“Terima kasih sudah mau datang ke rumah kami.”
Arkan menerima keluarga Glass dengan ramah, begitu juga dengan Rea. Meski awalnya sangat kecewa dan tidak mau menerima kejadian ini, pasangan suami istri itu tahu harus bersikap baik dengan calon besan mereka.
Rea sedikit iba saat tahu bahwa Glass ternyata anak yatim sejak kecil. Kesopanan yang ditunjukkan pemuda itu membuatnya sejenak lupa bahwa Glass masih berumur sembilan belas tahun.
“Kita tidak bisa memungkiri apa yang sudah terjadi ke anak-anak kita,” ucap Arkan. “Bagaimanapun juga apa yang dilakukan Bening dan Glass perbuatan yang sangat tercela, saya tidak bisa menutupi aib selamanya, dan tidak mungkin meminta putri kami menggugurkan kandungannya.”
Fitria, Glass juga Roy yang ikut datang ke rumah keluarga Bening nampak hanya diam dan menunduk. Bedanya Roy sejak tadi diam-diam memindai setiap benda yang ada di ruang tamu kediaman Arkan. Sejak bisnisnya sukses, Arkan memang membangun rumah yang jauh lebih besar bahkan bak istana untuk dua orang yang paling dia cintai.
Mengembuskan napas lelah, Arkan berucap kembali. “Saya menerima lamaran Anda Bu Fitria, tapi kami sudah memutuskan tidak akan menggelar pesta mewah, kita cukup nikahkan saja mereka di kantor urusan agama.”
Fitria mengangguk, dia merasa minder. Mungkinkah keluarga Bening menganggapnya sangat miskin sehingga tidak mau menggelar pesta.
“Maaf, seharusnya saya bisa mendidik anak saya dengan jauh lebih baik. Saya sadar keluarga kami miskin dan tidak pantas berbesanan dengan keluarga Anda.”
Ucapan Fitria sontak membuat semua orang terperanga. Rea bahkan langsung berdiri dan mendekat ke arah wanita yang lebih pantas menjadi tantenya itu. Ia memegang tangan Fitria agar tidak merasa seperti apa yang diucapkannya barusan.
“Tidak Bu Fitria, kita semua tahu kalau derajat manusia dihadapan Tuhan sama. Kami tidak pernah berpikir seperti itu, kami hanya masih belum bisa menerima kalau putri kami bisa berbuat hal sejauh ini. Kami hanya merasa gagal menjadi orangtua, semisal Bening tidak hamil duluan dan memang Glass lah jodohnya, kami juga tidak akan melarang mereka untuk menikah, hanya saja kami mohon pengertiannya, kami memiliki keluarga besar. Kami memiliki kolega dan juga ribuan karyawan, kami hanya takut jika kabar pernikahan Bening tersebar akan terjadi prahara, Anda paham ‘kan maksud saya?” Rea menoleh Roy dan Glass seolah meminta salah satu dari mereka memberi penjelasan ke Fitria.
“Intinya Bu, pak Arkan dan bu Rea tidak memandang status kita, hanya saja jika sampai tahu putrinya menikah dengan Glass karena hamil duluan bisa menyebabkan masalah yang membuat banyak orang rugi,” ucap Roy.
Fitria pun mengangguk dan tersenyum ke Rea. Kedua wanita itu pun berpelukan. Sementara itu, Bening dan Glass hanya saling pandang. Bening semakin merasa terperosok dalam, bagaimana nanti dia memberitahu ke semua orang tentang kebenaran bahwa dirinya tidak hamil.
???
“Ibu tadi tanya, mahar apa yang kakak minta.”
Glass yang tak langsung ikut pulang bersama Roy dan Fitria setelah pertemuan keluarga tadi nampak duduk bersama Bening di teras, sedangkan gadis yang diajaknya bicara itu malah sibuk memandangi motornya yang terparkir di halaman.
“Glass apa kamu mau aku belikan motor baru? apa kamu mau motor sport?” tanya Bening, sejujurnya ada rasa bersalah yang dalam di hatinya. Ia menjebak pemuda tak berdosa untuk bertanggungjawab atas perbuatan yang sama sekali tidak dilakukannya.
“Yang seharusnya memberi mahar 'kan aku bukan kakak, setelah menikah aku akan bekerja. Apa kakak mau tinggal di rumah ibu?”
