Hari berikutnya, Bening benar-benar melakukan apa yang sudah dia ucapkan kemarin. Ia datang ke pasar tempat ibu Glass berjualan. Sejak masuk ke halaman pasar, dirinya sudah mencuri perhatian orang-orang. Sebuah mobil mewah berwarna hitam yang sangat mengilap menyilaukan mata tukang parkir, belum lagi sesosok wanita yang keluar dari dalamnya. Begitu bening sebening namanya.
Menenteng tasnya dan melepas kacamata, Bening yang saat keluar begitu elegan menjadi konyol karena menaikkan celana kerjanya. Ia menggerutu karena di sana sangat becek. Gadis itu bertanya ke tukang parkir di mana letak warung Fitria.
“Apa neng mau makan di sana?” tanya si tukang parkir heran.
“Tidak, aku mau menemui ca-lon mer-tu-a,” ucap Bening dengan mengeja kata calon mertua serta penuh ketegasan dalam mengucapkannya.
Tukang parkir itu pun menggaruk kepala, sebelum menunjukkan arah ke mana warung Fitria berada. Ia semakin dibuat heran saat Bening menyerahkan sebuah kertas yang ternyata voucher yang bisa digunakan untuk berbelanja di RBB Market.
“Ini, selamat belanja online.”
Bening pun melenggang pergi, jalannya sedikit aneh karena memakai sepatu hak tinggi, dan juga dia memilih jalan yang hendak dilewati. Para emak-emak yang melihatnya pun sampai dibuat ketar-ketir, mereka takut jika sampai Bening jatuh terjengkang.
Beberapa menit kemudian, Bening sampai di warung tempat ibunda Glass berjualan. Gadis itu bahkan mengucapkan kata ‘permisi’ layaknya sedang berkunjung ke rumah orang. Kehadirannya sontak membuat orang-orang yang sedang makan menoleh, begitu juga Fitria yang sibuk membuat minuman untuk pelanggannya.
“Ibunya Glass!” tembak Bening saat melihat Fitria, wanita itu pun mengangguk sambil mengaduk es teh pesanan pembeli.
“Iya,” jawab Fitria kebingungan.
“Perkenalkan! Bening, calon menantu ibu.”
Fitria seketika membelalakkan mata, bahkan pembeli yang memesan es teh sampai tersedak ikan tongkol, pembeli itu menggapai-gapai ingin meraih es teh di tangan Fitria yang malah mematung. Wanita itu baru tersadar saat pembeli itu merampas es teh di tangannya.
“Ca-calon mantu?” tanya Fitria bingung, “Pacarnya Glass?”
Bening tersenyum manis sebelum mengangguk. Ia bahkan sengaja mengusap bagian perutnya. “Saya bahkan mengandung anak Glass.”
Fitria melongo, dan orang yang tersedak tongkol tadi menyemburkan es tehnya tepat di muka temannya.
???
“Glass, kamu pulang kuliah jam berapa?” Fitria menelepon putra bungsunya.
Setelah memperkenalkan diri tadi, Bening memborong semua makanan di warung wanita itu untuk dibagi-bagikan, tentu saja gadis itu memiliki maksud lain, dia ingin agar Fitria bisa cepat pulang ke rumah agar dia bisa dengan leluasa melancarkan aksi.
“Ini sudah mau pulang, baru ngadem sama teman-teman di kantin, ada apa Bu?” tanya Glass di seberang panggilan.
“Ini, pacarmu ada di sini.”
“Hah, pacar? Pacar yang mana?” tanya Glass bingung.
“Astagfirullah Glass, memang pacarmu ada berapa? Ini pacar yang katanya hamil anak kamu.” Fitria memijat pelipis, kepalanya tiba-tiba pening karena putranya.
“Apa?”
Glass seketika berdiri, dia langsung berpamitan ke teman-temannya untuk segera pulang ke rumah. Beruntung ibunya memiliki penyakit diabetes bukannya jantung atau darah tinggi.
Sambil menunggu Glass, Fitria duduk bersama Bening. Bukannya sengaja bersikap tidak sopan, tapi Fitria masih kaget melihat sosok Bening sampai memindai penampilan gadis itu dari ujung rambut hingga ujung kaki.
“Maaf, tapi apa benar yang kamu bilang tadi kalau kamu hamil anak Glass?” Fitria mencoba memecah suasana tegang di antara mereka.
“Benar dan Glass sudah tahu itu, saya sudah meminta dia untuk berbicara pada ibu karena orangtua saya menunggu etikat baik darinya. Orangtua saya meminta Glass datang bersama keluarganya segera, tapi Glass malah menghindari saya, bahkan kemarin dia tidak membalas pesan saya” jawab Bening.
