menerima orang asing.
Perempuan itu akhirnya duduk dan menatap Gianna lama. “Lo butuh uang, kan?” tanyanya langsung.
Gianna membeku. “Maaf?”
Perempuan itu menyandarkan tubuhnya. “Gue tahu kondisi lo. Raisha. Rumah sakit dan biaya operasi.”
Nama itu membuat Gianna langsung waspada. “Dari mana mbak tahu semua itu?” suara Gianna mulai tegang.
Perempuan itu tidak menjawab pertanyaan itu. Dia justru meletakkan sebuah map di atas meja. “Gue butuh lo gantiin gue.”
Gianna mengerutkan kening. “Apa maksudnya?”
“Jadi gue,” jawab perempuan itu datar. “Jadi Alana.”
Ruangan itu seketika terasa lebih dingin. Gianna terdiam lama. “Ini gila,” ucapnya akhirnya.
Perempuan itu menatapnya tanpa berkedip. “Ini kesepakatan. Seratus delapan puluh hari. Setelah itu lo bebas dan saudara lo akan aman.”
Nama Raisha kembali muncul di kepala Gianna dan untuk pertama kalinya malam itu, dia benar-benar tidak tahu harus memilih apa.
Gianna baru saja hendak berdiri ketika perempuan itu kembali berbicara dengan suara yang jauh lebih pelan, namun justru terasa lebih menekan. “Kalau lo nolak, saudara lo gak akan sempat menjalani operasi itu.”
Langkah Gianna langsung terhenti dan dalam sekejap seluruh tubuhnya terasa kaku seolah tidak lagi bisa digerakkan dengan bebas. Tangannya yang tadi hampir melepaskan apron kini justru mengepal kuat di sisi tubuhnya, sementara napasnya mulai tidak teratur.
Perempuan itu tetap duduk dengan tenang, lalu mendorong sebuah map ke atas meja hingga berhenti tepat di hadapan Gianna.
“Jawab sekarang,” ucapnya datar. “Lo mau hidup sebagai Alana atau lo pulang dan melihat satu-satunya keluarga lo gak terselamatkan.”
Hening. Nama Raisha langsung memenuhi kepala Gianna tanpa jeda, menekan setiap ruang pikirannya sampai dadanya terasa sesak dan sulit bernapas dengan normal. Semua suara di ruangan itu seakan menghilang, digantikan oleh detak jantungnya sendiri yang semakin tidak stabil.
Perempuan itu tidak mendesak lagi, perempuan itu hanya menatap Gianna dengan ekspresi yang tidak berubah sama sekali, seolah keputusan apa pun yang akan diambil Gianna sudah bisa ditebak sejak awal.
“Kenapa harus aku?” Gianna menatap perempuan itu dengan perasaan campur aduk menatap perempuan di hadapannya.
“Karena cuma lo yang bisa ngelakuin tugas ini. Kita sama-sama untung kan, gue dapat apa yang gue mau dan lo ... bisa selametin saudara lo yang satu-satunya itu."
Gianna menatap map itu lama, terlalu lama sampai jari-jarinya mulai bergetar tanpa bisa dia kendalikan. Perlahan dia mengangkat tangan, lalu berhenti tepat di atas map itu, seolah masih ada sesuatu dalam dirinya yang berusaha menahan keputusan itu.
Perempuan itu akhirnya tersenyum kecil, sangat tipis, namun cukup untuk membuat udara di ruangan itu terasa semakin berat.
“Begitu lo nyentuh map ini,” ucapnya pelan. “Hidup lo nggak akan pernah kembali seperti sebelumnya.”