Bening terbeku, demi apa rasa bersalah di hatinya kian menggunung. Ia pun menggelengkan kepala. “Aku punya penthouse, kita bisa tinggal di sana.”
“Apa?”
Mulut Glass menganga lebar, tak terlintas sedikitpun di dalam otaknya Bening memiliki sebuah griya tawang, salah satu tipe apartemen yang merupakan unit eksklusif dan termewah di lantai paling atas sebuah gedung apartemen dan pasti berharga mahal.
“Jangan cemas, itu milikku. Aku membelinya dengan uangku sendiri. Maaf, bukannya ingin menolak tinggal di rumah ibumu, tapi aku tidak bisa tidur tanpa pendingin ruangan.” Bening mengatupkan bibir, menatap Glass yang terpaku melihatnya. Ia takut salah bicara.
“Sesekali kita bisa menginap di rumah ibu,” imbuh Bening agar Glass tidak berpikir macam-macam tentangnya. “Tapi, harus pasang AC dulu.” Bening nyengir, dan Glass pun tertawa. Pemuda itu bahkan mengusap pucuk kepala dan sukses membuat pipi Bening merona.
“Tapi aku benar-benar penasaran, akankah kita bercerai saat anak itu sudah lahir.” Mata Glass menyorot ke bagian perut Bening, dan gadis itu pun menundukkan pandangannya.
“Hah... Apa?" Bening sedikit gemetaran.
“Bagaimana kalau nanti aku jatuh cinta pada kakak, sementara kakak tidak mencintaiku?”
“Hah … apa?”
Bening seperti orang bodoh, dia benar-benar tidak bisa mengendalikan rasa groginya. Bagaimana bisa pemuda yang usianya jauh lebih muda darinya itu dengan mudah membuatnya berdebar tak karuan.
Glass malah tertawa sebelum menghela napas. “Aku belum pernah pacarana sama sekali, aku bahkan belum pernah menyatakan cinta ke seorang gadis.”
“Apa?” Bening melongo, rasa bersalah bersarang semakin besar di dadanya. Ia benar-benar kejam karena sudah menjebak pemuda polos. “Glass apa kamu merasa aku menghancurkan hidupmu?” tanyanya dengan nada lirih.
“Tidak! aku yang menghancurkan hidup kakak, seharusnya aku tidak mau diajak teman-temanku ke klub malam itu. Aku masih bisa kuliah dan bekerja, tapi kakak pasti akan kepayahan membawa bayi dalam kandungan selama sembilan bulan, melahirkan, menyusui dan aku yakin kakak pasti tidak akan mau berhenti bekerja.”
Bening menelan salivanya yang terasa kelat. Matanya terasa panas dan kristal bening mulai menggenang di sana. Tak tertahan, air mata itu menetes begitu saja ke pipi dan Glass menganggap air mata itu sebuah penyesalan dan kesedihan yang Bening rasakan.
“Maaf ya, jika setelah anak itu lahir kakak ingin kita berpisah, aku tidak akan keberatan. Bahkan jika kakak tidak menginginkannya, aku dengan senang hati akan mengasuhnya.” Tangan Glass mengulur, menghapus jejak air mata di pipi Bening. “Maaf juga menghancurkan mimpi kakak, aku yakin setiap gadis pasti memiliki pernikahan impian.”
“Hei bocah, berapa umurmu?” Bening memukul d**a Glass dengan kencang hingga pemuda itu mengaduh kesakitan. “Jangan panggil aku kak, panggil saja aku Bening atau Bebe.”
“Bebe? Terdengar seperti panggilan sayang,” canda Glass yang semakin membuat Bening tersipu. Sepertinya dia mulai menaruh hati ke calon suaminya itu.
“Kita bisa menjadi teman ‘kan? meski tidak saling mencintai, kita bisa menjadi sahabat,” ujar Bening.
Glass pun mengangguk, dia tidak bisa memungkiri bahwa sejatinya Bening memang sangat cantik, terlebih mendengar cerita dari ibunya kalau gadis itu memborong makanan dan membagi-bagikannya ke orang-orang cukup membuat Glass yakin kalau calon istrinya itu gadis baik.
“Glass, jika kamu tahu aku berbohong dan menjebakmu, apa kamu bisa memaafkanku?”