Fitria mengelus d**a, ia benar-benar syok tapi entah kenapa tidak bisa mengamuk layaknya orangtua yang kecewa kepada sang putra. Apa mungkin ada rasa lega di hatinya karena Glass menghamili orang kaya.
???
Tak berselang lama saat Fitria masih berbincang dengan Bening, Glass pun pulang. Bening sampai mengangkat pantatnya dari kursi untuk melihat pemuda itu yang buru-buru masuk ke dalam rumah.
Glass ngos-ngosan layaknya baru saja lari marathon, padahal dia pulang dengan mengendarai sepeda motor. Saat pertama kali menginjak lantai ruang tamu, Glass menoleh ibunya. Ia lega mendapati Fitria baik-baik saja. Glass memasang muka kesal ke Bening dan gadis itu malah mengangkat dagu seolah menantang berkelahi.
“Sebentar ya Bu!”
Glass menarik Bening keluar rumah, menanyakan kenapa gadis itu datang ke rumahnya tanpa memberitahu lebih dulu.
“Siapa suruh kamu mengabaikan pesanku?” bentak Bening.
“Aku sedang bersiap pergi ke masjid kemarin, dan setelah pulang aku ngantuk dan langsung tidur,” jawab Glass.
“Ha..ha..ha,” Bening berpura-pura tertawa, entah kenapa dia begitu kesal saat pemuda yang dia panggil bocah itu mengabaikannya. “Apa kamu tidak bisa membalasnya setelah bangun?”
“Aku lupa, aku terlambat bangun dan kuliah pagi,” elak Glass.
“Ah … aku tahu, jangan-jangan kamu sudah punya pacar? Siapa pacarmu? Aku akan mendatanginya dan berkata kalau kamu sudah mempe-“
Glass membekap mulut Bening. Gadis itu pun melotot dan memukul-mukul dadanya minta untuk di lepaskan. Mereka masih bebicara berdua di luar saat Roy terlihat datang. Kakak Glass itu memarkirkan motor dan menatap mobil mewah milik Bening sebelum masuk ke teras. Ia kaget melihat sang adik sedang bersama seorang gadis cantik. Roy semakin terkejut karena menyadari gadis itu adalah Bening. Hari itu dia kebetulan cuti, Roy juga pulang hanya untuk memaksa ibunya mencarikan uang lagi.
“Bu Bening,” sapa Roy melihat direktur utama tempatnya bekerja berada di sana.
Glass pun terkejut, dia pandangi Bening dan Roy bergantian. Glass tertawa tak percaya saat menyadari dan mengingat Bening pernah berkata papanya adalah pemilik RBB Market.
“Seharusnya aku tahu, kenapa kamu bilang akan membiayai pernikahan kakakku. Kamu benar-benar menyelidiki semuanya ,” ucap Glass.
“Hem… ‘kan sudah aku bilang, kamu tidak akan bisa kabur dariku,” ketus Bening.
Roy berjalan mendekat dan membuat Bening juga Glass langsung menutup mulut mereka. Pria itu bertanya kenapa Bening bisa berada di rumahnya. Karena tak tahu bahwa hubungan Roy dan Glass tidak baik, Bening pun bersikap manis. Ia berkata datang ke sana untuk meminta Fitria agar bisa datang menemui orangtuanya.
"Untuk apa?" Tanya Roy.
“Untuk melamarku, karena aku sedang mengandung anak Glass,” jawab Bening tanpa ragu.
“Apa?” Roy melotot tak percaya, dia menoleh Glass yang nampak bersikap biasa. Ia hendak menanyakan perbuatan sang adik tapi Fitria lebih dulu keluar menghampiri.
“Sebaiknya kita bicarakan di dalam, tidak enak berbicara di luar seperti ini.” Fitria membujuk kedua putranya dan Bening.
Mereka membicarakan soal tanggungjawab Glass yang sudah menghamili Bening, hingga Fitria pada akhirnya berkata akan datang untuk melamar gadis itu akhir pekan ini.
“Tenang saja! Glass masih bisa tetap kuliah, aku bahkan yang akan membiayai kuliahnya,” ucap Bening.
Roy pun tersenyum iri, dia yang duduk di samping Glass tiba-tiba berbisik ke telinga sang adik. “b******k, dari mana kamu bisa tahu kalau dia orang kaya dan menghamilinya.”
Glass hanya bisa menahan gemuruh di dalam d**a, dia tidak mungkin membentak Roy di depan Bening.
“Pintar sekali kamu mencari sugar mommy,” imbuh Roy yang semakin membuat geram Glass.